
Sean dan Luna pergi ke sebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota. Mereka mendapatkan telepon dari Eric dan memintanya untuk datang. Baik Sean maupun Luna sama-sama tidak tahu hal penting apa yang ingin di sampaikan olehnya pada mereka berdua.
Seorang pelayan mengantarkan mereka berdua menuju ruang VIP yang berada di lantai dua. Karena di sana Eric menunggu mereka berdua.
Suara decitan pintu di buka dari luar membuat perhatian Eric teralihkan. Sambil menahan tangisnya, dia bangkit dari kursinya lalu menghampiri Sean dan langsung memeluknya. Dalam pelukan sang adik, tangisnya pun pecah.
"Sean...!! Aku sedang bersedih, hatiku sedang dilanda duka. Gadis yang sangat aku cintai, memutuskan hubungan kami. Aku sangat-sangat Mencintainya, dan tidak siap untuk berpisah darinya. Sean, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan supaya dia mau kembali padaku?!" ujar Eric dengan berurai air mata.
Sean dan Luna mendengus berat. Mereka pikir Ada hal penting apa sampai-sampai Eric mengajaknya untuk bertemu di restoran dan ruangan private, ternyata hanya untuk mencurahkan isi hatinya yang saat ini sedang dilanda patah hati gara-gara sang kekasih memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.
Luna menatap Kakak keduanya itu dengan penasaran. "Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Dia tidak mungkin mengakhiri hubungan kalian begitu saja tanpa ada alasan yang jelas, pasti kau yang lebih dulu berulah kan?" tuding Luna sambil menunjuk Eric tepat di depan mukanya. Dia sangat memahami betul dengan tabiat dan kebiasaan buruk kakak keduanya tersebut.
Eric mengangguk. "Ya, aku mengakuinya jika ini adalah kesalahanku. Semalam aku berjanji untuk datang ke rumahnya dan menemui kedua orang tuanya. Aku Berencana untuk melamarnya untuk menjadi istriku. Tapi aku malah ketiduran dan bangun hampir tengah malam, mereka menungguku sampai berjam-jam tanpa ada kepastian. Dia marah padaku dan langsung mengakhiri hubungan kami berdua." Ujarnya dengan tangis yang semakin pecah.
__ADS_1
Lagi-lagi Luna dan Sean mendengus serta menggelengkan kepala. Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan kakak keduanya, kamu di sisi lain mereka berdua juga merasa iba padanya yang selalu gagal di dalam percintaan, ini bukan pertama kalinya.
"Ck, kenapa kau cengeng sekali menjadi laki-laki?! Diputuskan tinggal cari lagi, seperti wanita di dunia ini hanya dia saja. Kau itu tampan dan menawan, tentu tidak akan sulit bagimu untuk menemukan dan mendapatkan kekasih. Jadi kenapa harus bersedih dan patah hati. Daripada kau terlalu larut dalam kesedihan yang menggelikan, sebaiknya segara pesankan makanan untukku, aku lapar." Ucap Luna.
Luna geli sendiri dengan sikap dan tingkah laku kakaknya yang menurutnya sangat kekanakan tersebut. Lagi pula wanita di dunia ini bukan hanya satu saja, jadi untuk apa harus patah hati hanya karena di putusan olehnya?!
Tiba-tiba ponsel Milik Sean berdering, menandakan ada panggilan masuk. Mengabaikan mereka berdua yang sedang berdebat, Sean melenggang keluar meninggalkan ruangan. Dia Berencana untuk menerima panggilan tersebut di luar ruangan agar tidak terganggu dengan ocehan adik dan kakaknya.
"Kau urus saja. Aku percayakan masalah itu padamu, tidak perlu bertanya apa lagi meminta pendapat dariku, aku percaya kau bisa menyelesaikannya. Aku yakin kau sudah tahu yang harus di lakukan sekarang!!"
"Nyonya, Maaf. Apakah Anda tidak apa-apa?" tanya Sean memastikan.
Wanita itu menggeleng, meyakinkan pada Sean jika dia baik-baik saja. Dan dia masih mengenali wajah itu dengan baik, yang berdiri di hadapannya adalah orang yang tidak sengaja bertabrakan dengannya tempo hari.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Tidak perlu meminta maaf, Nak. Kau tidak sepenuhnya bersalah, karena Bibi juga yang kurang hati-hati. Maaf, Bibi harus pergi sekarang." Wanita itu tersenyum dan pergi begitu saja.
Sean menoleh dan menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh dengan Tatapan yang sulit di jelaskan. Entah kenapa hatinya menghangat saat melihat senyum lembut yang tersungging di sudut bibirnya. Sean menggeleng, dia berbalik badan dan kembali ke dalam ruangan.
Tapp...
Wanita itu tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Namun sayangnya sosok Sean tidak lagi tertangkap oleh Netra matanya, dia sudah pergi.
Rasanya ada debaran aneh di dalam dadanya ketika melihat sorot matanya yang dingin. Bukan karena dia jatuh cinta pada pria yang jauh lebih muda darinya, tetapi karena hal lain yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wanita itu kemudian melanjutkan langkahnya dan pergi begitu saja.
Ponsel dalam genggamannya berdering menandakan ada panggilan masuk. dia pun segera menerima panggilan tersebut. "Tunggu sebentar, aku segera sampai." Ucapnya lalu mengakhiri panggilan itu begitu saja.
Dia berjanji untuk bertemu seseorang. Orang itu menghubunginya dan memberitahunya jika dia mengetahui sesuatu tentang kecelakaan maut yang terjadi 25 tahun yang lalu. Jadi wanita itu datang untuk menemukan kebenaran. Meskipun dia sendiri tidak yakin, apakah informasi itu benar-benar valid atau tidak. Tapi tidak ada salahnya untuk di coba.
__ADS_1
xxx
Bersambung .