
Sebuah mobil Lamborghini Veneno terlihat meluncur di jalanan malam kota Seoul yang berhiaskan lampu kota yang telah menyalah sejak beberapa jam yang lalu.
Keadaan jalan tidak terlalu ramai mengingat jika waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Seorang pria tampan mengendarai mobil itu dengan tenang dengan di temani seorang gadis cantik yang duduk di sebelahnya. Mereka tak lain adalah Aiden dan Luna.
Aiden tidak membiarkannya pulang sendirian dan akhirnya mereka berdua pulang bersama. Lagipula mana mungkin Aiden akan membagikan Luna pulang sendirian, dia tidak ingin dicap sebagai kakak yang buruk karena tega pada adiknya sendiri.
Suasana hening menyelimuti kebersamaan mereka berdua, tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Aiden maupun Luna. Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan, sesekali Luna melirik Aiden menggunakan ekor matanya dan begitu pun sebaliknya.
Namun Luna segera mengalihkan pandangannya setiap kali Aiden memergokinya tengah menatap padanya, dan hal itu membuat Luna menjadi salah tingkah. Sedangkan Aiden hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
Perhatian Aiden sedikit teralihkan oleh getaran pada ponselnya yang berada di saku celanannya. Tangan kirinya Ia lepaskan dari kemudi dan merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya.
Aiden mengangkat ponsel itu dan menatapnya sejenak karena fokusnya tetap tertuju pada jalan raya yang ada di depannya. Dahi Aiden berkerut dan alisnya saling bertautan melihat satu nama tertera di layar ponselnya.
'Tao, untuk apa dia menghubungiku? Mungkinkah terjadi sesuatu?' Pikir Aiden.
Penasaran kenapa Tao menghubunginya, Aiden menyambungkan ponselnya dengan handset yang telah menempel di telinganya melalui bluetooth agar Ia bisa tetap fokus pada kendaraan yang ia kemudikan.
"Ada apa Tao? Apa terjadi masalah di rumah?" Tanya Aiden to the poin.
"Bos, Akhirnya kau angkat juga. Bos, pulanglah sekarang. Rumah di serang dan kami sedikit kewalahan!!"
" Apa?!" kaget Aiden. Matanya terbelalak mendengar apa yang Tao sampaikan.
Tanpa menghiraukan mobil-mobil lain yang ada di sekelilingnya, Aiden membanting setir memutar balik mobilnya dan segera pulang ke kediamannya. Bisa saja dia melewati jalan yang Ia lewati sebelumnya, namun itu akan memakan banyak waktu jadi Luhan mengambil jalan pintas untuk mempercepat perjalanannya.
"Ge, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Luna melihat kepanikan Aiden.
"Terjadi masalah di rumahku. Nanti setelah masalah selesai, baru aku antar kau pulang ke rumah Papa." Ucap Aiden yang hanya di balas anggukan tipis oleh Luna.
"Memangnya ada apa, Ge? Kenapa kau sangat panik?" tanya Luna, dia benar-benar penasaran.
"Aku tidak bisa memberikan penjelasan apapun sekarang. Kita harus segara tiba di rumah." Ujar Aiden seraya melirik Luna menggunakan ekor matanya.
Aiden menambah kecepatan pada mobilnya. Dan setelah perbincangan singkat itu tidak ada lagi obrolan antara Aiden dan Luna. Sebenarnya Luna sangat penasaran, tapi dia memilih untuk memendam rasa penasarannya tersebut.
.
.
Dua pulau lima menit berkendara mereka tiba di kediaman Aiden. Dan kedatangan mereka langsung disambut dengan pemandangan yang sangat mengerikan.
susah payah Luna menelan saliva nya, kedua matanya terbelalak sempurna melihat banyaknya mayatt tergeletak di lantai dan darahh segar ada hampir di mana-mana.
Sebenarnya Luna tidak phobia pada Darahh. Namun melihat darahh yang begitu banyak membuat kepalanya menjadi pusing dan pandangannya terasa berkunang-kunang.
Luna tidak tahu apa yang terjadi di sini dan apa hubungan dia dengan kejadian itu, Luna sama sekali tidak tau. Karna yang Luna tau saat ini adalah Ia hampir mati dan bisa menjadi gila karena berada di tempat yang tak seharusnya.
DUARRRR ... !! ..
"Aaahhhh!" Gadis itu menjerit histeris sambil menutup kedua telinganya serta matanya rapat-rapat saat Ia mendengar suara tembakan yang begitu keras dan terdengar mengerikan.
Sekujur tubuhnya gemetar, peluh mulai membasahi keningnya takut sesuatu yang buruk menimpa dirinya. Luna memang sadis dan bringas, dia suka menyiksa orang yang berani mencari masalah dengannya. Akan tetapi, berhadapan dengan situasi mengerikan seperti ini baru pertama kalinya bagi Luna.
"Ge, Kau mau kemana? Jangan pergi, a-a-k-u takut." lirih Luna. Gadis itu menggeleng kuat, memohon supaya Aiden tidak meninggalkannya.
Luna mencengkram kuat lengan Aiden ketika melihat pria itu hendak keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi kau jangan coba-coba untuk keluar. Situasi di luar sangat berbahaya, jadi kau tetaplah di sini. Aku tidak mungkin berdiam diri seperti ini melihat nyawa mereka semua terancam. Kediamanku di serang, aku harus keluar untuk menyelesaikan masalah ini." Ujar Aiden seraya melepaskan cengkraman tangan Luna dari lengannya.
"Tapi, Ge~"
"Tetaplah di sini dan jangan coba-coba untuk keluar jika kau tidak ingin nyawamu melayang. Jika memungkinkan bersembunyi lah, karena insiden ini tidak patut untuk di saksikan seorang wanita." Tutur Aiden.
Dia pun segera keluar dari mobilnya meninggalkan Luna sendiri di dalam mobil.
Sekilas pria itu melirik Luna menggunakan ekor matanya, helaan nafas panjang Ia hempaskan. Sebenarnya Aiden tidak tega meninggalkan dia di sana sendiri tanpa perlindungan apa pun, tapi akan lebih bahaya jika gadis itu ikut keluar bersamanya. Meskipun berat, namun Aiden harus tetap melakukannya.
Brakkk .. !! ..
Aiden menarik dasi pria yang tiba-tiba menyerangnya kemudian melilitkan dasa itu ke lehernya sebelum akhirnya Ia banting ke lantai dengan cukup keras.
"AAARRKKKHHH .."
Tidak cukup sampai di situ, Aiden juga menginjak tangann pria itu yang hendak mengambil senjatanya hingga menimbulkan suara mirip tullang patah. Dengan kasar Aiden menarik rambutnya dan menghantam wajahnya menggunakan lututnya hingga pria itu muntah darahh dan meregang nyawa setelah dua tembbakan di lepaskan.
Tembakan demi tembakan Aiden lepaskan pada setiap lawan yang menghampirinya, tanpa ampun dan belas kasih dari hati nuraninya. Dia menembakii orang-orang itu hingga beberapa kali membuat tubuh mereka tumbang seketika dan meregang nyawa.
Tidak hanya dari pihak lawan, banyak dari orang-orang Aiden yang terkapar, terluka dan meregang nyawa di sana. Tidak butuh waktu lama bagi Aiden untuk bisa mengatasi kekacauan yang terjadi di kediamannya, semua telah terkendali.
Dari pihak lawan hanya menyisakan dua orang yang hidup, Aiden memang sengaja tidak membunuh mereka karena mereka berdua adalah kunci untuk Ia bisa mengetahui siapa dalang di balik insiden yang terjadi di kediamannya itu.
"Bos," Seru Kai seraya menghampiri Aiden. "Untung kau datang tepat waktu."
"Urus mereka berdua dan cari tau siapa dalang di balik kejadian ini, aku ingin tau siapa yang telah menyuruh mereka untuk menyerang kemari. Pastikan kau mendapatkan informasi yang akurat dan bisa di percaya." Pinta Aiden seraya menyerahkan kedua orang itu pada Kai.
"Tidak perlu cemas Bos, aku dan Tap akan mengurus masalah ini dan mendapatkan informasi yang kau inginkan. Jadi kau tidak perlu cemas." Tutur Kai.
"Lalu di mana, Logan? Aku tidak melihat batang hidungnya, apa bocah itu sembunyi seperti seorang pengecut lagi?" Tanya Aiden.
"Maksudmu?"
"Kau pasti mengetahui jawabannya, Bos." Balas Tao cepat.
"Sekarang aku paham apa yang kau bicarakan, aku akan mengurusnya nanti. Sekarang aku harus pergi, Luna mungkin sedang ketakutan di sana. Aku pergi dulu."
"Pergi lagi? Tapi kau baru saja tiba Lu," Ucap Henry menyahut.
Aiden menghela napas. "Luna ada di sini dan dia ada di dalam mobilku. Secepatnya aku harus segera mengantarkannya pulang." Jawab Aiden.
"Kenapa tidak menginap saja di sini? Bukankah dia juga sudah pernah tinggal di sini selama beberapa Minggu sebelumnya." Tandas Max.
Aiden menghela napas. "Tidak bisa, dia bisa saja trauma jika tetap di sini. Jadi lebih baik aku mengantarkannya pulang saja."
"Ahh, aku paham." Max mengangguk perlahan-lahan dengan senyum misterius tersungging di wajahnya.
Aiden menautkan dahinya melihat Max tersenyum seperti itu padanya. "Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Tanya Aiden dingin dengan tatapan tajam yang sedikit menusuk.
"Ahahaha... Tidak tidak, sebaiknya cepat kau antarkan dia pulang. Ini sudah larut malam." Pinta Max
"Baru akan aku lakukan." Balas Aiden dingin dan berlalu begitu saja.
Meskipun Aiden adalah bos mereka. Namun Aiden tidak mau di panggil Bos atau ketua oleh mereka. Dia lebih suka di panggil 'Hyung' 'Gege' bahkan namanya. Tapi Tao sangat bandel dan terus saja memanggil Aiden dengan sebutan 'Bos'. Bagi Aiden tidak ada yang lebih penting dari sebuah persaudaraan.
"Hyung, kalian mau bertaruh untuk mereka berdua? Aku rasa Bos memiliki hubungan spesial dengan adik angkatnya itu, bagaimana dengan kalian?" Tanya Tao seraya menatap mereka secara bergantian.
__ADS_1
"Aku tidak berani karena aku masih menyayangi nyawaku." Sahut Henry dan berlalu begitu saja.
"Jangan seperti ini Hyung, kan hanya main-main saja." Tao mencoba membujuk Henry yang menolak tegas usulnya karena tidak ingin mendapatkan masalah dari Aiden. Begitu pun dengan Kai dan Max, mereka sama-sama dan satu pendapat dengan Henry.
Karena berhadapan dengan Aiden yang sedang marah lebih mengerikan di bandingkan bertemu dengan malaikat kematian. Mereka tidak ingin nasibnya fatal di tangan Aiden.
"Lakukan saja sediri, kita tidak ikut-ikut." Ucap Kai dan segera menyusul Henry.
Tao mendengus kasar, dengan kesal dan muka kusut. Tao segera menyusul ke 3 temannya.b"Menyebalkan, mereka bertiga tidak asik sama sekali." Dumal Tao di tengah langkahnya.
-'-
Tubuh Luna terpaku melihat bagaimana cara Aiden menghabisi orang-orang itu. Aiden begitu sadis dan tak berbelas kasih sama sekali. Luna hanya bisa diam dan tidak mampu mengatakan sepatah kalimat pun, matanya terbelalak sempurna melihat peristiwa mengerikan terjadi di depan matanya.
Sepanjang hidupnya, ini pertama kalinya Ia melihat pembunuhan secara nyata dan sadis. Parahnya lagi yang melakukannya adalah Aiden, kakaknya.
"Ba-ga-i-ma-na dia bisa melakukannya?" Gumam Luna tidak percaya.
Sebuah tanda tanya besar memenuhi kepalanya mengenai siapa sebenarnya Aiden, Luna menjadi ragu apakah kakaknya itu adalah orang baik atau justru seorang penjahat yang selama ini bersembunyi di balik sifat dinginnya, mengingat bagaimana sadisnya dia saat menghabisi lawan-lawannya.
Hanya dalam waktu yang relatif singkat, Aiden dapat membunuh hampir semua musuh-musuhnya yang jelas tidak sedikit dan menyisakan 2 orang yang dia biarkan hidup hingga detik ini. Untuk selanjutnya Luna tidak tau bagaimana nasib mereka berdua, tetap hidup atau mati juga seperti yang lainnya.
GLEKKK .. !! ..
Luna menelan saliva nya dengan susah payah melihat Aiden berjalan kearahnya sambil memegang pistol di tangannya, jantung Luna seakan berhenti berdetak detik itu juga membayangkan jika Aiden akan membunubhnya juga seperti saat pria itu menghabisi musuh-musuhnya karena Ia melihat semuanya. Meskipun Luna tak yakin Aiden akan melakukannya.
Peluh membanjiri sekujur tubuhnya melihat Aiden yang semakin mendekat, tinggal beberapa langkah lagi dan sia mencapai tempatnya berada.
DEGGG .. !! ..
Luna tersentak mendengar suara pintu mobil di sebelahnya terbuka, gadis itu menahan nafas melihat Aiden yang telah masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang sulit Luna artikan.
"Pasti kau syok melihat apa yang baru saja terjadi." Aiden menoleh dan menatap Luna dengan tatapan dinginnya.
Gadis itu tidak memberikan jawaban apa pun, Luna hanya mampu diam dan terpaku. Aiden mengerutkan dahinya melihat ekspresi wajah Luna, dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah Luna takut padanya? Pria itu tersenyum tipis, seharusnya Ia tau apa yang membuat Luna menjadi seperti itu.
Aiden memasukkan pistol di tangannya ke dalam laci mobil. Pasti Luna berpikir jika Ia akan membunuhnya juga.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu apa lagi membunuhmu. Sekarang aku akan mengantarmu pulang." Aiden menyalahkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gasnya, dalam hitungan detik. Mobil sport mewah milik Luhan telah melesat jauh meninggalkan markasnya.
"Kenapa kau tidak bicara sama sekali, Lun? Apa kau takut padaku?" Tanya Aiden yang mulai tidak nyaman dengan sikap Luna, pria itu menoleh dan menatap Luna penuh tanda tanya. Yang kemudian tatapan itu di balas oleh gadis itu.
"Ge, Aku tidak tau kau ini orang baik atau orang jahat, kenapa kau membiarkan aku hidup meskipun aku telah melihat semuanya? Bukankah aku telah melihat semuanya? Bukankah seharusnya aku di lenyapkan juga seperti mereka?" Ujar Luna.
Aiden mengerutkan dahinya tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan gadis itu. "Apa maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Aiden.
"Aku telah melihat semua, saat kau menghabisi orang-orang itu. Itu artinya aku adalah seorang saksi mata, bukankah seorang saksi mata harus di habisi juga? Lalu kenapa kau membiarkan aku tetap hidup?l? Apa kau memiliki rencana untukku?" Tanya Luna tanpa melepaskan kontak mata diantara mereka, berharap mendapatkan jawaban dari Aiden.
Aiden mendengus. Akhirnya tawanya pecah seketika karena kekonyolan Luna. "Hahaha, kau ini ada-ada saja, kau terlalu polos. Lagipula aku tidak memiliki alasan untuk membunuhhmu, aku membunuhh mereka dan menahan kedua orang itu bukan tanpa alasan."
"Mereka menyerang kediamanku di saat aku tidak ada di sana dan membuat orang-orang ku banyak yang matii terbunuhh, itulah kenapa aku membunuh mereka dan kenapa aku menangkap kedua orang itu karena aku ingin tau siapa dalang di balik penyerangan itu dan apa tujuannya. Sekarang kau paham kan kenapa aku menembbaki mereka semua?" Aiden mengunci manik Hazel Luna.
Gadis itu mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
Aiden mengusap kepala Luna sambil tersenyum lembut. "Kakakmu ini memang bukan orang baik-baik, tapi aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagimu. Jadi jangan berpikir macam-macam, apalagi membayangkan aku akan melakukan sesuatu yang buruk padamu." Tutur Aiden panjang lebar.
Luna tidak memberikan tanggapan apa-apa. Gadis itu diam 1000 bahasa. Dia masih syok dengan apa yang dilihatnya tadi. Peristiwa itu benar-benar menakutkan dan menyakitkan untuk diingat.
__ADS_1
xxx
Bersambung