
"Luna, tunggu!"
Sean berlari mengejar Luna lalu menahan pergelangan tangannya, membuat langkah gadis itu terhenti detik itu juga. Sean menarik lengan Luna lalu membawanya ke dalam pelukan. Sean memahami betul Apa yang dirasakan oleh Luna saat ini, pasti sangat berat berada di posisinya.
"Ge, Kenapa mereka berdua begitu kejam? Apa mereka pikir aku ini adalah boneka ataupun barang yang bisa diperebutkan dengan sesuka hati." Ujar Luna meluapkan semua kemarahannya.
Luna marah dan kecewa pada kedua orang tuanya, Bagaimana bisa mereka berdua memperebutkan dirinya seperti sebuah barang yang tidak berharga?
Ayahnya memang mencoba untuk membelanya, tapi entah kenapa Luna malah merasa muak dengan setiap kata yang keluar dari bibirnya. Dia bersikap seolah-olah sangat menyayanginya ,namun pada kenyataannya dia dan ibunya tidak ada bedanya. Mereka Sama saja.
"Jangan menangis lagi. Untuk sementara waktu sebagainya kau tinggal di rumahku saja. Kau bisa menenangkan diri di sana sampai pikiranmu benar-benar tenang." Ucap Sean.
Luna mengangkat wajahnya dan menatap Sean dengan pandangan menyelidik. "Ge, kau memiliki rumah pribadi? Tapi kapan kau membelinya? Kenapa aku tidak tau," ucap Luna.
"Belum lama ini, baru sekitar satu tahun. Kita pulang dulu ke rumah untuk mengambil barang-barang mu, setelah ini kita langsung pergi ke sana." Ucap Sean dan di balas anggukan oleh Luna. Tanpa berpikir panjang. Luna setuju untuk tinggal di rumah pribadi milik kakaknya tersebut.
.
.
Sean menghentikan mobilnya dihalaman luas sebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai. Rumah itu sangat besar dan memiliki halaman yang luas.
Dalam hatinya, Luna terus bertanya-tanya kenapa banyak sekali orang berpakaian rapi di rumah kakaknya. Sedikitnya ada enam orang yang berjaga di halaman depan dan mereka bersenjata. Persis seperti yang ada di film-film mafia.
__ADS_1
Sean menoleh. "Kenapa?" dan menatap Luna dengan bingung melihat gadis itu yang terus memperhatikan sekelilingnya.
Kemudian dia menoleh dan menatap Sean. "Ge, kenapa banyak sekali orang di rumah ini? Memangnya siapa mereka, dan kenapa mereka bersenjata?" tanya Luna sambil menatap Sean penasaran.
"Orang-orang yang aku pekerjakan supaya menjaga rumah ini. Sudah jangan banyak berpikir, ayo masuk." Sean merangkul bahu Luna dan membawanya masuk ke dalam.
Bukan jawaban itu yang Luna butuhkan, melainkan kejujuran dari pria itu. Entah kenapa Luna berpikir jika Sean menyembunyikan sesuatu darinya, apa itu? Entah, karena dia sendiri tidak tahu. Semoga saja yang Luna pikirkan tidak benar, mungkin benar yang Sean katakan tadi, dia memperkerjakan mereka hanya untuk menjaga rumahnya.
"Ge, aku benar-benar tidak menyangka jika kau memiliki rumah semegah dan semewah ini. Kau membuatku kagum." Ucap Luna setibanya di dalam rumah. Dia benar-benar terkagum-kagum dengan rumah milik Sean yang jauh dari kata sederhana.
"Jangan banyak memuji, sebaiknya aku antar kau ke kemar untuk beristirahat." Ujar Sean. Mereka berdua menaiki sebuah lift untuk menuju lantai dua. Benar-benar kemewahan dalam genggaman, bahkan rumah Sean jauh lebih mewah dan modern dari kediaman Valentino sendiri.
"Ge, ngomong-ngomong kenapa banyak sekali orang di rumah ini? Sebenarnya seberapa banyak bodyguard yang kau pekerjakan untuk berjaga di rumah ini?" Luna menatap Sean penasaran.
"Banyak sekali. Jumlah mereka ratusan, namun hanya sekitar 20 orang yang aku tempatkan di rumah ini." Jawab Sean.
"Ge, jika dipikir-pikir kenapa rumahmu malah mirip sarang mafia daripada disebut sebagai tempat tinggal. Apa jangan-jangan kau masuk dalam organisasi gelap dan berbahaya?!" tuding Luna sambil menatap Sean dengan pandangan menyelidik. Dia sangat-sangat yakin jika ada yang tidak beres dengan kakaknya ini.
Sean menghela napas. "Kau terlalu banyak bicara, Nona Muda. Ini kamarmu, mulai sekarang kamar ini akan menjadi milikmu. Sebaiknya sekarang kau istirahat saja, aku keluar dulu." Sean meletakkan koper milik Luna di samping pintu dan pergi begitu saja.
Luna menutup kembali pintu kamarnya. Gadis itu menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah. Kamar ini memiliki ukuran dua kali lebih besar dari kamarnya di kediaman Williams, banyak barang-barang mewah dan berharga fantastis di kamar ini.
Selain itu, ada walk ini closed, kamar mandi dan ranjang yang sangat besar. Sepertinya Luna akan sangat-sangat betah untuk tinggal di rumah Sean, meskipun dia tidak benar-benar yakin. Dan Luna akui, dibandingkan kedua kakaknya yang lain, Sean jauh lebih misterius dan dia sangat berbeda dengan mereka.
__ADS_1
xxx
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahu Mama dan papa jika kau akan datang malam ini." Ailee mengakhiri panggilan telfonnya begitu saja.
Dengan hati berbunga-bunga. Ailee menghampiri Ibunya yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. Dia ingin menyampaikan sebuah kabar gembira padanya. "Ma," panggil Ailee dan mengalihkan perhatian Viona. Wanita itu menoleh dan menatap putrinya itu penuh tanya.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat bahagia? Cepat beri tahu, Mama," pinta Viona.
Tidak bisanya dia melihat Ailee sebahagia itu. Alih-alih menjawab, Ailee malah tersenyum malu-malu, membuat Viona semakin bingung. Mungkinkah putrinya tersebut sedang jatuh cinta atau....
"Aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian berdua. Dia kekasihku dan ingin serius denganku, makanya dia ingin dipertemukan langsung denganmu dan juga Papa." Ujarnya.
Viona memicingkan matanya. "Kau sudah punya kekasih?" Ailee mengangguk. "Kenapa kau tidak pernah memberitahu Mama sebelumnya? Memangnya sudah berapa lama kau dan dia berhubungan? Apa dia benar-benar serius padamu dan tidak sekedar mempermainkan dirimu?" Ailee di berondong beberapa pertanyaan oleh Viona.
Dia tidak ingin jika putrinya itu sampai salah memilih pasangan yang nantinya malah akan membuatnya sakit hati dan terluka, itulah kenapa Viona ingin tahu tentang kekasih Ailee.
Bukan maksud Viona ingin ikut campur dengan masalah percintaan putrinya. Hanya saja dia ingin tahu apakah orang itu benar-benar serius dengan Ailee atau hanya ingin bermain-main sana.
"Tentu saja, Ma. Makanya dia ingin dipertemukan denganmu dan Papa, karena kekasihku itu benar-benar serius dan tulus padaku." Ujar Ailee.
Viona mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Kau boleh membawanya kemari dan kenalkan dia dengan kami. Tapi Mama tidak bisa menjamin, apakah Papamu akan memberikan Restu atau tidak, kita lihat saja itikad baiknya jika dia benar-benar ingin serius denganmu." Ujar Viona dan di balas anggukan oleh Ailee.
"Aku mengerti, Ma. Kalau begitu aku akan segera menghubunginya, dan memintanya untuk datang." Ucap Ailee lalu beranjak dan meninggalkan Viona begitu saja.
__ADS_1
xxx
Bersambung