
David Lu tidak tahu mimpi buruk apa yang dia alami sampai-sampai harus dipertemukan dengan orang seperti Frans. Niat awalnya datang ke kediaman Lu adalah untuk mendapatkan harta milik mendiang kakaknya. Namun bukannya harta yang dia dapatkan, justru malah kesengsaraan.
"Kakek, sampai kapan kau akan memasang muka menyebalkan seperti itu? Ayolah, kau itu sudah jelek dan malah semakin jelek jika terus-terusan menekuk mukamu begitu," ucap Frans.
David Lu menoleh dan menatap Frans dengan sebal."Diamlah, bocah!! Berhenti bicara dan jangan membuatku semakin kesal!!" jawab David Lu menimpali. Nada bicaranya sedikit ketus dan tatapannya kurang bersahabat.
"Aiyaaa... Kakek, Apa kau tidak capek dari tadi marah-marah terus? Apa kau tidak melihat keriput di mukamu semakin banyak, jadi berhenti marah-marah tidak jelas. Kau seharusnya bersyukur karena aku mau menampung mu di sini meskipun cuma sementara."
"Kakek, kau itu sudah jompo dan tidak memiliki siapa-siapa lagi alias sebatang kara. Jadi, daripada kau sibuk ingin merebut dan menguasai harta peninggalan mendiang Kakek Joseph, lebih baik kau hidup dengan tenang di sini bersama kami, nikmati masa tuamu dengan bahagia. Kita adalah keluarga, sudah seharusnya hidup dengan rukun tanpa ada perseteruan apalagi soal harta." Ujar Frans panjang lebar.
Frans tidak keberatan untuk menampung Joseph Lu di kediaman Lu, dia yakin Kevin dan Hwan juga tidak akan keberatan jika David Lu tidak banyak tingkah apalagi sampai membuat taring Kevin keluar.
Karena sekali berulah, maka nyawanya yang akan melayang, apalagi Kevin melakukannya tidak pandang bulu. Entah itu orang tua atau bukan, jika dia berani mengusik ketenangan hidupnya, maka Kevin tidak akan segan-segan untuk menyingkirkannya.
"Apa jaminannya jika kau tidak akan berbuat macam-macam padaku jika aku memutuskan untuk tinggal di sini bersama kalian? Bisa saja kalian melakukan sesuatu yang buruk padaku, atau justru membuat hidupku jadi sengsara. Aku tidak ingin mengambil resiko, dan berakhir mengenaskan."Ujar David, dia menolak permintaan Frans.
Frans menghela napas. "Justru hidupmu akan berada dalam bahaya jika kau sampai berani melakukan hal yang tidak-tidak di sini. Kau belum bertemu dengan Kakakku, dia itu mirip seperti iblis dan sangat mengerikan jika sudah marah, jadi jangan macam-macam pada keluarga ini." ujar Frans mengingatkan.
"Kau terlalu banyak bicara, aku lelah dan ingin istirahat, segera siapkan kamar untukku!!" pinta David Lu.
Frans mendecih dan menatap pria tua itu dengan sebal. Kemudian dia meminta pelayan Untuk mengantarkan David Lu ke kamar tamu. Dan Frans hampir saja lupa apa tujuannya pulang lebih awal, dia bergegas pergi ke dapur dan meminta pelayan untuk segera menyiapkan makan malam mewah untuk menyambut kedatangan Kevin dan Viona.
David menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang, menatap punggung Frans dengan tatapan yang sulit di artikan. Diam-diam pria tua itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis, dia mengayunkan kembali kedua kakinya secara bergantian dan pergi ke kamar tamu yang telah disiapkan.
"Kak, sepertinya kau benar-benar bahagia di hari terakhirmu. Andaikan saja aku berada diantara kalian sebelum kau pergi, mungkin aku tidak akan memiliki penyesalan seperti ini." ucap David Lu membatin
Perkataan Frans membuatnya sadar. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, seharusnya dia tidak lagi memikirkan tentang harta dan dunia. Dan jika saja bukan karena keegoisan dan kebodohannya, pasti dia tidak akan kehilangan seluruh keluarganya, utama istri yang sangat David cintai. Nasi telah menjadi bubur, tidak seharusnya dia menyesali apa yang sudah terjadi. Dan mungkin ini adalah karma untuknya.
xxx
Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya Kevin dan Viona tiba di Beijing, pesawat yang mereka tumpangi baru saja mendarat di Bandara internasional Ibukota Beijing. Pesawat terpaksa melakukan pendaratan di bandara, karena landasan pribadi di kediaman Lu sedang di perbaiki dan masih belum selesai.
Sebuah sedan hitam menghampiri mereka berdua, itu adalah mobil yang datang untuk menjemput kevin dan Viona. Seorang pria lengkap dengan jas hitamnya turun dari mobil tersebut dan membukakan pintu untuk mereka berdua. Viona masuk lebih dulu, di susul Kevin yang kemudian duduk di sebelahnya.
"Tuan Muda, kediaman Lu kedatangan tamu." ucap Sopir itu membuka pembicaraan.
Kevin memicingkan matanya dan menatap Sopir itu penasaran. "Siapa?" dia bertanya dengan pertanyaan singkat.
"Pria itu bernama David Lu, dan dia mengaku sebagai adik dari Tuan besar."
"Apa dia datang untuk membuat keributan?" tanya Kevin memastikan.
Sopir itu mengangguk. "Ya, namun berhasil diatasi dan dijinakkan oleh Tuan Muda Frans," jawab sopir tersebut.
Tanpa ada penjelasan, sepertinya Kevin tahu Apa tujuan pria itu tiba-tiba datang, apalagi jika bukan untuk mendapatkan jalan kakeknya. "Apa Frans mengusirnya?" tanya Kevin.
"Tidak, Tuan Muda." Sopir itu menggeleng. "Tuan Muda, membiarkan pria itu untuk tinggal di kediaman Lu. Saya sendiri tidak tahu apa yang telah dia lakukan padanya, tiba-tiba pria tua itu menjadi jinak dan tidak lagi seperti anjing liar."
"Aku baru tahu jika Kakek memiliki adik. Apa selama ini hubungan mereka tidak baik-baik saja?" setelah cukup lama bungkam dan hanya menjadi pendengar, akhirnya sebuah pertanyaan terlontar dari bibir Viona.
Sopir itu mengangguk. "Benar sekali, Nona. Hubungan Tuan besar dan Tuan David memang sangat-sangat kurang baik. Saya tidak tahu persis apa masalahnya, sampai-sampai Tuan David diusir keluar dari kediaman Lu dan namanya dicoret dari daftar ahli waris. Sehingga semua harta milik keluarga Lu menjadi milik, Tuan Joseph." Ujar Sopir itu menjelaskan.
__ADS_1
"Sepertinya dia datang meminta haknya. Apapun alasannya, memang tidak adil memberikan semua harta pada satu orang saja sementara anaknya lebih dari satu. Mungkin di masa tuanya, dia juga ingin menikmati harta yang seharusnya menjadi miliknya."
"Untuk itu kita tidak bisa menyalahkan apalagi membullynya dengan alasan apapun. Sebaiknya kita dengarkan dulu keluh kesahnya, karena seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan." Tutur Viona panjang lebar.
Sontak Kevin menoleh dan menatap istrinya itu dengan tatapan tidak percaya, baru kali ini dia mendengar Viona berbicara dengan nada sebijak itu, ketika mengatakannya ekspresi wajahnya tampak begitu tenang, sangat berbanding balik dengan Viona yang dia kenal selama ini.
"Lalu menurutmu bagusnya bagaimana?" tanya Kevin.
"Kita berikan haknya, biarkan dia menikmati masa tuanya dengan penuh ketenangan. Lagipula kita tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, apakah dia benar-benar bersalah atau tidak, hanya dia yang tahu. Selain itu, kita berdua juga tidak kekurangan uang. Tanpa warisan dari kakek sekali pun, kau juga sudah kaya raya, bukannya begitu?" Kevin mengangguk, benarkan ucapan Viona.
Dan Kevin pun setuju untuk memberikan hak miliknya pada David Lu. Seperti yang dikatakan oleh Viona, David juga berhak atas harta milik keluarganya. Apapun yang terjadi di masa lalu tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Di bandingkan dirinya, David Lu jelas lebih berhak atas harta tersebut.
.
.
Hampir tiga puluh menit berkendara, mereka berdua tiba di kediaman Lu, kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu oleh Frans juga Hwan. Frans sudah sangat-sangat merindukan kakaknya segera berlari menghampiri Kevin yang baru keluar dari mobil dan bermaksud untuk memeluknya.
"STOPP...!!" namun langkahnya terhenti saat Viona tiba-tiba saja berdiri di depan Kevin sambil mengarahkan tangan kanannya ke depan. "Jangan coba-coba untuk memeluknya atau mati kau!! Kevin Gege, itu milikku jadi jangan coba-coba untuk menyentuh apalagi memeluknya, karena aku tidak rela suamiku disentuh oleh orang lain!!" ujar Viona menegaskan.
"Nunna, apa-apaan kau ini kenapa kau menghalangiku untuk memeluk, Kevin Gege? Lagipula aku bukanlah orang lain, tapi adik kandungnya sendiri, jadi jangan coba-coba menghalangiku untuk memeluk kakakku."
Viona menggeleng. "Sekali tidak boleh tetap tidak boleh!! Kau memang adik kandungnya, tapi aku adalah istrinya. Di bandingkan dirimu, tentu saja aku jauh lebih berhak atas, Kevin Gege." jawab Viona tak mau kalah.
Frans mempoutkan bibirnya. mengabaikan peringatan keras dari Viona. Frans tetap menghampiri Kevin dan memeluknya, bahkan dia bermanja-manja pada sang kakak dan hal itu membuat Viona sangat-sangat kesal. "Yakk!! Sudah aku bilang jangan menyentuhnya, dia itu milikku!!" teriak Viona dengan histeris.
Dengan kasar, Viona menarik pakaian yang Frans kenakan lalu mendorongnya hingga dia jatuh tersungkur di tanah. Bukannya meminta maaf dan merasa bersalah padanya. Viona malah menjulurkan lidahnya pada Frans, dia mengurai senyum penuh kemenangan, apapun status Frans, tetap Viona pemenangnya.
Kevin menghela nafas. Mendengar perdebatan mereka berdua membuat kepalanya yang sudah pusing menjadi semakin pening. Kevin menutup matanya rapat-rapat. "SUDAH CUKUP KALIAN BERDUA!!" dan menengahi perdebatan mereka berdua. Membuat Frans dan Viona.
Sementara itu... Hwan hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkah Frans dan Viona, dia benar-benar tidak habis pikir dengan mereka berdua, ada saja masalahnya yang menjadi bahan untuk di ributkan.
"Aku harap kau lebih sabar menghadapi mereka berdua," ucap Hwan setibanya Kevin di depannya.
Kevin menghela napas. "Sepertinya kesabaranku kali ini benar-benar diuji. Menghadapi Viona yang sedang hamil muda saja sudah membuatku pusing tujuh keliling, dan sekarang ditambah Frans juga. Aku benar-benar bisa gila menghadapi mereka berdua," ujar Kevin sambil memijit pelipisnya yang tertutup perban. Dan sedikit tekanan yang dia berikan membuat lukanya kembali terbuka dan mengeluarkan darah.
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi padamu? Apa luka itu juga karena perbuatan, Viona? Atau karena kecelakaan yang kau alami beberapa hari yang lalu?" tanya Hwan sambil menunjuk perban di pelipis kanan Kevin.
"Ini luka bekas kecelakaan." Jawab Kevin. "Ge, apa kau sudah bertemu dengan adik Kakek? Aku dengar dia datang dan sempat membuat keributan,"
Hwan mengangguk. "Ya, aku juga mendengarnya tapi belum sempat bertemu dengannya. Menurut Frans dia sedang istirahat di kamar tamu, jadi aku tidak enak hati untuk membangunkannya," jawab Hwan.
Kevin mengangguk. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan meninggalkan teras dan masuk ke dalam rumah. Dan baru saja mereka menginjakkan kakinya di dalam, kevin dan Hwan sudah disuguhi dengan pemandangan yang sangat menggelikan, di mana Frans dan Viona yang sedang terlibat perdebatan hebat hanya karena sebuah mentimun.
"Nunna, memangnya apa buruknya mentimun ini sampai-sampai kau sangat membencinya? Timun sangat enak dan lezat, aku saja menyukainya tapi kenapa kau malah membencinya. Ahh, aku tahu!! Jangan-jangan ketika melihat mentimun kau membayangkan jika ini adalah benda kebanggaan milik, Kevin Gege? Benar begitu, kan?"
"Sembarangan!!" alhasil Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala. "Dasar mesum, menghubungkan antara mentimun dengan benda kebanggaan milik Kevin Gege, jelas sekali berbeda!! Tanpa aku menjelaskannya sekalipun, pasti kau sudah tahu Apa perbedaannya. Sudahlah jangan mengatakan omong kosong lagi, aku lapar aku mau makan sekarang!!" Viona lalu beranjak dan meninggalkan Frans begitu saja.
Kevin menutup matanya dan menghela nafas untuk kesekian kalinya. Satu Viona saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling, sekarang malah ditambah Frans juga. Bisa-bisa Kevin malah terkena serangan stroke jika terus-terusan begini. sepertinya menuruti keinginan Viona untuk pergi ke China adalah sebuah kesalahan yang sangat besar dan fatal.
Dan jika tahu endingnya akan seperti ini, mungkin Kevin akan berpikir ulang untuk mengajak Viona datang ke China. Namun melakukannya juga tentu tidaklah mudah, apalagi Viona selalu menggunakan janinnya sebagai alasan untuk membujuk dan memaksanya melakukan apapun yang dia minta, sehingga Kevin tidak memiliki pilihan lainnya.
__ADS_1
Tepukan pada bahunya sedikit mengalihkan perhatiannya. Kevin menoleh dan mendapati Hwan yang sedang tersenyum tipis. "Mulai sekarang Kau harus menyiapkan lebih banyak lagi stok sabar untuk menghadapi mereka berdua, terlebih-lebih lagi menghadapi Viona yang sedang hamil muda." Ucap Hwan dan pergi begitu saja. Kevin menghela nafas, dia tidak tahu sampai kapan kesabarannya akan diuji seperti ini.
Kevin menggeleng. kemudian dia mengayunkan kedua kakinya dan melenggang pergi ke kamarnya yang berada di lantai 2. Kamar yang sudah Kevin tempati sejak dia pertama kali menginjakkan kakinya di rumah ini, dan tidak ada seorangpun yang berani mengusik apalagi mencoba mengambil kamar itu meskipun Kevin tidak ada.
Sekujur tubuhnya terasa lelah, kepalanya sedikit pusing, dia perlu istirahat sebentar untuk memulihkan kembali tenaganya. Dan baru saja Kevin hendak menutup mata, tiba-tiba terdengar suara bantingan pada pintu, contoh dia menoleh dan mendapati Viona melenggang masuk ke dalam sambil menekuk mukanya.
"Apalagi sekarang?!" tanya Kevin melihat wajah muram istrinya.
"Frans, menyebalkan. Masa dia mengatakan padaku jika anak kita lahir nanti akan lebih mirip dengannya, gak jelas aku adalah ibunya dan orang yang mengandungnya selama 9 bulan, bisa-bisanya dia mengatakan padaku jika nantinya anak ini akan lebih mirip dengannya dibandingkan mirip aku atau dirimu!!' Tutur Viona. Viona benar-benar tidak terima jika anaknya harus mirip dengan, karena dia ingin anaknya lebih mirip dengannya ataupun Kevin.
"Sudahlah, untuk apa juga kau dengarkan ocehannya?! Kau seperti tidak mengenalinya saja, bukankah kau tahu sendiri jika dia sangat hobi mengganggumu, jadi untuk itu jangan terlalu dihiraukan."
"Dia mengatakannya berulang-ulang dan itu membuatku sangat-sangat kesal. Ge, aku tidak mau tahu pokoknya kau harus memarahinya nanti!!" perintah Viona menuntut.
Kevin menghela nafas. Dia menganggukkan kepala. "Baiklah, aku akan menegurnya nanti. Tapi bisakah sekarang kau biarkan aku beristirahat? Aku benar-benar lelah dan kepalaku sedikit pusing," ucap Kevin.
Viona menghela napas. Dia menganggukkan kepala. Tidak ingin mengganggu istirahat Kevin, wanita itu pun memutuskan untuk keluar dan meninggalkan Kevin sendiri di kamar. Lebih baik dia mencari kesibukan lain, daripada mengganggu Kevin yang saya mau beristirahat.
Xxx
Mendengar suara ribut-ribut dari luar membuat David Lu penasaran. Lelaki tua itu bangkit dari tempat tidurnya lalu melenggang keluar untuk melihat apa yang terjadi. Setibanya di luar, dia melihat peran bersama seorang wanita, dan mereka berdua sedang terlibat perdebatan, selain itu ada satu pria yang tanpa Acuh dan tidak peduli dengan perdebatan mereka berdua.
David Lu bertanya-tanya siapa mereka berdua, dan apa hubungannya dengan Joseph Lu. Dia terus berpikir dan bertanya-tanya dalam hati. "Mungkinkah dia adalah cucu sulung, Joseph? Dan orang yang dimaksud oleh Frans?" ucap David membatin.
Kemudian Dia mendekati mereka bertiga. Dan kedatangannya mengalihkan perhatian ketiganya. Frans tampak kesal, namun sikap berbeda justru ditunjukkan oleh Viona dan Hwan. Meninggalkan Frans begitu saja, Viona menghampiri David Lu. Senyum lebar tersungging di bibirnya.
"Halo Kakek, kau pasti Kakek David kan? Aku Viona, cucu menantu di keluarga Lu, senang sekali bertemu dengan kakek." Ucap Viona sambil tersenyum lebar.
Sudut bibir David tertarik ke atas. Kemudian dia beranjak dan meninggalkan tempatnya lalu mendekati Viona dan menepuk kepala berhelaian coklat miliknya. "Kakek, juga senang bertemu denganmu, Viona." Ucapnya dengan lembut.
"Nunna, jangan terkecoh olehnya karena dia bukan orang baik!!" seru Frans mengingatkan.
"Jaga bicaramu, Frans!!" seru seseorang dari arah tangga. Keempat orang itu lalu menoleh dan mendapati Kevin yang sedang menuruni tangga.
Tiba-tiba bulu Kuduk David berdiri seketika ketika dia melakukan kontak mata dengan Kevin. Tatapannya yang dingin dan sorot matanya yang tajam, membuat bulu kuduknya berdiri. Dia merasa seperti sedang berada di lokasi uji nyali.
David mundur beberapa langkah ke belakang ketika melihat Kevin menghampirinya. Apa mungkin dia adalah cucu sulung dari, Joseph Lu?" bisiknya dalam hati.
Kevin berhenti tepat di depan David. Matanya terkunci pada mata hitam milik lelaki tua itu. "Tidak perlu tegang, Kakek. Karena aku tidak akan menerkam mu. Aku Kevin, cucu sulung Joseph Lu. Dia Hwan, cucu angkat Kakek. Dan sepertinya aku tidak perlu lagi memperkenalkan mereka berdua, karena mereka sudah memperkenalkan diri padamu." Ucap Kevin.
"Ge, apa-apaan kau ini? Kenapa kau malah bersikap baik padanya? Dia itu penjahat, dia datang hanya untuk mengambil semua harta milik Kakek, jadi kau tidak perlu Terlalu baik padanya!!" ujar Frans menasehati.
Frans buru-buru menundukkan kepalanya melihat tatapan Kevin dan sorot matanya yang tajam. Frans tidak tahu kenapa Kevin malah bersikap baik pada David Lu, yang jelas-jelas memiliki maksud yang tidak baik.
"Apapun alasannya, Aku tidak mau lagi mendengar mu mengatakan kata-kata tidak sopan seperti itu. Bagaimana pun juga dia adalah adik kandung mendiang Kakek, yang artinya dia juga Kakek kita. Untuk itu hargai dan hormati dia, seperti kau menghormati mendiang Kakek!!"
"Tapi Ge, aku..."
"Ini sudah waktunya makan malam. Sebaiknya kita makan sekarang," Kevin beranjak dari hadapan mereka berempat dan pergi begitu saja. Dia melenggang menuju meja makan. Di susul Viona dan yang lainnya.
Selanjutnya makan malam mereka jalani dengan tenang. Tidak ada lagi obrolan ataupun perdebatan. Semua benar-benar diam dan fokus untuk menyantap makan malamnya. Bahkan Frans yang biasanya paling berisik juga diam seribu bahasa.
__ADS_1
xxx
Bersambung