
Kevin terbangun di pagi hari. Ia melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya, masih setengah enam pagi. Lalu pandangannya bergulir kesamping kanannya. Tempat itu sudah kosong, dan ketika Kevin menyentuhnya terasa dingin yang artinya Viona sudah bangun sejak tadi.
"Tumben sekali dia bisa bangun sepagi ini?" gumam Kevin kebingungan. Karena tidak biasanya dia bangun sepagi ini.
Tiba-tiba Kevin mendengar suara aneh dari arah dapur. Dia memicingkan matanya. Apakah suara malling? Rasanya tidak mungkin, karena keamanan Villa ini sangat terjaga.
Lantas, suara bising apa itu? Apakah Viona membuat sarapan untuknya, layaknya seorang istri pada umumnya? Sepertinya lebih tidak mungkin lagi mengingat jika wanita itu sangat payah dalam urusan memasak.
Karena tak dapat membendung rasa penasarannya, akhirnya Kevin keluar kamar dan menemukan Viona berada di dapur sedang memasak telur mata sapi dengan susah payah.
Mata kanan pria tersebut dapat melihat beberapa telur gosong bertumpuk diatas piring samping kompor. Ia dapat menyimpulkan bahwa Viona sudah beberapa kali gagal dan terus mencoba memasaknya lagi, tapi gagal dan gagal.
"Yakk!!! … Kenapa gosong lagi?" keluh Viona terdengar sampai telinga Kevin.
Sepertinya wanita itu belum menyadari kehadiran Kevin di belakangnya. Dia terlalu sibuk dengan telor-telornya. Kemudian Kevin menghampiri Viona.
"Apinya terlalu besar." Viona nyaris melompat saling kagetnya saat tiba-tiba terdengar suara di belakangnya.
Ia menoleh ke belakang dan mendapat Kevin menghampirinya. Dia memasang wajah datar seraya terus melangkahkan kakinya. Dia masih memakai kemeja putih tanpa lengan dan celana hitam yang ia pakai saat tidur semalam.
"Eh? Iya kah?" Viona mengecilkan api pada kompornya dan mulai mencoba memasak lagi. Kevin mendengus kemudian mengambil tempat di samping Viona.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kevin memastikan.
"Menyiapkan sarapan. Seperti kebanyakan istri di luaran sana, aku juga ingin melayani suamiku dengan baik, salah satunya adalah menyiapkan sarapan. Tapi hasilnya malah mengecewakan." ujar Viona.
Sebenarnya Viona memang sangat payah dalam urusan memasak. Saat masih menjadi istri Aldo, semua makanan yang disiapkan setiap harinya adalah hasil dari dia memesan dari luar. Viona tidak mau ribet dan terlihat tidak berguna di depan Ibu mertua dan adik iparnya, dia tidak mau diremehkan oleh mereka berdua.
__ADS_1
"Tidak perlu dipaksakan. Sebaiknya kita sarapan di luar saja , cepat siap-siap aku tunggu kau disini." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
Sarapan di rumah juga tidak mungkin. Semua telor mata sapi yang coba dia masak malah gosong semua. Viona tidak ingin meracuni Kevin maupun dirinya sendiri. Dan sarapan diluar adalah solusi terbaik untuk mereka berdua.
.
.
Kevin menghentikan langkahnya saat dia menyadari seseorang sedang mengikutinya dan Viona. Kevin menoleh kebelakang dan tidak melihat siapapun, Viona menatap Kevin dengan bingung.
"Paman, ada apa?" tanya Viona kebingungan. Dia ikut menoleh kebelakang namun tidak melihat apa-apa selain orang berlalu lalang.
"Sepertinya ada yang mengikuti kita." Jawab Kevin.
"Mengikuti kita? Tapi aku tidak melihat siapa-siapa," ujar Viona.
Insting Kevin sangat kuat. Dia sangat yakin jika ada yang mengikutinya. Meskipun tidak menemukan siapa-siapa, tapi tetap saja dia harus waspada demi keselamatannya dan juga Viona.
xxx
Cintia tidak bisa menahan kekesalannya. Dia benar-benar diusir keluar dari kediaman Zhang. Rico yang hanya seorang anak buah begitu berani padanya, dia adalah orang yang mengusirnya keluar dari kediaman Kevin.
Wanita itu menendang apapun yang ada di depannya. Kemarahan terlihat jelas dari raut wajahnya. Cintia tidak memiliki tujuan , dan dia bingung harus tinggal di mana setelah ini.
"Nona, taksi?" tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan Cintia. "Naiklah, aku akan mengantarmu kemana pun." Ucap sopir taksi itu menambahkan.
Tanpa banyak berpikir. Cintia masuk ke dalam taksi itu. Sepertinya Dia tidak memiliki pilihan lain selain pergi ke tempat tinggal lamanya. Cintia hanya bisa berdoa semoga neneknya mau menerimanya kembali setelah dia membuat sebuah kesalahan yang sangat besar dan fatal.
__ADS_1
"Nona, kau ingin pergi ke mana?" tanya sopir taksi itu.
"Gangnam." Wanita itu menjawab singkat.
Sopir taksi itu memperhatikan penampilan Cintia dan tersenyum miring. Jawaban singkat wanita itu membuat dia berpikir jika Cintia adalah orang yang berasal dari keluarga kaya raya. Tempat tinggalnya ,penampilannya tidak kaleng-kaleng. Dia berpikir jika wanita itu memiliki banyak uang.
"Baik, Nona."
.
.
Taksi itu berhenti di tengah jalan. Koper Cintia di lemparkan dengan marah oleh sopir taksi tersebut. Membuat wanita itu kesal dan marah. Dia benar-benar tidak terima dengan perlakuan buruk sopir taksi tersebut.
"Yakk!! Apa-apaan kau ini? kenapa barang-barang ku dilempar-lempar?!" teriak Cintia dengan marah.
"Dasar wanita miskin, udah tahu tidak punya uang tapi masih berani nekat naik taksi. gara-gara dirimu aku mengalami rugi besar. Aku rugi waktu dan juga bensin. Tahu begitu aku tidak sudi memberimu tumpangan."
"Memangnya siapa yang minta untuk kau beri tumpangan?! bukannya kau sendiri yang tiba-tiba berhenti dan menawariku untuk naik, jadi jangan salahkan aku tapi salahkan dirimu sendiri!!" ucap Cintia tak mau kalah.
"Dasar miskin tapi sok kaya. Merepotkan saja." Sopir taksi itu pun kemudian membawa taksinya pergi dan meninggalkan Cintia begitu saja. bahkan dia tidak peduli meskipun telah meninggalkan seorang wanita sendiri yang di tempat yang sepi.
"Sopir taksi sialan. Aku pasti akan membunuhmu jika kita bertemu lagi!!" teriak Cintia sambil melemparkan sepatunya kearah taksi tersebut yang semakin menjauh.
Cintia benar-benar tidak habis pikir dengan nasibnya. Bagaimana bisa dia begitu sial. Terusir dari kediaman Kevin dan sekarang malah terlunta-lunta di jalan. Dewi Fortuna benar-benar tidak pernah berpihak padanya. mungkin saja itu adalah karma yang harus dia terima karena pernah meninggalkan Kevin di masa lalu.
xxx
__ADS_1
Bersambung