Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Aku Ingin Pulang


__ADS_3

"Paman, aku bosan. Ayo kita pulang,"


Sepanjang hari Viona terus saja merengek mengajak pulang, dia mengatakan ini dan itu pada Kevin supaya dia mau mengabulkan keinginannya untuk pulang. Tapi sayangnya Kevin adalah orang yang sulit untuk ditaklukkan.


"Sekali tidak tetap tidak!! Paman, baru membawamu pulang setelah mendapatkan ijin dari dokter." ucap kevin menegaskan.


Viona memanyunkan bibirnya dan memalingkan wajahnya dari Kevin. Bukan jawaban seperti itu yang dia inginkan, karena Viona ingin kevin mengatakan iya. Namun pada kenyataannya, sang Paman tetap pada keputusan awalnya, yakni menolak untuk pulang sebelum ada persetujuan dari dokter.


"Paman menyebalkan, mulai sekarang aku tidak mau bicara dengan kamu lagi!!" ucap Viona tanpa menatap lawan bicaranya.


Jelas sekali Kevin tahu jika dirinya sangat membenci rumah sakit, tetapi dia malah menahannya di tempat paling Iya benci dalam waktu yang lama.


Satu hari di tempat ini, rasanya seperti Satu Windu, bahkan 1 jam rasanya seperti 1 tahun. Rumah sakit satu-satunya tempat yang tidak pernah ingin Viona datangi dalam hidup ini. Namun kenyataanya malah berbeda dari angan-angannya.


"Jangan keras kepala, Viona!! Kau bukan anak-anak lagi, dan mengertilah apa yang Paman lakukan ini demi kebaikanmu juga." Ucap Kevin menegaskan.


Wanita itu melakukan wajahnya. "Tapi aku benci rumah sakit, dan aku tidak ingin di sini terlalu lama. Aku ingin pulang, Paman. Aku ingin pulang," Viona bergumam pelan.


Viona memiliki kenangan buruk dengan rumah sakit. Karena di rumah sakit dia melihat kematiian ibunya, dan itu membuat dia trauma sampai sekarang, sulit bagi Viona untuk melupakan peristiwa tragis itu.


Kevin menarik bahu Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Paman mengerti betul apa yang kau rasakan, Vi. Tapi mengertilah, semua yang Paman lakukan demi kebaikanmu. Apalagi dokter mengatakan jikalau kamu cukup parah dan membutuhkan perawatan intensif, sebenci apapun kau pada rumah sakit, untuk kali ini saja cobalah berdamai dengan masa lalu itu rasanya sangat menyakitkan." Tutur Kevin panjang lebar.


Dia tidak bisa mengabulkan keinginan Viona dan membawanya pulang, Kevin tidak ingin mengambil resiko apalagi luka tembak di perut Viona belum kering sepenuhnya dan tidak menutup kemungkinan terjadi penddarahan lagi. Makanya Kevin menolak tegas keinginan wanita itu.


Viona menghela nafas. Sepertinya memang tidak ada gunanya berdebat dengan Kevin masalah ini, karena dia akan tetap pada pendirian awalnya.


"Satu hari lagi, hanya satu hari saja aku ingin disini. Setelah itu Paman harus membawaku pulang," ucap Viona dan dibalas anggukan oleh Kevin. "Apa Paman bisa berjanji?" Lagi-lagi Kevin menganggukkan kepalanya.


"Sekarang sebaiknya kau istirahat, Paman akan menemanimu disini." Ucap Kevin sambil menggenggam tangan Viona.


Apapun yang dia inginkan pasti Kevin kabulkan, tapi untuk yang satu ini dia tidak bisa mengabulkannya. Kevin tidak ingin mengambil resiko yang ujung-ujungnya malah membahayakan keselamatan Viona.


.


.

__ADS_1


Jimmy jatuh lemas setelah menerima kabar jika seluruh anak buahnya mereka nyawa di tangan kevin dan anak buahnya. Tidak ada seorangpun yang mereka biarkan tetap hidup, mereka benar-benar membantai semuanya tanpa sisa.


"Bangsatt, Kevin Zhang kau benar-benar keterlaluan!!"


Jimmy tidak bisa menahan kemarahannya. Dia berteriak, memaki dan melemparkan umpatan-umpatan tajam yang semua dia tunjukkan pada Kevin. Karena anak buahnya tidak akan bertindak tanpa ada perintah darinya.


"Kevin Zhang, aku pasti akan membunuhmu!! Berani sekali kau merenggut semua orang-orangku, kau benar-benar iblis. Arrrkkhhhh... Sial, sial, sial!!" teriaknya dengan amarah.


"Tuan, tolong tenangkan diri Anda, jangan emosi seperti ini. Ingat pesan dokter, Anda tidak boleh terlalu emosi karena itu bisa mempengaruhi saraf-saraf Anda,"


Sontak Jimmy mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan tajam. "Apa kau bilang? Tenang!! Kau memintaku untuk tenang?! Bagaimana aku bisa tenang sementara aku telah kehilangan semua orang-orangku!! Jadi bagaimana aku bisa tenang?!" bentak Jimmy dengan suara meninggi.


"Apa yang Anda rasakan, Tuan. Tetapi marah pun tidak ada gunanya, karena itu tidak akan bisa mengembalikan mereka pada kita, mereka sudah tiada." Ujar pria berkacamata tersebut.


Jimmy mengepalkan tangannya. Dia tidak akan pernah memaafkan Kevin, kevin harus membayar mahal setiap nyawa yang melayang sia-sia di tangannya. Lebih dari 100 orang, anak buahnya yang matii di tangan mereka.


"Kevin Zhang, aku pasti akan membalas rasa sakit ini!!"


.


.


"Tidak perlu menunggu sampai beberapa hari ke depan, Tuan Zhang. Karena keadaan Nona Viona sudah semakin membaik, lukanya juga sembuh dengan cepat. Cukup dengan melakukan rawat jalan saja, itu sudah tidak masalah,"


"Jadi malam ini dia sudah boleh pulang?" ucap Kevin memastikan.


Dokter itu menganggukkan kepala. "Ya, Tuan Zhang. Malam ini Nona Viona sudah boleh pulang," jawab dokter tersebut.


Kevin mengangguk kemudian bangkit dari kursinya. "Terimakasih, Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu," dan pergi begitu saja. Kevin akan menyampaikan kabar baik ini pada Viona, pasti dia senang mendengarnya.


Cklekk..


Decitan suara pintu dibuka dari luar mengalihkan perhatiannya. Viona menoleh dan mendapati Kevin memasuki ruang inapnya. "Paman, kau dari mana saja? Kenapa pergi tidak bilang-bilang? Kau tau, aku sampai bingung mencarimu," dan kedatangan Kevin di brondong pertanyaan oleh Viona.


"Aku pergi menemui dokter, katanya malam ini kau sudah boleh pulang," ucap Kevin.

__ADS_1


Dua mata Viona berbinar seketika, setelah mendengar apa yang


Kevin katakan. "Benarkah?" kevin menganggukkan kepala, membenarkan apa yang Viona pertanyakan. "Yeehh, akhirnya bisa pulang juga. Benar-benar berita yang sangat menggembirakan." seru Viona dengan begitu bersemangat.


Rasanya dia sudah tidak tahan terkurung lama di tempat seperti ini, bisa dikatakan Rumah Sakit adalah musuh bebuyutannya, dan satu-satunya tempat yang tidak ingin Viona datang di dunia ini.


Kevin menepuk kepala Viona dengan lembut. "Paman, sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu. Segera ganti pakaianmu, Paman akan menunggu diluar," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.


Viona turun dari ranjang inapnya dengan hati-hati. Dia tidak ingin sampai luka jahit di perutnya terbuka dan menyebabkan pendarahan , yang ujung-ujungnya membuat dirinya kembali tertahan di rumah sakit.


Setelah mengganti pakaian rumah sakit dengan dress yang disiapkan oleh Kevin. Viona berseru memberitahu Kevin jika dia sudah selesai berganti pakaian. Kevin masuk ke dalam dan menghampiri Viona.


"Sudah siap?" ucapnya dan dibalas anggukan oleh Viona.


"Oya, Paman. Apa selama aku di rumah sakit Daniel tidak datang menjenguk? Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali?" tiba-tiba Viona membahas tentang Daniel dan membuat mood Kevin menurun drastis.


Ekspresi wajahnya tidak sehangat sebelumnya. Sorot matanya menjadi dingin dan tajam. "Aku melarangnya untuk datang. Karena cukup aku saja yang menjaga dan menemanimu disini!!" jawabnya dingin.


Viona menganggukkan kepala. Sepertinya Kevin tidak ingin membahas apapun tentangnya, jadi Viona memilih untuk mengalah dan tidak bertanya apapun lagi tentang Daniel daripada membuat Pamannya marah. Dan Viona memiliki cara jitu untuk membujuknya.


"Paman, aku lapar. Bisakah kita makan malam dulu sebelum pulang?" Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin sambil mengunci manik kanannya.


"Memangnya kau ingin makan dimana?" tanya Kevin.


Viona tampak berpikir, dia meletakkan jarinya di bibir sambil berpikir. "Bagaimana jika di restoran bintang lima? Sudah lama Paman tidak membawaku pergi makan di restoran mewah," ucapnya.


Kevin menganggukkan kepala. "Baiklah, kita makan malam dulu di tempat biasa." Jawab Kevin, Viona menganggukkan kepala. "Ayo," Kevin membantu Viona membawa semua barang-barangnya.


Karena tidak mungkin juga Kevin membiarkannya membawa barang-barang itu sendiri, apalagi untuk saat ini Viona dilarang melakukan berbagai aktivitas berat yang berpotensi membuat jahitannya terbuka. Dan sebisa mungkin Kevin berusaha untuk menjaganya.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2