Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Bukan Wanita Lemah


__ADS_3

Luna menatap sinis seorang pria yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mengenal siapa pria itu, apalagi merasa pernah memiliki masalah dengannya. Tapi kenapa dia menculiknya dan menahannya di tempat asing seperti ini.


"Sebenarnya kau ini siapa, dan kenapa kau menculik ku?" tanya Luna tanpa basa-basi.


"Tidak penting kau tahu siapa aku. Yang jelas kau adalah senjata paling ampuh untuk memancingnya datang kemari."


Alis Luna saling bertautan. "Siapa?" tanyanya menyelidik.


"Kakakmu. Aku yakin dia tidak akan tinggal diam saat mengetahui adik tercintanya berada dalam bahaya. Cepat atau lambat pasti dia akan tiba disini untuk menyelamatkanmu, jadi tunggu saja kedatangan kakak tercintamu itu." Pinta pria tersebut.


"Jika kau memang bukan pengecut. Sebaiknya lepaskan aku dan hadapi aku secara terbuka, karena yang kau lakukan ini hanyalah permainan seorang pengecut!!" ujar Luna.


Jelas sekali dia takut untuk menghadapi Aidan secara langsung. Itulah kenapa pria itu memilih menggunakan cara licik seperti ini untuk bisa mengalahkan Aiden, tapi sayangnya Luna tidak akan membiarkan rencana bajingan itu berhasil, dia akan melakukan segala cara untuk bisa mengalahkannya.


"Sayangnya aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu. Lagipula aku tidak biasa menghadapi wanita, jadi kita tunggu saja sampai dia datang kemari." Ucap pria itu. Dia segara memberi kode pada anak buahnya untuk keluar dari ruangan.


Selepas kepergian orang-orang itu menyisakan Luna sendirian di ruangan tersebut. Gadis itu menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, dia mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya. Luna melihat benda berkilauan di lantai, gadis itu menyeringai.


Setelah berusaha dengan susah payah. Luna bisa melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya. Dia harus bisa pergi sebelum Aiden datang supaya tidak terjadi pertumpahan darah yang bisa membahayakannya. Luna benar-benar tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Aiden, apalagi itu karena dirinya.


xxx


Aiden mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan penuh. Mobil itu melesat bagaikan angin membuat tiga orang yang ikut dalam mobilnya menegang seketika.


Sesaat, mereka bertiga menahan nafasnya dan berbagai sumpah serapah keluar dari bibir mereka akibat cara mengemudi Aiden yang Ugal-ugalan. Bahkan Henry sampai mengeluarkan berbagai sumpah serapah dari bibirnya, dan itu ditujukan pada Aiden.


"Kkkyyyyaaaaaa!!! DASAR AIDEN GILA, HILANG AKAL, TIDAK WARAS. CEPAT HENTIKAN MOBILNYA." teriak Henry dengan hebohnya


Aiden melirik Henry yang duduk disamping kanannya. Pria dingin itu mendecih melihat tingkah pria itu."Diamlah!! karena aku tidak mungkin membiarkan kita semua pergi ke neraka dengan sangat mudah. Lagi pula banyak hal yang masih ingin kulakukan di dunia ini." Ujar Aiden yang tampak kesal akibat kelakuan Henry.


"Hyung, perutku mual. Aku tidak kuat lagi." Jerit Kai histeris.


"Disamping kananmu ada kantong. Jadi muntah disitu saja, kita tidak memiliki banyak waktu." Sahut Aiden menimpali.


"Memangnya kita mau pergi kemana, Ai?" tanya Max yang berusaha untuk tetap baik-baik saja meskipun pada kenyataannya ia merasakan mual yang luar biasa pada perutnya.


"Luna diculik dan mereka menjadikannya sebagai Sandera, dia memintaku untuk datang sendirian saja. Aku ingin kalian mengawasi ku dari luar. Aku akan mengirimkan informasi melalui alat penyadap yang ku pasang di telingaku, dan setelah aku memberi sinyal segera masuk ke dalam." Terang Aiden panjang lebar, tangan kanannya memutar setir sementara pandangannya fokus ke depan.

__ADS_1


"Baik kami mengerti, dan bisakah kita menepi sebentar?" Mohon Henry yang mulai memucat.


Aiden menatap pria itu dengan sebal. "Ck, membuang waktu saja." Aiden mengumpat dan segera menepi, kemudian mematikan mesin mobilnya.


Max, Kai dan Henry berhamburan keluar untuk memuntahkan semua isi dalam perutnya. Di dalam mobil , Aiden sibuk dengan sebuah laptop yang ada di atas pangkuannya dan meletakkannya setelah ketiga temannya kembali ketempat masing-masing.


Aiden menyalahkan kembali mesin mobilnya, dan kali ini mobil sport hitam itu melaju dengan kecepatan normal. Ia tidak ingin membuat ketiga temannya pergi ke neraka sebelum waktunya tiba.


xxx


BRAKKK...


Dobrakan keras pada pintu mengejutkan beberapa pria yang sedang bermain kartu di depan ruangan tempat Luna disekap. Sontak mereka menolah dan terkejut melihat gadis itu berhasil melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.


"Sial!! Bagaimana dia bisa meloloskan diri. Jangan diam saja, cepat tangkap kembali gadis itu!!" perintah pria berjas hitam pada anak buahnya.


Luna Manahan serangan yang mengarah padanya. Dengan cepat dia merebut pistol yang terselip dipanggang pria itu lalu menendangnya hingga dia tersungkur ke lantai.


Dorrr...


Melepaskan satu tembakan pada pria itu. Namun tembakannya meleset karena orang itu berhasil menghindari tembakannya dengan cepat. Hingga perkelahian antara Luna dan beberapa pria itu pun tidak dapat terhindarkan lagi.


Sungguh wanita yang tidak bisa diremehkan.


"Jangan kalah dengan wanita. Kau, sebaiknya beritahu Bos dan laporkan padanya jika dia berusaha untuk melarikan diri."


"Baik Bos."


"Jangan kau pikir bisa kabur begitu saja, Nona. Kau berada di kandang serigala lapar yang siapa untuk menerkam mu kapan saja jika kau berani berulah." Ujar pria itu.


"Benarkah?" tanya Luna meremehkan.


Luna ingin memberitahu mereka jika mereka telah mencari masalah dengan orang yang salah. Lagipula dirinya bukanlah wanita lemah yang bisa ditindas dan di remehkan begitu saja. Dan Luna ingin memberitahu mereka, jika tidak semua wanita itu lemah.


"Dasar gadis merepotkan. Kau benar-benar sudah bosan hidup ya!!" teriak seorang pria dari arah belakang.


Dia langsung melayangkan serangannya pada Luna dan menyerangnya dengan membabi buta. Tapi sayangnya Luna bukanlah lawan yang mudah untuk dihadapi, dia benar-benar wanita yang berbahaya.

__ADS_1


"Sial!!" umpat pria itu sambil memegangi dadanya yang baru saja di tendang oleh Luna.


Tak cukup sekali saja. Luna juga memberikan tendangan telak yang ia daratkan pada tulang rusuk pria yang menjadi lawannya hingga orang itu terhuyung kebelakang. Dan keadaan itu tak lantas Luna sia-siakan begitu saja, dia mengunci tubuh pria itu dilantai dengan menggunakan lengannya.


"Katakan, apa yang kalian inginkan dari kakakku? Jangan kau pikir aku akan membiarkan rencanamu berhasil, karena aku tidak akan membiarkannya!!" cercah Luna dengan tatapan tak bersahabat.


Laki-laki itu menyeringai dibalik masker yang menutupi sebagian wajahnya "Kau pikir aku akan membuka mulut dan memberitahumu? Jangan bermimpi, Nona! Lagipula apa yang bisa kau lakukan, hah? Kau hanya sendirian dan kami berkelompok. Kau tetap tidak akan menang melawan kami." ujar pria itu dengan seringai yang sama.


"Jangan pernah meremehkan wanita!! Kau menolak memberitahuku, Itu artinya kau memilih mati!" ujung pistoll milik Luna menempel di kening pria itu, hanya satu tarikan saja, satu buah peluru perak bisa saja menembus kepala laki-laki itu.


"Tidak akan semudah itu , Nona!"


Brugggg!!!


"Aaahhhh," keadaan kini berbalik.


Laki-laki itu berhasil menjatuhkan tubuh Luna hingga punggungnya berbenturan dengan lantai. Tubuh pria itu berada diatas tubuh Luna. Satu tangannya mencekikk leher Luna sedangkan satu tangan lain memegang revolver yang ujungnya dia arahkan pada kening gadis tersebut.


"Katakan permintaan terakhirmu!" pinta laki-laki itu menyeringai.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Luna terbatuk-batuk karena tidak bisa bernafas, Ia berusaha melepaskan cekikan orang itu dari lehernya namun tenaga pria tersebut terlalu kuat. Memang tidak sebanding dengan dirinya, sehebat dan sekuat apa pun Luna. Tapi tetap saja dia seorang wanita.


Dorrr!!!!


Luna menutup matanya saat merasakan sesuatu yang basah mengenai wajahnya, setelah satu timah panas menembus lengan kiri orang itu dan situasi tersebut Luna manfaatkan untuk melepaskan diri darinya. Ditendangnya punggung laki-laki itu dan segera Ia berhambur ke dalam pelukan orang yang melepaskan tembakan itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya orang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Aiden.


Luna menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Hanya saja punggungku sedikit sakit!" ujarnya memaparkan.


Aiden menoleh dan menatap pria itu dengan tajam. "Ramon, kau tidak perlu bersembunyi karena aku tahu itu dirimu!! Berani sekali kau melibatkan adikku dalam masalahmu, kau harus mati ditangan ku!!"


xxx


Spoiler bab selanjutnya.


"Luna, aku mohon bertahanlah."

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2