
"A..Apa Anda bilang, dia adalah cucu Anda?!" ucap lelaki paruh baya itu terbata-bata setelah mendengar apa yang baru disampaikan oleh Tuan Lu.
"Bukankah kau sudah mendengarnya sendiri, udah aku yakin telingamu tidak tuli sehingga aku harus mengulangi ucapanku. Mengganggu mereka berdua, maka harus berhadapan langsung denganku, karena mereka adalah cucu-cucuku!!" ujar Tuan Lu menegaskan.
"Tapi Hwan, dia adalah...'
Pandangan Tuan Lu bergulir pada Hwan. "Hwan, ingat baik-baik yang aku katakan ini. Sejak pertama kali kau masuk ke kediaman Lu dan aku menerimamu, saat itu aku sudah menganggap mu sebagai cucuku dan bagian dari keluarga kami. Jadi jangan biarkan siapapun menindas apalagi merendahkan dirimu, karena keluarga Lu tidak pernah tunduk pada siapapun!!" ujar Tuan Lu.
Kata-kata lelaki paruh baya itu membuat Hwan terharu. Hampir saja dia menangis, tapi sebisa mungkin dia menahan diri agar tidak sampai meneteskan air mata.
Dengan mantap, Hwan menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti Kakek. Aku tidak akan mengecewakanmu dan keluarga Lu!!" ucapnya menimpali. Frans tersenyum, dia menghampiri Hwan lalu menepuk bahunya sambil tersenyum lebar.
Sekarang Hwan memiliki kekuatan untuk melawan mereka. Dia tidak lagi sendirian, dia memiliki orang-orang yang senantiasa mendukung dan melindunginya. Meskipun mereka bukan keluarga kandungnya. Setidaknya dari mereka Hwan bisa menemukan kehangatan sebuah keluarga.
"Silahkan pergi dari sini, Lu Corp sudah tidak ada kerjasama apapun dengan perusahaan mu. Semua kerjasama aku batalkan!!"
Lelaki paruh baya itu mengepalkan tangannya. Amarah terlihat jelas di raut mukanya, dengan emosi yang tertahan, dia melenggang pergi meninggalkan Lu Corp. Niatnya adalah untuk memberikan pelajaran dan peringatan keras pada Hwan, tapi yang ada malah dirinya yang di permalukan. Lebih baik mundur daripada harus berurusan dengan orang seperti Joseph Lu.
Tuan Lu menepuk bahu Hwan sambil tersenyum lebar. "Sudah tidak apa-apa . Mulai sekarang dia tidak akan berani macam-macam lagi denganmu, ini sudah malam sebaiknya kalian berdua cepat pulang." Pinta Tuan Lu pada Hwan dan Frans. Keduanya mengangguk dengan kompak.
"Baiklah Kakek, kalau begitu kami pulang duluan. Kakek, sebaiknya juga cepat pulang." Ucap Hwan dan di balas anggukan oleh Tuan Lu.
Tidak Lama setelah kepergian mereka berdua. Tiba-tiba Joseph Lu merasakan sakit yang luar biasa pada dadanya. Lelaki tua itu mencengkram dadanya yang teramat sangat sakit , tidak lama kemudian dia jatuh pingsang setelah merasakan semua menjadi gelap.
__ADS_1
"Presdir Lu!!" Orang-orang pun berdatangan menghampirinya dan Tuan Lu segera di larikan ke rumah sakit. Kondisinya kritis, dan ada kemungkinan jika dia terkena serangan jantung.
xxx
"Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin tetapi Tuhan berkehendak lain. Nyawa Tuan Lu tidak bisa kami selamatkan," ucap dokter itu penuh Sesal.
Tubuh Hwan terhuyung ke belakang setelah mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh dokter. Hwan menggelengkan kepala. "Tidak, ini tidak mungkin. Kakek, dia tidak mungkin meninggal.", Ucapnya dengan lirih.
Sementara itu. Frans sudah menangis sejak tadi. Dia menghampiri Dokter untuk memastikannya. "Dokter, katakan jika ini bercanda. Kakekku baik-baik saja kan, dia tidak apa-apa kan? Tidak mungkin, tidak mungkin pergi begitu saja meninggalkan kamu bertiga. Kakek, dia baik-baik saja kan? Dokter, katakan jika Kakek baik-baik saja!!" Frans mengguncang bahu dokter tersebut, sama seperti Frans dia juga tidak percaya jika Kakeknya telah tiada.
Dokter itu menghela nafas berat. "Kuatkan hati kalian. Nyawa Tuan Lu tidak tertolong, dan dia sudah tidak ada." Jawab dokter itu, sekali lagi dia menyakinkan pada Frans dan Hwan jika Kakek mereka memang sudah tiada.
Derap langkah kaki seseorang yang datang berkaur di telinga mereka bertiga. Ketiganya menoleh dan mendapati kedatangan Kevin. Dia tidak sendirian, Viona tampak berlari di sampingnya. Frans pun segera menghampiri sang kakak lalu memeluknya.
"Ge... Kakek, dia sudah tidak ada. Dia sudah meninggalkan kita semua," ucap Frans. Dalam pelukan Kevin, tangis Frans semakin pecah. Dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sang kakak. Kevin hanya mampu terdiam dan tertegun.
Viona menghampiri Kevin dan memeluknya juga. Wanita itu sudah menangis sejak tadi. Satu-satunya yang tidak menitihkan air mata adalah Kevin, tapi bukan berarti dia tidak sedih. Karena di balik diamnya itu dia hancur, sehancur Hwan dan Frans. Hanya saja Kevin tidak mau terlalu memperlihatkannya dan membuat mereka semakin sedih.
Kevin menutup matanya dan menghela napas."Jangan ada yang menangis. Kita tidak boleh mengantarkannya pergi dengan air mata, dia pasti tidak senang melihat cucu-cucunya menangis. Jadi untuk itu jangan ada yang menangis!!" pinta Kevin dengan suara bergetar. Sebisa mungkin dia mencoba untuk tegar meskipun pada kenyataanya hancur.
"Ge, Kakek." Rengek Frans.
"AKU BILANG JANGAN MENANGIS!!" bentak Kevin sedikit emosi. Dia tidak ingin kepergian Kakeknya di tangisi oleh mereka bertiga.
__ADS_1
Umur seseorang memang tidak ada yang bisa menebak. Siapa yang menduga jika Tuan Lu akan pergi secepat itu. Dibandingkan Kevin, tentu saja kepergiannya lebih mengejutkan Frans dan Hwan. Bagaimana tidak, karena lima menit sebelum kepergiannya dia masih mengobrol dengan mereka berdua.
xxx
Rintik hujan di area pemakaman mengiringi kepergian salah satu orang penting di negara ini. Isak tangis dari para sahabat, kerabat dan orang-orang terdekat mewarnai prosesi pemakaman yang sedang berjalan. Kepergian Tuan Lu yang begitu tiba-tiba memang sangat mengejutkan banyak pihak, terutama orang-orang terdekatnya.
Joseph Lu, nama pria itu. Dia tutup usia tepat di hari ulang tahunnya yang ke 80 tahun karna penyakit jantung koroner yang telah ia idap selama ini.
Kepergian Joseph tidak hanya menyisakan luka di hati orang-orang terdekatnya saja, namun juga di hati Cucu-cucu tercintanya.
Frans dan Kevin tidak hanya kehilangan sosok Kakek, namun juga seseorang yang sangat Ia segani dan Ia hormati. Tidak ada lagi yang tersisa selain rasa kehilangan dan kenangan yang akan Ia kenang selama hidupnya.
Pemakaman mulai sepi, para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Namun Kevin, Frans, Hwan dan Viona tetap bergeming, mereka bertiga tetap berdiri di sana sambil menatap kosong gundukan tanah yang ada di hadapannya. Walaupun rintik hujan masih setia membasahi setiap inci tubuhnya yang terbalut seragam kemiliteran. Namun itu tidak menjadi alasan untuk Ia meninggalkan area pemakaman.
Sesekali Viona menoleh menatap wajah Kevin yang sedari tadi tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Ia ingin sekali berbicara padanya, namun lidahnya terasa keluh dan suaranya tertahan di tenggorokannya. Akhirnya wanita itu memilih untuk tetap diam.
Kevin masih terus memandang ke depan, mata berwarna pekat itu tertutup dengan perlahan. Wajahnya mendongak. Membiarkan dan merasakan setiap tetesan air mata yang turun dari langit membasahi kulit wajahnya. Turun hingga sampai di bibirnya yang tipis, menghantarkan gumpalan uap panas dari sepasang merah mudanya. Menandakan betapa dinginnya hari ini. Dingin yang bukan berasal dari tetesan-tetesan air hujan melainkan dari hatinya yang beku.
Pandangan matanya kosong, membuat wanita yang sejak tadi berdiri di sampingnya menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya. Viona menggenggam tangan Kevin dengan membuat, membuat pria itu membuang semua angan-angan yang sedari tadi memerangkapnya di awang-awang. Mata dinginnya mengerjap beberapa kali, barulah Kevin tersadar.
Segera di alihkan pandangan matanya, menoleh dan menatap tangannya yang digenggam Viona. Mata berbeda warna itu saling bertemu dan menatap, sorot matanya seakan memberi kesan simpati padanya. Kevin mengangguk tipis, pria berhelaian coklat gelap itu mengiyakan bahasa non verbal tersebut.
"Kita pulang," dua kata keluar dari bibir Viona. Kevin tidak memberikan jawaban apa-apa, dia hanya menganggukkan kepala, mengiyakan ajakan Viona untuk pulang.
__ADS_1
xxx
Bersambung.