Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Villa


__ADS_3

Limousine hitam itu berhenti disebuah Villa yang hampir semua dindingnya di dominasi warna putih. Tiga orang keluar dari Limousine tersebut dan memasuki Villa. Dua diantara ketiganya tak bisa menyembunyikan kekagumannya, sedangkan pria dalam balutan pakaian serba hitam itu menunjukkan ekspresi biasa saja, bahkan wajah tampannya terlihat datar.


"Wow, jadi ini Villanya? Paman, kenapa kau bisa berpikir untuk membeli Villa di sini?" Tanya Viona memastikan.


"Kenyamanan, itulah alasanku. Apalagi kita juga membutuhkan Privasi, dibandingkan hotel bukankah lebih nyaman untuk tinggal di rumah sendiri?" ujar Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.


"Ya, Paman benar juga. Frans, sampai kapan kau mau bengong seperti sapi ompong? Sudah ayo masuk, Paman tolong bawakan koperku ya." Seru Viona sambil menarik Frans untuk masuk ke dalam.


"Nunna, pelan-pelan. Kau membuatku hampir terjungkal!!" teriak Frans.


"Diamlah, Frans!! Kau terlalu berisik." Ucap Viona sambil menjitak kepala pemuda itu.


"Tapi Nunna, bagaimana dengan koperku?" serunya.


"Biarkan Paman saja yang membantumu membawakannya. Kau akan adiknya, jadi dia tidak akan menolaknya." Ujar Viona..


Frans menoleh kebelakang. "Ge, Maaf harus merepotkan mu." seru Frans di tengah langkahnya.


"Frans, kau sudah mulai berani, ya!!" geram Kevin dengan nada rendah namun berbahaya.


Pemuda itu menggeleng. "Aku tidak berani, Ge. Tapi aku terpaksa. Jika ingin memarahi, marahi saja Viona Nunna. Karena dia yang memaksaku!!" ujar Frans meminta maaf.


Kevin hanya bisa mendengus. Sepertinya memang harus dia yang membawa koper-koper itu ke dalam. Rasanya Kevin ingin menjitak kepala mereka berdua, dan berani-beraninya mereka malah memerintahnya.

__ADS_1


Setibanya di kamar. Viona langsung merebahkan tubuhnya. Dia memilih kamar yang berhadapan dengan taman. Karena Viona ingin ketika dia membuka matanya di pagi hari, pemandangan yang dia lihat untuk pertama kalinya adalah sebuah pemandangan yang indah.


"Paman, aku pilih kamar yang ini. Kamar utama untukmu saja. Disini pemandangannya terlihat lebih indah," ujar Viona sambil melihat pemandangan diluar.


"Kau yakin?" tanya Kevin memastikan.


Viona mengangguk . "Tentu saja yakin," jawabnya.


Kamar utama berada tepat di sebelah kamar yang Viona pilih. Meskipun ini bukan kamar utama, namun tak kalah megah dan mewah. Dibandingkan kamar utama, Viona jelas menyukai kamar yang dia pilih ini. Karena dari sini dia bisa menikmati semua pemandangan indah di luar sana. Baik itu perbukitan maupun taman Mawar. Semua terlihat jelas dari kamar ini.


"Ya sudah, sebaiknya kau istirahat. Malam nanti kita pergi jalan-jalan," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.


"Baiklah," jawab Viona tersenyum.


xxx


Kevin membuka jendela kamarnya dan matanya langsung dimanjakan dengan pemandangan pegunungan hijau yang mengelilingi Villa. Setelah berkutat dengan berbagai masalah yang tidak pernah ada habisnya, akhirnya Kevin bisa bersantai untuk sejenak.


Sebenarnya tidak ada masalah apapun di Dubai, dia hanya beralasan saja. Entah apa alasannya sampai-sampai Kevin membatalkan pertemuan penting dengan para koleganya yang ada di sana. Yang jelas, mereka telah menyinggung Kevin. Di tempat ini, akhirnya Kevin bisa menghirup udara bebas tanpa perlu memikirkan bahaya yang selalu mengiringi setiap langkah kakinya.


Angin tiba-tiba berhembus kencang. Membuat kemeja yang dia kenakan tersingkap dan membuat singlet putih yang menjadi lapisan dalam kemejanya terlihat, karena kancingnya yang tidak terkait sempurna.


"Ge, apa kau sibuk?" pertanyaan itu sedikit menyita perhatiannya. Kevin menoleh ke belakang dan mendapati Frans berjalan menghampirinya.

__ADS_1


Kevin menggeleng. "Tidak , memangnya kenapa?" tanya Kevin.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berbincang lama denganmu." Jawab Frans.


Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Kemarilah," Kevin meminta Frans untuk mendekat. Selanjutnya mereka berdua berdiri bersebelahan.


Untuk sesaat , keheningan menyelimuti kebersamaan Kevin dan Frans. Tidak ada obrolan di antara kakak beradik tersebut, frans bingung bagaimana harus memulai obrolan dengan sang kakak yang memiliki sifat seperti Kutub Utara.


Mengikuti Kevin selama bertahun-tahun, membuatnya mengerti tentang kepribadian pria itu. Kevin adalah tipikal pria yang tidak banyak bicara, dan hanya bicara seperlunya saja. Dia tidak suka basa-basi dengan mengatakan hal-hal yang tidak penting sama sekali.


"Bukankah kau bilang ingin mengobrol denganku? Lalu kenapa diam saja?" tanya Kevin memulai obrolan.


"Sebenarnya aku bingung darimana harus memulainya, Ge. Karena aku masih belum terbiasa, apalagi memanggilmu dengan sebutan Gege. Aku benar-benar belum terbiasa sama sekali," ucap Frans sambil menundukkan kepala.


Kevin tersenyum mendengar ucapan adiknya. Dia berbalik badan kemudian menepuk bahu Frans. "Kita adalah kakak adik, kenapa masih harus ada jarak? Aku ingin kau bersikap biasa padaku, tidak perlu canggung apalagi menjaga jarak dariku." Ujar Kevin. Kevin ingin Frans bersikap normal padanya, bukannya canggung seperti ini.


"Baik, Ge. Aku mengerti." Ucap Frans sambil tersenyum lebar. Frans juga tidak ingin ada jarak antara dirinya dengan Kevin. Dia ingin dekat dengan kakaknya tersebut, apalagi mereka hanya saling memiliki satu sama lain.


Perlahan tapi pasti, kerenggangan antara mereka berdua semakin terkikis. Frans yang awalnya bersikap canggung pada Kevin mulai bersikap biasa , bahkan tak jarang dia melemparkan candaan padanya. Dan sikap seperti inilah yang Kevin harapan dari hubungan mereka berdua.


xxx


Bersambung

__ADS_1


xxx


__ADS_2