
Daniel begitu bersemangat karena hari ini dia akan bertemu dengan Viona. Daniel sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, karena sejak Viona siuman sampai detik ini dia belum bertemu dengannya sama sekali.
Bukan karena Daniel tidak ingin datang menjenguknya, tetapi kevin tidak mengizinkannya. Dan Daniel tidak berani menentangnya.
Buah-buahan segar tak lupa dia siapkan, terutama anggur dan strawberry, karena dua jenis buah itu adalah kesukaan Viona.
Setelah berkendara kurang dari tiga puluh menit, akhirnya daniel tiba di kediaman Viona. Dia bisa keluar masuk mansion mewah itu dengan bebas, karena Daniel sudah berteman main dengan dua security yang menjaga di pintu gerbang.
"Kau datang lagi? Jangan sampai Tuan mengusirmu seperti kemarin," ucap salah satu dari kedua pria itu melihat kedatangan Daniel.
"Hahaha, kau tenang saja karena dia sendiri yang mengizinkan aku untuk datang kemari dan bertemu Viona. Lihatlah, apa yang aku bawakan untuknya. Viona sangat menyukai anggur dan strawberry, makanya aku membawakan banyak untuknya." Ucap Daniel sambil mengangkat tinggi-tinggi keranjang buah ditangannya.
"Bagus, bagus. Kalau begitu cepat masuk sebelum Tuan berubah pikiran dan melarangmu untuk masuk ke dalam apalagi menemu, Nona." ucap pria itu lagi.
"Banar benar benar. Kalau begitu aku masuk dahulu," Daniel menepuk bahu pria itu dan pergi begitu saja.
Baru juga menginjakkan kakinya di ruang tamu. Tetapi Daniel sudah merasakan hawa yang tidak mengenakkan. Tiba-tiba tubuhnya menggigil kedinginan seperti berada di Kutub Utara. Dan hal itu disebabkan oleh kehadiran Kevin di sana. Pria itu terlihat menuruni tangga dan menghampirinya.
"Halo, aku datang. di mana Viona sekarang? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Daniel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Masuklah, kau hanya punya waktu sepuluh menit untuk bertemu dengannya. Jangan macam-macam apalagi membuat dia tidak nyaman, atau kau akan tahu sendiri akibatnya!!" ucap Kevin memberi peringatan.
Daniel mengangguk dengan kaku. Sebelum Kevin berubah pikiran, buru-buru dia pergi ke kamar Viona untuk bertemu dengannya. Kali ini Kevin tidak akan mengawasinya, karena dia masih ada urusan penting yang harus diselesaikan.
"Viona aku datang." Seru Daniel setibanya dia di kamar Viona. Dan kedatangan Daniel membuat senyum Viona mengembang lebar. Dia sangat merindukan sahabatnya itu. "Lega rasanya melihatmu baik-baik saja, Vi. Oya, aku bawakan buah-buahan kesukaanmu." ucap Daniel lalu meletakkan keranjang buah itu di atas meja.
"Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa masuk ke sini? Bagaimana caranya kau meminta izin pada Paman supaya dia memberimu izin untuk menemuiku?" Viona menatap Daniel penasaran.
Pria itu tersenyum lebar. "Hehehe... Aku kan punya jurus jitu, jadi bisa dong. tetapi aku tidak bisa lama-lama, karena Pamanmu yang mirip kulkas 2 pintu itu hanya memberi waktu selama sepuluh menit." Tukas Daniel sambil menghela napas kecewa.
__ADS_1
Bukannya merasa kasihan, Viona malah menertawakannya. Dia menepuk bahu Daniel sambil tersenyum kecil. "Masih mending kau diberi izin untuk bertemu denganku, daripada tidak sama sekali." ucapnya dan dibalas anggukan oleh Daniel.
"Oya, Vi. Aku benar-benar tidak menyangka kau akan melakukan hal nekat dan gila seperti itu. Bagaimana bisa kau berlari menerobos perkelahian lalu menggunakan dirimu sendiri sebagai tameng untuk melindungi Pamanmu , dan menerima tembakan itu. Aku sampai pingsan melihatnya, untung aku bisa bangun sendiri. Dan aku pikir hari itu adalah hari terakhirmu." Tutur Daniel panjang lebar.
Viona mengambil napas panjang dan menghelanya. Sepertinya dia tidak perlu memberikan penjelasan apa pun pada Daniel tentang alasannya menyelamatkan Kevin malam itu, karena tanpa dia menjelaskannya sekali pun pasti Daniel sudah paham.
"Waktuku di sini sudah habis, sebaiknya aku pulang sekarang. Aku tidak ingin digantung hidup-hidup oleh Pamanmu. Viona, aku pergi dahulu." Pamit Daniel, dia bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.
Daniel masih menyayangi nyawanya , dia tidak ingin nyawanya melayang sia-sia di tangan Kevin. Itulah mengapa dia memilih jalur aman.
.
.
Sebuah Lamborghini Veneno berhenti disebuah gubuk tua yang terletak di sebuah hutan di pinggiran kota Seoul. Frans telah menemukan tempat persembunyian orang yang selama ini Kevin cari.
Kevin memperhatikan sekelilingnya. Tempat dia berada saat ini tampak sunyi dan sepi, tidak ada bangunan lain selain yang ada di hadapannya. Itu adalah rumah satu-satunya, tetapi rumah itu terlihat tidak berpenghuni.
Frans menganggukkan kepala. "Ya, Tuan. Saya sudah menyelidikinya, dan di sinilah selama ini dia tinggal." Jawab Frans meyakinkan. "Tuan, sebaiknya Anda tunggu di sini sebentar, saya akan masuk untuk memastikannya lagi." Ucap Frans dan pergi begitu saja.
Tak ingin membuat Kevin kecewa dan tidak mempercayainya lagi, Frans pun memastikannya terlebih dahulu. Dia masuk ke dalam rumah itu yang tampak sepi dan tidak berpenghuni, padahal baru beberapa hari lalu dia mengintai rumah ini dan ada dua orang yang tinggal di sini.
"Aneh, ke mana perginya mereka berdua?" gumam Frans kebingungan.
Dia mencari di setiap tempat . Mulai dari ruang tamu, kamar, dapur sampai kamar mandi. tetapi dua orang itu tidak ada di mana pun, ini benar-benar aneh, pikir Frans. Kemudian dia kembali pada Kevin.
"Bagaimana?" tanya Kevin memastikan.
Frans menggelengkan kepala. "maaf Tuan, mereka sudah tidak ada. Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi tetap tidak bisa menemukan kedua orang itu." Jawab Frans penuh sesal.
__ADS_1
Kevin menghela napas. "Kita kembali dahulu, mungkin saja mereka sudah kabur. tetapi tetap awasi tempat ini, karena aku yakin mereka pasti akan kembali." Ucap Kevin dan di balas anggukan oleh Daniel.
Kevin sedang menyelidiki tentang kecelakaan yang menimpa kakak angkatnya puluhan tahun silam. Dia menemukan sebuah kejanggalan dari insiden tersebut, dan entah mengapa Kevin memiliki keyakinan jika ada konspirasi dibalik kecelakaan pesawat yang menewaskan orang tua Viona.
.
.
Sedan hitam mewah itu berhenti di halaman luas kediaman Zhang. Kevin keluar dari pintu penumpang, lalu melenggang masuk ke dalam. Dia langsung pergi menemui Viona di kamarnya.
"Kau sudah makan malam?" pertanyaan itu mengalihkan perhatian Viona yang sedang membaca novel.
Wanita itu menoleh dan mendapati Kevin berjalan menghampirinya. "Paman, kau dari mana saja?" tanya Viona saat melihat kedatangan Kevin, dia menghilang sejak pagi dan baru kembali pertengahan hari.
"Kau sudah makan siang dan minum obat?" alih-alih menjawab, Kevin malah balik bertanya. Viona tidak menjawab, dia menunjuk piring kosong di atas meja dan juga wadah obatnya yang telah kosong. "Baguslah, akhirnya kau patuh juga." ucap Kevin sambil menepuk kepala Jessica.
Viona turun dari tempat tidurnya lalu memeluk lengan Kevin. "Sebenarnya Paman dari mana? mengapa pergi tidak bilang-bilang kepadaku?" tanya Viona sambil memanyunkan bibirnya.
"Paman pergi untuk mengurus sesuatu." Jawab Kevin.
"Memangnya mengurus apa? Pekerjaan atau hal lain?" tanya Viona pemasaran.
Kevin menepuk kepala berhelaian cokelat milik Viona. "Kau tidak perlu tahu, lagi pula hal ini tidak ada hubungannya denganmu. Bagaimana keadaanmu hari ini? Apa lukanya masih terasa nyeri?" tanya Kevin memastikan.
Viona menggeleng. "Aku sudah baik-baik saja," jawabnya.
Pulang bulan berarti bisa bebas, meskipun sudah keluar dari rumah sakit tetap Viona tetap seperti seorang tahanan karena Kevin tidak mengijinkannya keluar dari kamarnya. tetapi itu tidaklah masalah, lebih baik berdiam diri di kamar daripada harus terkurung di rumah sakit yang menyebalkan.
.
__ADS_1
.
Bersambung