Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Jangan Konyol


__ADS_3

Langit malam tampak gelap. Bulan dan bintang bersembunyi di balik kabut kelam. Awan mendung menggantung di langit kelabu. Angin bertiup kencang, hingga menimbulkan suara yang cukup membuat siapapun merinding karena dingin yang dihembuskan.


Gadis itu menoleh setelah mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang datang. Benda hangat jatuh diatas bahunya yang hanya tertutup kain tipis dress yang melekat di badannya.


"Apa kau ingin mati membeku? Bisa-bisanya kau berdiri di sini hanya dengan pakaian setipis ini!!" alhasil gadis itu yang pastinya adalah Luna mendapatkan Omelan dari Aiden.


Bukannya tersinggung, Luna malah tertawa. Dia menarik Aiden untuk berdiri di sampingnya. Mereka berdiri bersebelahan dan sama-sama memandang langit kelam tanpa bintang.


"Ge, jika suatu hari nanti kau sudah menemukan jodohmu dan kalian menikah, apa aku masih memiliki tempat terbaik di hatimu?" Luna menoleh, mengunci langsung sepasang siber mata hitam milik Aiden.


"Konyol!! Sebenarnya apa yang kau pikirkan, bagaimana bisa kau berpikir sampai sejauh itu. Tidak ada satu orang pun yang bisa menggeser posisimu di hatiku. Aku sudah pernah memberitahu mu, jika aku tidak akan pernah menikah supaya bisa memenuhi janjiku pada mendiang Kakek untuk selalu menjaga dan melindungimu." Tukas Aiden panjang lebar.


Luna tersenyum lebar mendengar jawaban Aiden. Dari Aiden, pandangan Luna kembali bergulir pada langit malam.


"Ge, kau jangan mengatakan omong kosong. Mana bisa kau hidup tanpa seorang pendamping yang kelak akan menemanimu menua. Karena belum tentu aku akan selalu berada di sisimu. Suatu saat aku pasti akan menikah dan berumahtangga, meskipun aku sendiri tidak tahu kapan jodohku itu akan datang." Tutur Luna.


Gadis itu menutup matanya dan menghela napas. Dia memang tidak ingin kehilangan kakaknya, tapi bukan berarti Luna ingin menjadi beban bagi Aiden. Luna ingin supaya Aiden tetap menikah dan membina rumah tangga, karena bagaimana Apun juga dia tetap membutuhkan seorang pendamping hidup yang akan menemaninya menua kelak.


"Aku tidak mengatakan omong kosong. Karena jika aku sampai menikah, pasti perhatianku akan terbagi dan kau bukan lagi menjadi prioritas utamaku. Aku tidak ingin membuatku kehilangan sosok kakak yang menyayangi dan kau sayangi. Jadi kau yang jangan mengatakan omong kosong!!" tutur Aiden.


Luna kembali menarik sudut bibirnya dan tersenyum lebar. Dia meraih lengan kanan Aiden lalu memeluknya. Luna menyandarkan kepalanya di bahu kanannya.


"Ge, terimakasih telah menjadi Kakak yang baik dan selalu bisa aku andalkan. Aku benar-benar beruntung memiliki Kakak sepertimu," ujar Luna bergumam.

__ADS_1


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Bukankah tugas seorang Kakak selalu melindungi adiknya?" ucap Aiden sambil melirik kearah Luna.


Aiden menarik lengannya yang di peluk Viona lalu merangkul punggung gadis itu dan menyandarkan kembali kepala Luna di atas bahu lebarnya. Keheningan kembali menyelimuti kebersamaan mereka berdua, tidak ada lagi obrolan di antara Luna dan Aiden, mereka sama-sama melihat langit malam bertabur bintang.


xxx


Luna hanya bisa mendengus sebal saat kedua kakaknya lagi-lagi merencanakan sebuah kencan buta untuknya dan ini bukan yang pertama kalinya.


Dia benar-benar tidak habis pikir dengan mereka berdua yang bersikeras memaksa supaya dirinya segera mencari memiliki pasangan, padahal Luna masih ingin menikmati kesendirian. Dan sepertinya datang ke kediaman Valentino adalah kesalahan yang besar.


Luna tidak pernah tau apa yang ada di dalam kepala mereka berdua. Hingga mereka begitu gencar untuk menjodohkannya dan berkali-kali merencanakan kencan buta yang selalu berakhir tidak sesuai rencana mereka.


Mereka bersusah payah mengatur kencan untuk dirinya, sementara mereka sendiri tidak memiliki kekasih untuk di kencani. Menggelikan memang, tapi itu Luna anggap sebagai bukti kepedulian mereka pada dirinya. Dan hanya Aiden satu-satunya yang tidak pernah memaksa dirinya untuk segera mencari jodoh.


" No .. no .. no. Tidak ada alasan dan penolakan lagi Luna, terima kencan buta ini dan jangan coba untuk melarikan diri seperti malam itu." Menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Luna, sulung Valentino itu tidak ingin menerima penolakan lagi. Sedangkan Luna hanya bisa mendengus kesal.


"Ini buruk." Dumalnya sambil mencerutkan bibirnya lucu, membuat Alex yang melihatnya tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya gemas.


"Dasar gadis ini."


"Awww---- sakit." Pekik Luna sambil mengusap pipinya yang baru saja di cubit oleh Alex.


"Makanya jangan banyak protes dan terima kencan buta ini." Sahut Alex menimpali. Alhasil Alex pun langsung mendapatkan hadiah tatapan mematikan dari sang adik tercinta.

__ADS_1


"Sekali tidak tetap tidak. Jika mau, kalian saja yang kencan dengan dia." Serunya.


Luna pun segera kabur meninggalkan kedua kakinya dan mengunci pintu kamarnya sebelum Alex dan Eric kembali mengungkit lebih panjang lagi perihal kencan buta yang telah mereka rencanakan itu. Andaikan saja Aiden ada bersamanya, memiliki tempat untuk berlindung, sayangnya Aiden sedang tidak ada.


Jangankan menjalaninya, mendengarnya saja membuat perut Luna terasa mual. Gadis itu mulai jengah dengan sikap menyebalkan kedua kakaknya. Tidak jarang sumpah serapah Ia lontarkan untuk kedua pria tampan tersebut. Namun hal itu tak berpengaruh sedikit pun untuk mereka berdua, yang ada mereka kian gencar mengatur kencan buta untuknya.


"Kacau." Eric mengumpat pelan.


Eric mendengus panjang. Bukan kegagalan kencan itu yang Ia cemaskan, tapi Luna lah. Ia takut jika adik manisnya akan menjadi perawan tua karena sejak remaja hingga saat ini di usianya yang menginjak lebih dari dua puluh tahun, dia belum pernah kencan sama sekali


Dan Luna berhasil memecahkan rekor jomblo terlama. Karena sahabat-sahabatnya semua sudah pemiliki teman kencan. Hanya Luna satu-satunya yang tidak tertarik dengan yang namanya dunia percintaan.


Pintu kamar bercat putih itu terbuka dan menampilkan sosok gadis cantik bermata Hazel yang sedang berjalan menuruni tangga dengan pakaian yang sama seperti yang dia pakai sebelumnya.


Luna begitu manis dengan balutan mini dress berwarna peach yang sedikit mengembang di bagian bawahnya, cardigan putih sepanjang siku dengan hiasan mutiara di dadanya. Tak lupa boots semata kaki yang menyempurnakan penampilannya, sedangkan rambut pink soft bergelombangnya di biarkan tergerai indah dan jatuh di atas punggungnya yang mencapai pinggulnya.


Siapa pun yang melihat penampilan gadis itu siang ini pasti akan terpesona dengan kecantikannya yang terpahat sempurna.


"Luna, kau mau kemana? Apa kau ingin pergi lagi dari sini?" Tegur Alex saat melihat kehadiran si bungsu.


"Lebih baik aku tidak usah datang kemari. Ge, kalian sangat menyebalkan!!" Ketus Luna dan berlalu begitu saja, meninggalkan kedua Kakaknya.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2