Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Penyerangan


__ADS_3

Kabar tentang penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh anak buah Jimmy telah sampai ke telinga Kevin. Salah satu anak buah Kevin yang ada di sana sebagai mata-mata telah mengabarkan berita itu padanya. Dan Kevin telah siap untuk menyambut kedatangan mereka.


Melihat banyaknya jumlah orang yang berkumpul di depan gerbang membuat Daniel gemetaran, mereka tidak hanya dengan tangan kosong tapi semua bersenjata. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi Daniel berani bersumpah akan terjadi tawuran besar-besaran malam ini.


"Viona, sebenarnya ada apa ini? Kenapa banyak sekali orang yang berkumpul di sana?" tanya Daniel pada Viona.


Wanita itu mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya akan ada perang besar malam ini. Mungkin saja musuh Paman akan datang menyerang, karena yang aku tahu paman memiliki musuh dimana-mana," jawab Viona.


"Memangnya Pamanmu orang yang seperti apa? Maksudku kenapa dia sampai memiliki banyak musuh? Apa dia seorang penjahat?" Daniel bertanya dengan hati-hati.


"Bukan," Viona menggelengkan kepala. "Tapi Mafia. Paman adalah ketua dari organisasi Black Devil,"


Mata Daniel membulat sempurna mendengar jawaban Viona. "A..Apa? Black Devils?!" Daniel berseru kaget. Viona mengangguk membenarkan.


Sekujur tubuh Daniel langsung berkeringat dingin. Kakinya gemetaran seperti kehilangan tulang-tulangnya, bahkan untuk berdiri dengan tegak saja dia kesulitan. Jadi selama satu Minggu ini dia tinggal dengan Bos dari kelompok Mafia yang paling di takuti?!


Daniel mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan pada keningnya. Untung saja masih utuh, dia tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba Kevin melepaskan tembakannya dan melubangi kepalanya, bisa-bisa hidupnya akan berakhir dengan mengenaskan.


"Daniel kau kenapa?" kaget Viona melihat Daniel hampir terjatuh.


Daniel menoleh dengan kaku. "Ke..Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal jika Pamanmu adalah seorang Bos Mafia. Jika tahu begini, aku bisa berpikir ulang untuk numpang tinggal disini. Viona , rumahmu ini benar-benar sangat horor." Ucapnya sambil memegangi celananya yang basah, rupanya Daniel terkencing di celana.


Viona menatap Daniel dengan sebal. "Ck, kenapa kau berlebihan sekali? Sudahlah aku keluar dulu,"


"Viona, jangan tinggalkan aku. Aku ikut!!" seru Daniel dan bergegas mengejar Viona.


"Stopp!!" teriak Viona sambil mengarahkan tangannya ke depan. "Tetap disini jika kau tidak ingin mendapatkan Omelan dari Paman. Jika kau takut jangan coba-coba keluar, kalau perlu sembunyi di dalam lemari pakaian. Aku keluar dulu," ucap Viona dan pergi begitu saja.


Viona hendak menemui Kevin untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa banyak sekali orang berkumpul di depan gerbang dan mereka semua bersenjata lengkap. Dan Viona tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.


Dengan tidak sabaran Viona mengetuk pintu kamar Kevin sambil berteriak memanggil nama pria itu. "Paman, apa kau ada di dalam?" tanya Viona, namun tidak ada jawaban.


Viona mengetuk pintu itu lagi, Naum tetap tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya dia membuka pintu itu dan mendapati kamar Kevin dalam keadaan kosong, membuatnya bertanya-tanya ke mana Pamannya itu pergi.


"Mungkinkah Paman ada diluar bersama mereka?" ucap Viona bergumam. Sampai akhirnya mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi. "Atau mungkin Paman ada di dalam sana?" ucapnya.


Untuk memastikannya, Viona pun membuka pintu kamar mandi tanpa permisi. Tubuhnya menegang dengan kedua mata membulat sempurna, pandangannya terpaku pada satu objek yang membuat mulutnya menganga.


Viona melihat sebuah benda asing gondal-gandul (Berayun-ayun) yang tampak mengkerut karena terkena air dingin. Melihat pisang raja milik Kevin membuat lubang buaya miliknya seketika berkedut tak karuan.


"Oh My God..." Dan suara pelan itu mengejutkan Kevin yang memang tidak menyadari kemunculan Viona.


"Viona , apa yang sedang kau lakukan disini?!" kaget Kevin sambil menyambar handuk yang ada dibelakangnya. "Kau sudah gila, ya?! Keluar sekarang juga!!" tuntut Kevin memerintah.


"Paman, tiba-tiba mataku ada pelanginya." Ucap Viona tak berkedip. Dia masih terpaku pada Kevin meskipun pemandangan pisang raja miliknya telah tertutup sempurna.


"Omong kosong apa yang kau katakan?! Cepat keluar!!" pinta Kevin menuntut.


Karena Viona tetap tak bereaksi. Akhirnya Kevin yang mengambil tindakan. Kevin mengangkat Viona dan mengeluarkannya dari kamar mandi. "Jika kau perlu denganku, diam disini dan tunggu aku kembali!!" ucapnya menegaskan. Viona hanya manggut-manggut mengiyakan yang Kevin katakan.


Pria itu menghela napas. Mata Viona ternodai olehnya, meski mungkin itu bukan pertama kalinya karena sebelumnya dia sudah pernah menikah tapi tetap saja itu sangat tidak pantas untuknya. Apalagi ukuran miliknya dan mantan suami Viona jelas tidak sama.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian Kevin keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang menutupi setengah tubuhnya. Setelah berpakaian lengkap, dia menghampiri Viona yang tampak cengo seperti orang linglung, mungkin efek 12 cm miliknya.


"Ada apa kau datang menemui ku?" tanya Kevin tanpa basa-basi.


Sontak Viona mengangkat kepalanya dan menatap Kevin. Dan pertanyaan itu menyadarkan Viona dari kelingkungannya. "Paman, kau tanya apa?" bukannya menjawab Viona malah balik bertanya.


Kevin menghela nafas. "Untuk apa kau datang mencari Paman?" Sekali lagi Kevin melayangkan pertanyaan yang sama.


"Ah iya, aku hampir lupa. Paman, kenapa banyak sekali anak buahmu yang berkumpul di depan gerbang? Mungkinkah kita mendapatkan penyerangan mendadak?" tanya Viona memastikan.


"Hm, apapun yang terjadi jangan coba-coba untuk keluar dari rumah ini apalagi mencoba melibatkan dirimu dalam bahaya di luar sana. Pegang senjata ini untuk berjaga-jaga, tapi akan Paman usahakan mereka tak sampai masuk kemari." Ujar Kevin sambil menyerahkan senjata miliknya pada Viona.


Viona menggeleng. "Tidak mau, bisa-bisanya Paman memintaku untuk bersembunyi sementara kau menghadapi bahaya di luar sana. Paman, aku tidak mau. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Paman, lalu bagaimana denganku? Paman, sebaiknya kau tetap disini dan jangan pergi biarkan mereka saja yang bertempur di luar sana." Ujar Viona, matanya mulai berkaca-kaca.


Kevin meraih tangan Viona dan menggenggamnya. "Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa aku hanya diam saja sementara anak buahku sedang bertempur diluar sana. Berdoa saja semoga tidak ada hal buruk yang terjadi, karena jika kau ikut Paman kesana takutnya tidak bisa melindungimu." Tutur Kevin.


Tidak mungkin Kevin membiarkan Viona melibatkan diri dalam bahaya. Viona memang jago bela diri, tapi tetap saja untuk melepaskan dia terlibat dalam perkelahian yang menegangkan dan bahaya, dia pasti akan berpikir ribuan kali.


Suara gaduh diluar menyita perhatian mereka. Kevin melepaskan pelukannya pada Viona lalu berjalan kearah jendela kamarnya , rupanya mereka sudah datang dan jumlah mereka hampir ratusan. Diluar sana sudah ada Frans, Rico dan Lay yang menghandle perkelahian.


"Mereka sudah datang, tetap disini dan jangan coba-coba untuk keluar. Paman berjanji akan menyelesaikan mereka dengan cepat," ucap Kevin sambil menangkup wajah Viona.


Kevin mengeluarkan dua senjata apii yang selama beberapa tahun ini menemaninya lalu membawanya keluar. Tanpa menghiraukan Viona Kevin pergi begitu saja, orang-orangnya sedang bertaruh nyawa diluar sana jadi mana mungkin dia diam saja.


.


.


Letupan suara senjata yang dilepaskan memecah dalam keheningan malam, beruntung Manson Zhang jauh dari pemukiman sehingga peristiwa yang terjadi malam ini tidak menarik perhatian apalagi menimbulkan jerit suara ketakutan.


Doorrr ..


Satu tembakan itu menyelamatkan nyawa Rico yang hampir melayang di tangan mantan satu kelompoknya. Beruntung Kevin menyadarinya tepat waktu, terlambat satu detik saja mungkin Rico sudah kehilangan nyawanya.


"Fokus saja pada perkelahian, jangan pikirkan apapun!!" ucap Kevin sambil menepuk bahu Rico dan melewatinya begitu saja.


"Dia baru saja menyelamatkan nyawaku?" Rico bergumam pelan sambil menata punggung Kevin yang semakin menjauh.


Hampir sepuluh tahun berkecimpung di dunia gelap, baru kali ini ada orang lain yang menyelamatkan nyawanya, apalagi itu adalah seorang Bos. Karena biasanya dialah yang melindungi, bukan yang dilindungi.


"Apa yang kau tunggu? Maju sekarang atau membiarkan mereka menghabisi nyawamu!!" tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang dan menatap Rico yang diam terpaku dalam posisinya. "Jangan sampai nyawamu melayang ditangan mereka, karena nyawamu sangat berharga bagi Black Devil!!"


"Tuan," gumam Rico terharu. "Tuan, saya akan berjuang untuk Anda. Hidup dan mati saja mulai detik ini adalah milik Anda!!" ucapnya.


Rico dan Kevin kembali melibatkan diri mereka dalam perkelahian. Entah sudah berapa banyak anak buah Jini yang nyawanya melayang sia-sia di tangan Kevin.


Hanya anak buahnya saja yang datang menyerang, sementara Jimmy tak terlihat melibatkan diri dalam perkelahian. Wajar saja karena saat ini dia telah menjadi orang yang tidak berguna.


Jangankan untuk melibatkan diri dalam perkelahian, untuk berjalan saja dia tidak mampu, Jimmy hanya bisa duduk di kursi roda tanpa bisa melakukan apa-apa.


Sementara itu, ketakutan menyelimuti diri Viona. Dia benar-benar takut hal buruk terjadi pada Kevin, apalagi saat melihat bagaimana brutalnya perkelahian di luar sana.

__ADS_1


Viona tidak bisa menemukan Kevin diantara banyaknya orang yang terlibat dalam perkelahian. Kemeja hitam? Hampir semua memakai kemeja berwarna hitam, namun matanya tak berhenti meniti satu persatu yang turut dalam perkelahian itu.


"Paman, dimana kau sebenarnya?" gumam Viona yang mulai frustasi.


Derap langkah kaki seseorang yang datang mengalihkan perhatiannya. Terlihat Daniel menghampirinya , sekujur tubuhnya dipenuhi keringat, ketakutan terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Vi, ini sangat mengerikan. Aku takut," ucapnya dengan suara gemetaran.


"Aku juga takut. Aku takut hal buruk menimpa Pamanku, aku benar-benar takut hal buruk terjadi padanya." Ucapnya lirih. Viona mengepalkan tangannya sambil menggelengkan kepala. "Tidak bisa!! Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini, Paman... Mungkin saja dia berada dalam bahaya." Ucap Viona.


Dia bertekad untuk keluar dan mencari Kevin, Viona lebih rela yang kehilangan nyawa dibandingkan Kevin yang harus meninggalkan dirinya.


"Viona , kau mau kemana?" seru Daniel melihat Viona melenggang pergi. Namun seruannya tak dihiraukan olehnya. "Viona, kau mau kemana? Jangan pergi, diluar sangat berbahaya!!"


"Paman, aku tidak akan membaurkan dirimu matii!! Lebih baik aku yang kehilangan nyawa daripada harus hidup tanpa dirimu!!"


.


.


Perkelahian semakin sengit , lebih dari 25% telah meregang nyawa dalam perkelahian tersebut, baik itu dari kubu Kevin maupun Jimmy. Yang masih berdiri dengan tegak pun tak baik-baik saja, luka tampak menghiasi dibeberapa bagian tubuh mereka termasuk Kevin.


Sejak Kevin turun tangan, semakin banyak dari pihak lawan yang jatuh bergelimpangan dan meregang nyawa. Kevin tak membiarkan mereka tetap hidup dan bernapas, dan itulah harga mahal yang harus mereka bayar karena berani memulai peperangan.


"Tuan, awas dibelakang Anda." seru Frans melihat seseorang mencoba menyerang Kevin dari belakang.


Kevin menoleh lalu melepaskan tembakannya pada orang itu sebanyak tiga kali. Kevin tak mengampuninya sama sekali.


Dan sementara itu, Viona yang sudah berada ditengah-tengah perkelahian beberapa kali melepaskan tembakannya pada pihak lawan yang mencoba menyerangnya. Viona bisa membedakan mereka dengan mudah, karena pihak lawan memiliki tanda di jas yang mereka kenakan.


Matanya menelisik satu persatu orang-orang yang ada ditengah perkelahian. Viona berusaha mencari keberadaan Kevin, jumlah mereka yang banyak membuatnya sedikit kesulitan. Sampai akhirnya dia berhasil menemukan sosok itu.


"Paman, akhirnya aku berhasil menemukanmu. Lega rasanya melihatmu baik-baik saja," ucapnya sambil menutup mata dan menghela napas lega.


Tiba-tiba pupil matanya membulat sempurna melihat seseorang mengacungkan senjatanya kearah Kevin. Dengan secepat yang dia mampu, Viona berlari menghampiri Kevin sebelum tembakan itu menerjang tubuhnya.


DOORR ..


"NONA!!" teriak Frans dengan histeris melihat tembakan itu menembus perutt Viona.


Dia berdiri di depan Kevin sebagai tameng untuknya dengan posisi memunggungi sehingga Kevin tidak menyadari keberadaanya. Dan teriakan itu langsung menyadarkan Kevin, sontak Kevin menoleh dan mata kanannya membuat sempurna.


"Viona," Kevin menahan tubuh Viona yang hampir roboh. "Bodoh, apa yang kau lakukan?!" bentaknya emosi.


"Syukurlah Paman tidak apa-apa. Paman... aku lega kau baik-baik sa....ja..."


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2