
Viona terlonjak kaget saat merasakan ada sepasang tangan memeluknya dari belakang. Sontak dia menoleh, dan bibirnya langsung disambut bibir orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kevin. Kevin memagut dan melumatt lembut bibir ranum Viona.
Namun ciuman itu tidak berlangsung lama, kevin mengakhirinya bahkan sebelum 30 detik. "Kok sudah?" keluh Viona dengan kecewa. Padahal dia masih ingin ciuman itu terus berlanjut.
Kevin mendengus dan menatap Viona dengan geli. Satu jitakan mendarat mulus di kepala coklatnya. "Paman, mengapa kau menjitakku?!" keluh Viona sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Kevin.
"Siapa suruh kau jadi semesum ini? Memangnya siapa yang mengajarimu?" tanya Kevin.
"Paman." Viona menunjuk Kevin.
Kevin memicingkan matanya dan menatap Viona dengan bingung. "mengapa kau malah menyalakan Paman?" tanya Kevin.
"Kalau bukan Paman siapa lagi? Bukannya Paman suka sekali mencium bibirku tiba-tiba, membuatku terbiasa terus ketagihan." Jawab Viona tanpa beban.
Kevin mendengus geli. Satu jitakan mendarat mulus di kepala Viona. Kevin menggelengkan kepala, ada saja tingkahnya yang membuat orang lain mengelus dada.
"Paman, kapan kau akan membawaku ke Jerman? Kau kan sudah janji akan membawaku ke sana." Ucap Viona. Dia menagih janji Kevin yang akan membawanya pergi berlibur ke Jerman.
"Paman , tidak bisa janji kapan kita akan pergi. Banyak hal yang masih harus Paman selesaikan terlebih dahulu. Karena tidak mungkin kita pergi dengan meninggalkan banyak beban." ujar Kevin menuturkan.
Viona mengangguk paham. "Aku mengerti, tetapi bisakah sekarang kau membawaku jalan-jalan keluar? Aku bosan di rumah terus. Paman, mau ya." Rengek Viona sambil terus menggoyangkan lengan Kevin.
Pria itu menghela napas lalu menganggukkan kepala. "Baiklah." Tidak mungkin Kevin bisa menolak ajakan Viona. "Memangnya kau ingin pergi ke mana?" tanya Kevin.
Viona menggeleng. "Entah, karena aku sendiri belum memiliki rencana." Jawabnya. Sepertinya pergi ke pantai tidak ada salahnya. Bagaimana kalau kita ke pantai saja?" usul Viona.
"Melihat sunset?" tebak Kevin 100% benar.
__ADS_1
Viona mengangguk. "Bagaimana Paman bisa tau jika aku ingin melihat sunset?" wanita itu menatap Kevin penasaran.
"Tentu saja tahu. Memangnya di dunia ini siapa yang lebih memahamimu dibandingkan aku?" tanya Kevin.
"Tidak ada," Viona menggelengkan kepala.
"Ganti pakaianmu, Paman akan menunggu di luar." ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona dia melangkah pergi.
Sudah lama sekali Viona tidak melihat matahari terbenam. Dan ketika Kevin menawarkannya, tentu saja Viona tidak bisa menolaknya. Apalagi jika bisa berciuman di bawah matahari terbenam dengan di temani deburan ombak pantai yang menghantam karang. Pasti akan sangat luar biasa. Viona membayangkannya.
xxx
Matahari terbenam memancarkan sinar berwarna oranye di langit kebiruan. Lembayung terlihat di cakrawala. Oranye melebur bersama biru langit dan biru lautan yang membentang luas layaknya permadani. Menciptakan lukisan indah dengan garis-garis alami buatan Tuhan.
Semilir angin sore yang berhembus menyejukkan udara. Puluhan burung camar terbang riuh memanjakan indera. Lembut pasir putih menggelitik telapak kaki. Tidak ada yang bisa mengalahkan pesona matahari terbenam yang terlihat dari pinggir pantai. Menakjubkan.
Bagi orang lain, mungkin matahari terbenam hanya peristiwa biasa. Pemandangan yang bisa dinikmati setiap harinya. Tenggelam di kaki langit yang tak terjangkau lalu menghilang begitu saja.
"Viona, jangan lepaskan sepatumu, Kakimu nanti bisa terluka oleh Karang." ucap Kevin mengingatkan.
Tapi aku tidak bisa merasakan sensasi menggelikan dari pasir yang menggelitik kakiku. Paman, kau tenang saja. Aku akan lebih berhati-hati," ucap Viona meyakinkan. Kemudian dia berlari menuju bibir pantai dan meninggalkan Kevin sendirian.
Seperti anak kecil yang baru saja dibelikan ice cream oleh ibunya. Begitulah ekspresi Viona saat ini. Dia terlihat begitu bahagia, bahkan senyum tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya.
Di kejauhan. Kevin terus memperhatikannya. Sudut bibirnya tertarik keatas melihat berbagai ekspresi yang ditunjukkan oleh Viona. Melihat wajah bahagia Viona membuatnya jauh lebih bahagia.
"Paman, kemarilah dan temani aku bermain," seru Viona sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Aku cukup memperhatikanmu dari sini." Jawab Kevin menimpali.
"Huu.. Paman, benar-benar tidak asik." Ucap Viona. Mengabaikan Kevin yang menolak untuk menemaninya bermain, Viona kembali asik dengan dunianya sendiri.
Kevin mengalihkan pandangannya pada sang cakrawala. Matahari semakin turun dan langit mulai gelap. Kevin beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Viona. Dia tidak ingin melewatkan momen indah di pantai ini, Kevin akan mengukir sebuah kenangan di tempat ini.
Kevin berdiri dalam diam. Tak sedikitpun dia meloloskan pandangannya dari sang dara, menatap Viona dari kejauhan. Dia begitu asik dengan dunianya sendiri, saat ini wanita itu sedang membuat istana pasir. Kemudian Kevin beranjak dan berjalan menghampiri Viona.
"Viona," seru Kevin memanggil wanita itu.
Viona menoleh, sebuah tangan besar menarik tengkuknya dengan lembut. Dan yang Viona rasakan selanjutnya adalah sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya dengan lembut. Sebelah tangan Kevin yang menganggur menuntun lengan Viona supaya memeluk lehernya. Kedua mata Viona terpatri pada mata Kevin yang tertutup rapat.
Perlahan tapi pasti, Viona menutup matanya ketika bibir Kevin memagut bibirnya lebih dalam. Mereka berciuman dengan berlatarkan deburan ombak yang berhantaman dengan karang dan berpayungkan langit senja dengan puluhan burung camar sebagai penghiasnya.
Seperti impian Viona, mereka berciuman dibawah langit senja dengan berlatarkan deburan ombak yang berbenturan dengan batu karang. Memori yang terlukis ditempat ini akan menjadi sebuah kenangan yang akan selalu Viona ingat sepanjang hidupnya. Tidak akan dia lupakan apapun alasannya.
Kevin melepaskan ciumannya dan menatap Viona dengan tatapan lembut penuh cinta. Kemudian dia menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan memeluk Viona dengan erat. "Aku mencintai Paman," bisik Viona sambil mengeratkan pelukannya.
"Paman, juga mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu." Ucap Kevin sambil menutup matanya.
Viona tersenyum. Dia tidak bisa menggambarkan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Hatinya benar-benar menghangat, dan Viona tidak akan melepaskan Kevin apapun yang terjadi. Dia akan mempertahankan pria itu disampingnya.
Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Viona dengan senyum tipis yang terukir dibibir Kiss ablenya. Membuat Viona ikut tersenyum juga. "Apa kau bahagia bersama denganku?" tanya Kevin tanpa melepaskan kontak mata diantara mereka.
Wanita itu mengangguk. "Tentu saja aku bahagia, sangat-sangat bahagia malah. Apa Paman tidak menyesal karena bagaimanapun juga aku bulan perawan lagi? Kesucianku pernah terenggut oleh pria yang dulu bersama denganku, aku takut Paman akan menyesal karena mendapatkan seorang barang be..." Kevin membungkam bibir Viona sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Dia tidak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Viona, karena Kevin menerima dan mencintainya dengan apa adanya.
__ADS_1
xxx
Bersambung