Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Seperti Nyonya Besar


__ADS_3

Viona berjalan dengan cepat, bahkan dia tidak menghiraukan teriakan keras Kevin yang memintanya untuk berhenti. Viona bersikap bisu dan tuli.


Kevin sedikit kewalahan mengejar perempuan itu, dari raut wajahnya terlihat jelas jika Viona sedang marah, dan Kevin tidak tahu apa penyebabnya."Viona, tunggu!!" seru Kevin sambil menahan pergelangan tangan Viona membuat perempuan itu mau tidak mau menghentikan langkahnya.


"Paman, lepaskan!!" pinta Viona menuntut. Dia menyentak tangan Kevin, memaksanya untuk melepaskan cengkraman tangannya.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kau membuang semua makanan-makanan itu yang jelas-jelas sudah dimasak oleh para pelayan dengan susah payah. Viona, paman membutuhkan penjelasan," ucap Kevin sambil mengunci manik Hazel milik Viona.


"Kenapa kau malah bertanya padaku? Tanyakan saja pada kepala pelayan yang sombong dan tak berkuasa itu. Aku benar-benar muak dengan sikap dan perilakunya, dia hanya pelayan seperti nyonya besar." ujar Viona.


Kevin mengernyit bingung. "Kepala pelayan Choi, memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu? Sampai-sampai membuatmu semarah ini?" tanya Kevin penasaran.


"Aku adalah Nona Besar dikediaman Zhang, tapi dia memperlakukanku seperti orang luar. Dia melarangku untuk melakukan ini dan itu, bahkan dia memberikan aturan yang sangat tidak masuk akal."


"Wanita sialan itu melarangku untuk ikut sarapan bersama Paman, karena menurutnya semua makanan-makanan itu dimasak khusus untuk Paman dan dia. Jika aku ingin sarapan, harus setelah kalian berdua. Aku benar-benar tidak tahan dengan sikapnya, rasanya aku ingin menghabisinya dengan brutal!!" tutur Viona panjang lebar.


Dia benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu, hanya seorang kepala pelayan tapi sikapnya sudah seperti Nyonya Besar, dia sok berkuasa di rumah yang jelas-jelas bukan miliknya.


"Dia melakukan itu padamu?" tanya Kevin memastikan, Viona menganggukkan kepala. "Kalau begitu aku akan memecatnya!!"


Sontak Viona mengangkat wajahnya dan menatap Kevin tak percaya. "Sungguh? Kau benar-benar akan memecatnya?" tanya Viona memastikan.


Kevin menganggukkan kepala. "Ya, apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman, aku pasti akan menyingkirkannya, karena bagiku kebahagiaanmu adalah yang paling utama." Ucap Kevin sambil menepuk kepala Viona. "Kita sarapan ditempat biasa saja, ayo." Kevin menggenggam tangan Viona lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Viona tersenyum lebar. Dia benar-benar bahagia karena Kevin sangat peduli padanya, dan sampai sekarang sikapnya tidak pernah berubah, Kevin selalu mengutamakan kebahagiaannya. Dan jika boleh bermimpi, Viona ingin memiliki suami penyayang seperti Kevin.

__ADS_1


Meskipun terkadang sikapnya sangat menyebalkan ,tapi dia adalah pria yang hangat dan juga penyayang. Karena bisa memiliki pasangan hidup seperti Kevin adalah sebuah anugerah yang tak terhingga dari Tuhan.


.


.


Pria itu kembali terjatuh untuk kesekian kalinya, meskipun sudah berkali-kali bahkan puluhan kali terjatuh, tetapi dia tidak menyerah dan selalu berusaha. Dan keinginannya hanya satu, yakni bisa berdiri dan berjalan lagi seperti dulu.


Dokter mengatakan jika dia tidak mungkin bisa berjalan lagi seperti dulu, tapi dokter bukanlah Tuhan yang bisa menentukan nasib dan takdir seseorang. Dan Jimmy sangat yakin, jika suatu hari nanti dia bisa berjalan kembali seperti dulu, harapannya sangat kecil.


"Tuan!!" lagi dan lagi, Rico berseru keras melihat Jimmy yang kembali terjatuh, tapi lagi-lagi Jimmy tidak membiarkannya mendekat.


"Tetap di sana dan jangan coba-coba mendekat atau aku akan meledakkan kepalamu!!" ancamnya bersungguh-sungguh.


Rico benar-benar tidak tega melihat keadaan Jimmy, berpuluh-puluh kali terjatuh tetapi dia tetap tidak mau menyerah, meskipun fisiknya sampai terluka. Jimmy tetap berusaha untuk bisa berdiri dengan kedua kakinya.


"Aku harus balas dendam, jika aku tetap tidak bisa berjalan, lalu bagaimana aku bisa membalas bajiingan itu!!" ucapnya geram.


Ya, Kevin lah yang menjadi motifasi Jimmy untuk sembuh. Karena dia ingin membalas dendam padanya , itulah Kenapa Jimmy ingin segera bisa berjalan kembali seperti dulu.


.


.


Kevin menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran mewah yang terletak di distrik mewah kawasan Gangnam. Viona turun lebih dulu lalu diikuti Kevin, keduanya lalu berjalan beriringan memasuki restoran tersebut.

__ADS_1


Tidak Semua orang bisa makan di restoran tersebut, hanya mereka yang berjumpa tebal bisa datang, karena setiap menu yang dijual memiliki harga fantastis yang dapat memberatkan mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka berdua lalu mengarahkan Kevin dan Viona untuk menuju salah satu meja yang terletak di dekat jendela, karena memang itulah meja yang dipilih oleh Viona.


Setelah mereka berdua memesan beberapa menu, pelayan itu pun meninggalkan keduanya untuk menyiapkan pesanan. Sambil menunggu pesanannya datang, Kevin dan Viona mengobrol ringan.


"Apa rencanamu selanjutnya , Vi?" menetap disini atau kembali ke luar negeri?" tanya Kevin memecah keheningan.


"Untuk sementara waktu, sepertinya aku akan tetap disini dulu. Paman, tidak keberatan bukan?" tanya Viona memastikan.


Kevin menggeleng. "Tentu saja tidak, Paman justru senang jika kau tinggal lebih lama disini. Jujur saja, Vi. Selama kau tidak ada, paman merasa sangat kesepian karena hanya kamu satu-satunya keluarga yang Paman miliki," ujar Kevin menimpali.


Sebenarnya Kevin ingin Viona selalu berada di dekatnya seperti dulu, mereka selalu tinggal bersama dan melakukan apapun berdua. Saat Viona berada jauh darinya, Kevin selalu Merindukannya, jadi mana mungkin Kevin akan melepaskannya begitu saja setalah dia kembali ke sisinya.


"Jika itu keinginan Paman, aku tidak akan pergi lagi," ucap Viona sambil menggenggam tangan Kevin.


Kevin mengangkat tangan kanannya lalu mengusap kepala Viona dengan lembut. "Makanan kita sudah datang, nanti lanjut ngobrol lagi," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Selanjutnya mereka menyantap sarapannya dengan tenang.


Tidak ada lagi obrolan seperti tadi, hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling bersentuhan. sesekali Kevin menatap Viona, sudut bibirnya tertarik keatas melihat wajah seriusnya ketika sedang menyantap sarapannya. Tidak ada yang berubah pada dirinya, karena Viona tetaplah secantik dulu.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2