Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Aiden Salah Tingkah


__ADS_3

Aiden dan Luna tiba di Green Hotel. Salah satu hotel terbaik di kota ini dengan segala fasilitas yang memadai. Saat ini mereka sedang memesan kamar untuk di tempati malam ini.


"Selamat malam Nona, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" seorang resepsionis menyapa mereka berdua dengan ramah.


"Kami ingin memesan kamar," ucap Luna pada wanita yang berdiri di balik meja resepsionis.


"Mohon tunggu sebentar Nona, Tuan." Ucap sang resepsionis.


Kemudian resepsionis itu memeriksa apakah masih ada kamar yang tersisa atau tidak, mengingat ini adalah akhir pekan jadi banyak yang memesan kamar.


"Maaf Nona, kamar yang tersisa hanya untuk pasangan. Twin Bed dan kamar perorangan ternyata kosong."


"Tidak masalah, karena kami memang suami-istri." Jawab Luna.


Sontak Aiden menoleh dan menatap Luna dengan pandangan bertanya. Luna hanya membalas sekilas tatapan Aiden. Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Luna membawa Aiden meninggalkan meja resepsionis dan menuju kamar mereka yang berada di lantai tiga.


"Luna, apa-apaan kau ini? Kenapa kau mengatakan pada Resepsionis itu jika kita berdua adalah suami istri?" tanya Aiden setelah mereka menjauh dari meja resepsionis.


Luna menoleh. "Memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan hal itu? Lagipula sudah tidak ada kamar lain, aku rasa berbohong sedikit tidak masalah." Ujar Luna. Dia tidak mau ambil pusing dengan perkataannya tadi.


Kemudian mereka berhenti di depan kamar nomor 509. Luna masuk lebih dulu diikuti Aiden yang berjalan mengekor di belakangnya. Tanpa menghiraukan Aiden, Luna menjatuhkan badannya di atas tempat tidur yang super empuk dan nyaman.


"Aaahhhh... Akhirnya bisa istirahat juga. Ge, kemarilah dan berbaringlah di sini." Luna melambaikan tangannya dan meminta Aiden untuk berbaring dengannya.


Bukannya menuruti. Aiden malah melengos pergi. Dia masuk ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian terdengar suara gemercik air dari dalam sana, tanpa di jelaskan pun tentu Luna tahu jika Aiden sedang mandi.


Gadis itu menghela napas, Luna berpikir jika Aiden masih kesal padanya karena ia yang mengakui mereka adalah suami-istri di depan resepsionis tadi. Lagi-lagi Luna tidak mau ambil pusing dengan hal itu, toh nanti juga sembuh sendiri tanpa dia membujuk dan meminta maaf.


Luna bangkit dari berbaringnya lalu berjalan kearah balkon kamar. Langit tampak cerah dan jutaan manik-manik menghiasi langit malam, sang Dewi malam tersenyum lembut diatas sana, menyapa para manusia di sebagian bumi yang dinaungi.

__ADS_1


Malam ini memang lebih cerah dan lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Puluhan bahkan ratusan kunang-kunang terbang memencar, menari ke sana-kemari.


Angin malam berhembus dengan lembut, menerpa wajah Luna. Belum lagi sang rembulan yang bersinar terang benderang seakan-akan menampakkan ekspresi ramahnya. Benar-benar suasana yang amat sangat damai dan bersahabat.


Perhatian Luna sedikit teralihkan oleh suara dingin Aiden yang berkaur di telinganya. "Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, sebaiknya segara mandi." Pinta Aiden.


Luna mengangguk. Dia segera meninggalkan balkon dan menghampiri Aiden. "Ge, tadi aku memesan baju ganti untuk kita berdua. Sepertinya kurir yang mengantarnya akan segera datang, terima dan uangnya ada di dompetku. Aku mandi dulu, dan terimakasih untuk air hangatnya." Luna tersenyum manis. Gadis itu melesat pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Aiden begitu saja.


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Aiden. Sepertinya itu adalah kurir yang mengantar baju pesanan Luna. Pintu dibuka dan seorang pria asing berdiri dihadapan Aiden.


"Tuan, saya mengantarkan pesanan atas nama Nona Luna. Ini barangnya dan tagihan yang harus di bayar."


Setelah mendapatkan uang tagihan yang baru saja dibayarkan oleh Aiden. Kurir itu pun pamit pergi. Menutup kembali pintu kamarnya lalu membawa pakaian itu ke dalam dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Aiden memicingkan matanya. Sehelai kemeja hitam lengan terbuka dan celana jeans biru gelap. Apa Luna tidak salah pesan? Aiden tak ambil pusing, mungkin saja Luna ingin melihatnya dengan penampilan berbeda. Tanpa pikir panjang, Aiden segera memakai pakaiannya agar saat Luna keluar dari kamar mandi dia tidak canggung karena dirinya yang belum berpakaian lengkap.


Aiden menoleh kebelakang. Pintu kamar mandi dibuka dari dalam, Luna keluar dari dalam sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit dada sampai sebatas paha. Buru-buru Aiden berbalik badan dan menghindari kontak mata dengan Luna.


"Siapa yang akan melihatnya? Bukankah disini hanya ada kita berdua. Bahkan aku tidak takut untuk tellanjang sekalipun, karena aku percaya kau tidak akan melakukan apapun padaku. Ngomong-ngomong kemeja itu sangat cocok untukmu. Ge, kau semakin tampan dengan kemeja lengan terbuka itu." Tukas Luna.


"Jangan mengatakan omong kosong lagi. Sebaiknya segera pakai pakaianmu," pinta Aiden lalu melenggang pergi meninggalkan kamar.


"Ge, kau mau kemana?" seru Luna dan menghentikan langkah pria itu.


Aiden melirik Luna dari ekor matanya. "Cari angin segar. Disini terlalu panas. Jangan terlalu lama tellanjang , kau bisa masuk angin. Aku pergi dulu." Ucap Aiden dan pergi begitu saja.


Luna memicingkan matanya dan menatap kepergian Aiden penuh tanda tanya. Dia bertanya-tanya kenapa tiba-tiba kakaknya jadi aneh begitu? Bahkan wajahnya memerah, apa jangan-jangan dia seperti itu karena melihatnya setengah tellanjang? Luna bertanya-tanya.


Gadis itu mengangkat bahunya. Luna tak mau terlalu ambil pusing. Dia mengambil sehelai dress cantik yang ada di atas tempat tidurnya lalu memakainya. Dia tdiak mau terlalu ambil pusing dengan sikap Aiden, mungkin saja dia salah minum obat makanya sikapnya jadi aneh begitu.

__ADS_1


.


Langit yang awalnya cerah berubah gelap dalam hitungan detik saja. Bulan dan bintang bersembunyi balik awan hitam yang menggulung di langit malam.


Guyuran deras air hujan menghantam kota Seoul dengan kejamnya. Awan gelap begitu pekat hingga sinar bulan tak terlihat.


Entah sudah pukul berapa sekarang ini sehingga jalanan menjadi sepi. Tak ada bus, tak ada taksi. Aiden duduk di kursi halte dengan anteng, mengangkat satu kaki di paha kaki satu lagi, menyalakan sebatang rokok.


Rokok putih itu diisap dalam-dalam. Dari ekspresinya, sepertinya nikmat sekali. Perlahan Aiden menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Ponselnya yang terus berdering dia hiraukan sama sekali, Aiden tidak mempedulikannya meskipun ada puluhan panggilan dan pesan masuk ke ponselnya, yang mungkin semua dari Luna.


Pemandangan yang baru saja dia lihat membuat perasaan Aiden menjadi tidak karuan. Luna setengah tellanjang di hadapannya, dan hal itu membuat tubuh Aiden menjadi panas dingin. Bagaimana pun juga dia masih waras, dan pisang rajanya berdiri tegak melihat sebagain kulit gadis itu yang terbuka.


"Sial!! Kenapa benda sialan ini belum menyusut juga!!" Aiden mengeram kesal. Pisang rajanya belum menyusut dan masih tetap berdiri tegak. Rasanya dia ingin mengutuk Luna yang berani setengah tellanjang di depannya.


Aiden adalah pria normal yang akan bereaksi mengikuti nalurinya ketika melihat seorang wanita setengah tellanjang di depan matanya. Tapi anehnya itu hanya berlaku pada satu orang saja, Luna.


Dia yang selama ini acuh dan tidak peduli meskipun ada wanita yang bulat di depannya, tapi saat melihat Luna dia justru memberikan reaksi yang sangat luar biasa. Itulah kenapa dia buru-buru pergi sebelum hilang kendali dan akhirnya menyerang Luna.


"Boleh aku minta satu batang rokokmu?" perhatian Aiden sedikit teralihkan oleh pertanyaan itu. Seorang pria setengah baya duduk disampingnya dan menatapnya dengan tatapan memohon.


Aiden mengangguk lalu menyodorkan kotak rokok dan pematiknya pada orang itu. "Ambilah, untukmu saja." Ucapnya dengan nada dingin dan datar.


Pria paruh baya itu tersenyum. "Terimakasih, aku memang membutuhkannya tapi tidak memiliki uang untuk membelinya." Ucapnya. Dia adalah seorang tuna wisma yang tinggal di jalanan dan bawah jembatan.


"Kau sudah makan?" tanya Aiden.


Pria paruh baya itu menggeleng. "Bagaimana bisa makan, jika uang saja aku tidak punya. Dulunya aku kaya raya, tapi karena ulah saudara tiriku aku jadi jatuh miskin sampai tidak memiliki apa-apa. Istriku mengkhianati ku dan anak-anakku entah dimana sekarang, nasibku benar-benar buruk." Tutur pria itu.


Aiden memberikan beberapa lembar won pada pria itu. "Aku ada sedikit uang. Sebaiknya simpan baik-baik untukmu makan. Hujan sudah agak reda, aku pergi dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja. Aiden sudah pergi terlalu lama. Mungkin saja Luna sedang cemas memikirkan dirinya yang tidak pulang-pulang.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2