Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Ingin Berenang


__ADS_3

Kevin bersantai di tepi kolam renang sambil menikmati segelas wine. Dia sedang menikmati hidupnya yang tenang tanpa gangguan, setidaknya untuk saat ini. Karena untuk kedepannya Kevin tidak tahu, dia tidak bisa memprediksikannya.


"Ge," suara lembut itu mengalihkan perhatian Kevin dan dua orang lainnya yang pastinya adalah Frans dan Hwan.


Frans langsung melongo dengan kedua mata yang membulat lebar. "Oh My God!!" dan berseru pelan. Dia tidak mungkin mengabaikan keindahan pelangi yang ada di depan matanya.


Viona datang dalam balutan pakaian renang yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Berbeda dengan Frans yang memberi reaksi berlebihan, Hwan hanya melongo dan tidak bereaksi sama sekali. Bagi Hwan ini pertama kalinya dia melihat wanita begitu seksi di depan matanya. Entah di sadari atau tidak, saat ini Hwan sedang mimisan.


Kevin yang sadar betul jika istrinya sedang menjadi pusat perhatian tentu saja tidak tinggal diam. Dia menyambar handuk milik Frans yang dia letakkan di atas meja lalu menyelimuti tubuh Viona dengan handuk itu.


"Kau cari mati, ya? Dengan berpakaian seperti ini?" geram Kevin sambil menatap Viona tajam.


"Memangnya apa yang salah. Aku kan ingin berenang, tidak mungkin bukan orang yang mau berenang memakai pakaian lengkap." Gerutu Viona sambil merapatkan handuk yang membungkus tubuhnya.


"Tapi apa kau tidak sadar jika sekarang malah menjadi pusat perhatian si mesum itu!!" Kevin menunjuk Frans yang tetap tidak berkedip menatap Viona.


"Congkel saja matanya , beres kan." Jawab Viona dengan entengnya. Frans menoleh seketika. "Apa? Makanya jangan jelalatan jadi orang!!" ucap Viona sambil menatap Frans dengan sebal.


"Nunna, kenapa kau jadi sekejam itu, huh? Mata ini adalah aset paling berharga yang aku miliki, dan seenak jidat kau mengatakan supaya di congkel saja. Apa kau bercanda? Ge, kenapa kau mengajari istrimu jadi mengerikan seperti ini sih?" lalu pandangan Frans bergulir pada Kevin, namun Kevin tidak menghiraukannya.


"Ayo kembali ke dalam. Kau bisa berenang lain kali. Kalau perlu aku akan membuatkan kolom renang khusus untukmu." Kevin merangkul bahu Viona dan membawanya masuk ke dalam.


"Tapi, Ge."


"Nurut atau kau ingin aku siksa lagi seperti kemarin lusa?" ancam Kevin dan membuat pupil mata Viona membelalak sempurna.


Buru-buru wanita itu menggelengkan kepala. "Oh, tidak lagi-lagi. Yang kemarin malam saja rasanya belum hilang dan sekarang kau mau menambahnya lagi, no no no no!!" kata Viona menegaskan.

__ADS_1


"Makanya nurut!!" ucap Kevin menimpali.


Viona memanyunkan bibirnya. Kesal terlihat di raut wajahnya. "Dasar suami menyebalkan!!" Viona memukul dada Kevin dan meninggalkannya begitu saja.


Kevin hanya bisa mengendus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Lagi pula suami mana yang rela tubuh istrinya dinikmati oleh laki-laki lain, meskipun orang itu adalah adiknya sendiri. karena yang boleh menikmati tubuh Viona hanya dirinya saja.


"Ikut aku," Kevin meraih tangan Viona dan menghentikan langkah wanita itu.


Viona menoleh dan menatap Kevin dengan bingung."Kemana?" tanya wanita itu penasaran.


"Bukankah kau ingin berenang? Dan aku akan membawamu ke tempat yang tepat, dan di sana kau bisa berenang sepuasnya tanpa harus ada banyak pasang mata yang melihatmu setengah tellanjang." Jawab Kevin.


"Di mana?" Tanya Viona semakin penasaran. Dia kembali bersemangat dan tidak semurung sebelumnya.


"Kau akan tahu setelah kita tiba di sana." Jawab Kevin. "Tapi sebelum pergi berpakaian yang benar dulu, tidak mungkin aku mengajakmu pergi dengan pakaian seperti ini."


Pria itu mendengus kesal. "Kenapa banyak sekali pertanyaan? Dan apakah kau masih waras sampai-sampai ingin berenang di cuaca dingin seperti ini?!"


"Memangnya kenapa kalau cuacanya dingin? Bukankah saat aku kedinginan ada kau yang bisa menghangatkan ku." Ucap Viona tersenyum jahil.


Lagi-lagi Kevin mendengus mendengar ocehan Viona. Daripada membawa Viona berenang, lebih baik membawanya pergi berbelanja. Dan Kevin yakin wanita penggila fashion seperti dia tidak mungkin menolak jika diajak ke pusat perbelanjaan.


"Sudah jangan banyak protes. Ayo, aku temani kau ganti pakaian."


Viona mendengus kasar. Sambil menghentakkan kakinya sebal. Wanita itu pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. dan lagi-lagi dia harus menuruti Kevin untuk memakai pakaian hangat, jelas-jelas Viona tidak kedinginan sama sekali tapi Kevin malah bersikap berlebihan.


Tapi Viona sadar jika yang Kevin lakukan juga demi dirinya, demi kebaikannya.

__ADS_1


Akhirnya Viona pun memilih mengalah dan menuruti suaminya. Meskipun sambil menggerutu, dia tetap mengganti pakaiannya.


"Sudah." Ucap Viona sekembalinya dari dari kamarnya.


Kevin tersenyum lebar. "Nah, begini kan jauh lebih baik. Ayo berangkat sekarang, aku akan membawamu berbelanja dan kau bebas membeli apapun yang kau inginkan." Ucap Kevin membuat senyum di bibir Viona merekah seketika. Dia paling semangat soal berbelanja.


"Oke, Ge. Dengan senang hati. Dan kau jangan menyesal jika aku harus menghabiskan banyak tabunganmu." Tukas Viona sambil tersenyum lebar.


Dia sudah tidak murung lagi seperti tadi. Dan keinginannya untuk berenang hilang begitu saja. Karena tidak ada yang lebih menyenangkan di bandingkan berbelanja pastinya. "Dasar kau ini, apa semua wanita sama sepertimu." Ucap Kevin sambil menjitak kepala Viona dengan gemas. Tidak ada nada protes yang keluar dari bibirnya. Dia malah tertawa.


"Sudah ayo berangkat." Viona memeluk lengan Kevin dan menariknya masuk ke dalam mobil.


Lagi-lagi Kevin hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Namun detik berikutnya sudut bibir Kevin tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Tidak ada yang lebih penting bagi Kevin selain kebahagiaan Viona. Karena membahagiakannya adalah tujuan hidup Kevin selama ini.


xxx


"Agnes. Apa yang kau lakukan di kamarku? Dan kenapa semua barang-barang aku kau keluarkan dari sini?" Ella yang baru tiba di rumahnya kebingungan saat melihat Agnes menempati kamarnya dan semua barang-barang miliknya dia keluarkan paksa kecuali barang-barang mewah miliknya.


"Mulai hari ini dan seterusnya, kamar ini akan menjadi kamarku. Kau bukan lagi Nyonya di rumah ini, warna yang lebih pantas menjadi Nyonya adalah aku dibandingkan dirimu. Dan jika kau masih ingin tinggal di rumah ini, kau bisa menjadi babu." ujar Agnes dan membuat pupil mata Ella sedikit membulat.


Dia menatap Agnes dengan bingung. "Maksud mu apa?" tanya Ella meminta penjelasan.


"Ini adalah surat pengalihan hak milik. Semua harga Keluarga keluarga Li kini menjadi milikku dan sekarang aku adalah pemiliknya yang sah!!" ucap Agnes menegaskan.


Ella menggeleng. "Tidak mungkin, ini benar-benar tidak mungkin. Kau benar-benar Iblis, Agnes. Dasar kita tidak tahu terima kasih, sudah di tolong malah mengkhianati. Tunggu saja aku pasti akan membalas perbuatanmu ini." Ucap Ella dan pergi begitu saja.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2