
Kevin memandangi layar monitor di depannya dengan pandangan serius. Dia sedang mencari tahu tentang silsila keluarga mendiang ayah kandungnya. Kevin hanya ingin tahu wajah dan mereka orang-orang yang seperti apa. Dan sungguh mengejutkan, karena ternyata di dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan.
Ternyata ayah kandung Kevin dan Frans memiliki latar belakang yang besar. Dan semua itu berada di luar pemikiran Kevin.
"Ge, sebenarnya informasi apa yang sedang kau cari? Kenapa serius sekali?" tanya Viona saat tiba di kamar dan mendapati Kevin masih duduk berhadapan dengan laptopnya.
"Tentang ayah kandungku. Aku sedikit penasaran tentang keluarga ayahku, dan siapa yang menduga jika mereka masih keturunan bangsawan. Yang artinya di tubuhku dan Frans, masih mengalir darah biru." Ujar Kevin.
"What!! Darah biru? Benar-benar mengejutkan. Ge, ternyata latar belakangmu sangat besar. Lalu apa rencanamu sekarang? Apa kau akan pergi ke China dan menemui keluarga mendiang ayahmu lalu memberitahu jika kau adalah Tuan Muda yang selama ini hilang?" tanya Viona memastikan.
Kevin menggeleng. "Aku sendiri belum tahu, kita lihat saja ke depannya bagaimana. Jika keadaan mengharuskan aku pergi ke sana dan menemui mereka, maka akan ku lakukan. Namun untuk saat ini, aku belum ingin memikirkannya sama sekali." Jawab Kevin.
"Jika kau pergi ke China, kau juga harus tetap membawaku apapun alasannya. Aku tidak mau ditinggal sendirian di sini dan kesepian,"
Kevin mengangguk. "Itu pasti. Mana mungkin aku tega meninggalkan mu sendirian. Siapa yang bisa kau andalkan jika aku tidak ada." Ujar Kevin sambil mengusap helaian panjang Viona dengan lembut.
Wanita itu tersenyum. "Kau memang yang terbaik, Ge." Ucap Viona sambil tersenyum lebar. "Oya, Ge. Kenapa bocah itu betah sekali di China? Apa dia tidak berencana untuk pulang?" tanya Viona. Yang dia maksud adalah Frans.
"Kemungkinan dia akan menetap di sana dalam waktu yang lama. Semalam dia menghubungiku dan meminta ijin untuk tinggal sementara waktu di China. Selain karena dia ingin lebih dekat dengan Kakek, Frans juga ingin membantu di perusahaan." Jawab Kevin.
"Kenapa tiba-tiba sekali? Bukannya sejak awal dia tidak memiliki ketertarikan untuk bergabung dengan perusahaan milik, Kakek? Mungkinkah ada sesuatu yang membuat dia berubah pikiran?"
Kevin mengangguk. "Cucu angkat Kakek adalah alasannya. Kakek , memiliki seorang cucu angkat dan menjabat sebagai manajer utama di perusahaan miliknya. Frans, berencana untuk menjadi asisten pribadinya supaya tidak ada lagi orang yang bisa menindasnya." Tutur Kevin.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaannya di sini? Bukankah selama ini dia yang menjadi tangan kananmu? Apa kau tidak akan kewalahan jika dia tidak ada?"
__ADS_1
Kevin menggeleng. "Tentu saja tidak. Dan jika aku tetap menahan dia di sisiku, kapan Frans bisa maju? Lagipula masih ada Rico yang bisa aku andalkan, dia atas imbang dengan Frans." Jelas Kevin.
"Jadi begitu. Tapi rumah ini terasa agak sepi tidak ada dia. Aku jadi tidak memiliki teman untuk berdebat, dan itu membuatku bosan." ujar Viona. Wanita itu mengambil napas panjang dan menghelanya.
"Tidak perlu berkecil hati. Jika kau merindukannya, kita bisa pergi ke sana untuk mengunjunginya."
Viona mengangguk. "Oya, Ge. Ada festival kembang api akhir pekan ini. Bagaimana jika kita pergi untuk melihatnya?" usul Viona. Wanita itu menatap Kevin penuh harap. Berharap Kevin mau menurutinya dan pergi bersamanya. Viona mengenal suaminya ini dengan baik, Kevin adalah tipe pria yang tidak suka berada di keramaian.
"Aku tidak janji, karena aku ada janji dengan salah satu kolegaku yang dari luar negeri untuk bertemu akhir pekan ini." Jawab Kevin.
"Ya sudah kalau tidak bisa, maka jangan salahkan aku jika pergi bersama pria lain." Ucap Viona sambil melangkah menjauh dari Kevin.
Pupil mata kanan Kevin membulat sempurna setelah mendengar ucapan Viona. "Tidak boleh!! Baiklah, aku akan pergi denganmu!!" Viona tersenyum lebar. Sudah Viona duga, ternyata sangat gampang membujuk Kevin supaya mau diajak pergi ke festival kembang api.
"Nah, begitu dong, Ge. Dengan begitu aku tidak perlu susah-susah mengajak pria lain untuk pergi bersama." Ucap Viona sambil melambaikan tangannya.
Kevin mengutak-atik ponselnya untuk kontak nomor Rico."Segera hubungi Tuan Mah, undur pertemuanku dengannya. Aku ada urusan mendadak akhir pekan ini!!" kemudian Kevin memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
xxx
Sonny mengirim seorang pembunuh bayaran untuk menghabisi Nyawa Frans. Dia telah mendapatkan informasi tentang putra dari keponakannya yang selama ini hilang. Agar mereka tidak mengacaukan semuanya, Sonny mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisinya.
Sebuah Van hitam melaju dengan kecepatan sedang. Mengikuti sedan berwarna silver yang melaju dengan santai di depan. Itu adalah mobil dari target mereka, dan orang-orang di dalam Van itu masih menunggu momen yang tepat untuk melancarkan aksinya.
Dan keberadaan Van itu rupanya disadari oleh dua orang yang berada di dalam sedan silver tersebut, yang pastinya adalah Frans dan Hwan. "Frans, sepertinya kita sedang diikuti." Ucap Hwan sambil sesekali menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Ya, aku juga menyadarinya. Ge, kira-kira siapa ya yang mengikuti kita?" tanya Frans.
Hwan menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang dikirim oleh keluargaku untuk menghabisi diriku," jawab Hwan.
Frans menoleh dan menatap Hwan dengan pandangan terkejut. "Apa mereka benar-benar sekejam itu padamu?" tanya Frans dan lagi-lagi di balas anggukan oleh Hwan. "Astaga, kenapa di dunia ini ada manusia seperti mereka? Lalu Apakah ayahmu tidak melindungi mu sama sekali dari orang-orang mencelakai mu?" tanya Frans lagi.
"Dia sangat membenciku, jadi mana mungkin sudi untuk melindungi aku. Bahkan ketika istri muda dan anak-anaknya mengusirku keluar dari rumah, dia hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Lalu apa yang bisa aku harapkan dari orang sepertinya? Hidupku benar-benar sangat menyedihkan." Ujar Hwan. Hwan tersenyum tipis, kesedihan terlihat jelas dari raut wajahnya.
Frans menepuk bahu Hwan dan membuat lelaki itu menoleh seketika. "Jangan bersedih lagi, lagi pula kau masih memilikiku dan Kakek. Kami adalah keluargamu sekarang, jadi jangan berpikir jika kau sendirian di dunia ini." Ucap Frans sambil tersenyum lebar.
Dia memahami betul apa yang Hwan rasakan. Pasti tidak mudah menjadi dirinya. Dan Frans akan selalu berada di sisinya dan mendukungnya.
Namun sekarang ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan, yakni menghindari mereka tanpa menimbulkan masalah. Frans malas untuk berkelahi dan untuk itu dia berencana untuk berhenti di kantor polisi.
Hwan mengangkat kepalanya yang semula bersandar pada sandaran jok mobilnya. pandangannya kemudian menyapu ke segala penjuru arah, lalu pandangan Hwan bergulir pada Frans dan menetapnya dengan bingung.
"Frans, untuk apa kita datang kemari? Ini, bukankah kantor polisi?" tanya Hwan dengan bingung.
"Memang, Aku sedang malas untuk berkelahi. Jadi aku cari aman makanya pergi ke sini." Jawab Frans.
Hwan menghela napas. "Dasar kau ini, selalu saja ada ide gilanya." Ucap Hwan sambil menggelengkan kepala.
Frans tertawa. "Bukankah aku jenius?"
"Yeahh..."
__ADS_1
xxx
Bersambung