
Brakkkk....!!!
Pintu itu didobrak dari luar. Mata hitamnya melihat semua orang yang berada di dalam ruangan itu, merek menundukkan kepalanya sambil berurai air mata. Sepasang mutiara hitamnya menatap tak percaya pada Luna yang terbaring.
Dokter masih berusaha untuk menyelamatkan nyawa Luna. Para suster berlarian menimbulkan kegaduhan di koridor yang sunyi. Semua orang menolak untuk keluar, mereka ingin tetap berada diruang itu hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.
"Siapkan alat kejut jantung," titah Dokter.
Suasana menjadi semakin menegang. Aiden semakin merasa ketakutan mendengar titah sang dokter. Ia sangat-sangat ketakutan jika gadis itu benar-benar akan pergi dari sisinya untuk selamanya.
"Hyung... Luna nunna akan baik-baik saja kan? Dia tidak akan...." Logan terus meracau tidak jelas.
Air mata membasahi wajahnya sejak tadi. Logan menangis dalam pelukan Kai, Kai menggeleng lemah. "Aku sendiri tidak tau," jawabnya.
Logan semakin tidak kuasa menahan air matanya melihat tubuh Luna yang terangkat saat alat kejut jantung bersentuhan dengan dadanya. Semua orang menjadi tidak fokus dan disibukkan dengan kekhawatiran serta ketakutan masing-masing.
Tidak hanya satu kali saja Dokter meletakkan alat kejut jantung di dada Luna, namun hasilnya nihil. Sedikitnya sudah tujuh kali dan Dokter menggeleng lemah.
"Tidak mungkin," desis Aiden sambil menggeleng tidak percaya. Aiden menghampiri Dokter lalu mencengkram kemeja yang tersembunyi dibalik jas rumah sakitnya "Kenapa berhenti, ayo lakukan lagi," teriak Aiden pada Dokter itu. Bahkan dia sampai menodongkan senjata ke kepala pria berkaca mata tersebut.
Alex dan Eric menghampiri Luhan kemudian menarik pemuda itu mundur.
"Aiden tenangkan dirimu," bentak Alex, tangan Alex disentak kasar oleh Aiden dan menatapnya tajam.
"Tenang kau bilang? BAGAIMANA AKU BISA TENANG, ALEX WILLIAMS,"
Dokter mengangkat tangan kirinya, matanya melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Menarik nafas panjang kemudian berkata "Pukul 19.26, Luna Williams, Meninggal dunia!" ucap Dokter itu lirih.
Seorang perawat mencatat pada sebuah buku yang sejak tadi berada di pelukannya dan perawat lain mulai melepaskan alat-alat yang menjadi penopang hidup gadis itu selama ini.
Aiden terbelalak tak percaya, rasanya seperti ada batu besar yang menghantam dadanya hingga ia merasa sesak sampai sulit untuk bernafas.
Tuan Williams menjatuhkan tubuhnya pada Sofa. Membuka kaca matanya untuk menyeka air matanya. Eric jatuh lemas dilantai, Logan jatuh pingsan. Kai dan Henry segera menahan tubuhnya. Max dan Tao menunduk sedih, sementara Alex mencoba untuk tegar untuk menguatkan Aiden.
__ADS_1
Alex tak berkedip melihat wajah pucat Aiden yang hanya menatap kosong pada Luna, bibirnya mengulum senyum setipis kertas.
Tubuhnya tidak bergerak satu inci pun, antara percaya tidak percaya jika gadis itu baru saja meninggalkan dirinya sebelum ia sempat membahagiakannya. Tatapan Aiden hampa dan dingin. Belum pernah dia melihat Aiden yang serapuh itu.
"Sekali lagi, hanya sekali lagi cobalah untuk membawanya kembali." ucap Aiden dingin sambil menatap Dokter didepannya hampa.
Dokter itu menggeleng. "Maaf Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkata lain," kata Dokter itu penuh penyesalan kemudian melenggang meninggalkan ruangan itu dengan langkah berat.
"Aku tidak percaya jika hari itu benar-benar akan tiba, kau akhirnya benar-benar meninggalkan kami semua dalam kepedihan." Alex menggenggam tangan Luna, air matanya tidak lagi bisa ia bendung.
Dia menangis, meratapi takdir Luna yang begitu kejam. Alex mengusap kepala Luna sambil mengullum senyum tipis, berharap jika itu hanya candaan Luna karena ingin mengerjai Aiden saja.
"Kenapa, sayang. Kenapa kau harus meninggalkanku secepat ini. Bukankah kau pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku? Lalu kenapa kau malah pergi meninggalkanku? Aku sudah menyiapkan segalanya. Kenapa Luna? Kenapa? Bangun sayang, katakan jika kau hanya bercanda." ujar Aiden perih, mata hitamnya menatap sakit tubuh Luna yang terkulai tanpa nyawa.
Setelah bertahan selama 1 tahun. Akhirnya Luna pergi meninggalkan semua orang yang menyayanginya, meninggalkan cintanya tanpa ada salam perpisahan, tanpa ada kecupan selamat tinggal, tanpa ada pelukan erat, dia pergi begitu saja tanpa bisa diraih.
Pergi dengan meninggalkan rasa sakit. Meninggalkan luka yang sangat mendalam, didalam hati setiap orang yang ditinggalkan.
.
.
Pintu itu kembali didobrak dari luar, sosok lelaki tampan masuk dengan langkah tertatih menghampiri Luna yang sedang terbaring. Tidak ada yang mengenalnya bahkan kakak-kakak Luna, Aiden pernah melihatnya sekali, dia berbincang dengan Luna.
Meskipun begitu, namun tidak ada yang menghentikannya termasuk Aiden. Dia hanya diam memandang laki-laki itu memegang wajah Luna dan mengguncang tubuhnya. Dia jatuh terduduk disamping gadis itu, air matanya tidak dapat terbendung lagi.
Gadis yang dicintainya secara diam-diam tanpa ada pengakuan telah pergi, pergi dari dunia ini untuk selamanya. Hati terdalamnya terasa perih saat menyadari jika gadis yang sangat ia cintai telah berada di surga berada di singgasananya untuk memulai reinkarnasi menuju kehidupan selanjutnya.
"Dia sudah pergi , akhirnya gadis bodoh ini benar-benar pergi." Suara dingin terlewat datar itu mengalihkan perhatian orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jonas, senior Luna.
Jonas mengangkat wajahnya menatap Aiden yang hanya menatap datar dan dingin matanya. Jonas memang tidak mengenalnya , tapi dia tahu siapa pria itu. Karena Luna sering sekali membicarakannya dulu. Jonas pernah berpikir jika Luna telah jatuh cinta pada kakaknya sendir.
Namun hal itu sudah tidak penting lagi untuk dibahas apalagi dipermasalahkan.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, gadis cengeng? Permainan apa yang kini tengah kau mainkan. Bukan akhir seperti ini yang aku inginkan, sungguh. Aku selama ini memang sudah sangat jahat, karena berani mencintaimu secara diam-diam. Tapi dengan tulus aku meminta padamu, kembalilah setidaknya untuk orang lain."
"Aku ingat betul kau pernah mengatakan padaku ingin hidup bersama dengan kakak ketiga mu. Kau sangat menyayanginya dan dia menyayangimu. Setidaknya bangun untuknya Luna," mohon Jonas dengan rasa perih yang menggerogoti hatinya.
Pria itu menangis dalam kepedihan, sama halnya dengan Aiden. Hatinya pun hancur berkeping-keping menyaksikan kepergian Luna yang begitu cepat.
"Kau sungguh kejam, Luna. Bagaimana kau bisa melakukan hal sekejam ini padaku? Apa kau merasa puas sekarang? Apa kau puas setelah melihatku hancur, kau adalah orang pertama yang mengajariku tentang cinta. Disaat cinta di hatiku sedang mekar-mekarnya, kau malah meninggalkanku seperti ini, ini sungguh-sungguh tidak adil." tutur Aiden dengan berderai air mata.
Eric meringkuk sambil memeluk lututnya. Dia menggigit jarinya untuk meredam isak nya. Semua orang menangis, menghantarkan kepergian gadis itu. Dan untuk pertama kalinya, Henry melihat Aiden menangis dengan isakan yang menyayat hati. Dia tidak bisa membayangkan jika saat ini ialah yang berada diposisi Aiden.
Luna berhasil membuat semua orang menangis termasuk dua pria yang selama ini menyayanginya. Dua pria yang sama-sama mencintai Luna, meskipun tidak keduanya beruntung mendapatkan cinta gadis itu. Meskipun hanya sesaat, namun Aiden merasakan kemenangan dengan memenangkan hati dan cinta Luna.
Namun kemenangannya berakhir hari ini. Karena ia dan Jonas harus sama-sama merelakan gadis itu pergi, tidak ada pemenang karena mereka sama-sama kehilangan.
"Aiden cukup, hentikan nak. Kau harus bisa merelakannya pergi. Papa, tau ini sangat berat, tapi inilah yang terbaik untuknya." ujar Tuan Williams sambil mengusap punggung Aiden dan mencoba memberi kekuatan pada putranya itu.
"Untuk itu hentikan aku. Aku mohon Pa, hentikan aku." rancau Aiden dan menjatuhkan tubuhnya disamping tubuh Luna.
Aiden memeluk tubuh tanpa nyawa itu dengan erat dan menangis sejadi-jadinya, meraung menumpahkan semua rasa sesak yang menghimpit hatinya. Meskipun sangat berat, pada akhirnya Aiden harus merelakan kepergiannya.
.
.
Inilah akhirnya, semua berakhir sampai disini, perjalanannya dan perjuangannya.
Berakhir dengan akhir yang tidak pernah ku harapkan.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menangisi kepergiannya, dia yang sangat aku cintai.
Aku berharap ini hanyalah mimpi buruk saja, mimpi buruk ketika aku berdiri melepaskannya.
Melepaskan Mu, Luna.
__ADS_1
xxx
Bersambung