
"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif dan berada di luar..."
Agnes memutuskan sambungan teleponnya begitu saja, lagi-lagi operator yang menjawab telfonnya. Sejak kemarin ponsel Denada tidak bisa dihubungi dan itu membuatnya cemas. Ini tidak biasa, karena Denada tidak pernah mematikan ponselnya, baik itu pagi, siang atau malam, ponselnya selalu aktif.
Kemudian dia mengetik pesan untuk Denada, namun hanya centang satu. Yang artinya ponsel Denada benar-benar tidak aktif.
"Denada, di mana kau sebenarnya? Kenapa dari kemarin Kau sulit sekali dihubungi?" ucap Agnes dengan gusar.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Pupil mata Agnes membulat seketika. Dia menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pikiran buruk itu dari. Dia harus tetap berpikir positif dan percaya jika Denada baik-baik saja.
"Mungkin saja Dia sedang sibuk. Ya, dia sedang sibuk. Pasti dia sedang sibuk," Agnes meyakinkan dirinya sendiri Jika ada nada baik-baik saja, meskipun dia sendiri tidak yakin dengan keadaan adiknya. Apalagi yang di hadapi oleh Denada bukanlah pria normal, melainkan Iblis dalam wujud manusia.
Pikiran Agnes tetap tidak tenang. Wanita itu menyambar kunci mobilnya dan melenggang keluar meninggalkan apartemen sederhana miliknya. Dia harus mencari Denada dan memastikan jika dia baik-baik saja.
Dan sementara itu...
Di tempat dan lokasi berbeda, wanita terikat pada sebuah tiang tinggi dalam keadaan tubuh yang di penuhi luka. Keadaannya benar-benar sangat mengenaskan, dia kehilangan rambut cantiknya yang biasanya tergerai dan menjuntai di atas punggungnya. Wajahnya di penuhi luka bekas cambukan, begitu pula dengan kaki dan tangannya.
Seseorang tiba-tiba datang dan menyemprotkan air ke wajahnya. Membuat wanita itu seketika tersadar dari pingsannya. "Aaahh," wanita itu merintih kesakitan saat luka-lukanya terasa perih setelah tersiram air dingin.
__ADS_1
Wanita itu menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, ia merasa asing dengan tempatnya berada saat ini. "Di mana ini?" dia bergumam lirih. Suaranya begitu pelan sampai-sampai hampir tidak terdengar. "Uhhh," lagi-lagi dia merintih kesakitan. Dia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi, dan kenapa dia berada di tempat asing ini.
Wanita itu mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, namun tidak bisa. Dan ketika ia menoleh ke samping kanannya, dia dikejutkan dengan tangannya yang terikat oleh rantai, bukan hanya tangan kanannya saja, tetapi tangan kirinya juga.
Kemudian dia menurunkan pandangannya, dan alangkah terkejutnya dia saat menyadari tubuhnya terikat pada sebuah tiang dengan jarak lima meter dari lantai.
"Ke...Kenapa aku terikat di sini? Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" gumam wanita itu penuh kebingungan.
Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Seorang pria yang wajahnya tidak asing bagi wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Denada, memasuki ruangan tersebut dengan dua orang yang berjalan mengekor di belakangnya.
"Tuan Muda, Kevin?!" seru Denada dengan terkejut. "Jadi Anda yang mengurung saya di tempat ini? Memangnya Apa salah saya, sampai-sampai Anda harus menahan ku disini? Ahhh, kenapa Anda juga harus menyiksa saya dengan brutal?!" tanya Denada meminta penjelasan.
"Tanpa aku jelaskan sekalipun, pasti kau sudah tahu alasannya. Kau hampir saja membuat wanitaku celaka, untuk itu kau harus menerima pembalasan yang setimpal dariku!!" jawab Kevin.
"Oh, jadi kau menginginkan bukti dariku. Tentu saja aku memilikinya, bahkan bukti itu aku lihat dengan mata kepalaku sendiri saat istriku keluar dari mobil milikmu, dan kau sedang tidak sadarkan diri di dalam mobil itu!! Apa bukti itu masih kurang cukup untuk membuktikan jika kau bersalah?" ujar Kevin sambil menyeringai.
Denada mengepalkan tangannya. Jadi Kevin sudah mengetahui jika dia pelaku penculikan itu? Sepertinya dirinya benar-benar berada dalam masalah besar, dan Denada baru menyadari jika Kevin adalah orang yang sangat berbahaya. Pantas saja kakaknya pernah mengingatkannya untuk selalu berhati-hati, dan ternyata ini alasannya.
"Lalu apa yang kau inginkan sekarang? Membunuhku? Kenapa tidak langsung kau lakukan saja?!"
__ADS_1
"Jika aku membiarkanmu mati sekarang, Rasanya kurang adil. Bagaimana jika kita bermain-main sebentar?" Tawar Kevin memberi usul.
Denada menatapnya dengan tajam. Pria yang dia cintai justru berusaha untuk mencelakainya. Dan semua itu hanya karena satu wanita, Viona.
Rintih kesakitan berkali-kali keluar dari bibir Denada. Dia terus meringis menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya yang penuh luka. Denada tidak tahu bagaimana cara Kevin menyiksanya, sampai sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka, baik itu luka ringan maupun parah. Luka itu terasa sakit dan teramat sangat perih ketika air menguyur sekujur tubuhnya. Sampai-sampai Denada ingin menangis rasanya.
"Aku melakukan semua ini karena mencintaimu, tapi kenapa balasanmu malah seperti ini padaku? Aku hanya berusaha untuk menyingkirkan benalu di antara kita berdua, apakah itu salah? Kevin Zhao, Aku mencintaimu dan jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu di wahana permainan malam itu."
"Kau boleh saja tidak melihatku, tapi jangan abaikan perasaanku. Aku tidak apa-apa kau mencintainya menjadikannya sebagai istri utama, setidaknya hargai perasaanku padamu, bahkan aku rela untuk kau jadikan yang kedua. Untuk itu terima cintaku dan jangan kecewakan aku!!" pinta mohon Denada.
Bukannya merasa simpatik padanya, Kevin justru merasa jijik. Bisa-bisanya di dunia ini ada wanita murahan sepertinya, yang sampai rela menghalalkan segala cara hanya untuk mencapai tujuannya, bukan dia tidak peduli dengan keselamatan dan nyawa orang lain.
"Kau hanya membuang tenaga dan energimu dengan tidak berguna, mencintaiku adalah sebuah kesalahan besar dalam hidupmu, karena sampai kapanpun cintamu padaku tidak akan pernah bersambut. Aku tidak bisa menampik, dan aku juga tidak bisa bersikap. Kau memang cantik, Tapi sayangnya Kau bukanlah seleraku. Asal kau tahu saja, Aku adalah pria dengan satu wanita!!" Kevin sangat menyayangkan sikap Denada yang bodoh.
Denada adalah wanita yang sangat cantik, tentu akan sangat mudah baginya menemukan seseorang yang bisa mencintai dirinya dengan sepenuh hati. Tapi dengan bodohnya dia malah memberikan hatinya pada orang yang tidak pernah mencintainya, bahkan orang itu sangat sulit untuk digapai. Namun begitulah cinta , cinta itu buta dan tuli, tidak memiliki mata maupun telinga.
"Kenapa kau harus sekejam ini padaku? Memangnya apa hebatnya dia dibandingkan diriku? Soal kecantikan, tentu aku tidak kalah darinya , bahkan aku lebih cantik dari wanitamu itu, tapi kenapa kau malah lebih memilih wanita itu dibandingkan harus berpaling padaku?! Kevin, Kau sangat bodoh!! Sebagai pria Kau benar-benar bodoh, harusnya matamu bisa melihat mana yang berlian dan mana yang serbuk pasir!!" teriak Denada dengan histeris.
"Justru aku akan teramat sangat bodoh jika sampai melepaskan berlian hanya demi batu kerikil sepertimu. Bercermin Lah sebelum bandingkan dirimu dengan orang lain, karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah sebanding dengan Viona!!"
__ADS_1
xxx
Bersambung