
Aiden melajukan mobil sport mewahnya dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan kota Seoul yang tidak begitu dipadati oleh kendaraan berlalu-lalang.
Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Sorot matanya yang dingin menatap ke arah jalan raya dengan tangan yang fokus memegang stir mobil disertai urat-urat yang sedikit menonjol setiap ia mencengkram kemudinya dengan erat.
Sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju kediaman Williams untuk menjemput Luna. Gadis itu pulang ke kediaman ayahnya hanya untuk mengambil beberapa barang miliknya yang menurut Luna sangat penting.
Perjalanan yang harusnya ditempuh selama lima puluh menit berhasil Aiden persingkat menjadi dua puluh lima menit lebih sedikit. Dia melajukan mobilnya seperti peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi.
Kedua kakinya melangkah bergantian ketika ia keluar dari mobil setelah memarkirnya asal. Dua penjaga membungkuk ketika Aiden melewati mereka. Dan kedatangannya di sambut oleh sang ayah yang sedang melihat indeks saham di ruang keluarga.
"Sean, kau sudah datang. Apa kau datang untuk menjemput, Luna?" lelaki paruh baya itu meletakkan tablet nya di atas meja lalu berdiri dan menghampiri putra ketiganya tersebut.
"Di mana dia, Pa?" tanya Aiden.
"Di kamarnya, mungkin saja dia ketiduran karena menunggumu yang tidak datang-datang. Sean, duduklah dulu, ada hal penting yang ingin Papa sampaikan padamu." Ucap Tuan Williams.
Aiden menatap lelaki paruh baya itu dengan alis kanan terangkat. Dia tampak serius dan hal itu terlihat dari ekspresi wajahnya. "Tentang apa, Pa?" tanya Aiden.
__ADS_1
"Tentang asal usul mu. Sean, sebenarnya kau bukanlah putra kandung keluarga Williams, melainkan putra angkat. Sebenarnya Papa tidak ingin memberitahukan hal ini padamu, karena aku takut akan melukai perasaanmu. Tapi setelah Papa pikir-pikir, tidak seharusnya Papa menyembunyikan kebenaran ini darimu. Papa, harap kau tidak kecewa karena baru hari ini mengatakannya padamu." Ucap Deen Williams, rasa bersalah terlihat dari sepasang mata hitamnya.
Aiden mengambil napas panjang dan menghelanya. Dia sudah menduganya. "Aku sudah lama tahu tentang kebenaran ini. Karena sebelum meninggal, Kakek sudah memberitahuku jika sebenarnya aku bukanlah putra kandungmu. Dan aku sudah menemukan siapa keluarga kandungku yang sebenarnya." Jawab Aiden.
Pupil mata Deen Williams membulat sempurna setelah mendengar apa yang baru saja Aiden sampaikan. "Benarkah? Bagaimana bisa? Apa kau menyelidiki tentang mereka?" tanya Deen Williams memastikan.
Aiden menggeleng. "Bukan aku, tetapi mereka lebih dululah yang berhasil menemukanku. Dan kau mengenal keluarga itu dengan baik, bahkan kalian juga bersahabat." Ujar Aiden.
"Siapa?" Deen Williams semakin penasaran setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Aiden.
"Kevin Zhang, dia adalah orang tuaku. Aku adalah putranya yang selama ini hilang." Jawab Aiden.
Deen Williams menepuk bahu putra ketiganya tersebut sambil tersenyum dan menangis dengan hari.
"Bagus-bagus, ternyata kau memiliki asal usul yang besar. Meskipun kau telah menemukan keluarga kandungmu dan mengetahui siapa orang tuamu. Papa, harap kau tidak pernah melupakan aku sebagai ayahmu. Meskipun di dalam tubuhmu tidak ada darah Williams, tapi percayalah Sean jika Papa teramat sangat menyayangimu." ujar Tuan Williams dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Aiden menutup matanya dan menggeleng. "Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu,orang yang paling berjasa dalam hidupku. Ini sudah larut malam, sebaiknya kau segera tidur." pinta Aiden. Kemudian dia beranjak dan pergi begitu saja. Dia menuju kamar Luna yang berada di lantai dua.
__ADS_1
.
.
Aiden membuka pintu kamar Luna dan mendapati Gadis itu sedang tertidur pulas. melihat Luna yang sudah terlalu membuatnya tidak tega untuk membangunkannya, akhirnya Aiden pun memutuskan untuk tidak membangunkannya dan membiarkan dia tetap tidur. Mungkin tidak ada salahnya jika malam ini menginap.
"Ge," baru saja Aiden hendak meninggalkan kamar Luna. Tiba-tiba gadis itu memanggilnya. Aiden menoleh dan mendapati Luna yang sedang duduk sambil menatapnya.
"Kau bangun. Ingin menginap atau pulang ke rumahku?" tanya Aiden.
Luna tampak berpikir. Dia sangat-sangat mengantuk dan matanya begitu sulit untuk diajak kompromi. Akhirnya dia pun memutuskan untuk menginap saja dari pada pulang ke rumah Aiden.
"Kita menginap saja. Aku benar-benar mengantuk dan mataku tidak bisa untuk diajak kompromi. Kau tidak keberatan bukan?" tanya Luna memastikan.
Aiden menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak. Kalau begitu sebaiknya kau tidur kembali, aku keluar dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja. Luna kembali berbaring dan dia melanjutkan tidurnya lagi.
xxx
__ADS_1
Bersamanya