Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Aku Hanya Bertanya


__ADS_3

Pagi telah tiba dan semua telah kembali seperti hari-hari sebelumnya, perasaan Aiden sangatlah berat. Banyak hal yang membuat perasaannya menjadi tidak tenang, Ia merasa begitu gelisah.


Rasa malas menyelimuti dirinya, meskipun matahari telah membumbung tinggi di ufuk timur dan sinarnya yang agung telah menyinari seluruh bumi. Namun Ia masih enggan untuk bangkit dari berbaringnya, bahkan Ia menghiraukan hiruk-pikuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Sampai ketukan keras pada pintu kamarnya menyita seluruh perhatiannya.


"Ini aku, apa kau masih tidur?" Seru seseorang dari luar kamar Aiden.


"Masuklah."Sahut Aiden dengan suara berat khas orang baru bangun tidur.


Setelah mendapatkan persetujuan dari sang empunya kamar, orang itu pun membuka pintu kamar dan melenggang masuk dan menghampiri Aiden yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.


"Sebaiknya segera bergegas, pagi ini kau ada pertemuan penting." Ucap orang itu mengingatkan.


Aiden mengangguk. "Aku tau, 15 menit lagi aku akan turun. Apa Luna sudah bangun?" tanya Aiden. Dia sedikit mengkhawatirkan keadaan Luna, sejak kemarin pagi dia menjadi lebih banyak melamun.


Pria itu menggeleng. "Aku rasa belum. Sepertinya dia masih di kamarnya, perlu aku meminta pelayan untuk membangunkannya?" tawar pria itu namun di tolak oleh Aiden.


"Tidak perlu, biarkan saja kalau dia masih tidur. Perintahkan saja pada pelayan agar menyiapkan sarapan untuknya. Pagi ini kita sarapan di luar saja, sudah tidak terburu untuk sarapan di rumah." Ucap Aiden.


Pria itu mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Aku keluar dulu." Ucapnya dan pergi Begitu saja.

__ADS_1


Selepas kepergian orang itu, Aiden pun beranjak dari atas tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket oleh keringat.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Aiden melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Di lengan kanannya tampak sebuah jas tersampir. Aiden menghentikan langkahnya di depan kamar Luna yang tertutup rapat. Dia membuka pintu itu untuk memastikan apakah sang empunya sudah bangun atau belum, dan ternyata Luna masih tidur.


Tidak ingin mengganggu tidurnya. Aiden memutuskan untuk membiarkannya, dia benar-benar tidak ingin mengganggu tidur Luna.


Selanjutnya Aiden masuk ke sebuah sedan hitam yang di kemudikan oleh orang seorang pria berpakaian rapi dan wangi. Di kursi samping kemudi, terlihat pria yang membangunkannya tadi. Selanjutnya sedan hitam itu melaju meninggalkan kediaman Aiden.


xxx


"Ini apa?"


Pria itu menyeringai. "Ini adalah uang. Dengan serbuk mematikan ini. Kita bisa menghasilkan uang yang sangat banyak." Jawabnya.


Victoria memicingkan matanya. "Hah, kenapa bisa? Memangnya serbuk apa itu dan apa kegunaannya?" tanya Victoria lagi. Brandon membuatnya semakin penasaran.


Lagi-lagi Brandon menyeringai. "Ini adalah obat bius sekaligus peranggsang. Kita akan memakai serbuk ajaib ini untuk menjebak putrimu, bukankah kau ingin kerja sama dengan bandot tua itu berjalan lancar?"


Victoria mengangguk. "Tentu saja. Dan itu tidak boleh gagal!!" jawabnya.

__ADS_1


"Nah, maka dari itu. Pertama-tama adalah membuat dia menelan serbuk ajaib ini. Kita bisa menggunakan makanan atau minuman sebagai perantaranya. Dan aku sudah memiliki rencana, kau hanya perlu mengikuti rencanaku saja." ucap Brandon.


Victoria tersenyum lebar. "Tumben sekali otakmu cerdas. Kalau begitu kita bagi tugas di sini. Selama bisa menyenangkan bandot tua itu, maka semuanya akan aman dan terkendali."


Kali ini tidak boleh gagal. Victoria menaruh harapan besar pada kerjasama dengan pria tua itu. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan peninggalan orang tuanya yang saat ini terancam bangkrut. Maka dari itu dia akan menghalalkan segala cara untuk mengambilkan kejayaannya.


xxx


Luna memicingkan matanya melihat keadaan rumah Aiden yang tampak sepi. Tidak terlihat batang hidung sang kakak dan orang kepercayaan, Henry. Kemudian Luna menghampiri salah seorang Pelayan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya untuk menanyakan keberadaan sang kakak.


"Di mana Ken Ge? Apa dia sedang keluar?" tanya Luna, namun tak ada jawaban. Bukannya tidak mendengar pertanyaan Luna, lebih tepatnya hanya pura-pura tidak.mendengar saja. Dan beginilah sikap para pelayan di kediaman Aiden pada Luna saat pria itu tdiak ada.


Luna mendengus. "Aku yakin kalian tidak tuli dan bisa mendengar pertanyaanku. Aku hanya bertanya di mana kakakku dan apa sih sulitnya menjawab?" Luna tidak bisa menahan emosinya.


Mereka benar-benar membuat emosinya memuncak. Mungkin Luna harus membicarakan masalah ini dengan Aiden, supaya dia tahu bagaimana sikap pelayan-pelayan di rumahnya.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2