
"Mulai sekarang, kalian berdua sudah resmi menjadi suami-istri."
Kedua mata Viona berkaca-kaca mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh laki-laki paruh baya itu. Lalu pandangannya bergulir pada Kevin, menatapnya dengan penuh air mata, bukan air mata kesedihan melainkan kebahagiaan.
"Paman, rasanya aku masih tidak percaya jika sekarang kita sudah menjadi suami-istri." Ucap Viona dengan penuh haru.
"Ya," Kevin menjawab singkat lalu mengecup bibir Viona. "Dan mulai hari ini kau adalah milikku sepenuhnya." Ucapnya dan kembali mengecup bibir itu. Kali ini dengan pagutan dan lumattan.
Viona mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher Kevin. Pernikahan mereka berdua hanya dihadiri Frans dan beberapa anak buah Kevin yang memang tinggal di Jerman. Tidak ada ribuan tamu undangan apalagi pesta mewah dan meriah.
Frans menyusut air matanya. Dia turut merasakan kebahagiaan yang Kevin dan Viona rasanya. Namun di satu sisi dia merasa iri pada mereka berdua, melihat Kevin dan Viona berbahagia membuat Frans ingin memiliki pasangan juga. Apalagi seumur-umur dia belum pernah tau rasanya memiliki pacar.
"Ge, Nunna. Aku ucapan selamat untuk kian berdua." Ucap Frans sambil bercucuran air mata.
Kevin menepuk bahu Frans. "Aku doakan semoga kau juga cepat menemukan pasangan." Ucap Kevin dan dibalas anggukan kecil oleh Frans.
__ADS_1
"Itu pasti, Ge. Aku tidak akan kalah darimu." Ucapnya sambil menyeka air matanya. Frans akan segera menyusul Kevin, dia tidak mau malah dari kakaknya tersebut. Jika Kevin bisa mendapatkan istri yang sangat cantik, dirinya juga pasti bisa.
Selanjutnya Kevin berencana untuk membawa Frans dan anak buahnya untuk menikmati hidangan mewah di hotel bintang lima. Memang tidak ada pesta yang meriah, namun perlu membuat perayaan kecil-kecilan untuk merayakan pernikahan Kevin dan Viona.
xxx
Kevin menyewa setu gedung klub malam untuk merayakan pernikahannya dengan Viona. Hanya orang-orangnya saja yang bisa masuk ke club' tersebut, karena sudah disewa semalaman sehingga orang lain tidak diijinkan untuk masuk ke dalam. Bahkan di depan pintu masuk juga tidak ada orang yang jaga seperti biasanya.
"Paman, kenapa harus tempat seperti ini sih? Kenapa tidak restoran atau hotel saja yang kau sewa? Kenapa harus tempat bising seperti ini?!" keluh Viona melayangkan prosesnya.
"Apa kau merasa kurang nyaman berada di tempat ini?" tanya Kevin. Viona menggeleng. "Lantas?"
Lagi-lagi Viona menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Hanya aneh saja, karena bisanya orang membuat perayaan di restoran mewah atau hotel bintang 5, tapi ini malah di klub malam. Tapi bagiku tidak masalah sih sebenarnya, di manapun tempatnya yang penting semua orang menikmatinya." Ujar Viona sambil tersenyum lebar.
Kevin menepuk kepala Viona sambil tersenyum. "Jika kau lelah dan ingin istirahat, aku akan mengantarmu ke kamar." Ucap Kevin namun dibalas gelengan oleh Viona.
__ADS_1
"Tidak mau. Aku ingin tetap disini bersamamu." Jawab Viona sambil memeluk lengan Kevin.
"Baiklah terserah kau saja." Ucap Kevin sambil menyentuh hidung mancung Viona.
Tahu jika sebenarnya Viona merasa kurang nyaman berada di tempat ini. Akhirnya Kevin pun membawanya pergi ke ruangan yang lebih privasi. Selain itu Viona juga membutuhkan istirahat , dia pasti kelelahan sepanjang acara sakral mereka berlangsung..
"Frans, kau temani mereka aku akan membawa Viona untuk pergi istirahat." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Frans.
"Oke, Ge. Kau tenang saja, disini serahkan saja padaku. Aku bisa menghandlenya." Ucap Frans dengan percaya diri. Kevin mengangguk, kemudian dia membawa Viona meninggalkan bar stool. "Ayo ayo semuanya kita berpesta lagi." seru Frans memberi interupsi. Malam ini semua orang harus bergembira dan juga bersenang-senang.
.
.
Bersambung
__ADS_1