
"Kevin Zhang, akhirnya kau akan matii di tanganku!!"
Seorang pria menyeringai sambil mengarahkan senjatanya ke arah Kevin yang sedang sibuk berkelahi dengan teman-temannya, sehingga diam tidak menyadari keberadaannya. Pria itu mengangkat senjata di tangannya dan mengarahkannya pada Kevin.
"Paman," disaat bersamaan Viona muncul dan melihat apa yang hendak orang itu lakukan pada Kevin. "PAMAN, AWAS!!" dia berteriak sekencang-kencangnya mencoba memperingatkan Kevin. Namun karena jarak mereka yang lumayan jauh.
Viona berlari kencang-kencangnya berusaha untuk menghentikan pria itu. Matanya membulat sempurna melihat pria itu mulai menarik pelatuknya,
Wanita itu menggeleng, terlambat untuk menghentikannya karena tembakan itu telah dilepaskan. Hanya ada satu-satunya cara untuk menyelamatkan Kevin dari bahaya.
DOORR ..
"NONA!!" Frans berteriak dengan histeris melihat tembakan itu menembus perutt Viona. Dan karena jaraknya dan Kevin lumayan dekat sehingga teriakan itu sampai ke telinganya.
Viona berdiri di depan Kevin sebagai tameng untuk melindunginya, dengan posisi memunggungi sehingga Kevin tidak menyadari keberadaanya. Dan teriakan Frans langsung menyadarkan Kevin, sontak Kevin menoleh dan mata kanannya membuat sempurna.
"Viona," Kevin menahan tubuh Viona yang hampir roboh. "Bodoh, apa yang kau lakukan?!" bentaknya dengan suara meninggi. Panik terlihat dari sorot matanya yang tajam.
Viona tersenyum tipis lalu mengangkat tangannya yang berlumur darah dan mengarahkan pada wajah Kevin. "Syukurlah Paman tidak apa-apa. Paman... aku lega kau baik-baik sa....ja..." ucapnya terbata-bata.
Kevin merengkuh tubuh Viona dan membawanya bersimpuh di tanah. "Diam, jangan banyak bicara!! Jangan coba-coba untuk menutup matamu atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!!" ucap Kevin memberi ancaman.
"Tuan, kita harus segera membawa Nona ke rumah sakit sebelum dia semakin kehilangan banyak darahh." Ucap Frans.
Lalu pandangan Kevin bergulir pada Rico. "Disini aku serahkan padamu, jangan sisakan satu pun, habisi mereka semua!!" ucap Kevin, seolah-olah perintahnya adalah hal mutlak yang harus dituruti.
Rico menganggukkan kepala ."Baik, Tuan,"
Kevin mengangkat tubuh Jessica dan meninggalkan perkelahian. Dia tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa Viona, apalagi dia terluka karena demi melindunginya. Frans berjalan mengekor dibelakangnya, karena tidak mungkin Kevin berkendara sendiri.
Kevin menatap.wajah pucat Viona dan bergumam."Viona, aku mohon bertahanlah."
.
.
Kevin menatap pintu ruang operasii dengan tatapan kosong. Cemas, gusar dan khawatir bercampur aduk menjadi satu. Di dalam sana Viona tengah berjuang antara hidup dan matii. Ia duduk dengan posisi membungkuk. Pandangannya kosong. Berkali-kali Kevin melihat arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. 02.15 dini hari.
Suara langkah kaki dari arah kanannya mengalihkan perhatiannya. Seorang pria datang menghampirinya. Kevin hanya melihat sekilas padanya dan pandangannya kembali lurus ke depan.
Kevin hanya diam dan tidak menghiraukan orang itu sedikit pun. Meskipun dia terlihat tenang, namun pada kenyataannya dia sangat-sangat kacau. Kevin panik, dia cemas, dia takut. Bahkan matanya terasa memanas, Kevin hampir menangis. Namun sebisa mungkin Kevin menahan supaya air matanya tidak sampai menetes.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, apakah dia mampu bertahan?" tanya orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Daniel.
"Aku sendiri tidak tahu, karena operasi masih belum selesai. Dan aku hanya bisa berharap Viona baik-baik saja," ucapnya dingin.
Daniel mengangguk. Kemudian dia mengambil tempat di samping dari Kevin. "Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirannya. Aku sudah mencoba untuk mencegahnya pergi tapi tidak bisa. Dia begitu keras kepala dan tidak mau mendengarkan orang lain, aku lebih terkejut lagi ketika dia tiba-tiba muncul di tengah perkelahian."
Lelaki itu mengambil napas panjang dan menghelanya. "Sepertinya dia sudah memiliki Firasat jika kau berada dalam bahaya, itulah kenapa Viona tiba-tiba muncul dan menghadang tembakan itu untukmu. Sepanjang hidup aku mengenalnya, baru kali ini aku melihat dia rela mati untuk seseorang." Tutur Daniel panjang lebar.
Kevin menutup matanya dan menghela nafas. "Dia benar-benar bodoh, kenapa Viona mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melindungi ku?! Aku benar-benar tidak habis pikir.", lirih Kevin dengan suara parau.
"Itu karena kau sangat berharga baginya. Aku ingat satu kalimat yang pernah dia katakan padaku 'Aku hanya memiliki satu pahlawan dan itu Pamanku, dia adalah orang yang paling aku cintai dan aku sayangi di dunia ini. Dia adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki, aku ingin selalu bersamanya hidup dan mati' kata-kata itu pernah dia ucapkan padaku. Akhirnya aku sadar, karena kau adalah satu-satunya keluarga yang dia memiliki, dan Viona tidak ingin kehilanganmu," Tutur Daniel.
Kevin tak mampu berkata-kata, lagi-lagi dia hanya diam. Kata-kata Daniel membuatnya terdiam 1000 bahasa.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka berdua, dokter keluar dari ruang operasii lalu menghampiri Daniel dan Kevin. Nampak Kevin dan Daniel bangkit untuk menanyakan keadaan Viona sekarang.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Kevin tanpa banyak basa basi.
"Operasii berhasil. Tapi kami belum bisa memastikannya sampai pasien siuman. Dia mengalami penddarahan hebat. Kita harus menunggunya siuman." Jelas dokter yang telah menangani Viona saat ini.
Kevin hanya mengangguk kecil. Setidaknya Viona sudah berhasil melewati masa kritiisnya. "Kapan aku bisa melihatnya?" tanya Kevin lagi.
Kevin mengangguk. "Baiklah,"
Dia bisa sedikit menghela nafas lega, meskipun belum sadar tetapi Viona sudah melewati masa kritiisnya. Setidaknya tidak ada yang perlu dia khawatirkan untuk saat ini, hanya tinggal menunggu dia siuman.
"Tuan, sebaiknya Anda pergi untuk mengobati luka-luka di tubuh Anda. Nona, bisa sedih saat dia siuman dan mendapati Anda terluka dan belum diobati sama sekali." Ucap Frans memberi saran. Setelah diam sekian purnama, akhirnya kalimat keluar dari mulutnya
"Aku mengerti. Jaga dia sebentar, aku akan segera kembali." Ucap Kevin dan dibalas anggukan kecil oleh Frans.
"Baik, Tuan." Jawab Frans.
Perkelahian itu membuat Kevin mendapatkan beberapa luka di tubuhnya. Namun bukan luka yang serius apalagi fatal, tetapi cukup untuk membuat dia meringis kesakitan. Apalagi luka sayatt di lengan kiri atas, dan ada luka lain di tulang pipi kanannya, selebihnya hanya luka kecil saja yang tidak terlalu berarti.
.
.
Kevin tidak bisa menahan kesedihannya melihat keadaan Viona saat ini. Dia nyaris saja kehilangan nyawa karena kebodohannya sendiri.
Tanpa memikirkan keselamatannya, Viona berlari menerobos perkelahian. Tujuannya hanya satu, yakni menemukan Kevin dan memastikan dia baik-baik saja.
__ADS_1
Namun naas menimpanya, Viona menerima tembakan yang seharusnya itu untuk Kevin. Dan karena aksi gilanya itu, kini dirinya malah terbaring di rumah sakit. Viona menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng untuk melindungi Kevin.
Kevin meraih tangan Viona yang terasa dingin lalu menggenggamnya. "Dasar bodoh, kenapa kau harus berbuat sejauh itu hanya untuk melindungi ku?" gumam Kevin lirih, suaranya terdengar parau seperti menahan tangis.
Legang... Tak ada jawaban, suasana di dalam ruangan itu begitu hening. Hanya terdengar suara detak jarum jam yang terus bergerak dengan pelan.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu, jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada dirimu. Untuk itu cepat bangun Viona, dan katakan padaku jika kau baik-baik saja." ucapnya sambil mencium tangan Viona.
Dibelakangnya seorang laki-laki berdiri dan menatap Viona dengan pandangan penuh kesedihan. "Apakah dia tidak akan bangun lagi?" tanya orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Daniel.
"Apa kau menyumpahi dia mati?" Kevin menyahut sambil menatap Daniel dari ekor matanya dengan pandangan tajam dan menusuk. Pertanyaan Daniel menyinggungnya apalagi saat ini perasaan Kevin sedang sensitif.
Daniel menggelengkan kepala. "Bukan, bukan begitu. Aku tidak pernah menyumpahinya mati, aku hanya bertanya apa dia tidak bangun lagi, kau jangan salah paham dulu." Ucap Daniel menjelaskan.
Tepukan pelan pada bahunya mengalihkan perhatian Daniel. Dia menoleh dan mendapati Frans menggelengkan kepala. "Sebaiknya jangan tanyakan apapun, apalagi itu bersifat sensitif. Karena saat ini Tuan tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ayo sebaiknya kita keluar, tinggalkan dia sendiri." ucap Frans dan dibalas anggukan oleh Daniel.
Kemudian mereka berdua meninggalkan ruang inap Viona. Sesekali Daniel menoleh ke belakang, dan menata Viona yang terbaring tak berdaya. Hatinya sedih melihat dia tak kunjung membuka matanya, daniel merindukan Viona apalagi sikap jahilnya.
Ruangan itu kembali hening, tak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir Kevin. Pria itu terus menggenggam tangan Viona dan tak mau melepaskannya.
Pandangan matanya tak teralihkan sedikitpun darinya, Kevin ingin saat Viona membuka matanya orang yang pertama dilihat oleh dia adalah dirinya, tapi sayangnya mata Viona masih belum terbuka sampai sekarang.
"Viona, sebenarnya mimpi indah Apa yang kau alami saat ini? Sampai-sampai kau tidak mau membuka matamu. Cepat bangun Sayang, Paman sangat merindukanmu. Setelah kau sembuh, paman akan membawamu pergi ke Paris seperti yang kau impikan selama ini. Untuk itu cepat bangun, Viona." Mohon Kevin sambil menutup matanya.
Kevin tidak bisa membayangkan bagaimana ia hidup tanpa Viona. Hidupmu pasti tidak akan berarti lagi tanpa dia di sisinya, Viona sangat berarti bagi Kevin, untuk itu dia tidak ingin sampai kehilangannya.
"Benarkah? Tapi aku tidak ingin ke Paris, tapi aku ingin ke Jerman untuk melihat Brandenburg Gate," jawab suara lirih dari depan Kevin.
Sontak Kevin membuka matanya, dan mata kanannya membelalak sempurna melihat Viona akhirnya sadar kembali. "Viona?!" Kevin berseru dan langsung memeluknya. "Syukurlah, akhirnya kau sadar juga. Paman lega sekarang, dan kupikir aku sudah kehilanganmu." Ucapnya sambil memeluk Viona dengan erat.
Viona tersenyum tipis. "Mana mungkin aku meninggalkan Paman, karena kita akan selalu bersama-sama," ucapnya berbisik.
"Berjanjilah untuk tidak lagi melakukan hal gila apalagi membahayakan nyawamu untuk menyelamatkanku, atau aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!! Viona, Paman benar-benar takut kehilanganmu," lirih Kevin sambil memeluk Viona dengan erat.
Viona mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Kevin. "Maaf Paman, tapi Aku tidak bisa berjanji untuk hal itu. Apalagi saat melihat bahaya mengintaimu tepat di depan mataku, aku benar-benar tidak bisa berjanji!!'
.
.
Bersambung
__ADS_1