
Sebuah pesan masuk menyita perhatian Viona yang sedang menyisir rambutnya. Wanita itu memicingkan matanya melihat nomor asing tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Dia tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan. Merasa tidak kenal, Viona mengabaikannya dan meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula.
Cklekkk...
Perhatiannya kembali teralihkan saat terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Kevin keluar dari dalam sana hanya dengan berbalut handuk yang melingkari pinggulnya. Jari-jari besarnya sibuk mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk tipis.
Semerbak Aroma maskulin yang begitu khas seketika masuk dan berkaur di hidungnya ketika Kevin mulai keluar dari dalam sana. Viona bangkit dari duduknya lalu menghampiri Kevin.
"Ada apa, hm?" ucap Kevin melihat tatapan Viona yang sedikit lapar melihatnya bertellanjang dada.
"Kau sudah membuat milikku berkedut hebat. Paman, kau harus bertanggungjawab!!" ucap Viona dengan tegas.
Kevin menjitak kening Viona dengan gemas."Jangan berharap. Hari ini aku sangat lelah jadi tidak ada bercinta untuk malam ini." Jawab Kevin sambil memeluk kepala Viona sambil tersenyum tipis
Viona menggeleng. "Tidak ada penolakan. Biar aku yang mendominasi dirimu!!" tukas Viona sambil mendorong Kevin ke atas tempat tidur dan langsung menyerangnya dengan memagut dan melumatt bibirnya. Itu baru awal, selanjutnya Viona akan melakukan hal yang lebih gila.
.
.
Kevin ambruk diatas tubuh Viona. Mereka baru saja selesai bermain kuda-kudaan. Meskipun awalnya Kevin sempat menolak dan Viona mendominasi dirinya, namun pada akhirnya permainan tetap diambil alih oleh Kevin sepenuhnya.
"Paman, cepat menyingkir. Kau sangat berat," gerutu Viona sambil mendorong Kevin menjauh darinya.
Wanita itu sedikit kesal pada suaminya. jelas-jelas Kevin tadi menolaknya dengan alasan lelah, namun setelah dia memulainya dan mulai menginvasi permainan mereka, tiba-tiba Kevin berubah menjadi sangat beringas dan menghajarnya habis-habisan sampai-sampai buat Viona kesulitan untuk berjalan.
Viona merasakan jika Miss-nya sedikit nyeri dan ngilu akibat ulah Kevin. Tau begini dia tidak akan memulai dan memancing seekor serigala yang sedang kelaparan. Niatnya mau untung malah buntung. Benar-benar sebuah kesialan bagi Viona. Seharusnya dia tidak mencari gara-gara dengan Kevin.
__ADS_1
"Kenapa kau terlihat kesal? Apa kurang puas, hm? Mau tambah lagi?" tawar Kevin dengan gerlingan menggoda.
Viona menggeleng. "Tidak tidak tidak. Begini saja aku sudah tersiksa apalagi jika tambah satu ronde lagi. Bisa-bisa besok pagi aku jalan ngesot!!" jawab Viona dengan sewot.
Lagi-lagi Kevin tertawa. Dia tidak terlihat menyesal sama sekali meskipun sudah membuat istrinya kesal setengah mati, lagi pula bukan salah Kevin juga tapi salah Viona yang mencoba memancingnya. Akhirnya Kevin lepas kendali setelah terus-terusan terpancing birahii.
"Tapi aku masih belum puas. Bagaimana jika kita melakukannya sekali lagi?" ucap Kevin sambil menatap Viona dengan seringai menggoda.
Viona menggeleng. "Cukup cukup cukup. Aku tidak mau jadi bahan lelucon Frans esok pagi. Dia tidak akan berhenti mengganggunya jika melihatnya berjalan seperti itik.
Lagi-lagi Kevin tertawa mendengar penolakan Viona. Dia menganggapnya begitu serius, padahal Kevin hanya bercanda saja. "Kenapa kau serius sekali, hm? Aku hanya bercanda, lagipula aku juga lelah dan ingin cepat istirahat. Kau tidur duluan saja jika lelah, aku mau mandi dulu." Kevin mencium kening Viona dan pergi begitu saja.
Bukannya pergi tidur. Viona justru pergi meninggalkan kamar. Habis bercinta membuat tenaganya terkuras habis. Dia lapar , mungkin saja di dapur ada sesuatu yang bisa di makan. Viona benar-benar lapar dan perutnya tidak bisa untuk diajak untuk kompromi.
"Frans, apa yang sedang kau lakukan? Kau sedang memasak ramyeon, ya?" tegur Viona saat tiba dan mendapati Frans berdiri di depan kompor yang sedang menyala.
Viona mengangguk dengan antusias. "Tentu saja mau. Kebetulan sekali aku sedang lapar. Yang ekstra hot, ya." ucap Viona dan di balas anggukan oleh Frans. Berbeda dengan Kevin yang tidak terlalu menyukai makanan pedas, Viona justru kebalikannya.
Pernah sekali Viona mendapatkan Omelan dari Kevin karena kebanyakan makan makanan pedas yang endingnya membuat dia sakit perut. Sejak saat itu dia tidak berani lagi untuk mengulanginya. Tapi karena rindu makanan pedas, malam ini dia berencana untuk mencicipinya.
"Nunna, ngomong-ngomong kenapa kau berkeringat?" tanya Frans sambil menatap Viona penuh selidik.
"Aku habis selesai olahraga malam. Kebanyakan makan membuat tubuhnya terasa berat, jadi aku memutuskan untuk melakukan olahraga." Jawab Viona.
"Kenapa haru malam? Bukankah kau bisa melakukannya saat pagi ataupun sore hari, kenapa harus malam coba?" tanya Frans sekali lagi.
"Itu karena malam hari lebih enak untuk olahraga dibandingkan pagi atau sore hari. Sudah jangan banyak ngoceh lagi, apa Ramyeon-ku sudah siap?"
__ADS_1
"Sudah, sebentar lagi. Nunna, tunggu saja di meja makan dan aku akan segera mengantarkannya untukmu." Ucap Frans dan di balas anggukan oleh Viona.
Viona berencana menghabiskan ramyeon itu cepat-cepat. Karena jika Kevin sampai tahu dia memakan pedas lagi, bisa-bisa Viona kena omel olehnya. Dan tidak menutup kemungkinan Kevin akan mendiaminya sampai berhari-hari karena sulit di kasih tahu.
.
.
"Kemana perginya wanita ini?" gumam Kevin kebingungan.
Kebingungan tampak di raut muka Kevin, ketika dia selesai mandi dan tidak mendapati Viona berbaring di tempat tidur. Pintu kamar terbuka lebar dan Kevin bisa menebak dimana wanita itu sekarang.
Mengabaikan Viona yang tiba-tiba menghilang. Kevin mengambil celana panjang dan singlet lalu memakainya. Dia tidak perlu mencari kemana-mana karena sudah pasti dia berada di dapur.
Pria itu mengayunkan kedua kakinya bergantian. Kevin hendak menyusul Viona, namun suara dering pada ponselnya menghentikan langkah Kevin. Nama Rico tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang
"Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?" tanya Kevin tanpa basa-basi.
"Tuan, terjadi masalah. Seseorang meretas sistem keamanan perusahaan dan mencuri data-data penting perusahaan kita. Kami mencoba menanganinya tetapi tidak berhasil." Tutur Rico dengan panik.
Kevin menghela napas. "Tidak perlu panik. Masalah ini biar aku yang mengurusnya. Sebaiknya sekarang kau istirahat saja." Pinta Kevin lalu menutup telfonnya.
Satu PR bagi Kevin. Kevin mengurungkan niatnya untuk menyusul Viona. Pria itu memasuki sebuah ruangan yang terletak di balik rak buku di samping tempat tidurnya. Di sana dia akan membereskan orang yang sudah berani mencuri data-data penting perusahaannya. Dan Kevin akan menunjukkan padanya jika dia sudah mencari masalah dengan orang yang salah.
xxx
Bersambung
__ADS_1