Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Melidnungimu


__ADS_3

Kevin dan Frans terkejut melihat banyak mayat bergelimpangan di tanah dalam keadaan bertambah darah. Dan ketika mereka hendak masuk ke dalam tiba-tiba Viona keluar dari pintu utama sambil menggenggam pistol di tangan kanannya.


Tanpa menghiraukan Frans, Kevin berlari menghampiri Viona. Dan kedatangan Kevin membuat Viona terkejut bukan main. "Paman, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Viona kebingungan.


"Bukan kau, seharusnya aku yang bertanya padamu. Kegilaan apa yang kau lakukan dan kenapa kau pergi ke sini sendirian?" tanya Kevin meminta penjelasan. Kemarahan terlihat dari mata kanannya yang tajam.


Melihat sorot mata kanan Kevin yang tajam membuat Viona merinding sendiri. "Aku tidak akan gila jika mereka tidak memulainya duluan. Dan bagaimana mungkin aku bisa diam saja setelah apa yang terjadi hari ini. Jika akarnya tidak disingkirkan maka hal yang sama pasti terulang kembali, dan aku datang untuk membereskan akarnya." Ujar Viona.


"Apa kau yang menghabisi mereka semua?" kevin memicingkan matanya dan menatap Viona penuh tanya.


Viona menggeleng. "Bukan, karena aku tidak sendirian. Mereka bertiga yang membantuku," jawab Viona sambil menunjuk tiga wanita yang berjalan menghampirinya.


"Huwaaaa..." Mata Frans seketika berbinar-binar melihat tiga wanita cantik itu.


Baru juga dia terpesona pada Isabelle, dan sekarang dia dibuat terpesona lagi oleh tiga teman Viona yang tidak kalah cantik dari Isabelle. Bisa dikatakan jika mereka lebih cantik dari Isabelle.


"Nunna, kenapa punya teman cantik tidak bilang-bilang padaku." Ucap Frans sambil menggoyangkan lengan Viona. "Mereka sangat cantik."


"Dasar mata keranjang, seperti tidak pernah melihat wanita cantik saja." Cibir Viona sambil menyentak tangan Frans dari lengannya. Lalu pandangan Viona bergulir pada Kevin. "Paman, kau marah padaku?"

__ADS_1


"Kita bicarakan ini nanti. Ayo pulang," Kevin meraih tangan Viona dan menariknya pergi.


Viona tidak memberikan perlawanan apalagi melayangkan protesnya pada Kevin, dia pasrah saja karena tidak ingin membuat Kevin semakin marah. Bahkan Kevin tidak menghiraukan Frans yang sedang sibuk menggoda teman-teman Viona, dia tidak sadar jika sudah ditinggalkan.


"Nona, boleh pinta nomor ponsel kalian? Siapa tahu kita bisa menjadi teman dekat," ucap Frans sambil menatap mereka bertiga bergantian.


"Tidak punya!!" mereka bertiga menjawab dengan kompak, Sania cs menolak memberikan nomor ponselnya pada Frans. Dari tampangnya saja mereka sudah tahu jika Frans adalah seorang playboy


Frans menatap mereka dengan bingung. "Kenapa? Apa kalian tidak ingin berteman denganku? Kalian pasti akan sangat beruntung memiliki teman sepertiku yang tampan, baik hati dan suka menabung ini." Ucap Frans memuji dirinya sendiri.


"Daripada kau terus mengoceh tidak jelas, sebaiknya perhatikan saja nasibmu sendiri. Apa kau tidak sadar jika sudah ditinggalkan?" ucap Sania dan membuat Frans tersadar. Dia menoleh dan terkejut melihat Kevin dan Viona sudah tidak ada.


"Nona-Nona Cantik, maaf kita harus berpisah sekarang. Tapi aku berjanji pasti akan bertemu kembali, sampai jumpa." seru Frans sambil melambaikan tangannya pada Sania, Vania dan Sunny.


xxx


Melihat sorot mata tajam Kevin membuat Viona tidak berani menatapnya. Meskipun hanya melalui mata kamu, namun hal itu lebih dari cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Viona merasa seperti sedang uji nyali.


"Paman, jangan menatapku seperti itu, kau membuat bulu kudukku berdiri." Ucap Viona setengah menggerutu.

__ADS_1


"Jelaskan padaku, apa maksudmu datang ke sana?" tanya Kevin meminta penjelasan. "Apa kau tidak sadar jika yang dirimu lakukan itu sangatlah berbahaya!!" lanjut Kevin menambahkan.


Viona menundukkan kepala. "Jangan memarahiku. Aku melakukannya juga bukan tanpa alasan. Memangnya istri mana yang akan diam saja saat tahu suaminya berada dalam bahaya. Selama ini kau yang selalu melindungi ku, dan sekarang giliran ku yang melindungi mu. Jika kau saja boleh melindungiku, terus kenapa aku tidak boleh melindungi Paman?" ujar Viona dengan mata berkaca-kaca.


Akhirnya Viona mengatakan alasan kenekatannya pada Kevin. Dan pengakuan Viona membuat sorot mata tajam Kevin melunak, begitupun dengan sikap dinginnya. Kevin menghela napas. Dia mendekati Viona lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan Paman , Sayang. Paman, tidak bermaksud untuk bersikap kasar padamu. Paman,hanya takut sesuatu yang buruk terjadi padamu." Ucap Kevin penuh sesal.


Viona menggeleng. "Paman, tidak salah. Jadi tidak perlu meminta maaf," ucap Viona berbisik.


Kevin mencium kepala Viona berkali-kali. Dia hanya takut sesuatu yang buruk menimpa wanita itu, dan Kevin tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika ada apa-apa dengannya. Karena bagi Kevin keselamatan Viona adalah yang paling utama.


Kevin melepaskan pelukannya. Jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipi Viona dengan lembut. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. "Jangan menangis lagi, kau terlihat jelek jika menangis." Ucap Kevin sedikit bercanda.


Viona mempoutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan!! Kenapa sekarang malah meledekku." Ucapnya sambil mempoutkan bibirnya.


Lagi-lagi Kevin tertawa. "Baiklah kau cantik, ayo pulang." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Mereka melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2