
"Dena,"
Wanita itu menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Senyum dibibir Denada mengembang lebar melihat siapa yang datang.
"Jie-Jie," dia bangkit dari duduknya lalu berlari menghampiri orang itu dan memeluknya. "Aku merindukanmu," ucapnya dengan manja.
"Jie-Jie juga merindukanmu. Oya, kapan kau datang? Kenapa tidak memberi tahu, Jie-Jie?" tanya orang itu sambil melepaskan pelukannya.
"Dua hari yang lalu. Aku sempat pergi ke kediaman Li untuk bertemu denganmu, awalnya aku berniat memberimu kejutan, tapi saat tiba di sana mansion mewah itu sudah tidak ada dan telah rata dengan tanah. Jie, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Denada pada orang yang di panggilnya Jie-Jie tersebut.
Wanita itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Agnes menghela napas. "Panjang ceritanya. Dan hidupku tidak akan berkahir mengenaskan seperti ini jika bukan karena dia!! Dia yang mengacaukan segalanya, dan aku ingin orang itu menerima balasannya!!" ujar Agnes sambil menggebrak meja dengan kepalan tangannya.
Denada memicingkan matanya dan menatap Agnes penasaran. "Dia? Siapa?" tanya wanita itu penasaran.
"Seorang pria bernama, Kevin Zhang. Dialah orang yang sudah menghancurkan hidup dan masa depanku, rasanya aku ingin sekali membuat dia menderita di sepanjang hidupnya!!" ujar Agnes sambil mengepalkan tangannya.
"Sepertinya Jie-Jie memiliki dendam kesumat padanya, apa kau ingin supaya aku membantumu menghancurkan orang itu?" tanya Denada memberi penawaran.
Meskipun terlihat lemah, tetapi Denada adalah orang yang cukup berbahaya. Tidak seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Dia memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh wanita lain, yakni menghancurkan hidup orang.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku?" tanya Agnes pada Denada. Meskipun mereka berdua adalah kakak beradik, tetapi agnes tidak begitu mengenalnya dengan baik.
"Kau jangan meremehkan ku, Jie. Kau tunjukkan saja yang mana orangnya, biar aku bekerja untukmu. Aku tidak terima jika kakakku satu-satunya hidupnya dihancurkan seperti ini. Jadi biarkan aku membantumu hancurkan orang itu," tutur Denada.
Agnes menuliskan sebuah alamat pada kertas kecil kemudian dia berikan pada Denada. "Jika kau benar-benar ingin membantuku, pergilah ke alamat ini. Dia tinggal di sana, buktikan jika kau benar-benar adik yang baik. Jie-Jie, tunggu kabar baik darimu. Sebaiknya sekarang tidak usah membahasnya lagi. Jie-Jie, sangat lapar. Sebaiknya kita memesan makanan," ucap agnes dan dibalas anggukan oleh Denada, karena dia juga sudah lapar.
Denada pasti akan membantu Agnes menghancurkan orang itu. Pertama-tama yang harus dia lakukan adalah masuk ke rumah itu, dia bisa datang sebagai pelayan baru di sana. Dan Denada bersumpah akan menghancurkan orang itu sehancur-hancurnya.
xxx
Kevin membuka kaca matanya. Dia masih belum terbiasa dengan mata bionic yang di tanam untuk menggantikan mata kirinya yang hilang. Dan berkat mata itu, kini dia bisa melihat dunia dengan lebih sempurna. Meskipun ada kalanya dia merasakan perasaan tidak nyaman.
__ADS_1
"Ge, apa yang sedang kau lakukan?" pertanyaan itu sedikit mengalihkan perhatiannya. Kevin menoleh dan mendapati Viona menghampirinya.
Pria itu menggeleng. "Tidak ada," dia menjawab sambil memakai kembali kaca matanya.
"Ge, apa kita jadi pulang ke Korea akhir bulan ini?" tanya Viona memastikan. Dia sangat-sangat merindukan rumah dan juga tanah kelahirannya.
Kevin mengangguk. "Tentu saja jadi. Sudah terlalu lama kita pergi, lagipula banyak pekerjaan di sana yang aku tinggalkan begitu saja. Aku hanya cemas Rico tidak bisa menghandle semua karena terlalu banyak tanggung jawab yang aku berikan padanya." Ujar Kevin.
Hampir dua bulan mereka berada di China. Padahal rencana awalnya hanya satu dua Minggu saja. Namun karena banyaknya masalah yang datang bertubi-tubi sehingga Kevin memutuskan untuk menetap lebih lama di China. "Apa kau sudah memberitahu Kakek tentang rencana kepulangan kita?" tanya Viona lagi.
Lagi-lagi Kevin menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat.
"Lalu apa katanya?"
"Sebenarnya Kakek masih belum memperbolehkan kita untuk pergi. Tapi mau bagaimana lagi, ini bukan tempat kita dan ada tanggungjawab yang di Korea yang tidak bisa aku abaikan begitu saja. Apalagi itu adalah pesan terakhir dari mendiang, Kakak. Jadi bagaimana mungkin aku mengabaikannya begitu saja." Ujar Kevin panjang lebar.
Viona mengangguk paham. Di sisi lain, sudah lama Viona merindukan suasana di Korea. Meskipun sudah berminggu-minggu di China, tapi dia belum terbiasa dengan budaya dan kehidupan di negari tirai bambu ini. Viona Lebih nyaman berada di Seoul karena memang di sana tempatnya berada.
Jari-jari lentiknya menyusuri setiap jengkal wajah tampan itu sambil mengunci sepasang mutiara hitamnya.
"Kau tidak hanya memiliki wajah yang sangat tampan, tapi matamu begitu indah, pantas saja banyak wanita yang jatuh hati dan tergila-gila padamu. Di sisi lain wajahmu juga terlihat cantik, kau sangat indah dan menawan. Kau benar-benar sempurna. Apa bisa dikatakan jika aku menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena berhasil mendapatkan hati sang Adonis?" ujar Viona tanpa mengakhiri kontak matanya.
Kevin menggenggam tangan Viona lalu menurunkan dari wajah tampannya. "Bisa jadi. Dan harusnya kau merasa bangga karena memiliki suami sepopuler diriku." Jawab Kevin. Dia mengangkat dagu Viona dengan jari-jari besarnya. Perlahan tapi pasti Kevin memiringkan kepalanya lalu mengecup singkat bibir ranum tipisnya.
Viona menangkup wajah Kevin dan balas menciumnya. "Ya, aku memang sangat-sangat beruntung memiliki suami hebat sepertimu. Dan kau juga harus bangga karena memiliki istri yang sangat cantik dan imut sepertiku." Ujar Viona tak mau kalah. Dia memuji dirinya sendiri di depan Kevin.
Suasana romantis diantara mereka pun buyar seketika karena Viona memuji dirinya sendiri. Kevin mendengus dan menatap wanita itu dengan geli. Alhasil satu jitakan mendarat mulus di keningnya.
"Ge, kenapa kau malah menjitak ku?" keluh Viona dengan kesal.
"Siapa suruh kau menghancurkan moment romantis kita dengan kata-kata konyol mu itu." Ujar Kevin dengan nada kesal. Padahal dia ingin seperti cerita di novel-novel. Tapi Viona malah menghancurkannya.
__ADS_1
Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Viona tersenyum tiga jari menunjukkan gigi-gigi putihnya. "Maaf, Ge." Ucapnya sambil tersenyum penuh rasa bersalah.
Kevin menghela napas. "Aku lapar, ayo temani aku makan malam di keluar." Kevin bangkit dari duduknya sambil meraih blazer nya lalu melenggang keluar meninggalkan kamarnya begitu saja.
"Yakk!! Kenapa aku di tinggalkan? Ge, tunggu aku!!" seru Viona dan bergegas menyusul Kevin. Dia pergi dan meninggalkannya begitu saja.
xxx
Hwan mengepalkan tangannya saat melihat kedatangan seorang pria paruh baya di perusahaan milik Tuan Lu. Frans yang menyadari hal itu segara menghampirinya dan memastikan apakah dia baik-baik saja.
Tepukan pada bahunya mengalihkan perhatian Hwan. Laki-laki itu menoleh dan mendapati Frans berdiri di belakangnya sambil menatapnya dengan tatapan penuh kecemasan. "Ge, ada apa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Frans memastikan memastikan.
Hwan mengangguk. Meyakinkan pada Frans jika dia baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya tidak. "Ya, aku baik-baik saja." Jawab Hwan dengan suara yang begitu meyakinkan.
Langkah kaki pria paruh baya itu terhenti di depan mereka berdua. Pandangannya lalu bergulir pada Hwan. "Lama tidak bertemu... Putraku." Ucap pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah Hwan.
Sontak Frans menoleh dan menatap lelaki paruh baya itu dengan pandangan menyelidik. "Kau adalah Ayahnya, Hwan Gege?" tanya Frans memastikan.
"Ya, kau siapa?" tanya pria paruh baya itu.
"Tidak penting siapa Aku dan apa hubungan ku dengannya. Yang jelas kau jangan mengganggu hidupnya lagi, karena Hwan Gege sudah baik-baik saja!! Jadi silahkan pergi dari sini dan jangan pernah mengganggunya!!"
Pria itu menatap Frans dengan tajam. "Kau... Sebaiknya tidak ikut campur dalam masalah keluarga kami, aku tidak akan segan-segan padamu!!"
"Siapa yang berani mengancam cucuku," sahut seseorang dari belakang. Sontak ketiganya menoleh dan mendapati Tuan Lu menghampiri mereka bertiga. Pupil mata lelaki paruh baya itu membulat sempurna, dia terkejut dengan kedatangan ya tua itu. Tuan Lu menatapnya dengan tajam. "Berani-beraninya kau mengancam cucuku, apa kau sudah bosan hidup?"
Lagi-lagi pria itu membulatkan matanya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Lu. "A..Apa Anda bilang, dia adalah cucu Anda?!"
xxx
Bersambung
__ADS_1