
Menanti, adalah sesuatu yang paling membosankan di dunia ini. Namun Aiden tetap tidak pernah menyerah apalagi merasa lelah dalam hal menanti Luna kembali, meskipun penantiannya dalam menunggunya pulang adalah kenyataan pahit yang berujung memilukan. Untuk kesekian kalinya, dunia melihatnya menitihkan air mata kehilangan.
.
.
Aiden tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Luna yang berbaring di depannya. Dia masih tetap setia menunggunya, menunggu gadis itu bangun dari tidur panjangnya, namun Luna tak juga bangun.
Dokter mengatakan jika kondisinya baik-baik saja, namun akhir-akhir ini kondisinya semakin memburuk, Aiden merasa sangat takut, ia takut kehilangan gadis itu. Dia takut bila Luna akan terenggut selamanya dari sisinya. Ia tidak siap, dan tidak akan pernah siap jika harus kehilangan satu-satunya wanita yang sangat ia cintai.
Setiap hari, seluruh keluarga dan teman-teman Aiden selalu datang mengunjunginya, memberi semangat pada Luna agar gadis itu bisa segera membuka matanya dan menyudahi tidur panjangnya.
Aroma yang begitu khas dan menyengat tak sedikit pun mengusik Eric dan Alex yang sedang duduk disamping ranjang tempat gadis itu berbaring. Kedua pria tampan itu mencoba mengajak Luna untuk berbincang, meskipun tidak ada sahutan ataupun tanggapan namun hal itu tidak membuat keduanya merasa bosan ataupun jengah.
Mereka begitu bersemangat saat bercerita dengan sangat serius dan sesekali tertawa meskipun tawa itu menyiratkan kesedihan. Belum lagi Tao dan Kai serta Logan yang paling bisa mencairkan suasana.
"Nunna, cepatlah bangun, apa kau tidak ingin melihat saat bocah tengil ini menjalani masa hukumannya yang tertunda? Membayangkannya saja sudah membuat perutku rasanya seperti digelitik. Lihatlah, aku sampai menangis karena tidak bisa berhenti tertawa." ujar Tao seraya menatap Luna penuh kepedihan.
Meskipun tidak terlalu lama tinggal bersama mereka di kediaman pribadi Aiden, namun hal tersebut lebih dari cukup untuk membuat mereka menjadi dekat dan akrab.
"Itu sudah berlalu, Hyung. Dan hukuman itu sudah lewat, jadi tidak ada alasan lagi untukku menjalaninya," protes Logan sambil memanyunkan bibirnya lucu.
"Nahh... Nunna, kau mendengarnya sendiri kan? Lihatlah, bocah ini. Bagaimana bisa dia tidak mau menjalankan hukumannya, bukankah itu sangat menyebalkan." imbuh Tao Kai.
"Hyung, untuk apa mengungkit hal itu lagi? Lagi pula Oh Lolly, sudah lenyap ditelan bumi, jadi kau terima saja jika dunia memang selalu berpihak padaku!" kata Logan kemudian berdiri dari duduknya diikuti oleh Tao.
Semua yang berada didalam ruangan itu mendesah seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka bertiga yang tidak pernah bisa akur. Bahkan saat ini mereka bertiga tengah memperdebatkan sesuatu yang sama sekali tidak penting. Alex menatap Luna, diusapnya kepala gadis itu sambil memandangnya sendu.
"Lihatlah rambutmu, Lun. Rambutmu semakin memanjang, Gege jadi ingat saat kau mengatakan jika kau ingin sekali memanjangkan rambutmu sampai sebatas lutut. Sungguh konyol keinginanmu itu," ujar Alex sambil merapikan rambut Luna yang sedikit berantakan.
"Pasti kau akan terlihat sangat cantik di pesta pernikahanmu nanti. Kau pasti sudah mendengarnya sendiri, jika Pangeranmu ini ingin sekali segera menikahi mu, jadi Gege mohon segeralah bangun." kembali Alex mengajak Luna untuk berbicara, namun hanya keheningan saja yang menjawab semua ucapannya. Disampingnya, berdiri Aiden yang hanya diam memandang Luna dengan sendu.
Aiden mendongakkan wajahnya, menghalau agar cairan yang menggenang di pelupuk matanya agar tidak sampai menetes. 4 musim mereka lewati dengan kesedihan karena kehilangan Luna. Hampir 1 tahun gadis itu terbaring koma dan tidak ada yang tau kapan dia bisa bangun dari tidur panjangnya.
Aiden maju satu langkah mendekati ranjang Luna lalu mencium pucuk kepalanya penuh sayang, sambil membisikkan kata-kata yang selalu Aiden katakan tanpa bosan.
"Aku mencintaimu, Luna Williams!" bisik Aiden lembut lalu menegakkan kembali tubuhnya. Setelah gadis itu menghilang dari sisinya, barulah dia menyadari seberapa besar cinta Aiden untuknya. Ya, Aiden memang sudah jatuh cinta padanya.
"Kalian semua disini rupanya, bagaimana keadaan Putri kesayanganku hari ini?" tanya Tuan Williams yang datang tiba-tiba sambil membawa sebuket bunga mawar dan sekeranjang buah.
"Pa, pelan kan suaramu, apa kau ingin membuat pasien lain mati terkena serangan jantung karna suara jelek mu itu." tegur Eric pada sang ayah yang hanya disikapi tatapan tak bersalah lalu menghampiri Luna.
"Luna, apa kau tidak lelah tidur selama ini? Lihatlah kami semua, disini kami sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukan kami juga? Apa kau tidak merasa kasihan pada kakakmu? Dia sudah seperti mayat hidup sejak kau dinyatakan koma oleh pihak rumah sakit. Kembalilah nak, Papa sangat merindukan canda tawamu!" ujar Deen Williams parau.
Ayah empat anak itu membuka kaca matanya lalu menyeka cairan yang hampir menetes di pipinya.
"Nunna, lihatlah mereka semua. Akhir-akhir ini mereka menjadi sangat cengeng, sangat berbeda denganku yang kuat ini. Jadi segeralah bangun, nanti aku akan mengajarimu bagaimana caranya minum agar kau bisa mengalahkan Henry Hyung, kau mau tidak?" tanya Logan menatap wajah cantik Luna yang tidak memberikan respon apa-apa.
"Bodoh, apa kau ingin membunuh adikku?" serga Alex yang hanya disikapi cengiran Kuda oleh Logan.
"Hyung, ini adalah semangat masa muda. Kau yang mulai kolot itu mana mungkin bisa memahaminya. Minuman beralkohol itu adalah sumber vitamin yang sangat penting bagi kesehatan tubuh kita," entah Logan mendapatkan teori dari mana sampai-sampai dia mengatakan jika minuman beralkohol itu adalah sumber vitamin yang penting.
Aiden mendengus, Logan benar-benar membuatnya merasa geli. "Hei... kenapa kalian semua malah menatapku seperti itu? Ingin menantangku berkelahi?"
__ADS_1
"Cihh... seperti kau yang paling hebat saja, Bocah!" sahut Kai yang mulai jengah dengan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Logan.
"Nunna lihatlah, lagi-lagi aku dibully oleh mereka. Bangun secepatnya dan bantu aku mendapatkan keadilan," aduh Logan pada Luna sambil menatap mereka yang lebih tua darinya dengan pandangan penuh kemenangan.
TUKK....!!!
"Sakitt," histeris Logan setelah satu jitakan Eric mendarat mulus diatas kepalanya. "Yakk.. Hyung, kenapa kau malah menjitak ku, huh? Bagaimana kalau otakku yang cerdas ini jadi bermasalah karena jitakan itu," protes Logan sambil menatap Eric kesal.
"Kai, sekali lagi kita dengar dia bersuara, Bantu aku melemparkannya dari jendela ini," kata Tao sambil menunjuk jendela yang ada disamping Aiden.
"Tentu saja, dengan senang hati, aku juga sudah bosan mendengar ocehannya yang tidak bermutu sama sekali." balas Kai antusias, sementara Logan langsung menekuk wajahnya karena merasa telah diperlakukan dengan kejam oleh semua orang.
.
.
'Air mata mengalir dari sudut mataku. Aku dapat mendengar suara mereka, aku dapat merasakan kepedihan mereka.
Hatiku pilu setiap kali mendengarnya membisikkan kata cinta di telingaku. Aku merindukannya, aku merindukan semuanya.
Aku ingin sekali kembali, namun ada sesuatu yang menahan ku disini. Bahkan aku tidak tau dimana sebenarnya saat ini aku berada. Hanya saja aku merasakan kedamaian yang belum pernah aku temukan,'
.
.
Semua tertawa melihat wajah cemberut Logan yang tersudut, sementara Aiden hanya tersenyum seadanya. Setidaknya kehadiran Logan memberikan keceriaan di dalam kepedihan yang semua orang rasakan, memberikan hiburan tersendiri pada hatinya yang terpenjara didalam sebuah kesedihan.
Aiden mengarahkan jari-jarinya untuk menyeka cairan yang mengalir dari sudut mata Luna dan membisikkan sesuatu padanya. "Kau dengar itu, Luna? Semua orang begitu merindukanmu, jadi cepatlah bangun. Aku tidak sabar untuk melihatmu memakai gaun pengantin, kau pasti akan menjadi pengantin tercantik yang pernah ada," bisik Aiden dengan suara parau nya.
Aiden sedang menahan diri agar tidak menangis dan terlihat lemah di depan Luna. Aiden tidak ingin membuat gadisnya semakin merasa sedih, ia tau meskipun selama ini Luna selalu menutup matanya tapi ia bisa mendengar semua yang diucapkan oleh semua orang. Tubuhnya selalu memberi respon melalui gerakan-gerakan kecil pada jarinya juga air matanya.
Alex menepuk bahu Aiden dan mengusap punggungnya, ia sangat memahami penderitaan sang adik selama 1 tahun ini. Alex tau jika hampir setiap malam Aiden menangis sambil menggenggam tangan Luna, meskipun selama ini dia yang paling tegar namun pada kenyataannya Aiden sangatlah rapuh.
"Tidak akan ada yang terjadi padanya, Luna pasti akan kembali. Kau harus percaya itu, kekuatan cintamu lah yang akan membawanya kembali." Alex bangkit dan kembali berdiri tegap , senyum hangat terlukis di bibirnya.
"Ai, sebaiknya kau pulanglah dulu untuk beristirahat dan mengganti pakaianmu. Kau terlihat lelah, disini ada kami yang akan menjaga, Luna." ujar Alex.
Aiden mengangguk tanpa melakukan perlawanan. Ia sudah sangat lelah jika harus berdebat dengan Alex maupun Eric hanya karena tidak mau pulang.
"Ai, aku akan ikut bersamamu!" kata Henry yang segera menyusul Aiden.
Eric bangkit dari duduknya menghampiri Luna dan berdiri samping ranjang tempat gadis itu berbaring. Diusapnya rambut coklat gadis itu yang sudah lebih panjang dari sebelumnya.
Pria itu tersenyum miris melihat keadaan Luna saat ini, air matanya jatuh tanpa bisa dicegah saat melihat kenangannya bersama gadis itu. Eric teringat saat Luna tersenyum, menangis atau bertingkah jahil.
Luna adalah adik yang sangat dia sayangi. Meskipun dia tidak sedekat Aiden, namun Luna tetaplah permata di dalam hidupnya. Dan tepukan pada bahunya mengalihkan sedikit perhatian Eric, pria cantik itu menoleh dan mendapati Alex berdiri disampingnya
"Aku juga sangat merindukan adikku. Aku tidak sabar menunggunya bagun dan berdiri diatas altar bersama, Aiden. Pasti dia akan menjadi pengantin yang sangat cantik," ujar Alex dengan pandangan tertuju pada wajah damai Luna, Eric tersenyum miris lalu mengangguk.
"Ya," laki-laki itu menjawab singkat.
Titttt.....!!!
__ADS_1
Namun suara alat itu mengalihkan perhatian semua orang yang berada didalam ruang inap Luna. Perlahan yang kemudian semakin cepat, garis-garis dilayar monitor menjadi tidak menentu. Semua orang menjadi sangat panik, mereka merasa takut. Takut jika sesuatu yang buruk sampai menimpa gadis itu.
"Luna!!" panggil Alex yang terdengar begitu panik.
Alex menggenggam jari-jemari Luna dan memeriksa denyut nadinya. Matanya membelalak tak percaya. Laki-laki itu menggeleng antara percaya tidak percaya. "LOGAN, DOKTER," teriak Alex pada Logan yang berdiri disamping Kai.
Tanpa menunggu dan membuang waktu lebih banyak, Logan segera berlari untuk memanggil Dokter. Dia berlari dan terus berdoa dalam hatinya agar mimpi buruk itu tidak benar-benar terjadi.
.
.
'Inilah akhir dari perjalananku. Inikah akhir dari pertahananku. Aku merasa tidak sanggup lagi, aku sudah lelah dengan semuanya.
Aku ingin beristirahat dengan tenang. Ge maaf, jika aku tidak bisa menepati janjiku untuk menikah denganmu.'
.
.
Aiden mengerem mobilnya secara mendadak saat melihat ada sedan hitam yang menghadang mobilnya. Aiden melihat seorang pria keluar dari dalam mobil itu dan menghampiri mobilnya. Aiden segera turun diikuti oleh Henry yang mengekor dibelakangnya.
Tanpa satu kata pun, orang itu menarik kemeja yang Aiden kenakan dan menatapnya tajam. "Masalah apa lagi yang kali ini kau miliki denganku?" dengan tenang Aiden menyentak tangan orang itu dan menatapnya datar.
"Aku tidak tau kau memiliki berapa nyawa, Sean Williams. Kau sudah sekaratt, kenapa saat itu kau tidak mati saja dan lenyap dari dunia ini. Kau membuat semuanya menjadi kacau, jika saja kau mati pasti aku tidak akan kehilangan adik dan kakakku," teriak orang tepat didepan wajah Aiden.
"Lalu apa bedanya kau dengan mereka? Bukankah kau sama Psycho nya dengan mereka berdua, tunggu dan bersiap saja untuk segera menyusul mereka berdua ke neraka." Aiden menyeringai menatap orang itu yang tengah diselimuti api kemarahan
Gyuttt....!!!
Pria itupun mengepalkan kedua tangannya, Ia tidak bisa menerima ucapan Aiden. Giginya bergemeletuk dan matanya berkilat penuh kebencian
"SEAN WILLIAMS!!"
Langkah Aiden terhenti, pria itu berbalik dan sebuah bogem mentah menghantam wajahnya membuat sudut bibirnya robek dan terkelupas. Dia menyeka darah yang ada disudut bibirnya dan hanya menatap pria itu datar tanpa berniat membalasnya.
Aiden sedang malas meladeninya dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu termasuk pria itu yang masih sangat emosi, sampai getaran pada ponselnya menghentikan langkahnya.
"Halo, ada apa Ge?"
"....."
Ponsel dalam genggaman Aiden jatuh begitu saja setelah mendengar kabar menyakitkan yang baru saja disampaikan oleh seseorang yang menghubunginya.
Tanpa mempedulikan ponselnya, Aiden beranjak dari tempat itu dan kembali pada mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh. Henry yang merasa ada keganjilan segera mengejar Aiden setelah mengambil ponsel milik pemuda itu.
"Aiden tunggu,"
.
.
Bersambung
__ADS_1