
Kedua pria berbeda usia itu sama-sama berdiri dan saling berjabat tangan. Kerjasama antara dua perusahaan besar telah disepakati dan dari kerjasama itu akan menghasilkan keuntungan yang sangat besar bagi masing-masing perusaan.
"Tuan Zhang, senang bekerjasama dengan Anda. Semoga kedepannya kita bisa menjadi rekan bisnis yang saling menguntungkan," ucap pria berkebangsaan asing tersebut sambil menjabat tangan Kevin.
"Ya, semoga saja," Kevin menjawab singkat sambil menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kami permisi dulu," satu persatu meninggalkan ruangan CEO, menyisakan Kevin dan Frans berdua di ruangan tersebut.
Pandangan Kevin kemudian bergulir pada Frans."Periksa dokumen ini, pastikan mereka tidak menipu kita!!" pinta Kevin dan dibalas anggukan oleh Frans.
"Baik, Tuan." ucap Frans, dia menerima dokumen yang Kevin sodorkan padanya.
Kevin tidak bisa mempercayai siapapun begitu saja, karena mungkin saja orang-orang itu memiliki niat terselubung padanya, apalagi dari gerak gerik mereka yang cukup mencurigakan yang membuatnya ragu untuk mempercayai mereka 100%.
TING...
Denting suara dari ponselnya mengalihkan perhatian Kevin. Tangan kanannya menelusup masuk ke dalam saku jasnya untuk mengambil benda tipis berharga mahal tersebut, supaya pesan dari Viona.
"Paman, mulai malam ini sampai beberapa Minggu ke depan, temanku akan tinggal bersama kita dan aku harap Paman jangan sampai menyulitkannya apalagi membuatnya ketakutan karena sikap dinginmu yang seperti freezer 100 pintu,"
Tangan Kevin terkepal kuat setelah membaca pesan singkat tersebut. Bisa-bisanya Viona membawa orang lain masuk ke rumah mereka tanpa ijin darinya, apalagi orang itu adalah seorang pria.
"Jangan sampai aku melihatnya di rumah malam ini, atau aku tidak akan segan-segan untuk melemparnya keluar!!" Kevin mengirim pesan balasan pada Viona. Dan pesan singkat tersebut berisi ancaman serta peringatan darinya.
Ting...
Pesan singkat kembali masuk ke ponselnya. Dengan cepat Viona membalas pesan Kevin. "Sudah aku bilang Paman jangan macam-macam padanya!! Paman tenang saja, dia orang baik dan tidak akan menyulitkan kita,"
"Tidak menyulitkan tapi ingin menumpang, apa orang seperti itu masih bisa disebut sebagai orang baik?!"
Ting...
Kevin membuka dan membaca pesan balasan dari Viona. "Bukan dia yang ingin, tapi aku yang mengajaknya untuk tinggal sementara waktu bersama kita sampai rumahnya selesai di renovasi. Paman , jangan kejam begitu. Dia adalah temanku dan Daniel sangat baik padaku."
Kevin kembali mengetik pesan balasan untuk Viona."Sekali tidak tetap tidak!!" Kevin tetap pada keputusannya untuk tidak mengijinkan teman Viona tinggal bersama mereka.
Ting ..
__ADS_1
Ada pesan masuk, dan masih dari Viona pastinya."Paman, kau jangan keterlaluan!! Kau ijinkan dia tinggal bersama kita, atau aku akan ngambek pada Paman?" Viona memberikan ancaman.
Kevin menghela napas, Viona tidak akan menyerah dan pasti tetap memaksa supaya dirinya mengijinkan sahabatnya itu untuk tinggal bersama mereka selama beberapa Minggu. Dan sepertinya Kevin tidak memiliki pilihan lain, selain membiarkan Viona sahabatnya itu untuk tinggal bersama mereka.
"Terserah kau saja, tapi jangan harap aku akan bersikap baik padanya!!" dan setelah mengirim pesan singkat itu, Kevin mematikan ponselnya.
Kevin memijit pelipisnya yang terasa pening. Mengalah bukan berarti dia kalah, Kevin hanya tidak mau berdebat dengan Viona yang sangat keras kepala. Memang lebih baik mengalah saja.
.
.
Viona tersenyum lebar. Dia menatap layar ponselnya dengan puas. Setelah cukup lama berdebat dengan Kevin, akhirnya tetap dia yang menjadi pemenangnya, dan Kevin memberikan ijin pada Daniel untuk tinggal bersama mereka meskipun sangat-sangat terpaksa.
"Beres. Paman mengijinkanmu untuk tinggal di kediaman Zhang sampai rumahmu selesai direnovasi. Tapi sebelum itu, kau harus menyiapkan dulu mentalmu untuk menghadapi Pamanku yang super dingin dan bermulut tajam," ujar Viona. Dia memperingatkan Daniel supaya menyiapkan mentalnya sebelum bertemu dengan Kevin.
"Oya, Vi. Saat menjemputmu tadi, aku tidak sengaja melakukan kontak mata dengan seorang laki-laki , tatapannya dingin , tajam dan mengintimidasi. Mata kirinya tertutup benda hitam bertali, mungkinkah itu adalah Pamanku?" tanya Daniel memastikan.
Viona menganggukkan kepala. "Ya, dia adalah Pamanku, Paman Kevin."
Usia kami hanya berbeda lima tahun. Paman Kevin bukanlah Paman kandungku, dia putra angkat mendiang Nenek dan Kakek. Karena sangat mendambakan seorang anak laki-laki, akhirnya dia mengadopsinya sebagai anak," jelas Viona.
"Em, begitu ya." Viona mengangguk. "Tapi, Vi. Baru saja mendengar penjelasanmu tapi rasanya sudah seperti uji nyali, bagaimana jika sampai tinggal di sana? Bisa-bisa Pamanku membuatku mati berdiri, atau sebaiknya Aku tinggal di sauna saja, ya? Aku jadi agak ragu untuk tinggal di rumahmu," ujar Daniel sambil menggigit bibir bawahnya.
Viona menggelengkan kepala. "Tidak tidak tidak, kau tinggal di rumahku saja. Lagipula aku memiliki hutang Budi padamu. Kau tenang saja, tidak perlu cemas karena Paman tidak mungkin menelanmu hidup-hidup." ujar Viona. "Ayo masuk, aku bantu kau membawa kopermu." Viona turun lebih dulu lalu membantu Daniel membawa kopernya masuk ke dalam rumah.
Rupanya mereka sudah ada di depan rumah Viona. Meskipun ragu, akhirnya Daniel tetap mengikuti Viona masuk ke dalam ke kediaman Zhang. Kedatangan mereka disambut oleh seorang pelayan yang kemudian mengambil alih koper di tangan Viona.
"Antarkan dia ke kamar tamu. Dia adalah temanku, dan sampai beberapa Minggu ke depan akan tinggal disini jadi perlakuan dia dengan baik." Ujar Viona sambil menyerahkan koper itu pada pelayan di depannya.
"Baik, Nona. Mari Tuan Muda, ikut dengan saya."
"Kau pergilah istirahat , nanti aku akan memanggilmu untuk makan malam. Aku ke kamar dulu, rasanya sekujur tubuhku sudah lengket semua." Ucap Viona dan pergi begitu saja.
Viona ingin segera bertemu dengan air, rasanya sekujur tubuhnya terasa lengket semua. Seharian berkeliling kota membuatnya lelah dan berkeringat, dan berendam adalah satu-satunya cara untuk membuat tubuhnya relax.
.
__ADS_1
.
Sebuah sedan hitam memasuki kediaman Zhang. Seorang pria dalam balutan jas hitamnya terlihat keluar dari dari jok kemudi setelah sang sopir membukakan pintu untuknya. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Kevin.
Langkah Kevin berhenti di depan sebuah mobil sport berwarna biru tua. Mobil itu adalah mobil yang sama dengan yang menjemput Viona pagi ini.
"Ck, jadi dia benar-benar membawanya ke rumah ini?" ucapnya bergumam. Terlihat jelas dari raut wajahnya jika Kevin tidak suka ada orang asing di rumahnya.
Beberapa pelayan terlihat membungkukkan tubuh di depan Kevin ketika pria itu melewati mereka begitu saja. "Tuan Muda, Anda sudah pulang, saya akan menyiapkan kopi untuk Anda." ucap seorang wanita yang merupakan kepala pelayan baru di kediaman Zhang.
"Apa Viona sudah pulang?" tanya Kevin memastikan.
Kepala pelayan itu mengangguk. "Nona, sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu."
"Apa dia datang bersama temannya yang seorang laki-laki?" tanya Kevin sekali lagi.
Lagi-lagi kepala pelayan itu menganggukkan kepala. Membenarkan apa yang Kevin ucapakan. "Benar Tuan, dan sekarang orang itu istirahat di kamar tamu," jawabnya.
"Oh," Kevin melanjutkan langkahnya dan melenggang menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Kevin menatap tajam pintu bercat putih yang tertutup rapat itu. Dia ingin sekali melihat seperti apa rupa sahabat Viona sampai-sampai dia begitu bersikukuh mengijinkannya untuk ikut tinggal di kediaman Zhang. Dan tidak akan ada toleransi untuknya jika dia sampai berani membuatnya marah.
"Paman, kau sudah pulang?" seru Viona saat melihat Kevin yang hendak masuk ke kamarnya. "Oya, Paman. Saat makan malam nanti aku akan memperkenalkanmu dengan sahabatku itu, kau pasti akan langsung..."
"...Tidak perlu!!" Kevin menyela ucapan Viona. Dia menoleh dan menatap sang keponakan dengan tajam. "Aku tidak berminat untuk mengenalnya!!" ucapnya dan pergi begitu saja. Bahkan Kevin langsung menutup pintu kamarnya. Dan hal itu membuat Viona terkejut, karena tidak biasanya Kevin bersikap sedingin ini sebelumnya.
Viona memiringkan kepalanya dan menatap pintu yang tertutup rapat di depannya dengan bingung."Sebenarnya ada apa dengan, Paman? Kenapa sikapnya tiba-tiba aneh begitu? Benar-benar tidak masuk akal."
.
.
Bersambung
__ADS_1