
"Luna, tunggu,"
Luna menghentikan langkahnya untuk memasuki sebuah lorong gelap tanpa ujung yang ada didepan matanya, setelah ia mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur kedalam indera pendengarannya "Bibi Viona," gumamnya lirih.
Luna melepaskan genggaman tangan Nenek dan Kakeknya lalu menghampiri orang yang memanggilnya itu yang ternyata adalah Viona. Dia berdiri memunggungi sebuah cahaya menyilaukan
"Bibi Viona, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Luna penuh keheranan. Dia heran bagaimana bisa Viona tiba-tiba muncul ditempat ini.
"Yakkk...!! Seharusnya Bibi-lah yang bertanya seperti itu padamu. Luna, sedang apa kau disini. Kau tidak seharusnya berada disini, Apa kau tidak tahu jika Aiden seperti mayat hidup karena menunggumu, dan seenaknya saja kau mau pergi meninggalkannya? Luna, kau jangan bercanda. Ayo, sebaiknya ikut Bibi kembali, ini bukan tempatmu dan tidak seharusnya kau berada di sini. Asal kau tahu saja, kami semua menunggu kepulanganmu," tutur Viona panjang lebar.
"Luna, ayo kita pulang!" dari Viona pandangan Luna bergulir pada lelaki paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya.
"Papa," gumam Viona dengan lirih.
Laki-laki itu mengulurkan tangan padanya. Luna menggeleng dan melangkah mundur.
"Maaf Pa, Bibi, tidak bisa ikut pulang bersama kalian. Aku akan pergi bersama Nenek dan Kakek. Untuk itu relakan aku pergi!"
"Tidak Nak, tempatmu bukan bersama kami, tapi bersama mereka. Ikutlah pulang bersama ayahmu dan wanita itu. Belum saatnya kau menemani kami, kembalilah. Semua orang sudah menunggumu."
Luna menggeleng. "Tapi Nenek,"
"Luna, Aiden sedang menunggumu. Dia sudah mati karena kau pergi, jadi jangan membunuhnya untuk kedua kalinya. Untuk itu ikutlah pada orang bersama mereka berdua,"
"Nenek, Kakek. Sungguh tidak apa-apa jika aku ikut pulang bersama mereka berdua?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Pulanglah Luna, semua orang sudah menunggumu."
Luna mengangguk. "Baiklah, aku akan pulang. Pa, Bibi Viona. Ayo, aku akan ikut pulang bersama kalian berdua. Ge, aku kembali."
xxx
Aiden menjatuhkan tubuhnya pada ubin lantai yang dingin dan keras. Cairan merah segar mengalir dari kepalan tangannya yang ia gunakan untuk menghantam dinding dan dahinya yang secara berulang-ulang ia benturkan hingga terluka.
Dia berharap luka-luka itu bisa mengurangi rasa sakit yang membelenggu hati dan jiwanya, Aiden ingin terbebas dari semua penderitaannya ini. Dia ingin pergi dan menemani Luna agar sang gadis tidak sampai kedinginan dan kesepian disana, namun semua orang menghentikannya.
Aiden menyandarkan punggung serta kepala belakangnya pada dinding sambil membenturkan kepala belakangnya dengan pelan. Darah terus menetes dari lukanya yang terbuka.
Luka itu memang terasa sakit, namun tidak seberapa dibandingan dengan rasa sakit saat kehilangan Luna. Pandangannya kosong dan wajahnya memucat, jika diperhatikan Aiden benar-benar seperti mayat hidup. Aiden menutup mutiara hitamnya saat setitik kristal bening kembali mengalir dari sudut matanya.
'Aku dapat melihat, tapi kedua mataku seakan buta,'
'Aku dapat mendengar, tapi kedua telingaku seakan tuli,'
'Mulutku seperti tidak mampu bersuara lagi seperti aku telah bisu,'
'Dan itu semua terjadi karna dirimu, karna ketiadaanmu,'
__ADS_1
'Semua terasa begitu hampa semenjak kepergianmu hari ini,'
'Kenangan indah yang pernah tercipta kini hanya menyisahkan duka,'
'Rasanya sangat berat, namun aku harus tetap merelakanmu pergi,'
.
.
Isak tangis yang begitu memilukan terdengar memenuhi setiap inci di dalam ruangan. Semua orang menangis, untuk menghantar kepergiannya. Meskipun terasa berat, tapi semua orang harus bisa merelakannya, meskipun sulit, tapi mereka harus melepaskannya. Menyebutkan satu nama secara berulang-ulang dan berharap sebuah keajaiban datang. Dan membawa sang gadis kembali pulang.
"Luna,"
Namun si pemilik nama itu tetap mengabaikan isak tangis dan panggilan-panggilan pilu orang-orang terdekatnya, tetap tidak ada sahutan, bahkan pemilik nama itu enggan hanya untuk sekedar membuka matanya.
.
.
Sekali saja, pernahkah kalian kehilangan???
Semua orang-orang yang kalian cintai pergi dan meninggalkanmu sendiri didalam dunia ini yang hanya bertemankan kekosongan dan kehampaan.
Dan bisakah kalian melupakannya, melupakan semua kenangan tentangnya??
Cobalah untuk mengingat semua kenangan indah yang pernah tercipta, bukalah semua memory-memory itu dan renungilah, rasakan kehadirannya, keberadaannya, sentuhannya, canda tawanya dan pelukan hangatnya.
Maka jangan pernah menyia-nyiakan orang yang kau cintai selama ia masih ada atau kau siap untuk merasakan sebuah penyeslan disepanjang hidupmu. Ditinggalkan dan kehilangan memang sangatlah menyakitkan, meskipun dunia kita dan mereka telah berbeda namun percayalah jika dia akan tetap hidup didalam hati dan merindukanmu disetiap waktu.
.
.
"Ge..."
'Jangan lagi, aku mohon. Jangan menyiksku dengan suara itu, berhenti memberikan sebuah harapan kosong padaku,'
"Ge..."
'Sial, kenapa aku mendengar suara itu lagi. Suara yang sangat aku rindukan.
"AIDEN, BANGUN DAN BUKA MATAMU,"
"Eo?"
Aiden tersentak di dalam tidurnya. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Lalu pandangannya bergulir pada Alex yang baru saja memanggilnya dengan jelas.
__ADS_1
"Yakkk....!! Bocah, sampai kapan kau ingin diam seperti orang linglung? Luna baru saja bangun, seharusnya kau segera menyapanya hyung!" omel Eric yang merasa gemas dengan sikap Aiden.
Dan sepertinya Aiden masih belum menyadari satu hal, bila Luna telah kembali dan bangun dari tidur panjangnya. Aiden masih belum memberikan respon apa pun dan hanya memandang Eruc dengan pandangan tak terbaca. Segera dia melayangkan pandangannya pada Luna yang sedang duduk dan tersenyum manis padanya.
"Halo Ge, lama tidak bertemu." Sapa Luna tanpa melunturkan senyum lembut itu dari wajah cantiknya.
"Lu..Luna," lirih Aiden terbata-bata.
Pria itu bangkit dari posisinya dan segera menghampiri Luna yang sedang tersenyum padanya. Ditakupnya wajah pucat itu dan menatapnya penuh rasa haru
"Su..sung..guh.. Ini dirimu?" gumam Aiden parau dan penuh rindu.
Luna tersenyum lembut kemudian mengangguk. "Ya, ini aku. Ge, maaf karena sudah membuatmu cemas dan meninggalkanmu begitu lama," ujar Luna penuh sesal.
Aiden menggeleng, diraihnya bahu Luna lalu membawanya kedalam pelukannya. Aiden mendekap tubuh itu dengan erat seolah takut bila Luna akan menghilang dari pandangannya, selamanya. Sudah cukup mimpi buruk selama satu tahun ini, dan Aiden tidak ingin terulang kembali. Dia tidak ingin Luna pergi lagi.
"Aku merindukanmu, Ge!" bisik Luna parau, air mata mengalir dari sudut matanya yang kemudian turun membasahi pipinya.
"Gadis bodoh. Berani sekali kau tidur begitu lama dan meninggalkanku dalam kesepian. Luna, terimakasih telah kembali untukku. Aku, sangat merindukanmu..."
Luna melepaskan pelukan Aiden dan pupil matanya membulat melihat darah segar mengalir keningnya."Omo!! Da..rah, Ge kau terluka," ujar Luna terbata-bata.
Aiden menahan tangan Luna lalu menggenggamnya."Kau tidak perlu cemas. Ini hanya luka kecil saja," ucap Aiden menyakinkan. Dia menarik sudut bibirnya, meyakinkan sang gadis jika ia baik-baik saja. Meskipun pada kenyataannya kepalanya serasa ingin pecah dan sekarang Aiden baru menyesali perbuatannya.
"Baik-baik saja bagaimana, jelas-jelas luka itu terus mengeluarkan darah," sahut Alex dari arah belakang, laki-laki itu menghampiri Aiden sambil menenteng kotak p3k "Kemarilah Ai, biarkan aku mengobati luka-lukamu!" kata Alex seraya menarik lengan Aiden memintanya untuk duduk disamping ranjang Luna.
Tidak ada tanggapan dari Aiden tapi juga tidak ada penolakan, dia menurut dan membiarkan kakak tertuanya itu mengobati luka-lukanya.
"Ge, bolehkah aku yang melakukannya?" seru Luna
Alex menoleh. Memandang gadis itu sejenak, kemudian dia mengangguk dan menyerahkan kapas ditangannya pada sang adik. Dengan hati-hati, Luna membersihkan darah yang menutupi sebagian wajah Aiden hingga terlihat luka cukup lebar itu.
Setelah mengoleskan obat pada lukanya, Luna menempelkan kasa selebar jari yang menutupi setengan dari alis Aiden lalu merekatkan dengan plaster. Kemudian Luna beralih pada luka di tangan kanannya. Gadis itu membersihkan darah yang melumuri jari-jari Aiden lalu mengoleskan obat dan membebatnya dengan perban.
"Bagimana bisa kau terluka seperti ini, Ge? Apa kau baru saja terlibat perkelahian? Aku baru saja bangun dari tidur panjangku dan kau langsung membuatku cemas," ujar Luna seraya menatap pemuda itu cemas, jari-jarinya mengusap kasa yang membalut luka di alis kanannya yang terdapat bercak darah diatasnya.
"Kau benar sekali Lun, kakakmu yang gila ini baru saja terlibat perkelahian tunggal. Karna lawannya adalah tembok," sahut Alex menimpali. Luna hanya tertawa mendengar ucapan Kakak sulungnya yang penuh kekesalan itu.
Aiden tak memberikan respon apapun. Pandangannya kembali pada Luna dan menatapnya dengan sendu. Diraihnya bahu gadis itu lalu membawanya ke pelukannya dan memeluknya dengan erat.
"Luna, terimakasih telah kembali untukku. Aku, sangat-sangat merindukanmu." lirihnya berbisik.
Luna tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Aiden. "Aku juga merindukanmu Ge, sangat-sangat merindukanmu."
xxx
Bersambung
__ADS_1
xxx
Bersambung