
"Paman, aku lapar,"
Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Viona sebelum kedua matanya belum terbuka sepenuhnya. Tiba-tiba dia merasa lapar, memaksanya untuk bangun meski sebenarnya masih ngantuk berat.
Viona bangkit dari posisi berbaringnya lalu duduk bersebelahan dengan Kevin. Mereka masih diperjalanan, jarak bandara dengan Villa milik Kevin memang lumayan jauh, waktu yang harus ditempuh sekitar satu jam.
"Makanlah," Kevin memberikan satu potong sandwich buah dan air mineral pada Viona.
Viona menerima sandwich itu dengan penasaran. "Darimana Paman mendapatkannya? Seingatku saat berangkat tadi kita tidak membawa bekal apa-apa," ucapnya kebingungan.
"Mini market, kau pasti lapar jadi Paman membelikan sandwich ini untukmu." Jawab Kevin.
Viona tersenyum lebar. "Terimakasih, Paman. Kau memang yang terbaik, untung saja aku memiliki Paman yang sangat peka sepertimu. Jika tidak, mungkin aku sudah mati kelaparan," ujar Viona lalu memakan sandwichnya.
"Paman, hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Makan pelan-pelan tidak perlu terburu-buru," ucap Kevin sambil menepuk kepala Viona dengan lembut.
Viona mengangguk sambil tersenyum. "Em, tentu Paman."
Viona memakan sandwich-nya sambil termenung, andaikan saja Aldo sebaik Kevin pasti dia akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini karena memiliki suami yang selalu menjadikannya sebagai prioritas utama. Tapi sayangnya Aldo bukanlah Kevin, karena mereka berdua memiliki sifat yang saling bertolak belakang.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Kevin dan segera menyadarkan Viona dari lamunannya.
Viona menoleh lalu menggelengkan kepala. "Tidak ada," dia menjawab singkat dan kembali menikmati sandwich-nya dengan tenang.
__ADS_1
Viona kembali termenung, dan entah apa yang sedang dia pikirkan kali ini, yang jelas itu berhubungan dengan masa depannya.
Karena tidak selamanya dia bergantung pada Kevin, apalagi setelah pria itu menikah dan memiliki keluarga , pasti semua perhatiannya akan sepenuhnya tercurahkan pada keluarganya dan Viona sudah pasti bukan lagi prioritas utama Kevin. Karena sudah ada orang lain yang harus dia utamakan daripada siapapun.
.
.
Rico bangkit duduknya saat melihat kedatangan Frans. "Bagaimana? Apa Tuan Zhang mau bertemu denganku?" tanya Rico sambil menatap Frans penuh harap.
"Tuan sedang berada di luar kota, dia akan menemuimu setelah kembali. Jadi kau bisa kembali beberapa hari lagi," jelas Frans.
Rico mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Oya, Frans. Kau ada waktu tidak? Temani aku minum, sudah lama kita tidak bersama," ucap Rico dan dibalas anggukan oleh Frans. Frans menyetujui ajakan Rico untuk minum bersama.
Tapi bukan berarti mereka berdua saling membenci, Frans dan Rico saling menyayangi. Tak jarang mereka sama-sama ragu untuk saling menyerang, dan lagi-lagi keadaanlah yang memaksa mereka untuk saling menghunuskan senjata.
"Bagaimana kabarmu, Frans? Aku lihat kau semakin temukan saja, apa dia memperlakukanmu dengan baik?" tanya Rico pada sang adik.
Frans mengangguk. "Ya, Tuan sangat baik padaku, dia tidak pernah menganggapku sebagai orang lain. Aku seperti menemukan rumah baru yang penuh kenyamanan sejak mengikuti Tuan, dia selalu memberikan apa yang tidak aku dapatkan darinya, aku rasa kau tau apa maksud dari perkataanku. Dan jika bukan karena Tuan menyelematkan nyawaku malam itu, mungkin sekarang aku hanya tinggal nama," tutur Frans panjang lebar.
Sebelum akhirnya memutuskan untuk berpihak pada Kevin, Frans dan Rico awalnya berada di pihak yang sama. Mereka berdua adalah anak buah Jimmy, namun karena suatu peristiwa Frans diusir pergi dalam keadaan hampir mati.
Dan saat itulah Kevin datang sebagai pahlawan. Dia mengulurkan tangannya pada Frans dan mengajaknya untuk bergabung dengannya, Kevin menjanjikan kehidupan yang lebih baik padanya dan posisi lebih layak. Dan Kevin pun menepati janjinya, Frans diangkat menjadi asisten pribadinya dan juga orang kepercayaannya.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba kau ingin bertemu dengan, Tuan?" tanya Frans penasaran.
"Aku memutuskan untuk meninggalkan Jimmy, jika dia mau menerimaku, aku ingin bergabung dengannya," jawab Rico sambil menundukkan wajahnya.
Frans menautkan alisnya. "Kau meninggalkan Jimmy? Apa kau serius? Rico, apa kau tidak takut dia akan memburumu lalu menghabisimu?! Kita sama-sama tahu dia orang yang seperti apa, pasti kau tidak lupa dengan peristiwa yang aku alami malam itu, aku hampir saja mati ditangannya." Frans menatap Rico dengan cemas.
Rico menghela napas. "Aku tau, dan aku masih ingat betul. Lagipula apa yang bisa dia lakukan sekarang? Jangankan untuk menghabisiku, untuk mengurus dirinya sendiri saja dia tidak mampu, dia sudah jadi orang yang tidak berguna." Ujar Rico.
"Dia benar-benar lumpuh permanen?" tanya Frans memastikan.
Rico menganggukkan kepala. "Ya, dan alasanku meninggalkannya karena aku muak padanya. Dia begitu keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain, bahkan dia sudah tidak menganggapku lagi, jadi untuk apa aku bertahan dengan orang sepertinya?"
Frans menghela napas. "Setelah Tuan kembali dari Jeju, kau bisa bicara secara langsung padanya. Maaf, Rico. Tapi aku harus pergi sekarang, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Frans dan dibalas anggukan oleh Rico.
Rico menatap kepergian Frans dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Terus terang dia merasa iri pada Frans karena mendapatkan bos yang baik, namun disisi lain dia merasa lega karena ada orang yang bisa menjamin hidup adiknya.
"Frans, kau memang layak untuk semua itu. Kau anak yang baik, untuk itu kau berhak bahagia."
.
.
Bersambung.
__ADS_1