
Di sebuah kamar yang Temaram, seorang pria duduk di tepian tempat tidurnya sambil memandang sebuah foto usang. Tatapannya menyiratkan kesedihan, keputusasaan dan penyesalan. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu.
Usianya hampir 26 tahun, dan selama itu dia belum pernah bertemu dengan keluarganya sekalipun. Dia tidak tahu siapa ayahnya, siapa ibunya, di mana keluarganya dan alasan mengapa mereka tidak menginginkannya.
Selama 26 tahun, dia hidup di sebuah Panti Asuhan yang berada di pinggiran kota. Tidak ada yang tahu asal usulnya termasuk ibu panti yang selama ini merawatnya, tidak ada petunjuk apa pun tentang keluarganya selain liontin yang dia miliki. Sebagai satu-satunya benda berharga yang dia miliki.
"Ma, Pa. di mana kalian sekarang? mengapa kalian harus membuangku?" ucap pria itu bergumam. Kedua matanya tampak berkaca-kaca dan suaranya terdengar parau.
Dia ingin sekali menemukan keluarganya. tetapi sayangnya dia tidak tahu bagaimana harus memulainya dan ke mana harus mencari mereka. Beruntung ada orang baik hati yang mau menampungnya, memberinya pekerjaan, tempat tinggal, makan dan minum secara gratis.
Pria itu menyeka air matanya kemudian melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Malam hari bukan berarti harus bermalas-malasan, karena dibandingkan dengan siang hari, dia lebih menyukai melakukan pekerjaannya saat malam tiba.
xxx
Keheningan menyelimuti kebersamaan Kevin dan Viona. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka berdua, keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Viona menyandarkan kepalanya pada bahu Kevin sambil memeluk lengannya. Mereka tengah menikmati deburan ombak.
di atas sana sang pengamat dunia tengah memancarkan sinarnya, menemani para manusia kelelahan di sebagian bumi yang dinaungi. Sinarnya begitu lembut dan hangat, membuat siapa pun akan betah menikmati keindahannya.
"Vi, ada yang ingin Paman katakan kepadamu." Ucap Kevin memecah keheningan.
Viona mengangkat kepalanya dan menatap Kevin dengan penasaran. "Apa? Kedengarannya sangat serius," ucapnya.
"Sebelum kita melangkah makin jauh, dan hubungan kita masih seumur jagung. Paman , ingin kau memahami satu hal. Paman, bukanlah pria romantis yang akan selalu mengatakan 'Aku mencintaimu' setiap detik menitnya. Bukan pujangga yang padai menciptakan kata-kata puitis untukmu. Ataupun memberi bunga dan cokelat setiap harinya. Bahkan aku tidak tahu bagaimana harus bersikap romantis seperti kebanyakan pria di luaran sana."
"Aku tidak bisa menjanjikan apa pun kepadamu, namun aku bisa memberikan hidup dan kesetiaanku. Aku tidak bisa seperti pria lainnya ,namun aku akan mencintaimu dengan caraku sendiri." Tutur Kevin panjang lebar.
Viona menggelengkan kepala. Aku tidak peduli dengan semua itu, Paman tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk mencintaiku. Cukup Cintai aku dengan caramu," ucap Viona.
Kevin menarik lengan Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Menjadikan kepala berlainan cokelat itu sebagai tumpuan dagunya. Beruntung Kevin memiliki wanita seperti Viona, yang bisa mencintai dan menerimanya apa adanya. Dan kekurangan yang mereka miliki akan terlengkapi satu sama lain.
"Sudah malam, ayo kita pulang." Kevin melepaskan pelukannya kemudian bangkit dari duduknya.
Viona mengangguk. Dia menerima tangan Kevin yang terulur padanya. Keduanya kemudian melenggang pergi meninggalkan pantai.
xxx
"Marco, ada apa dengan matamu? mengapa memerah? Apa kau baru saja menangis?"
__ADS_1
Kedatangan Marco disambut sebuah pertanyaan oleh pria paruh baya itu. Dia melihat jejak air mata di wajah putra angkatnya. Marco menggeleng. "Tidak, aku tidak menangis." Jawabnya dengan datar.
"Mungkin kau bisa membohongi semua orang, tetapi tidak bisa membohongiku. Apa yang membuatmu menangis, kau itu seorang pria tidak seharusnya bersikap lemah seperti wanita. Jangan pernah tunjukkan lagi kelemahanmu di depanku!!" ucap pria itu sambil menatapnya dengan tajam.
Marco menghela napas. "Tidak akan, Pa. Aku hanya sedikit sedih mengingat masa laluku. Aku ingin mengetahui asal usulku, siapa diriku dan kedua orang tuaku."
Apa semua itu masih penting? Mereka mencampakkanmu, jadi untuk apa mengingat mereka lagi?! Kau masih memiliki aku, aku adalah orang yang selama ini ada bersamamu dan menemanimu tumbuh dewasa. Jadi hargai aku sedikit saja!!" ujar pria itu dengan nada datar.
Dia sedikit tersinggung mendengar apa yang Marco katakan. Sikap Marco membuatnya kecewa. Seharusnya dia bisa lebih menghargai dirinya, bukannya malah bersikap kurang ajar seperti itu.
"Pa, apa kau marah dan kecewa kepadaku?!" seru Marco dan menghentikan langkahnya.
Pria itu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. "Pikirkan saja sendiri!!" ucapnya dan pergi begitu saja. Dia ingin agar Marco sadar jika sikapnya salah.
Marco menghela napas. Dia baru saja melakukan kesalahan, ayah angkatnya marah padanya. Ini untuk yang kesekian kalinya dia membuatnya kecewa. tetapi Marco tidak mau ambil pusing apalagi terlalu memikirkannya. Lebih baik dia pergi menenangkan pikirannya.
xxx
Tepat pukul 21.00 malam. Kevin dan Viona tiba di rumah. Wanita itu langsung turun dari mobil Kevin begitupun sebaliknya. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki bangunan yang memiliki tiga lantai tersebut.
Langkah mereka terhenti ketika berpapasan dengan Frans. Frans membungkuk di depan Kevin dan Viona.
"Kau saja yang mengurusnya. Aku tidak sudi melihat mukanya!!" jawab Kevin menimpali.
Lee Hoon adalah mantan anak buah Kevin. Berkali-kali dia membuat Kevin kecewa, sudah tiga kali dia memberikan kesempatan pada pria itu tetapi tidak ada satu pun kesempatan itu Lee Hoon manfaatkan dengan baik. Lagi dan lagi Lee Hoon membuat Kevin kecewa, beruntung dia tidak langsung menghabisinya.
"Satu lagi. Sebaiknya kembali ke kamarmu dan istirahat. Kau terlihat lelah, jangan sampai jatuh sakit karena terlalu keras bekerja." Ucap Kevin.
Frans mengangguk. "Baik, Tuan. Kalau begitu saja permisi dahulu." Dia membungkuk pada Kevin dan pergi begitu saja.
Kevin menghela napas. "Aku sangat kasihan padanya. Sejak kecil dia hidup sebatang kara tanpa sanak keluarga. Saat aku menemukannya, dia hampir mati karena dikeroyok oleh preman karena tidak bisa memberikan uang pada mereka. Dia adalah pemuda yang malang, nasibnya sebelum bertemu denganku sangatlah buruk." Ujar Kevin.
Dia sedikit menceritakan permasalah hidup Frans pada Jessica. Tentang masa lalunya yang suram dan bagaimana mereka bisa bertemu.
"Untung saja dia bertemu dengan Paman. Jika saja yang bertemu dengannya orang lain, mungkin nasibnya tidak akan sama." ucap Viona menanggapi.
"Ya, mungkin saja." balas Kevin menimpali. "Pergilah ke kamarmu dan segera tidur. Dan Paman tidak ingin mendengar penolakan," ucapnya menegaskan.
__ADS_1
Viona mengangguk patuh. "Ya, kebetulan aku sangat mengantuk. Good Night, Paman." Viona mencium pipi Kevin dan pergi begitu saja. Kevin menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
Kevin melenggang menuju ruang kerjanya. Ada beberapa email yang harus dia periksa. Selain menjabat sebagai Bos Mafia, dia juga seorang CEO di perusahaan milik keluarga Zhang.
xxx
Brugg...
Tubuh Amelia terhuyung kebelakang setelah tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang pria tampan. Amelia mengangkat wajahnya dan menatap pria itu dengan marah.
"Hei, Bung. Jalan pakai mata, apa kau tidak melihat ada orang sebesar ini berjalan di depanmu?!" ujar Amelia. Dia melayangkan protesnya pada pria itu.
"Kau itu benar-benar bodoh. Di mana-mana orang itu jalan menggunakan kaki bukan mata, karena mata untuk melihat bukan untuk berjalan!!" balas pria itu menimpali.
"Kau~" Amelia menunjuknya tepat di depan mukanya. Pria itu benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Tanpa mengatakan apa pun, dia melenggang pergi meninggalkan pria tersebut.
Sungguh sial baginya karena bertemu dengan orang seperti itu . Niatnya datang ke klub untuk bersenang-senang, dia malah bertemu dengan pria menyebalkan sepertinya. Benar-benar membuat moodnya memburuk saja.
xxx
Malam sudah makin larut. Namun Kevin masih terjaga. Pria itu berdiri di depan di dinding kaca di samping kanan tempat tidurnya. Matanya terus menatap keluar dengan tatapan datar, langit yang semula cerah tiba-tiba berubah gelap dan berselimut awan hitam, mungkin hujan akan segara turun.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Pintu terbuka dan Frans terlihat memasuki kamarnya.
"Ada apa, Frans?" tanya Kevin tanpa basa-basi.
Frans menggeleng. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya ingin mengobrol dengan Anda, itupun jika saya tidak mengganggu istirahat Tuan." Ucapnya.
"Kebetulan aku belum bisa tidur. Memangnya apa yang ingin kau obrolkan denganku?" tanya Kevin. Dia menatap Frans dengan pandangan bertanya.
Frans tidak langsung menjawab. Dia tidak tau bagaimana harus bercerita pada Kevin. Bukannya Frans tidak ingin bercerita, tapi dia tidak tahu bagaimana harus memulainya. Tidak banyak yang sudah Frans ceritakan padanya. Frans hanya memberitahunya jika dia tidak memiliki sanak keluarga.
"Bukan hal yang penting, Tuan. Hanya obrolan ringan saja." jawab Frans.
"Oh,"
xxx
__ADS_1
Bersambung.