
Kekhawatiran terus mendera perasaan Kevin. Saat ini Viona sedang hamil muda dan seseorang sedang mengancam keselamatan keluarganya. Bukan keselamatannya sendiri yang Kevin cemaskan, namun keselamatan Viona. Itulah kenapa dia menjadi sangat ketat akhir-akhir ini dan selalu melarang Viona bepergian sendiri.
Kevin menghampiri Viona yang sedang menyulam pakaian untuk calon buah hati mereka. Dan kedatangan Kevin sedikit menyita perhatiannya. Viona tersenyum lebar lalu menunjukkan hasil sulamannya tersebut pada Kevin.
"Paman, lihatlah. Bagus tidak?" tanya Viona memastikan.
Kevin mengangguk. "Bagus sekali. Kau sudah sibuk seharian, sebaiknya sekarang istirahat. Jangan sampai kecapean." Ucap Kevin menasehati.
Viona menggeleng. "Aku tidak lelah kok. Lagipula ini adalah pekerjaan yang sangat ringan dan tidak memakai tenaga, hanya punggung dan pinggangku yang sedikit tidak nyaman." Jawabnya.
"Aku tidak mendengar alasan apapun ,Nyonya Zhang. Dan aku tidak suka penolakan!!" ucap Kevin menegaskan.
Viona menghela napas kasar. Dan inilah yang tidak dia sukai dari Kevin. Sikap pemaksaannya itu yang terkadang membuatnya kesal setengah mati. Tapi di satu sisi dia sadar, jika yang Kevin lakukan semata-mata karena dia peduli padanya.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji padaku besok harus membawaku pergi shopping. Aku ingin membeli perlengkapan bayi." Ucap Viona menuntut,
Kevin menganggukkan kepala. "Tentu." Dan menjawab singkat. Kevin tidak bisa menolaknya.
Kali ini Kevin akan membawa beberapa bodyguard untuk itu pergi bersamanya juga Viona. Termasuk Frans dan Rico. Karena mereka berdua pasti akan ikut meskipun Kevin tidak mengajaknya.
Setelah memastikan Viona benar-benar tidur pulas, Kevin beranjak dari sisinya dan meninggalkannya begitu saja.
Kevin menghampiri Frans dan Rico yang sedang bermain kartu di ruang keluarga. Pria itu mendengus dan menatap mereka dengan geli. Wajah Frans dan Rico sama-sama penuh tepung , bisa-bisanya mereka melakukan kekonyolan seperti itu.
"Ge, kau mau ikut main bersama kami?" tawar Frans melihat kedatangan Kevin.
"Kalian main sendiri saja." Jawab Kevin sambil menggelengkan kepala. Dia bukanlah bocah yang masa kecilnya kurang bahagia seperti mereka berdua.
"Boss, pria itu sudah mulai bergerak. Apa rencanamu sekarang!" tanya Rico tanpa menatap lawan bicaranya. Fokusnya tidak teralihkan sedikitpun dari kartu-kartu di tangannya. Meleng sedikit saja dia bisa kalah karena Frans yang suka bermain curang.
__ADS_1
"Menghentikan mereka secepatnya. Karena lebih cepat di binasakan, maka itu akan lebih baik untuk keluarga ini. Aku tidak bisa mengambil resiko yang lebih besar lagi, apalagi sampai membahayakan Viona dan janin di dalam perutnya." Tutur Kevin panjang lebar.
Dulu Kevin memang tidak terlalu peduli dengan hal-hal semacam ini. Namun setelah Viona kembali dan berada di dekatnya, dia menjadi sangat sensitif dengan berbagai bahaya yang mengincar keselamatan keluarganya. Apalagi sekarang Viona sedang hamil, jadi dia tidak mau mengambil resiko yang lebih besar. Apalagi sampai membahayakan keselamatan Viona dan calon anak mereka.
"Aku setuju denganmu, Ge. Kami berdua akan segara melacak keberadaan pria itu dan kita serang langsung markasnya." Tukas Frans menyahuti. Kevin mengangguk setuju.
Bagi Kevin. Sekarang tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan Viona. Bahkan nyawanya lebih berharga dari nyawa Kevin sendiri. Keselamatan Viona dan janin di dalam perutnya kini menjadi prioritas utamanya.
"Kalau begitu lakukan dengan segera jangan di tunda!!"
"Baik, Ge."
xxx
Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya. Pria itu melepas kaca mata yang dengan setia bertengger di hidung mancungnya. Jari-jarinya yang mulai dipenuhi keriput menghapus lelehan-lelehan bening itu dari matanya. Kerinduan terlihat jelas di kedua mata hitamnya.
Dia telah kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya. Istri dan kedua buah hati mereka. Kebakaran malam itu merenggut semua kebahagiaan dalam hidupnya, dan selama puluhan tahun dia harus hidup sebagai orang lain.
Baginya, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membalaskan kematian istrinya. Namun itu masih belum cukup, karena masih ada keluarga Zhang tersisa dan dia berniat membinasakan semuanya tanpa tersisa.
"Tuan, apa kau di dalam?" ketukan itu mengalihkan perhatiannya. Paruh baya itu kemudian berseru dan mempersilahkan orang itu untuk masuk.
"Masuklah," pintanya dingin.
Seorang pria membungkuk ketika tiba di ruangan bernuansa putih tersebut. "Tuan, ada pergerakan dari Kevin Zhang. Sepertinya dia telah menemukan lokasi kita, kami masih menunggu perintah dari Anda."
Pria itu mengambil napas panjang dan menghelanya. "Biarkan saja mereka datang. Jadi kita tidak perlu membuang energi untuk memancing mereka keluar."
"Dan kami juga berhasil menemukan kelemahannya."
__ADS_1
"Apa kelemahannya?" tanya paruh baya itu penasaran.
"Seorang wanita bernama, Viona. Dia di kabarkan jika dia sedang hamil buah cinta mereka berdua. Dan wanita itu merupakan putri kandung dari, Jordan Zhang. Apa Tuan ingin melakukan sesuatu pada wanita itu?" tanya lelaki di hadapannya.
Paruh baya itu mengangguk. "Tentu saja, ini adalah kesempatan yang sangat bagus. Jadi bagaimana mungkin aku melewatkannya. Sebelum Mereka datang, kalian harus berhasil membawa wanita itu ke hadapanku!!"
Lelaki itu mengangguk. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja.
Pria paruh baya itu tersenyum lebar. "Bagus sekali. Akhirnya ada kesempatan bagus muncul di depan mata. Kali ini dia tidak akan aku lepaskan. Alexa, kau dengar itu Sayang? Dendammu akan segera terbalaskan. Untuk itu bersabarlah, Sayang."
xxx
Viona memicingkan matanya melihat rumah dalam keadaan sepi. Tidak terlihat batang hidung Kevin, Frans maupun Rico. Viona tidak tahu kemana perginya mereka bertiga.
"Nyonya, isi susu Anda.Sebaiknya di minum dulu selagi masih hangat." Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Viona sambil membawa segelas susu hangat yang kemudian dia berikan padanya.
"Di mana Paman dan yang lain. Kenapa aku tidak melihat batang hidung mereka sama sekali?" ucap Viona.
"Saya menemui Nona untuk menyampaikan hal ini. Tuan, sedang menunggu Anda untuk makan malam. Beliau juga sudah menyiapkan sopir untuk menjemput, Nona. Jadi sebaiknya Nona siap-siap dulu," ucap Pelayan itu.
Viona tampak berpikir. Dia merasa ada yang ganjil dengan hal ini. Tidak biasanya Kevin mengajaknya makan malam melalui orang lain sebagai perantaranya, karena biasanya dia mengatakannya secara langsung padanya.
Viona menggeleng dan membuang jauh-jauh prasangka buruknya. Lagipula yang menyampaikannya adalah salah satu pelayan yang telah lama bekerja di kediaman Zhang. Jadi tidak mungkin dia berbohong apalagi bermaksud jahat padanya, begitulah yang Viona pikirkan.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap sekarang."
xxx
Bersambung.
__ADS_1