
Cklekkk....
Dion menoleh setelah mendengar suara decitan pintu di buka. Dia melihat bayangan seorang pria memasuki ruangan dengan sebuah senjata api di tangan kanannya. Dion yang ketakutan terus mundur ke belakang saat langkah orang itu semakin dekat.
"Si...Siapa kau? Ma..Mau apa kau? Jangan mendekat." Teriak Dion menuntut.
Listrik kembali menyala dan sekarang Dion bisa melihat jelas wajah orang yang menghampirinya. Dia ternyata adalah Kevin, amarah Dion semakin memuncak melihat kedatangannya. Dia berteriak dan menghujani Kevin dengan berbagai kata-kata kasar yang sebenarnya tidak pantas untuk di dengar.
"Ma..Mau apa kau?" kaget Dion ketika Kevin mengacungkan ujung senjata api miliknya tepat di kening Dion.
Lelaki itu menyeringai tajam. "Menyingkirkan benalu dari rumah ini!!" jawab Kevin dengan santai.
Dion menatap Kevin dengan marah. "Memangnya siapa yang kau sebut sebagai benalu?!" tanya laki-laki itu dengan tatapan tajam dan menusuk.
Kevin menatap Dion dengan pandangan meremehkan. Sudut bibir Kevin tertarik ke atas membentuk seringai sinis di wajah tampannya. Seringai itu membuat Dion semakin berkeringat dingin.
"Memangnya siapa lagi jika bukan dirimu?! Karena kau adalah satu-satunya benalu yang ada di sini!!" jawab Kevin menimpali.
Dion mengepalkan tangannya. Amarah terlihat dari sepasang mata hitamnya. Lagi lagi dan lagi, Kevin selalu ikut campur dan itu membuatnya muak. Membuat Dion semakin berkeinginan untuk menyingkirkan Kevin dari dunia ini.
"Ada apa dengan tatapanmu itu? Kenapa, kau mau marah tidak terima?" Kevin menyeringai dan menatap Dion dengan sinis. Detik berikutnya tatapannya berubah dingin dan tajam. "Katakan apa permintaan terakhir mu sebelum aku mengirim ke neraka?!"
Alih-alih merasa takut. Dion malah menatap Kevin dengan pandangan meremehkan "Kau pikir bisa menakuti ku dengan ancaman seperti itu? Aku tidak pernah takut pada apapun termasuk kematian, jadi jangan melakukan hal konyol yang menggelikan." Ujar Dion.
Kevin menanggapi ucapan Dion dengan sinis. Dia ingin melihat apakah Dion benar-benar tidak takut pada kematian seperti yang baru saja dikatakan, atau mungkin hanya mengatakan omong kosong saja. "Kita coba kalau begitu,"Kevin mengangkat senjatanya dan mengarahkannya pada Dion. Membuat pupil matanya membelalak sempurna.
"Ma..Mau apa kau?" tanya Dion dengan suara bergetar, ketakutan terlihat jelas dari raut mukanya ketika melihat Kevin mengangkat senjatanya dan mengarahkannya ke kepalanya.
__ADS_1
"Tentu saja melakukan uji coba padamu. Bukankah kau bilang dirimu tidak pernah takut pada kematian. Jadi kita lihat saja, yang kau katakan benar atau hanya omong kosong saja!!" jawab Kevin sambil melepaskan tembakannya ke arah Dion.
DOORRR..
"Aaaahhh, kakiku!!" tembakan itu bersarang pada paha kanan atas. Dion langsung jatuh tersungkur setelah menerima satu tembakan dari Kevin. Keringat tampak mengucur deras dari keningnya. Dion kesakitan. "Ke..Kenapa kau benar-benar menembak ku?!" bentak Dion emosi.
Kevin menyeringai sinis. "Rupanya kau hanya mengatakan omong kosong saja, buktinya kau masih takut pada kematian. Bagaimana jika kita membuat hal ini menjadi lebih menarik?" usul Kevin. Melihat seringai yang di berikan oleh laki-laki itu membuat Dion semakin curiga dengan rencananya.
"Kau~"
"Cepat masuk dan seret pria ini ke tengah hutan. Ikat dia di bawah pohon dan biarkan di sana sebagai makanan binatang buas!!" perintah Kevin pada anak buahnya.
Dion membulatkan kedua matanya setelah mendengar Kevin memberikan perintah gila pada seseorang. Dia menggeleng dan terus menggeleng. Tentu saja dia tidak mau, Dion masih ingin hidup lebih lama di dunia ini bukannya mati dengan cara mengenaskan.
"Tidak, aku tidak mau. Aku mohon jangan lakukan itu. Aku bersalah, aku minta maaf. Untuk itu jangan lakukan apapun padaku, aku mohon padamu!!" teriak Dion sambil berlutut di depan Kevin. Dia memegang kedua kaki Kevin dan meminta ampun padanya.
"Baik, Tuan." dua orang itu membungkuk, lalu menyeret Dion dan membawanya meninggalkan kediaman Qin.
Dion terus berteriak, memohon supaya Kevin mengampuni dan melepaskan dirinya. Namun hal tersebut tidak di hiraukan olehnya, Kevin benar-benar bersikap seolah-olah dia tuli dan tidak bisa mendengar. Kevin meninggalkan kan kamar Kakeknya dan pergi ke kamarnya
.
.
Viona menoleh setelah mendengar suara decitan pintu dibuka dari luar. Terlihat Kevin memasuki kamar. "Ge, kau pergi ke mana dulu? Kenapa lama sekali?" tegur Viona bertanya.
"Tidak ke mana-mana, hanya berbincang dengan beberapa penjaga di depan. Kenapa kau belum tidur?" tanya Kevin sambil melirik ke arah Viona.
__ADS_1
Terlihat Kevin membuka jas-nya dan meletakkannya begitu saja. Menyisakan Vest hitam dan singlet putih yang menjadi dallaman Vest-nya. Kemudian pria itu mendaratkan pantatnya pada sofa di sudut ruangan. Jari-jari besarnya kemudian menuangkan wine ke dalam gelas kosong di atas meja.
"Aku belum mengantuk. Oya, Ge. Aku tadi mendengar suara teriakan dari kamar Kakek, bukankah dia sedang pergi ke luar kota. Lalu itu suara siapa?" tanya Viona.
"Mungkin kau salah dengar, tidak ada teriakan. Ini sudah larut malam, sebaiknya cepat tidur." Pinta Kevin pada Viona.
Alih-alih mendengarkan Kevin. Viona malah menghampiri Kevin kemudian duduk di pangkuannya. Kedua tangannya memeluk leher Kevin dan bibirnya bergerak menuju bibir Kiss Able-nya. Viona mengecup singkat bibir kemerahan itu. Matanya terkunci pada mata kanan milik Kevin yang datar.
"Ge, malam ini lumayan dingin. Bagaimana jika kita saling menghangatkan? Sudah beberapa hari kita tidak berbagi rasa dan kehangatan," ujar Viona sambil memainkan jari-jari lentiknya diatas eyepatch yang menutup mata kiri Kevin.
"Kau mencoba menggodaku, eh?" seringai tampak di sudut bibir Kevin. Kevin terus membelai wajah cantik Viona dengan lembut.
Perlahan tapi pasti kelopak mata itu tertutup ketika jari-jari Kevin mulai menyusuri setiap inci wajah dan lehernya. Dessahan demi dessahan berkali-kali keluar dari bibir Jesslyn ketika bibir Kevin mulai bermain di sekitar wajah dan lehernya. Mengecupi setiap inci kulitnya yang terbuka.
"Kau sudah basah?" Kevin menatap Viona ketika dia merasakan sesuatu yang basah dan sedikit berlendir memenuhi jari-jarinya yang bermain di organ intitmnya.
"Aku sangat menginginkannya. Makanya milikku keluar begitu banyak. Ge, ayo lakukan dan jangan di tunda lagi!!" Desak Viona yang benar-benar sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Kevin mendengus dan menatap Viona dengan geli. Melihat Viona yang begitu bersemangat membuat Kevin tidak tahan untuk segara melahap habis dirinya. Tapi menggodanya sebentar sepertinya tidak ada salahnya. Ya, Kevin akan bermain-main sebentar dengan Viona.
"Sebentar lagi. Jangan terburu-buru, Sayang. Nikmati dan resapi. Rasakan aku yang memanjakan mu..."
Dan sepanjang malam. Kevin akan membuat Viona terus memanggil dan menyebut namanya dengan penuh cinta. Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua.
xxx
Bersambung
__ADS_1