Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Viona Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Tiba-tiba Viona merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Bahkan sakit itu begitu tidak tertahankan sampai-sampai membuat Viona jatuh pingsan. David Lu yang panik pun segera melarikannya ke rumah sakit untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi.


Frans yang mendapatkan kabar tersebut pun segera bergegas ke rumah sakit dan meninggalkan semua pekerjaannya di kantor. Begitu pun dengan Hwan. Hwan sampai meninggalkan rapat yang sedang berjalan.


"Kakek, bagaimana keadaan Vio Nunna? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Frans setidaknya dia di rumah sakit. Cemas terlihat di raut mukanya.


David Lu menggeleng. "Kakek, sendiri tidak tahu, karena dokter belum keluar. Viona, masih di tangani. Apa kalian sudah memberitahu Kevin tentang kondisi, Viona?" tanya David Lu sambil menatap mereka berdua bergantian.


Hwan mengangguk. "Sudah, dia sedang dalam perjalanan pulang, dan kemungkinan baru besok pagi tiba di sini." Jawabnya. Mengingat jika waktu yang dibutuhkan untuk tiba di China sekitar 10-11 jam.


"Kek, apakah Vio Nunna akan baik-baik saja? Dia akan baik-baik saja bukan?" tanya Frans memastikan.


Frans benar-benar takut hal buruk akan menimpa kakak iparnya tersebut. Frans masih sangat trauma dengan apa yang pernah menimpa Viona di masa lalu, bahkan Rasa trauma itu masih melekat kuat di dalam perasaan hingga saat ini, apalagi ketika mengingat betapa hancurnya Kevin dan Viona saat kehilangan calon anak yang sudah dinanti-nantikan sejak lama.


"Kita berdoa semoga mereka berdua baik-baik saja," jawab David Lu dan di balas anggukan oleh Frans.


Perhatian mereka bertiga teralihkan oleh seorang dokter yang keluar dari ruang IGD. Hwan menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Viona juga janin di dalam perutnya. "Dok, adik ipar saya dan janin di dalam perutnya? Mereka berdua baik-baik saja bukan?" tanya Hwan memastikan.


Dokter itu menganggukkan kepala. "Anda tenang saja, Tuan. Tidak ada yang perlu di cemaskan. Ibu dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja," jawab dokter itu meyakinkan. Mereka bertiga pun bisa menghela nafas lega setelah mendengar jawaban dokter tersebut.


Selanjutnya Viona dipindahkan ke ruang inap untuk menjalani perawatan. Dia hanya kelelahan dan perutnya mengalami kram, dan hal itu adalah sesuatu yang normal pada ibu hamil. Dan mereka bertiga memutuskan untuk bermalam di rumah sakit menemani Viona. Kevin sedang tidak ada, jadi bisa bukan mereka siapa yang akan menemani Viona?


xxx


Rasa takut menghinggapi perasaan Kevin akan keadaan Viona dan janin di dalam perutnya. Dia ingin cepat-cepat sampai di China, namun perjalanannya masih lumayan panjang, sekitar 7 jam lagi untuk tiba di China.


Dia tidak henti-hentinya berdoa Viona dan janin di dalam perutnya, kemungkinan buruk bisa saja terjadi, dan Kevin berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka berdua.


Perhatian Kevin sedikit teralihkan. Pria itu mengangkat kepalanya dan mendapati Barbara yang tiba-tiba duduk disebelahnya. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. "Ada apa, Nyonya" tanya Kevin. Nada bicaranya dingin dan datar, bahkan wajah tampannya tdiak menunjukkan ekspresi apapun, dingin.


"Bagaimana kau dan David bisa saling mengenal? Sudah puluhan tahun aku tidak mendengar kabar apapun tentangnya, apa dia baik-baik saja?" tanya Barbara, dia benar-benar penasaran dengan keadaan mantan suaminya tersebut.


Barbara tidak bisa memungkiri jika sebenarnya dia masih mencintai David sampai detik ini, hanya saja keadaan saat itu yang membuatnya terpaksa meninggalkannya. Dia dipaksa oleh keluarganya untuk berpisah dan bercerai dengan David, bahkan Barbara mendapatkan ancaman akan di usir keluar dari keluarga Yang jika dia tidak mau menuruti permintaan mereka.


"Aku adalah Cucu keponakan. Mungkin Anda mengenal Joseph Lu, dan aku adalah cucunya."


Pupil mata Barbara membulat sempurna. "Kau cucu Joseph? Itu artinya kau adalah Putra, Alexa?" kaget Barbara. Kevin mengangguk.


Barbara tersenyum. "Jadi kau putra, Alexa? Lalu bagaimana kabar ibumu sekarang? Dia baik-baik saja bukan?" Tanya Barbara, dia belum mengetahui jika Alexa sudah lama tiada.


"Tidak terasa 35 tahun telah berlalu, jadi wajar saja jika Alexa memiliki Putra yang sudah dewasa. Sekali bertemu dengannya, dulu saat aku dan David masih menjadi suami-istri, kami sangat dekat. Apalagi sejak kecil, Alexa tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, jadi dia sangat dekat denganku. Nak, aku adalah nenekmu, tidak seharusnya kau memanggilku dengan sebutan, Nyonya."


Kevin menghela napas. "Dia sudah lama Tiada, Mama meninggal ketika aku masih kecil. Jika kau ingin bertemu dengannya, aku akan membawamu terbang ke Korea dan mengunjungi makamnya." Jawab Kevin.


Pupil mata Barbara membulat sempurna saat mengetahui jika Alexa telah tiada. Kedua mata itu bahkan tampak berkaca-kaca. "A...Apa kau bilang, Alexa telah tiada?" Kevin mengangguk.

__ADS_1


Sangat disayangkan karena dia tidak bisa bertemu dengan Alexa, padahal Barbara sangat berharap bisa bertemu dengannya. Tapi kasih Tuhan tidak ada yang tahu, dan siapa yang menduga jika Alexa akan pergi secepat itu.


Membahas mengenai ibunya, membuka kembali luka lama di hati Kevin. Hatinya seperti tersayat-sayat setiap kali mengingat tentang kejadian malam itu, masih sangat segar diingatkan Kevin ketika kobaran api menghanguskan bangunan bertingkat yang menjadi tempat tinggalnya. Dan tragedi itu membuat Kevin dan Frans menjadi seorang yatim piatu.


"Bisakah kita tidak perlu membahasnya lagi. Perjalanan kita masih jauh, sebaiknya kembali ke kursi Anda dan beristirahatlah." Pinta Kevin sambil menutup matanya. Dia benar-benar tidak ingin diganggu untuk saat ini.


"Baiklah, sebaiknya kau juga tidur. Jangan sampai saat mendarat besok kau memiliki mata panda karena kurang tidur, Nenek kembali ke belakang dulu." Ucap Barbara dan pergi begitu saja dari hadapan Kevin.


Sementara itu. Teresa dan Jackie sudah tertidur pulas sedari tadi, mereka selalu lelah sampai-sampai tidak sabar jika ketiduran. Lagipula ini sudah lewat tengah malam, dan biasanya di jam segini mereka sudah tertidur lelap.


Kevin menutup matanya dan menghilang nafas. Untuk saat ini dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih, pikirannya tertuju pada Viona dan juga janin di dalam perutnya , dia hanya bisa berdoa dan memohon pada Tuhan supaya mereka baik-baik saja.


"Sayang, kau harus bertahan untukku."


xxx


Viona membuka matanya dan mendapati dirinya berada di ruangan asing dengan aroma obat-obatan yang menyengat. Tanpa diberitahu pun, tentu saja Viona sudah tahu di mana dirinya berada saat ini. Lalu pandangannya bergulir pada tiga orang yang sedang tertidur pulas di sofa, mereka tidur dalam posisi duduk.


Wanita itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, sampai-sampai dirinya harus dilarikan ke rumah sakit. Yang Viona ingat hanyalah tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit, dan setelah itu dia tidak ingat apapun lagi, semua menjadi gelap, dia jatuh pingsan.


Viona menutup kembali matanya. Dia tidak tega untuk membangunkan mereka bertiga, lagi pula yang diinginkan olehnya bukanlah mereka melainkan Kevin, tapi sayangnya dia sedang tidak ada di sini.


"Vio, kau sudah sadar!!" seru Hwan ketika terbangun dan mendapati Viona telah sadar. Dia pun memberi isyarat pada Hwan agar tidak Berisik. Viona membangunkan Frans dan David Lu yang sedang tertidur, mereka berdua terlihat lelah.


Hwan mengangguk. Lalu bagaimana keadaanmu? Sudah jauh lebih baik kan, apa masih ada yang terasa tidak nyaman dengan perutmu? Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Hwan memberi penawaran.


Viona menggeleng "Tidak usah, Ge. Aku tidak apa-apa dan baik-baik saja, sebaiknya kau Tidur lagi saja karena ini masih malam. Aku juga mau tidur untuk mengembalikan tenagaku yang sedikit terkuras." Ujar Viona dan dibalas anggukan oleh Hwan.


Alasan Viona untuk segera tidur adalah supaya cepat-cepat pagi. Karena semakin cepat pagi datang, semakin cepat dia bertemu dengan Kevin, dan Viona sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya tersebut. Padahal baru dua hari berpisah, tapi Viona sudah sangat-sangat merindukannya. Dan itu adalah salah satu bawaan hamilnya.


xxx


Pesawat pribadi yang membawa anak serta istri David Lu akhirnya mendarat di China. Perjalanan mereka kali ini lebih cepat dari perkiraan waktu yang sudah ditentukan. Kevin meminta pada sopir agar mengantarkan mereka bertiga langsung pulang ke kediaman Lu, sementara dirinya menuju rumah sakit tempat Viona dirawat.


Meskipun Kevin sudah mendapatkan informasi dari Frans jika Viona baik-baik saja. Tapi tetap saja dia tidak bisa merasa lekas sebelum melihat sendiri bagaimana keadaan dan kondisinya, semoga saja yang Frans katakan benar dan bukan hanya sekedar kebohongan semata.


Dari bandara ke rumah sakit membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit. Kevin berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang tampak sepi dan legang, dan menuju lantai 2 tempat Viona dirawat saat ini.


"VIONA!!" Dobrakan ada pintu mengalihkan perhatian 4 orang di ruangan tersebut. Kevin menghampiri Viona dan langsung memeluknya. "Syukurlah karena kau baik-baik saja, aku benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua." Bisik Kevin sambil mengeratkan pelukannya. Rasa takut yang sebelumnya menghimpit dadanya hilang begitu saja setelah melihat Viona baik-baik saja.


"Ge, akhirnya kau kembali. Aku sangat merindukanmu." Ucap Viona sambil membalas pelukan suaminya.


"Key, bagaimana hasilnya? Apakah berhasil membawa mereka berdua untuk ikut kemari?" tanya Hwan memastikan.


Kevin mengangguk. "Ya, Aku meminta sopir mengantarkan mereka pulang ke kediaman Lu untuk beristirahat." Jawab Kevin.

__ADS_1


Sontak David Lu menoleh. "Kau benar-benar berhasil membawa mereka kembali?" tanya David memastikan.


Kevin mengangguk, membenarkan pertanyaan David jika dirinya berhasil membawa anak-anaknya kembali, bukan hanya kedua anaknya saja tetapi istrinya juga. "Kau bisa pulang sekarang. Mereka sedang menunggumu di rumah," ucap Kevin.


David mengangguk, dia pun bergegas pulang ke kediaman Lu untuk bertemu dengan putra-putrinya. David sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan mereka berdua dan luk memeluknya, dan melepaskan semua kerinduan yang ia pendam selama ini.


Satu persatu meninggalkan kamar rawat Viona. Menyisakan dia dan Kevin. Frans dan Hwan berniat pulang untuk mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor. Masih ada waktu untuk siap-siap.


Keheningan menyelimuti kebersamaan Viona dan Kevin di dalam ruangan tersebut, tidak ada obrolan di antara mereka berdua, suasananya benar-benar hening dan sepi seperti tak ada satu orang pun di dalam ruangan tersebut. Meskipun pada kenyataannya ada Kevin dan Viona.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba Kok sampai jatuh pingsan?" tanya Kevin, dia meraih tangan Viona.


Wanita itu menggelengkan kepala. "Aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba saja perutku terasa sakit, dan semuanya tiba-tiba menjadi gelap hanya dalam hitungan detik saja. Kata dokter aku kelelahan dan mengalami keram, dan menurut dokter itu adalah hal yang wajar dan sering terjadi pada wanita hamil." jelas Viona.


Bukan lagi pelukan yang dia dapatkan, melainkan sebuah jitakan keras pada keningnya. "Makanya lain kali jangan meminta sesuatu yang aneh-aneh lagi. Ngidam yang wajar-wajar saja, bukannya meminta sesuatu yang tidak masuk akal. Dan aku sudah memutuskan kita akan menetap di sini sampai kau melahirkan. Tidak ada protes dan rekan-rekannya. Ikuti keputusanku atau aku akan benar-benar membiarkanmu!!" Kevin memberikan sedikit ancaman pada Viona supaya dia tidak keras kepala lagi. Jika bukan mereka berdua yang menjaganya, lalu siapa lagi yang akan menjaga janin di dalam perut Viona.


Viona mengangkut dengan patuh. Dia tidak ingin berdebat dengan Kevin untuk masalah kali ini. Lagipula Viona sendiri mengakui jika memang dirinya yang bersalah, jika bukan karena keegoisan dan keras kepala, pasti dia tidak akan jatuh sakit apalagi sampai dirawat.


"Baiklah, aku akan menurut kali ini."


Kevin tersenyum lebar. Dia mengangkat tangan kanannya dan menepuk kepala Viona. "Bagus sekali. Memang seharusnya kau itu jadi kelinci yang penurut. Apa kau lapar? Jika aku membelikan sesuatu untukmu?" tanya Kevin memberi penawaran.


Viona mengangguk dengan antusias. Sekali Dia memang sedang lapar sekarang. Jadi mana bisa dia menolak tawaran Kevin untuk membelikannya makanan.


"Ge, paket lengkap. bukan hanya makanan saja, tapi aku juga ingin buah-buahan dan minuman segar juga. Ahh, kalau perlu bawakan aku durian, kebetulan aku ingin sekali memakannya." Ujar Viona. Baru menyebutkan namanya saja sudah membuat liur Viona bercucuran, iya benar-benar ingin memakan durian.


Kevin mengangguk. Mana bisa dia menolak keinginan Viona. Meskipun ada mitos yang mengatakan orang hamil tidak boleh memakan durian, tapi selama masih dalam batas wajar, Kevin rasa itu tidak ada masalah dan dia berniat membelikan durian untuk Viona.


"Tapi tidak sekarang. Aku akan membelikannya nanti setelah kau keluar dari sini." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Mau nanti atau pun sekarang, baginya bukan masalah yang terpenting Kevin membelikan durian itu untuknya.


"Tidak masalah, yang terpenting kau membelikannya untukku. Ge, ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku sampaikan padamu. Dan ini sangat-sangat penting," ucap Viona. Tiba-tiba dia menjadi sangat serius. Membuat Kevin bertanya-tanya, tidak biasanya Viona se serius itu.


"Apa?"


"Baterainya sudah hampir lowbat dan perlu di cas, Ge... Bagaimana kalau malam ini kita... ekhem, kau tahu kan maksudku apa?"


Kevin menghela napas. Dia kira hal penting apa yang ingin Viona sampaikan padanya, ternyata hal itu. Kevin menggeleng. "Tidak, tunggu sampai kondisimu benar-benar pulih dan membaik, baru kita melakukannya!!" jawab Kevin dengan tegas.


Viona mempoutkan bibirnya. Dengan terpaksa dia menganggukkan kepala. dia juga tidak bisa memaksa casing untuk menuruti keinginannya tersebut, karena pasti Kevin akan berpikir ribuan kali sebelum melakukannya apalagi dengan kondisinya sekarang ini.


"Baiklah."


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2