
Gyuttt...
Cintia mengepalkan tangannya. Kemarahan terlihat jelas dari sepasang biner matanya. Tidak bisa, dia tidak bisa membiarkan dirinya diperlakukan seperti ini oleh siapapun termasuk Kevin.
Byurrr...
"YAKK!!" wanita itu berteriak histeris saat Frans tiba-tiba datang dan menyiramkan air ke mukanya. "Kau sudah bosan hidup ya?!" bentaknya emosi.
"Ups, maaf. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Karena ku pikir kau tadi itu patung, eh ternyata manusia. Sekali lagi maaf, ya. Atau begini saja, aku akan membantumu untuk membersihkan mukamu?" usul Frans memberikan penawaran.
Pemuda itu menyapukan pandangannya. Dia mencari kain yang bisa digunakan untuk membersihkan air di wajah Cintia, tapi tidak ada. Tidak kehabisan akal, Frans melepas kaos kakinya.
"Ini akan membuat mukamu bersih dan kinclong," ucapnya sambil terus membersihkan muka Cintia.
Cintia langsung muntah begitu kaos kaki itu menyentuh mukkanya. Aromanya benar-benar tidak enak seperti bau terasi, dan Cintai tidak tahu berapa lama Frans tidak mencuci kaos kakinya.
"Kau ingin membunuhku, ya? Aroma kaos kakimu benar-benar membuatku ingin muntah. Sebenarnya Berapa lama kau tidak mencuci kaos kakimu?" tanya Cintia dengan nada meminta.
Frans tampak berpikir. "Em, berapa lama, ya? Aku tidak mengingatnya, mungkin sekitar 2 sampai 3 bulan aku tidak pernah mencucinya." jawab Frans meyakinkan.
__ADS_1
Pupil mata Cintia membuat sempurna mendengar apa yang Frans katakan. "Kau sudah gila?! Dasar tidak waras!!" teriak Cintia sambil melemparkan kembali kaos kaki itu pada Frans.
"Penghinaan!! Jelas-jelas kaus kakiku sangat harum, tapi kenapa kau malah menyebutnya bau? Dasar manusia menyebalkan!!" geram Cintia emosi.
Cintia benar-benar tidak habis pikir dengan pria itu. Bisa-bisanya dia tidak mencuci kaos kakinya selama tiga bulan, pantas saja aromanya sangat menyengat. Jika air rendamannya di minumkan ke sapi tujuh, bisa-bisa yang mati malah sepuluh.
"Aku mengatakan fakta, karena kaos kakimu memang sangat bau!!" ucap Cintia menegaskan.
Frans menggelengkan kepala. Iya benar-benar tidak terima karena kaos kakinya disebut bau oleh Cintia. Padahal baru tiga bulan ia belum mencucinya."Mana ada, lihat ini. Aku akan membuktikan padamu Jika kaos kakiku tidak bau," ucap Frans lalu mengarahkan kaos kaki itu ke hidungnya.
"Bagaimana? Masih mau menyangkalnya?" ucap Cintia dengan sinis.
Tiba-tiba kedua matanya membulat sempurna. Dia ingin muntah mencium aromanya, Frans sampai terbatuk-batuk akibat mencium kaos lakinya sendiri. Tanpa menghiraukan Cintia, Frans berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.
xxx
"Memangnya rencana apa yang kau miliki?" Kevin berbalik badan dan menatap Viona penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaan Kevin, Viona malah menaik turunkan alisnya tidak jelas. Membuat Kevin curiga dengan rencananya, dia berani bersumpah jika rencana yang Viona miliki pasti aneh bin nyeleneh.
__ADS_1
"Jangan membuatku penasaran, Viona Zhang!!" geram Kevin karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Viona.
Wanita itu menghela nafas. "Iya iya, kenapa Paman tidak sabaran sekali? Sini, aku bisikin." Viona menarik lengan Kevin lalu berbisik di telinganya.
Pupil mata kanan Kevin membulat sempurna. "Kau gila?! Dia itu benalu, dan bagaimana bis kau ingin membiarkan benalu tinggal di rumah ini. Aku tidak setuju dengan rencana anehmu!!" ucap Kevin menegaskan.
"Paman, percayalah padaku. Jika kita membiarkannya pergi begitu saja, itu tidak akan seru. Lagipula sudah lama aku memimpikan memiliki pelayan yang bisa melayaniku secara pribadi. Lagipula dia kan tergila-gila padamu, pasti wanita itu tidak akan keberatan melayaniku sebagai keponakanmu." Ujar Viona panjang lebar.
"Jadi kau tidak mau mengakuiku sebagai suamimu, begitu?!" ucap Kevin dengan sinis.
"Paman, kau jangan salah paham dulu. Siapa yang tidak mau mengakuimu sebagai suamiku? Bahkan aku berencana mengumumkannya secara langsung melalui media, agar semua orang tahu jika kau itu milikku. Aku hanya ingin merahasiakan hubungan kita pada wanita itu saja, karena jika aku mengatakannya sekarang maka semua rencanaku akan gagal total." Ujar Viona menjelaskan.
Viona mendekati Kevin lalu memeluk lehernya. Mencoba meluluhkan kemarahannya. "Paman, bukankah kau tahu jika aku benar-benar mencintaimu. Jika Paman tidak percaya boleh belah dadaku, aku rela asal Paman bisa melihat ketulusanku yang sebenarnya." Viona mencoba membujuk Kevin yang sedikit ngambek padanya.
"Mencoba membujukku eh? Gak akan mempan," ucap Kevin seolah-olah tidak terpengaruh dengan apa yang Viona lakukan.
Viona menyeringai. "Benarkah? Kita lihat saja," Viona mendekatkan wajahnya dan mengarahkan bibirnya pada bibir Kevin lalu melumattnya. Dan ini adalah cara paling ampuh untuk meluluhkan Kevin jika sedang gambek. Karena ciuman Viona adalah obat paling manjur untuk meredakan kemarahan Kevin.
"Paman, kali ini kau yang akan kalah!!"
__ADS_1
xxx
Bersambung