Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Nami Island


__ADS_3

Seorang pria yang memakai celana berbahan hitam Silk Wool, Vest dengan warna senada juga singlet putih terlihat menuruni tangga dengan langkah tenang. Di sampingnya seorang wanita cantik sedang memeluk lengan terbukanya. Sesekali si pria menatap wanita di sampingnya dan menghela napas.


Sudah hampir dua Minggu dia tidak melihat senyum manis wanita itu. Hanya kesedihan yang terlihat dari pancaran mata Hazel-nya yang terduga, sampai-sampai dia bingung harus dengan cara apalagi supaya bisa mengembalikan senyum manis dibibir wanitanya.


"Paman, sebenarnya kita mau pergi ke mana?" tanya wanita itu yang sudah pasti adalah Viona.


"Pergi ke tempat yang indah. Bukankah kau bosan terus berada di rumah, maka dari itu aku berencana untuk membawamu pergi berlibur." Jawab Kevin.


"Kemana?" tanya Viona penasaran.


"Nanti kau akan tahu sendiri." Jawab Kevin sambil tersenyum tipis.


Nami island, sepertinya adalah pilihan yang tepat. Kevin berencana membawa Viona pergi ke sana. Dia pernah ingat jika Viona ingin sekali pergi ke Nami Island ketika musim gugur tiba, karena dia ingin melihat lautan merah dari daun maple yang berguguran.


Tiba-tiba Viona menghentikan langkahnya membuat Kevin ikut berhenti juga. "Ada apa?" Kevin bertanya dengan bingung.


"Cuaca di luar begitu dingin, kenapa Paman tidak membawa pakaian hangat dan malah berpakaian seperti ini?" tanya Viona memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Kevin. Dia hanya memakai Vest+Singlet tanpa kemeja lengan panjang apalagi mantel hangat, padahal udara hari lumayan dingin meskipun matahari bersinar terik.


Kevin menggeleng. "Tidak dingin sama sekali. Lagi pula aku sudah terbiasa berpakaian seperti ini. Sudah, jangan banyak protes. Ayo jalan sekarang, kita makan siang dulu, kau pasti lapar." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.


Bagaimanapun caranya, Kevin pasti akan mengembalikan senyum lebar di bibir Viona. Dia sangat merindukan Viona yang dulu, yang ceria dan sedikit bar-bar. Bukan Viona yang sekarang, yang pendiam dan tidak banyak bicara.


xxx


Seorang lelaki tua turun dari sebuah taksi. Pandangannya menyapu ke segala penjuru arah. Dia telah tiba di Korea Selatan, dan impiannya untuk menginjakkan kaki di Nami Island akhirnya bisa dia wujudkan.


Lelaki tua itu menyapukan pandangannya, dia mencoba mencari penginapan terdekat dari tempatnya berdiri saat ini. Jujur saja dia agak sedikit bingung karena ini pertama kalinya ia pergi ke Korea, apalagi usianya yang sudah tak lagi muda. Hal itu membuatnya sedikit kesulitan.


"Paman, sepertinya kau sedang mencari sesuatu? Bolehkah kami bantu?" beberapa pemuda menghampiri lelaki tua itu. Dari gelagatnya saja, mereka sudah terlihat sangat mencurigakan.


"Aku sedang mencari penginapan di sekitar sini. Apakah kalian bisa menunjukkannya padaku?" tanya menaruh curiga sedikit pun, lelaki tua itu pun bertanya tentang penginapan terdekat.

__ADS_1


"Tentu saja tau, kami adalah orang-orang sini asli. Ayo ikut kami, akan aku tunjukkan penginapan terdekat." Ucap salah satu dari kelima pemuda itu.


Lelaki tua itu mengangguk. Dia menarik kopernya dan mengikuti mereka berlima. Bukannya di bawa ke sebuah penginapan, mereka malah membawanya ke sebuah bangunan kosong yang sepi. Dia di rampok oleh ke lima pemuda itu, barang-barang miliknya diambil termasuk koper yang dia bawa. Karena mereka yakin banyak tersimpan barang-barang berharga.


"Jangan di ambil, kalian tidak boleh mengambil barang-barang milikku." Ucap lelaki tua itu mencoba mencegah para pemuda itu mengambil barang-barangnya.


"Dasar orang tua tidak berguna. Minggir," dia di dorong hingga jatuh tersungkur ke tanah. Mereka berlima pun pergi begitu saja.


Dia telah kehilangan kopernya, jam tangan mewah serta ikat pinggang bermerek miliknya. Beruntung dia masih bisa mempertahankan beberapa barang berharga yang tersimpan di dompet yang lain. Karena yang mereka ambil adalah dompet yang hanya berisi beberapa lembar won.


Jika dompet itu sampai diambil juga, bisa-bisa dirinya menjadi gelandangan selama berada di Korea karena tidak memiliki uang sama sekali. Untungnya dia sudah memprediksikan hal semacam ini pasti terjadi.


"Untung saja aku berhasil mengamankannya. Sebaiknya sekarang pergi cari makan dulu, aku sangat lapar." ucap lelaki tua itu sambil memegangi perutnya yang terasa keroncongan. Dia belum makan malam.


Lelaki tua itu meninggalkan bangunan kosong tersebut. Dia tadi melihat ada sebuah restoran Chinese di sekitar taman tempat ia turun dari taksi. Perutnya sangat lapar dan tidak bisa untuk di ajak kompromi lagi.


xxx


Setelah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan. Kevin dan Viona tiba di Nami Island. Kevin mengajak wanita itu untuk makan malam karena ini sudah masuk waktu makan malam.


"Permisi, Kakek. Saya perhatikan dari kejauhan Anda terus berdiam diri di luar, apakah Anda tidak ingin masuk ke dalam?" tegur Viona dengan sopan.


Sontak lelaki tua itu yang tak lain dan tak bukan adalah Joseph Lu menoleh. Seorang wanita muda nan cantik serta lelaki tampan berdiri di hadapannya."Nak, apa kalian berdua hendak makan malam di restoran ini?" bukannya menjawab, Tuan Lu malah balik bertanya. Viona dan Kevin mengangguk.


"Ya, memangnya kenapa Kakek?" tanya Viona dengan sopan.


"Bisakah jika aku ikut bersama kalian. Aku merasa kurang nyaman jika makan sendirian. Bolehkah jika Kakek bergabung dengan kalian berdua?" Joseph menatap Kevin dan Viona bergantian Dia sangat berharap pasangan muda itu mengijinkannya untuk ikut bergabung bersama mereka di dalam.


Kevin dan Viona saling bertukar pandang. Setelah mendapatkan anggukan dari Kevin, Viona pun mengijinkan Tuan Lu untuk bergabung bersamanya dan Kevin.


Di sini mereka sekarang. Mereka bertiga berada di ruang VIP, ruangan yang di pilih oleh Kevin. Dia paling tidak bisa saat makan diperhatikan oleh banyak orang, itulah kenapa Kevin selalu memilih ruangan private untuk kenyamannya.

__ADS_1


Mereka bertiga mengobrol, dan hampir semua obrolan hanya di dominasi oleh Viona dan Tuan Lu. Ini pertama kalinya Kevin melihat Viona berbicara sebanyak itu pasca keguguran yang dia alami dua Minggu yang lalu. Bahkan dia bisa tersenyum dan tertawa lebar, dan semua berkat pria tua di hadapannya.


"Kenapa Kakek tidak lapor polisi saja supaya mereka di tangkap dan di jebloskan ke dalam penjara?" Viona menjadi gemas sendiri setelah mendengar cerita Tuan Lu yang baru saja kerampokan tadi.


Tuan Lu menggeleng. "Kakek, tidak tahu letak kantor polisinya dan mungkin saja mereka merampok karena membutuhkan uang. Tapi untungnya Kakek masih bisa menyelamatkan dompet dan ponsel ini, karena jika kedua benda ini diambil juga bisa-bisa Kakek jadi gelandangan." Tutur Tuan Lu panjang lebar.


"Lalu dimana Anda tinggal?" setelah cukup lama bungkam, sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Kevin.


Lelaki tua itu menggeleng. "Kakek, sendiri belum tahu dimana harus tinggal. Mungkin di penginapan atau Hotel. Karena di negara ini Kakek tidak memiliki sanak saudara." Jawabnya.


"Aku memiliki Villa di sini dan masih ada beberapa kamar yang kosong. Jika Anda bersedia, saya bisa mengijinkan Tuan untuk menginap selama beberapa malam." Ucap Kevin memberi penawaran.


"Apa tidak terlalu merepotkan?" tanya Tuan Lu, dia paling tidak bisa kita harus merepotkan orang lain.


Kevin menggeleng. "Sama sekali tidak," dan menjawab singkat.


Setelah mendengar cerita Tuan Lu yang baru saja kerrampokan, Kevin menjadi tidak tega untuk membiarkannya sendirian apalagi ini pertama kalinya dia datang ke Korea Selatan. Mungkin dengan mengajaknya tinggal bersama di Villa milik ya akan membuatnya jauh lebih aman.


Tidak langsung menjawab. Tuan Lu lebih dulu memikirkan tawaran Kevin. Dia benar-benar tidak ingin merepotkannya. Tapi ada baiknya juga jika dia ikut tinggal bersama dengan mereka. Bukan karena Tuan Lu ingin mencari gratisan, tetapi keamanannya bisa terjaga. Apalagi dia yang masih asing dengan kota dan negeri ini.


"Baiklah, jika tidak merepotkan. Kakek, setuju untuk tinggal bersama kalian."


Viona dan Kevin sama-sama tersenyum. Kevin merasakan sebuah ikatan dengan lelaki tua di depannya ini. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu, tapi entah mengapa Kevin merasa dekat dengannya.


Tidak jauh berbeda dengan yang Kevin rasakan, Tuan Lu pun merasakan hal yang sama. Apalagi wajah Kevin mengingatkannya pada putrinya yang selama ini menghilang. Dan jika saja dia masih hidup, mungkin cucu sulungnya sudah seumuran dengan Kevin.


"Bagus sekali, jadi Villa tidak akan sepi karena hanya di tempati aku dan Paman." Ucap Viona menyahuti.


"Sebaiknya kita makan sekarang sebelum makanan-makanan ini berubah dingin." Ujar Kevin menengahi.


Dan selanjutnya makan malam mereka jalani dengan tenang. Tidak ada obrolan antara mereka bertiga, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring masing-masing.

__ADS_1


xxx


Bersambung.


__ADS_2