Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Cemburu Mu Mengerikan


__ADS_3

Sinar mentari mengintip malu-malu dari sela tirai jendela yang tidak tertutup sepenuhnya. Memberi tanda pada sepasang manusia yang tengah bergelung dibawah selimut tebal bahwa hari mulai siang.


Terlihat gerakan kecil dari seorang wanita berhelaian coklat gelap. Disusul oleh erangan tanda tak nyaman akan sinar mentari yang menyilaukan mata. Bukannya bangun, wanita itu justru merubah posisi tidurnya. Menyamankan diri pada objek yang ada di sampingnya dan memeluknya dengan erat.


Bukan manusia yang dia peluk, melainkan guling. Karena orang yang tidur satu ranjang dengannya sudah bangun sejak tadi.


"Ge, tutup lagi tirainya, silau. Aku masih ngantuk." Rancau wanita itu bergumam.


Karena tidak ada tanggapan. Dengan malas wanita itu membuka matanya dan mendapati ruangan dalam keadaan kosong. Tidak ada orang lain di kamar ini selain dirinya sendiri.


"Eh," wanita itu tampak kebingungan, dia menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah saat menyadari satu hal. Ini bukan kamar di Villa, melainkan kamar di kediaman Zhang. "Loh, kenapa aku bisa ada di kamar ini? Apakah ini mimpi?" ucap wanita itu dengan bingung.


"Tentu saja ini nyata," seseorang menanggapi ucapan wanita itu yang pastinya adalah Viona. Sontak Viona menoleh dan mendapati Kevin menghampirinya.


"Ge, kenapa aku bisa tidur di kamar ini? Bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku?" tanya Viona sambil menatap Kevin dengan bingung. Dia membutuhkan penjelasan.


"Memangnya penjelasan apa yang kau inginkan? Aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan, kita sudah pulang dan sekarang ada di kediaman Zhang." Ucap Kevin.


"Iya, aku tahu jika sekarang kita sudah ada di kediaman Zhang. Tapi bagaimana caranya aku sampai di sini, sementara aku tidak merasa sudah pulang ke rumah ini. Atau jangan-jangan ini benar-benar mimpi?" sekali lagi Viona memastikan. Dia benar-benar tidak yakin jika mereka sudah pulang ke kediaman Zhang.


"Karena aku memang sengaja tidak membangunkanmu. Kau terlihat lelah jadi aku tidak tega untuk membangunkan dirimu." Jawab Kevin.


"Jadi maksudnya kau menggendongku ke dalam dan keluar mobil?" tanya Viona memastikan.


Kevin menganggukkan kepala, membenarkan pertanyaan Viona. "Ya," dia menjawab singkat.

__ADS_1


Viona menyibak selimutnya kemudian bangkit dari berbaringnya. Pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding, dan waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Sudah siang ternyata, pantas saja perutnya agak keroncongan. Ternyata dia sudah melewatkan jam sarapan lebih dari satu jam. Pantas saja jika perutnya terus keroncongan.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Viona pergi keluar untuk sarapan. Ternyata Kevin juga belum sarapan, dia menunda sarapannya karena ingin menunggu Viona untuk sarapan bersama. Kevin tidak tega jika harus membiarkan Viona sarapan sendirian. Itulah kenapa dia memilih menunda sarapannya.


Viona menghampiri meja makan dengan mata berbinar-binar. "Wah, kelihatanya sangat lezat. Benar-benar menggugah selera. Kebetulan sekali aku memang kelaparan." Viona menarik kursi dengan tidak sabaran. Melihat menu-menu yang tersusun di atas meja membuatnya semakin lapar.


Kevin menghela napas. "Pelan-pelan saja, tidak ada yang memintanya." Ucap Kevin menasehati.


Berbeda dengan Viona yang bar-bar. Kevin justru terlihat sangat santai dan tenang. Dan dia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Viona. Jika bagi mereka yang belum mengenalnya dengan baik, mungkin akan menganggap sikap Viona kurang sopan. Namun hal itu tidak berlaku bagi yang sudah mengenalnya dengan baik, karena mereka tahu Viona orang yang seperti apa.


Wanita itu merenggut kesal. "Aku lapar , Ge. Dari semalam aku belum makan sama sekali." Ucap Viona dengan menekan setiap katanya. Kevin mendengus untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi Kevin menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.


Ponsel milik Viona tiba-tiba berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Alih-alih menjawabnya, Viona malah mengabaikannya. Dan hal itu menarik perhatian Kevin untuk mengetahui siapa yang menghubungi istrinya.


"Kenapa dibiarkan saja, apa kau tidak ingin mengangkatnya?" Viona menggeleng. "Kenapa?"


"Memangnya dari siapa?" tanya Kevin penasaran.


"Aldo, mantan suamiku."


"Untuk apa dia masih menghubungimu?" tanya Kevin lagi.


Viona mengangkat bahunya. "Mana aku tahu. Dia terus saja menghubungiku, tapi tidak pernah aku hiraukan." Jawabnya menjelaskan.


Kevin mengambil ponsel Viona lalu mengeluarkan kartunya. Tanpa mengatakan apa-apa, Kevin memotong kartu itu menjadi dua. Bukannya tersinggung, Viona justru bersikap acuh. Dia tidak peduli sama sekali, karena dengan begitu Aldo tidak bisa menghubunginya lagi.

__ADS_1


"Aku akan menemuinya supaya dia tidak mengganggumu lagi. Aku benar-benar tidak suka dia masih terus menghubungimu!!" ucap Kevin. Dia berbicara dengan nada dingin dan kurang bersahabat. Membuat Viona meringis ngulu, sepertinya Kevin sedang cemburu. Dan melihatnya cemburu membuat Viona merinding sendiri.


"Ge, apa kau cemburu?" Viona mencoba menggoda Kevin yang jelas-jelas sedang cemburu padanya.


"Tidak!! Aku hanya tidak suka dia terus-terusan menghubungimu!!"


Viona tertawa. Dia bangkit dari kursinya lalu mendekati Kevin. Tanpa mengatakan apapun, Viona langsung mencium singkat bibirnya. "Jika memang cemburu, akui saja cemburu. Lagipula orang cemburu itu tandanya cinta, dan aku suka saat melihatmu cemburu seperti ini." Ujar Viona setelah melepaskan ciumannya.


Kevin adalah orang dengan harga diri yang sangat tinggi. Pantang baginya untuk mengakui sesuatu yang bisa menjatuhkan harga dirinya, contohnya cemburu. Meskipun sebenarnya dia memang cemburu pada mantan suami Viona yang masih suka menghubunginya. Dan cemburu menandakan jika Kevin benar-benar mencintainya.


"Tenanglah, Ge. Viona, ini hanya milikmu dan tidak ada seorangpun yang bisa merebutnya darimu. Lagipula siapa juga yang berani merebutku darimu, Apa mereka sudah bosan hidup?!"


"Dan aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi siapapun yang berani mendekatimu!!" ucap Kevin menimpali. Kesal masih terdengar jelas dari nada bicaranya. Dan menggelikan melihat Kevin yang bisanya selalu bersikap dingin malah cemburu seperti bocah.


"Cemburu Mu mengerikan!!"


Meskipun mereka sudah menikah dan berstatus sebagai suami-istri. Akan tetapi Kevin jarang sekali mengatakan aku mencintaimu pada Viona. Dia memang tidak pernah mengatakannya, tetapi Kevin menunjukkan rasa cinta yang dia miliki melalui tindakannya.


Tidak sekalipun Viona mengeluh apalagi mempertanyakan tentang ketulusan cinta Kevin padanya. Karena isi hati Kevin hanya Viona yang tahu. Viona tidak membutuhkan ucapan 'Aku mencintaimu' setiap detik dan menit. Karena yang dia butuhkan adalah pembuktian, bukan sekedar ucapan.


"Kembali ke mejamu dan segara habiskan sarapanmu." Pinta Kevin sambil menyentak pelan tangan Viona dari lehernya.


Viona tidak memberikan jawaban apa-apa. Wanita itu beranjak dari belakang Kevin dan kembali ke mejanya. Kembali dia menyantap sarapannya dengan tenang. Kevin dalam mood yang kurang baik. Jadi lebih baik tidak mengganggunya dari pada membuatnya semakin kesal.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2