
"Omo??"
Nyaris saja Viona terkena serangan jantung dadakan sekembalinya mereka dari restoran dan mendapati Frans dan Jackie begitu cantik dalam balutan gaun yang melekat di tubuhnya, dengan wig, heels, polesan make tipis dan aksesoris sebagai pelengkap penampilan mereka.
Kedua pria mapan itu harus rela menerima hukuman setelah kalah bermain kartu dari kakek David, bukan hanya mereka berdua saja saja, namun Hwan juga. Mereka bertiga harus melakukan Fashion Show di depan semua orang, dan Viona tidak tahu sejak kapan mereka menjadi seaneh itu.
"Astaga... Paman, Frans, kalian cantik sekali. Sungguh, aku nyaris saja tidak mengenali kalian." kata Viona sambil memperhatikan penampilan Frans dan Jackie secara keseluruhan.
"Wow, Frans ini adalah moment yang sangat langkah. Kemari Lah, kita foto dulu," Kevin menarik Frans dan Jackie mendekat dan mengajak mereka berfoto bersama.
"Aisshhh... berhenti memanggilku Frans, Ge. Panggil aku Felicia Nunna, dan untuk Paman Jackie, panggil dia dengan panggilan, Jennie Nunna."
"Yakkk...Bocah kematian, jangan asal mengganti namaku." amuk Jackie yang merasa tidak suka namanya di ganti dengan seenaknya oleh Frans.
Berbeda dengan Frans yang begitu menikmati perannya. Jackie justru tampak menekuk wajahnya, ia menyesal mengikuti taruhan konyol itu bersama Frans dan Ayahnya. Seharusnya ia sadar bila mereka berdua telah bekerja sama untuk merencanakan ini semua.
Mengabaikan semua orang, Jackie melenggang pergi menghampiri Hwan yang juga bernasib sama dengannya. Sedangkan Nenek Barbara hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala.
Dan selepas kepergian Jackie. Di ruangan itu hanya menyisakan Kevin, Viona, Frans dan Kakek David. Kevin memicingkan matanya melihat keberadaan Frans, karna seingat Kevin dia tadi pergi untuk jalan-jalan. "Bukankah kau tadi pergi, kenapa sudah di rumah saja?" tanya Kevin seperti biasa, datar.
Frans mendengus panjang. Pria itu menekuk mukanya dan menatap Kevin dengan sebal. Dia selalu saja bersikap dingin padanya, sikapnya benar tidak pernah berubah. Frans sangat berharap sang kakak akan bersikap hangat seperti Hwan, namun sepertinya hal itu hanya ada dalam angan-angan nya saja, mengingat jika sang Kakak adalah pria terdingin di dunia.
"Aku buru-buru kembali saat Kakek menghubungi ku, mengatakan ada yang penting makanya aku langsung pulang.Eh, akibat di rumah ternyata dia malah mengajakku bermain kartu. Bukankah itu sangat menyebalkan." Ujar Frans.
"Jangan sepenuhnya menyalakan Kakek, tapi salah kan juga dirimu. Siapa suruh kau begitu bodoh dan mudah terpercaya dengan ucapan orang lain, jadinya malah terkena jebakan Batman kan." Ujar Kakek David tak mau kalah.
"Kenapa Kakak malah menyalahkan ku? Jelas-jelas kakek yang salah, karena sudah menjebak ku dengan jebakan Batman mu."
Viona yang baru saja kembali dari dapur hanya mendengus melihat perdebatan sengit itu. Wanita itu kemudian duduk di samping suaminya. Tak lama setelahnya, Neo muncul sebagai MC dalam acara Fashion Show yang sebentar lagi akan di mulai. Satu persatu model keluar dan berjajar di belakang kedua MC tampan itu "Pfffttt," Viona segera membekap mulutnya melihat bagaimana cantik dan menggemaskannya mereka bertiga. Wanita itu berusaha untuk tidak tertawa keras.
"Baiklah , acara yang kita tunggu-tunggu siap di mulai. Inilah ke 3 model kita....!" suara Neo terdengar begitu kencang menggema di ruangan utama keluarga Lu.
Satu persatu melangkahkan kakinya berlenggak-lenggok, urutan pertama terlihat Frans yang berjalan sambil melambaikan tangannya pada beberapa orang yang duduk di sofa dan memberikan kiss bye-nye. Di susul dengan Hwan yang tampil begitu anggun, namun tampak malu-malu. Urutan ketiga ada Jackie yang berjalan kaku sambil menunduk malu.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak menyaksikan pertunjukkan menggelikan tersebut. Bahkan Viona sampai memegangi perutnya yang terasa kram karena terlalu bersemangat tertawa, Kevin yang biasanya bersikap acuh pun tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa, sementara kakek David dan Nenek Barbara duduk di bawah sambil meneteskan air matanya. Mereka bertiga benar-benar terlihat konyol dan menggelikan.
Di antara semua model yang tampil , hanya Frans yang tampak begitu menikmati perannya. Sementara Hwan dan Jackie yang sejak acara belum di mulai mereka paling terlihat kurang nyaman. Jackie terutama, rasanya dia ingin sekali ia menggantung Frans dan Ayahnya hidup-hidup. Karena dialah dalang utama di balik peristiwa mengerikan yang menimpa dirinya. Apalagi saat melihat Ayahnya tertawa lebar, saat itu juga Jackie ingin menggunduli mereka berdua.
Setelah hampir 2 jam , akhirnya acara konyol itu pun berakhir. Tapi mereka masih belum di ijinkan untuk menghapus make up-nya dan mengganti pakaiannya. Semua orang sibuk berfoto dengan gadis-gadis cantik itu untuk mengabadikan moment langkah tersebut.
Viona menarik Jackie agar mendekat padanya sambil mengangkat tinggi-tinggi ponselnya "Paman, jangan memasang wajah menyebalkan mu itu. Ayolah tersenyum, lihat kemari." Viona menuntun wajah Jackie agar melihat ke lensa camera. Setelah di rasa pas, dia segera mengabadikannya "Huaaa... hasilnya sangat amazing , kau sungguh-sungguh luar biasa ."
"Nunna, kemari lah kita foto bersama." seru Frans sambil memeluk bahu Viona. Keduanya tersenyum lebar.
"Yakkk.... bocah setan, berhenti menggambil gambar."
Suara tinggi Jackie yang sedang marah, mengalihkan perhatian semua orang di ruangan itu. Tampak Jackie yang merasa kurang nyaman karna Frans mengajaknya foto berulang-ulang "Aishhh... diamlah nunna-ya dan jadilah gadis yang baik." kata Frans tak mau kalah.
"Nunna, jangan memasang wajah seperti itu. Ayo-lah tersenyum." Frans merangkul bahu Jackie, salah satu tangannya menarik sudut bibir pria itu agar tersenyum.
Jackie benar-benar ingin menggantung hidup-hidup pemuda ini.
"Kalian tidak boleh melupakan Kakek, lihatlah Kakek sudah keren . Kemari-kemari kita foto bersama."
Gubrakkk...!!
Jackie terjengkang melihat bagaimana penampilan kakek Ayahnya yang begitu menggelikan. Dia tadi pergi dan memisahkan diri lalu kembali dengan penampilan yang sangat-sangat mengerikan. Viona meringis melihat bagaimana mengerikannya penampilan kakek tercintanya itu, sementara Jackie hanya mendengus geli.
Kakek David berpose bersama Frans, Viona dan Hwan. Jackie memilih menjauh sementara Kevin hanya menjadi penonton saja. Nenek Barbara ikut bergabung bersama suaminya. Dan kebersamaan mereka di warnai dengan gelak tawa. Sampai akhirnya Kevin dan Viona memutuskan untuk memisahkan diri.
"Ge, kita ke kamar saja. Terlalu lama di sini bisa-bisa aku mati lebih cepat karena terlalu banyak tertawa." kata Viona yang segera di balas anggukan oleh Kevin.
.
.
Di sini mereka sekarang. Kevin dan Viona duduk bersebelahan di tempat tidur king size milik mereka. Kevin menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur, sementara Viona menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Sesekali Viona menggerakkan kepalanya mencoba mencari posisi yang nyaman, tangan Viona terus membelai rambut panjang sang dara yang sehalus dan selembut sutra.
"Ge...?" Viona mengangkat wajahnya menatap wajah Kevin yang juga menatap padanya.
"Ada apa, sayang?"
Viona menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya ingin memanggilmu saja." dustanya sembari mengulum senyum tipis. Sebenarnya Viona ingin memberitahu Kevin jika dia ingin membeli sesuatu, tapi sayangnya dia tidak berani mengatakannya karena takut Kevin akan mengeluh dan mengomelinya.
"Hm, aku tau kau ingin mengatakan sesuatu. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Kevin sambil melonggarkan dekapannya.
Kevin adalah orang yang peka dan tidak mudah untuk membohonginya. Lagi-lagi Kevin hanya menggeleng dan tersenyum meyakinkan. "Aku ini suamimu, Vio. Jadi aku tau kau sedang berbohong atau tidak, jangan menyembunyikan apa pun dariku. Karena aku tidak suka itu." ujar Kevin, suaranya berat dan tegas. Nadanya begitu dingin dan sedikit menusuk.
"Sungguh Ge, tidak ada apa-apa." Jawab Viona meyakinkan.
Viona menyibak selimut yang ia gunakan bersama Kevin kemudian turun dan berjalan menuju balkon dengan kaki telanjang. Wanita itu menyambar mantel hangatnya karna tidak ingin mati membeku, namun tiba-tiba....
'Hoek...'
'Hoek...'
Belum sampai Viona pada pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Tiba-tiba Ia merasa mual, Viona berbalik dan berlari menuju kamar mandi 'Hoek...' di dalam sana Viona memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Kevin yang merasa cemas bergegas turun dari tempat tidur dan menyusul Viona.
Kevin menyusul Viona masuk ke dalam kamar mandi. "Vio kau baik-baik saja?" Kevin begitu panik, apalagi saat melihat wajah Viona yang tiba-tiba memucat. "Sayang, kau sakit? Wajahmu pucat sekali," Viona menurunkan kedua tangan Kevin yang menakup wajahnya lalu memindahkan salah satu tangan Luhan pada perutnya yang masih rata.
"Aku tidak apa-apa, Ge. adalah hal yang wajar bagi seorang wanita hamil, biasanya memasuki trimester kedua mualnya akan berkurang Tapi yang aku rasakan malah sebaliknya. Mual ku malah semakin parah," ujar Viona memaparkan.
Kevin menghela napas. "Kalau begitu sebaiknya kau istirahat total dan jangan melakukan aktivitas apapun. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga janin di dalam perutmu, aku masih sangat trauma dengan apa yang terjadi sebelumnya." Ujar Kevin yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
Kali ini Kevin tidak akan membiarkan hal buruk kembali terjadi pada mereka, cukup satu kali saja ia dan Viona kehilangan calon anak mereka, dan tidak akan Kevin biarkan hal serupa terjadi untuk kedua kalinya. Kali ini Kevin akan menjaganya dengan baik.
xxx
Hari-hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa kandungan Viona kini memasuki bulan ke 9. Kelahiran anak pertama mereka hanya menghitung hari atau jam saja, karena si jabang bayi bisa lahir sewaktu-waktu. Kebahagiaan terlihat jelas di raut wajahnya. Semua orang begitu menjaganya, bahkan Nenek Barbara sampai siapa selama 24 jam penuh.
__ADS_1
"Sayang, jangan banyak bergerak. Viona, kau harus banyak istirahat. Duduklah, kau perlu membantu menyiapkan apapun. Biar Nenek saja yang menyelesaikan semuanya," Ucap Nenek Barbara
Viona tersenyum tipis. Wanita itu menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa Nek, terlalu banyak diam membuatku merasa bosan. Untuk saat ini saat ini saja, biarkan aku membantu, ya." pintanya memohon.
Nenek Barbara menggeleng. "Sekali tidak tetap tidak. Apa kau ingin suami tampanmu itu mengomeli Nenek habis-habisan karena di kira Nenek-lah yang memaksamu untuk melakukan ini dan itu." Dengan tegas Nenek Barbara barang Viona untuk ikut membantunya di dapur.
"Tapi, Nek." Rengek Viona.
"Ekhemmm...!!"
Perhatian dua wanita berbeda usia itu teralihkan oleh suara deheman seseorang. Keduanya menoleh dan mendapati seorang pria yang hanya memakai jeans hitam dan kemeja hitam tanpa lengan berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh. Tidak terlalu besar namun terlihat kuat.
Viona menghela napas, memang sejak di nyatakan hamil oleh Dokter. Kevin menjadi sangat overprotektif padanya, namun Viona tidak merasa keberatan ataupun kesal. Karena bagaimana pun juga itu adalah bukti rasa cintanya.
"Menurut atau...."
"Atau apa? Ge, kau jangan menyebalkan!!" ucap Viona sambil mempoutkan bibirnya. Dia terlihat kesal setengah mati.
"Makanya jangan bandel. Sebaiknya kau duduk manis dan tunggu sampai Nenek menyelesaikan masakannya kemudian kita makan sama-sama." Ujar Kevin.
"Aduh, perutku.... sakit.." tiba-tiba Viona berteriak sambil memegangi perutnya. Dan teriakan itu membuat panik semua orang terutama Kevin.
"Viona..."
Kevin meninggalkan tempatnya dan menghampiri sang Istri. Dia melihat Viona yang terus meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, wanita itu juga terlihat berkeringat. Melihat hal itu membuat Kevin menjadi sangat panik "Nel, bagaimana ini? Viona kesakitan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Kevin dengan panik.
Sepertinya Viona tidak mengatakan apapun pada Kevin tentang tanda-tanda dia akan segera melahirkan.
"Jangan panik, Key. Sepertinya Istrimu akan segera melahirkan. Nenek, akan meminta Frans untuk menyiapkan mobil." kata Nenek Barbara dan berlalu begitu saja.
"Ahhh.... Ge... sakittt..."
Segera Kevin mengangkat tubuh Viona bridal style dan membawanya meninggalkan kediaman Lu. Di luar sudah ada Frans, Hwan dan Jackie serta Kakek David yang sudah menunggunya. Kevin membawa Viona masuk kedalam mobil milik Jackie. Dia menyandarkan kepala Viona di dadanya.
"Sabar sayang, kita akan segera ke rumah sakit. Bertahan untukku dan anak kita." Kevin menggenggam tangan Viona, ia terus berdoa agar persalinan Istrinya berjalan lancar.
Sementara di belakang terlihat arak-arakan, semua orang ikut mengantarkan Viona ke rumah sakit. Sungguh betapa beruntungnya wanita itu karena memiliki orang-orang yang begitu peduli padanya. Dan berkat mereka dia bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
.
.
Rasa cemas menyelimuti perasaan Kevin. Bagaimana tidak, sudah hampir satu jam Viona berada di ruang persalinan namun belum ada tanda-tanda bila bayinya akan segera lahir. Kevin terus berdoa semoga persalinan itu berjalan lancar dan Jessica serta anaknya baik-baik saja.
Sampai suara tangis bayi terdengar nyaring memecah di dalam keheningan. Sontak saja Kevin bangkit dari duduknya yang bersamaan dengan pintu ruang persalinan terbuka. Seorang perawat keluar sambil menggendong seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki kemudian mereka serahkan pada Kevin.
"Selamat Tuan, bayi anda laki-laki. Istri anda juga baik-baik saja." ucap Dokter wanita sambil menepuk bahu Kevin dan berlalu begitu saja.
Kevin menatap sang putra yang berada dalam dekapannya itu penuh har. Air matanya jatuh begitu saja, Kevin menangis haru. Rasanya masih belum percaya jika sekarang statusnya adalah seorang ayah.
"Nek, aku titip putraku dulu. Aku akan menemui, Viona." ucap Kevin lalu menyerahkan putranya pada Nenek Barbara.
"Kau benar, Frans. Itu artinya kita sudah menjadi paman." sahut Hwan.
"Dia sangat mirip dengan mereka berdua. Hidung dan bibirnya ikut ayahnya, sedangkan matanya ikut ibunya. Dia benar-benar perpaduan yang sangat sempurna," ujar Jackie
Frans dan Hwan mengangguk setuju. Diam-diam Frans berdoa semoga saja sifat Kevin tidak menurun pada si kecil. Karena jika itu sampai terjadi, pasti hidupnya akan sangat mengenaskan karena memiliki kakak dan keponakan yang sama-sama mirip kutub Utara.
Semua orang yang hadir di rumah sakit tidak bisa menahan air matanya lagi. Mereka menangis haru, mereka saling memeluk. Rasa bahagia mereka semakin lengkap dengan hadirnya si kecil. Nenek Barbara dan Kakek David pun juga tampak menitihkan air matanya. Mereka turun merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh Kevin dan Viona.
Para BU-DI merasa iri dengan kebahagian keluarga kecil itu. Bagaimana tidak? Karena mereka masih belum menemukan pasangan hidup hingga detik ini sehingga tidak salah bila mereka mendapatkan predikat bujang abadi.
.
.
Cklekkk...!!!
Decitan pintu terbuka menyita perhatian Viona. Wanita itu menarik sudut bibirnya melihat kedatangan sang Suami. Kevin memeluk Viona dan mencium pucuk kepalanya "Terimakasih, sayang." bisiknya bergumam.
Viona menutup matanya. Merasakan kecupan Kevin pada keningnya, wanita itu mengangkat kedua tangannya dengan senang hati Viona membalas pelukan Kevin. "Kau sudah melihat dia?" Viona mengangkat wajahnya, matanya bersirobok dengan mata hitam pekat milik Kevin
"Dia benar-benar sempurna. Aku akan memberinya nama 'Aiden' bagaimana menurutmu? Bagus tidak?" ujar Kevin sambil mengusap rambut panjang Vion penuh sayang.
Viona tersenyum tipis. "Tentu saja, itu adalah nama yang sangat bagus." Kevin tersenyun, laki-laki yang baru saja menjadi ayah itu memegang wajah Viona dan mencium singkat bibirnya.
"Kau masih terlihat lemah, sayang. Sebaiknya kau istirahat, aku akan menemanimu di sini. Si kecil bersama Nenek."
Viona tersenyum kemudian mengangguk "Baiklah."
Kevin duduk di samping Viona, menggunakan salah satu tangannya sebagai bantalan kepala Viona. Viona memposisikan kepalanya dengan nyaman dengan lengan Kevin sebagai bantalannya. Rasa hangat menyelimuti perasaannya, ia sungguh beruntung karena memiliki Kevin di sisinya.
Tiba-tiba Viona kembali merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Wanita itu tampak kesakitan dan itu membuat Kevin sangat panik. "Vio, ada apa?" tanya Kevin dengan panik. Dia panik melihat Viona yang tampak sangat kesakitan tersebut.
"Ge.. Sakit!! Se...Sepertinya aku mau melahirkan lagi!!"
Pupil mata Kevin membulat sempurna. "APA, MELAHIRKAN LAGI?!"
xxx
Waktu berlalu dengan cepat. Kini si kembar sudah berusia 1 tahun. Kenapa kembar? Karena hari itu Viona tidak hanya melahirkan satu bayi saja, tetapi dua. Bayi kedua lahir selang 10 menit dari bayi pertama. Dan hari ini mereka merayakan ulang tahun kedua buah hatinya.
Pesta di adakan dengan meriah, Aiden dan Ailee terlihat begitu tampan dan cantik. Keduanya berada di dalam gendongan Kevin dan Viona. Kevin menarik Viona menggunakan tangan satunya lalu memeluk sang wanita dan mencium keningnya "Terimakasih Sayang, karena sudah menyempurnakan hidupku." bisik Kevin sambil mengulum senyum lembut.
"Tidak seharusnya berterimakasih, Ge. Bukankah sudah selayaknya, dan apa yang aku berikan padamu adalah bukti cinta kita." tutur Viona.
"Ge, Nunna, kemari lah. Kita berfoto dulu." seru Frans dari ruang tamu.
Kevin dan Viona beriringan menghampiri keluarga besar mereka dengan si kecil berada di dalam gendongan mereka berdua. Mereka segera bergabung dengan yang lain yang memang sudah menunggunya.
__ADS_1
Kevin dan Viona berdiri bersebelahan. Frans dan Hwan berdiri di samping Kevin. Sementara Rico dan Jackie berdiri di samping Viona. Nenek Barbara dan Kakek David duduk di depan mereka. Si kecil Ailee berada di pangkuan mereka berdua, sedangkan Aiden berada di gendongan ayah dan ibunya.
Tidak ada kesedihan terpancar dari raut wajah mereka, selain kebahagiaan. Setelah semua yang terjadi dan bagaimana kisah cinta Kevin serta Viona yang di warnai berbagai rintangan akhirnya berada di titik terbaik. Dan kepedihan, rasa sakit, air mata dan duka di masa lalu terbayar lunas dengan kebahagiaan yang mereka dapatkan saat ini. Dan mereka sama-sama percaya, bila kekuatan cinta mampu mengalahkan segalanya.
Kevin dan Viona saling menatap, senyum bahagia sama-sama menghiasi wajah mereka. Kevin menarik tengkuk Viona dan mencium bibirnya. Melalui ciuman itu Kevin ingin menyampaikan betapa berharganya Viona dalam hidupnya. Tidak ada yang Kevin inginkan selain Viona dan kedua buah hati mereka, karena sesungguhnya mereka bertiga lah harta paling berharga yang ada dalam hidup seorang Kevin Zhang.
...>Epilog<...
"Papa....???"
Kevin yang baru saja pulang bekerja langsung di sambut si kembar. Kedua bocah mungil itu berlari dan menghambur kedalam pelukan sang ayah. Kevin mengangkat kedua malaikat kecilnya kedalam gendongannya "Papa lelah?" tanya si bungsu Ailee dengan suara cadelnya khas anak kecil
"Hum," Kevin menggumam lalu mengangguk.
Menggendong kedua buah hatinya dan membawanya masuk kedalam. Sudut bibir Kevin tertarik ke atas melihat Viona yang tengah sibuk menyiapkan makan malam. Menurunkan si kembar dari gendongannya dan memberikan pada pengasuhnya lalu menghampiri sang Istri
"Apa yang sedang kau masak, sayang? Kelihatannya lezat." ujar Kevin sambil memeluk Viona dari belakang dan mencium singkat pipi kirinya.
"Kau sudah pulang?"
"Hum, aku merindukanmu baby." bisik Kevin lalu menyandarkan dagunya pada bahu Viona. Viona tersenyum tipis, melepaskan pelukan Kevin kemudian berbalik dan mencium singkat bibir kemerahan suaminya.
"Kau sudah bertemu si kembar? Dari pagi Ailee rewel terus, dia minta di antar menemui mu. Sepertinya putri kecil kita benar-benar tidak ingin jauh dari papanya." ujar Viona.
Kevin terkekeh "Ya aku rasa begitu. Tapi aku bahagia karena dia lebih menyayangi Papanya dari pada Mamanya."
"Yakkk... mana boleh begitu." Viona mencerutkan bibirnya kesal, dan yang terjadi selanjutnya adalah bibirnya sudah berada dalam pagutan bibir Kevin.
Wajah murung Viona cerah seketika karena ciuman itu. Wanita berparas barbie tersebut mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin dan membalas ciuman sang suami. "Aku sudah menyiapkan makan malam. Sebaiknya kau mandi dulu setelah ini kita makan malam sama-sama." tutur Viona sesaat setelah Kevin mengakhiri ciumannya. Kevin tidak memberikan respon apa-apa. Sebagai gantinya, ayah dua anak itu hanya menganggukkan kepalanya.
Sembari menunggu Kevin. Viona menghampiri kedua buah hatinya yang tengah di suapi oleh pengasuhnya. Wanita itu tersenyum sambil membuka lebar kedua tangannya ketika si bungsu berlari menghampirinya sambil mencerutkan bibirnya
"Mama. Lihatlah, Aiden terus memaksaku memanggilnya Gege, padahal aku sudah bilang tidak mau." adu Ailee pada sang Ibu. Viona memicingkan matanya menatap Ailee penasaran.
"Kenapa, kan dia memang, Kakak."
"Iya, tapi hanya beda beberapa menit saja. Jadi Ailee tidak mau memanggilnya, Gege."
"Dasar adik durhaka." sahut Aiden sambil mencubit gemas pipi gembel Ailee.
"Aw... Ai, sakit."
Viona berkacak pinggang. Wanita itu menggeleng melihat tingkah kedua buah hatinya. Aiden dan Ailee memang tidak pernah bisa akur, mereka selalu bertengkar karena hal sepele. Kedua bocah itu selalu membuat orang-orang yang ada di sekitarnya tertawa geli karena kegemasan mereka. Aiden dan Ailee baru berusia 5 tahun, namun kecerdasan yang mereka miliki jauh dari teman sebayanya.
"Nunna.... Hyung.... Kami datang." seru suara dari arah depan. Tak berselang lama sosok Frans dan Hwan muncul sambil menenteng dua kantong besar berisi mainan. Di susul Jackie dan Rico yang turut datang.
"Paman...??" kedua bocah itu berlari dan melompat kedalam gendongan Frans serta Hwan.
Alasan mereka adalah mainan yang ada di genggaman keduanya, karna biasanya mereka tidak pernah bisa akur karena kejahilan mereka berdua.
"Paman membawa apa ini? Apa mainan-mainan ini untuk kami?" tanya Ailee dengan polosnya, Ailee menatap keduanya penuh harap. "Paman, untuk kami kan!" tanya Ailee memastikan.
"Lalu menurut kalian, boneka dan mobil serta robot-robot ini untuk siapa?" Hwan menatap keduanya bergantian.
Dengan lantang kedua bocah itu menjawab "Untuk kami." Frans mencubit gemas pipi gembil Ailee yang ada di gendongannya "Kenapa semakin hari kalian semakin menggemaskan saja eo." ujar Frans.
"Oya Vi. Di mana Kevin? Apa dia belum pulang?"
"Aku di sini, Ge." sahut seseorang dari arah tangga menjawab pertanyaan Hwan.
Kevin muncul setelah mandi dan mengganti pakaiannya. Terlihat sebuah singlet putih yang terlihat dari kemeja hitam lengan terbukannya karena tidak terkancing sempurna dan jeans biru gelap membingkai kakinya. Kevin melangkah perlahan menghampiri sahabat dan keluarga kecilnya.
"Papa....!!" turun dari gendongan kedua Pamannya.
Si kembar berlari dan menghambur kedalam gendongan sang ayah. "Yakk... Ai, kenapa ikut gendong papa juga? Ai turun, karena papa Kevin cuma papa-nya Ailee." protes Ailee yang merasa tidak terima karna Aiden juga berada di dalam gendongan sang ayah.
"Tidak mau.... harusnya yang turun itu kau, bukan aku. Bocah, kau itu harusnya mengalah sama kakak, bukan kakak yang mengalah pada adiknya." oceh Aiden dengan suara cadelnya yang terdengar begitu menggemaskan.
Bukannya marah dengan tingkah kedua buah hatinya. Kevin justru merasa terhibur, di saat ia merasa lelah. Selain Viona, ada si kembar yang menjadi obat mujarab untuk mengobati rasa lelahnya. Kevin tersenyum tipis, di pandanginya dua bocah kembar yang berada dalam gendongannya itu
"Pa, turunkan Ailee." pinta si bungu dengan mata berkaca-kaca. Kevin tidak bertanya apa pun, sebagai gantinya ia menurunkan Ailee, Kevin ingin tau apa yang akan di lakukan oleh bocah itu.
"Mama.... " rupanya Ailee menghampiri Viona yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.
Wanita itu berbalik dan menatap bingung putri kecilnya. "Hei, ada apa princess? Kenapa menangis?" Viona menatap bingung putri kecilnya itu.
"Aiden, jahat. Dia melarang ku dekat dengan papa dan mengatakan jika aku harus mengalah." adu Ailee pada sang Ibu. Wanita itu mengangkat wajahnya , menatap Kevin yang mengangkat bahu acuh.
Viona mendesah kemudian membawa Ailee ke dalam gendongannya lalu menghampiri Aiden yang masih berada dalam gendongan ayahnya. "Ai...??" panggil Viona rendah namun penuh penekanan. Anak laki-laki itu mencerutkan bibirnya di selingi ******* pasrah.
"Baiklah, kau boleh gendong papa juga." ucap Aiden sedikit tidak rela.
Wajah murung Ailee cerah seketika setelah mendengar ucapan sang kakak. Turun dari gendongan sang Ibu lalu menghambur kedalam gendongan Kevin. Viona memandang mereka dengan hati menghangat, senyum lembut tersungging menghiasi wajah cantiknya.
Rasanya baru kemarin Ia dan Kevin menikah. Sungguh dia tidak pernah berfikir akan memiliki kisah dengan pria itu kemudian menikah dan memiliki anak. Perjalanan cinta mereka yang tidak mudah membuat Viona sadar, betapa pentingnya arti kehadiran Kevin di dalam hidupnya. Menyeka air matanya, Viona memeluk suami dan kedua buah hatinya.
"Hei, Mama kenapa menangis?" seru Ailee melihat wajah basah sang ibu. Sontak saja Kevin menoleh dan menatap Viona dengan dahi berkerut.
Viona menggeleng. "Mama, menangis karna terlalu bahagia."
Kevin menyerahkan Aiden pada Viona, kemudian menarik wanita itu kedalam pelukannya. Senyum hangat tersungging menghiasi wajah tampannya. Tidak ada lagi sosok Kevin yang sedingin es, semenjak anak mereka lahir, Kevin menjadi lebih hangat dan terbuka pada orang lain.
Paria itu melepaskan pelukannya, jari-jarinya menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi Jessica "Apa pun alasannya, aku tidak suka melihatmu menangis." ucap Kevin lalu menarik sudut bibirnya.
.
.
THE END:
__ADS_1