
Kata-kata kakak, ayah dan ibunya masih terus terngiang-ngiang di telinga Aiden. Pembahasan mereka mengenai Luna sulit sekali dia enyahkan dari kepalanya.
Memang tidak ada yang salah dengan pembahasan mereka, tapi Aiden tak habis pikir saja bagaimana bisa mereka memberikan saran yang menurutnya tidak masuk akal.
Dan karena kepikiran kata-kata mereka bertiga, sampai-sampai Aiden sulit untuk tidur. Dan saat itulah Aiden melihat Luna yang sedang duduk sendirian di bangku taman, dan hal itu menimbulkan tanda tanda di benak Aiden perihal apa yang dia lakukan di sana.
Aiden beranjak dari kamarnya dan menghampiri Luna di taman. Karena terlalu larut dalam pikirannya sendiri, sampai-sampai lunak tidak menyadari kedatangan Aidan, sampai sebuah suara yang begitu familiar berkaur di telinganya.
"Sedang apa kau di sini malam-malam begini?" sontak Luna menoleh dan dia sedikit terkejut melihat keberadaan Aiden.
"Ge, sedang apa kau disini?" bukannya menjawab, Luna malah balik bertanya, dia mengulangi pertanyaan Aiden tadi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa malah balik bertanya?" akhirnya mereka malah saling melemparkan pertanyaan tanpa ada yang menjawab pertanyaan masing-masing.
Luna menghela napas. "Aku disini karena tidak bisa tidur. Aku benar-benar galau, Ge. Teman-teman kuliah ku mengadakan reuni dan mereka mengundangku untuk datang."
"Lalu apa masalahnya? Bukankah kau hanya tinggal datang saja, beres kan?"
Luna mendengus. "Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, mereka mengharuskan kita membawa pasangan masing-masing. Dan Masalahnya aku tidak memiliki pasangan. Tidak mungkin aku membawa Alex Gege atau Eric Gege, karena mereka sudah tahu jika mereka berdua adalah kakak-kakakku." Ujar Luna. Dia benar-benar galau setengah mati.
"Jadi itu masalahnya?" Luna mengangguk. "Kalau begitu aku akan pergi denganmu. Bukankah mereka belum pernah bertemu denganku sebelumnya, kau bisa memperkenalkanku pada mereka sebagai kekasihmu, gampang kan,"
Luna tersenyum lebar mendengar saran yang diberikan oleh Aiden. Gadis itu mengangguk setuju. "Ide yang bagus, Ge. Tapi apa tidak masalah kau pergi dengan keadaan seperti ini. Acaranya akhir pekan ini dan kau masih belum membaik." Luna menatap Aiden dengan cemas.
Aiden menggeleng. "Sama sekali tidak. Lagipula lukanya juga sudah mulai membaik, dan kemungkinan bengkak Dimata kananku juga sudah hilang. Jadi aku rasa tidak ada masalah." Tukas Aiden menuturkan.
Luna tersenyum semakin lebar. Sekarang dia tidak perlu merasa Gegana lagi, karena ada Aiden yang membantunya. Untung saja Luna belum pernah memperkenalkan Aiden pada teman-temannya. Jadi aman dan terkendali. Dan untungnya teman SMA Luna dulu tidak ada yang satu angkatan dengannya.
"Sebaiknya sekarang kau masuk ke dalam. Disini sangat dingin, kau bisa sakit." Pinta Aiden namun dibalas gelengan oleh Luna.
__ADS_1
"Tidak mau, aku masih ingin disini. Sebaiknya kau saja yang masuk duluan, kau kan masih sakit jadi harus banyak-banyak istirahat." Ujar Luna.
"Kalau begitu aku temani kau di sini saja. Kebetulan aku masih belum mengantuk." Aiden menolak untuk masuk ke dalam dan memilih menemani Luna melihat bintang.
Untuk sesaat keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada obrolan antara Luna dan Aiden. Keduanya sama-sama diam menikmati langit malam bertabur bintang.
Jutaan bintang-bintang di langit berkerlap-kerlip dengan indah nan jelas dipandang mata. Jutaan, bahkan lebih, bintang bertebaran menghiasi langit malam yang luas kini tampak lebih mempesona dengan hiasan berupa manik-manik alam tersebut.
Aiden menoleh ketika merasakan bahu kanannya memberat. Luna menyandarkan kepalanya pada bahu itu. Ketika gadis itu mengangkat wajahnya, mata berbeda warna milik mereka berdua saling bertemu dan bersirobok, saling menatap dalam diam selama beberapa detik.
Dan kontak mata itu Luna sendiri yang mengakhirinya ketika dia merasakan getaran aneh ketika menatap mata itu. Pandangan Luna bergulir pada jari-jari Aiden yang ada diatas pangkuan pria itu, kemudian Luna mengangkat tangan kanannya dan menautkan pada jari-jari pria itu.
"Kenapa tanganmu terasa dingin sekali?" Aiden berucap pelan saat merasakan jari-jari Luna terasa dingin.
"Mungkin karena udara malam ini yang agak sedikit dingin." Jawab Luna.
"Itulah kenapa aku memintamu untuk masuk ke dalam. Jangan membantah lagi, dan kali ini aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Masuk sekarang juga atau~"
Aiden mendengus dan menatap Luna dengan geli. Rasanya dia ingin sekali menjitak kepalanya. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk masuk lagi. Memangnya apa yang menarik dengan bintang?" tanya Aiden. Dia menatap Luna penasaran.
Gadis itu mengangkat bahunya. "Entah. Aku hanya suka saja. Dan diantara semua bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Hanya ada lima bintang yang menarik perhatianku." ujar Luna.
"Bintang apa saja?" tanya Aiden penasaran.
"Vega, Betelguese, Capella, Bellatrix, dan Sirius," ujarnya sambil tersenyum, bukti bahwa ia benar-benar tertarik dengan benda langit yang ia sebutkan tadi.
Aiden pun terdiam sesaat, kemudian bertanya pada gadis di sampingnya. "Apa yang membuatmu tertarik pada kelima bintang itu?" dan menatapnya penasaran.
"Aku suka Vega karena dia bintang paling terang di rasi Lyra. Kalau Betelguese lebih besar dari matahari, itu yang menarik perhatianku. Capella, bintang paling terang di rasi Auriga," jelas Luna. Sebenarnya Bellatrix tidak terlalu terang, tapi aku suka arti namanya, pejuang wanita. Dan yang terakhir adalah Sirius, bintang terterang di langit malam. Sirius terletak di rasi Cains Major, sayangnya Sirius memiliki arti yang kurang menyenangkan. Yakni 'anjing besar'." Terang Luna panjang lebar.
__ADS_1
"Sepertinya kau tahu banyak tentang bintang?"
Luna menggeleng. "Tidak juga," jawab gadis itu singkat. "Lalu bagaimana denganmu, Ge? Apa ada bintang yang kau suka?" tanya Luna penasaran.
Sesaat ia membisu, tapi kemudian Aiden tersenyum lebar, ada sesuatu yang dipikirkannya, dan ia merasa sesuatu itu harus dikatakan sekarang juga.
"Aku tidak banyak tahu tentang bintang atau benda langit lainnya. Tapi, ada satu bintang yang paling aku suka, dan hanya aku seorang yang tahu tentang bintang itu. Memang dia tidak sebesar Betelguese atau apalah itu, tapi dia adalah bintang yang paling terang dibandingkan dengan Sirius," ujarnya panjang lebar dengan senyum yang tak kalah lebarnya ia bersemangat!
"Benarkah? Bintang apa itu?" tanya Luna penasaran.
"Bintang itu adalah..."
"...Ge, ada bintang jatuh!!" seru Luna menyela ucapan Aiden.
Tiba-tiba sebuah bintang meluncur entah kemana, membuat perhatian Aiden seketika teralihkan. Dia menoleh pada Luna yang sedang menutup matanya sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada.
Dengan tenang ia mengucapkan kalimat permohonan dalam hati, sehingga takkan ada seorang pun yang akan tahu apa yang ia harapkan saat itu termasuk Aiden. Selesai berdoa, ia kembali memandang langit malam menikmati kerlipan bintang-bintang dan senyuman sang bulan.
Pemandangan malam itu seakan-akan menjadi sebuah pentas di depan mata, yang membawa Luna terbang berkelana ke alam pikirannya. Apalagi ditambah suara-suara binatang kecil dan gemerisik dedaunan. Ia terbuai.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Semua orang telah berkelana dalam alam tidurnya masing-masing. Mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang lelah dari kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan hari itu sepanjang hari. Mereka tidur lelap agar esok harinya kembali bersemangat tetap menyertai mereka dalam melakukan aktifitas masing-masing.
Mereka mengatakan bahwa malam hari lebih nyaman dihabiskan dengan tidur hingga hari esok menjelang agar bisa dikatakan tidak ada kegiatan lain selain itu. Ya, memang benar kalau malam hari adalah waktunya untuk beristirahat. Namun, ada satu yang berpendapat lain. Yakni Luna, di saat orang-orang sudah terlelap, dia malah masih terjaga.
"Sudah larut malam. Sebaiknya kita masuk sekarang," ajak Aiden dan di balas anggukan oleh Luna.
Kali ini tidak ada penolakan lagi. Luna lelah dan ingin segara beristirahat. Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan taman dan kembali ke kamar masing-masing.
xxx
__ADS_1
Bersambung