Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kau Merindukannya?


__ADS_3

Brakkk ..


"PAMAN, BANGUN!!"


Dobrakan keras pada pintu dibarengi dengan teriakan nyaring mengejutkan Kevin yang masih tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Dengan malas dia membuka mata kanannya dan mendapati Viona memasuki kamarnya.


Pria itu menghela nafas. "Viona, apa-apaan kau ini? Ini masih pagi kenapa harus berteriak dan mengejutkan orang?" keluh Kevin tanpa beranjak sedikitpun dari posisinya saat ini.


Kevin merubah posisinya menjadi terlentang, membuat Viona menjadi lebih leluasa untuk naik keatas tubuhnya. "Viona, apa yang kau lakukan? Cepat turun," pinta Kevin menuntut.


Viona menggeleng. "Aku tidak akan turun sebelum Paman benar-benar bangun. Jangan bilang jika Paman lupa kalau hari ini kita akan pergi ke Jeju Island, paman sudah berjanji!!"


Kevin menghela nafas. "Astaga, Viona. Ini masih jam berapa, masih terlalu pagi untuk kita berangkat ke sana," ucapnya sambil mengunci manik Hazel milik Viona.


"Aku tahu!! Tapi bukankah Paman juga harus berkemas? Karena paling tidak kita di sana selama tiga hari," ucap Viona mengingatkan.


Kevin menghela napas. "Buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik apa yang ada di samping tempat tidur," pinta Kevin dengan suara rendah namun penuh penekanan.


Viona menoleh dan matanya sedikit membelalak. Wanita itu tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehehe, maaf Paman. Aku pikir Paman belum berkemas makanya aku membantumu untuk bangun lebih awal," terang Viona menjelaskan.


Kevin mendengus. Melihat perubahan ekspresi Viona yang begitu cepat membuatnya geli sendiri. Dan perlu digarisbawahi bahwa tidak semua orang bisa sebabas Viona berteriak serta asap naik keatas tubuhnya, karena jika orang lain yang melakukannya pasti akan lain ceritanya.


Tatapan Viona tiba-tiba berubah sendu. "Paman," panggil wanita itu dengan suara lirih dan dalam.

__ADS_1


"Hn,"


Jari-jari Viona menyentuh mata kiri Kevin yang terpejam itu. Dia tak bisa merasakan adanya bola mata pada netra kirinya, ada bekas luka jahitan yang terlihat jelas. "Ini," gumamnya pelan dan lirih. "Bagaimana bisa jadi begini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Viona penasaran.


Kevin melepaskan genggamannya pada jari jemari lentik Viona seraya membantunya untuk turun dari atas tubuhnya. Tatapannya terkunci pada manik Hazel itu. Tatapannya dingin dan datar.


"Aku mandi dulu, kembalilah ke kamarmu untuk bersiap-siap," pinta Kevin lalu beranjak dari tempat tidurnya dan melenggang pergi menuju kamar mandi, meninggalkan Viona sendirian.


Viona menoleh dan menatap punggung Kevin yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sepertinya dia berusaha menghindar ketika Viona bertanya perihal apa yang terjadi pada mata kirinya, mungkin karena Kevin tidak ingin mengingat kembali salah satu peristiwa menyakitkan tersebut.


.


.


Bunga itu adalah peninggalan mendiang ibunya, semasa hidupnya Ibu Viona sangat menyukai bunga terutama mawar. Semua jenis mawar ada di sana, satunya adalah purple rose yang terkenal langkah dan berharga fantastis.


Melihat mawar-mawar itu, membuat Viona teringat pada ibunya, seketika rasa rindu menyeruak dan memenuhi ruang kosong di hatinya. Ya, Viona sangat-sangat merindukannya. Rindu yang begitu besar dan sulit untuk ia tahan.


"Ma, aku kangen," lirihnya berbisik.


Sebesar apapun rindu yang Viona rasakan padanya, semua itu tidak ada gunanya, karena sampai kapanpun ia tetap tidak bisa memeluknya.


Viona tersenyum pilu, dia tidak tahu kenapa Tuhan bisa begitu kejam padanya. Dia rela jika harus kehilangan ayahnya, tetapi Viona tidak pernah siap jika harus kehilangan ibunya.

__ADS_1


"Viona," tepukan lembut pada bahunya mengalihkan perhatian Viona, iya lantas menolak dan mendapati Kevin berdiri di belakangnya. Buru-buru Viona menghapus air matanya yang terlanjur jatuh membasahi pipinya. "Kau menangis?" tanya Kevin melihat kedua mata Viona yang tampak memerah.


Wanita itu menggeleng. "Tidak, aku tidak menangis. Aku hanya sedikit kelilipan saja. Paman, sudah siap?" tanya Viona, dia memaksakan diri untuk tersenyum. Kevin mengangguk. "Ayo sarapan," ucap Viona ditengah langkahnya.


Viona hendak beranjak dari hadapan Kevin, cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. Mata Viona sedikit membelalak saat merasakan dekapan hangat pada tubuhnya.


"Bodoh, jika memang ingin menangis, menangis saja tidak perlu ditahan. Kau pikir bisa membohongi, Paman?" bisik Kevin sambil mengeratkan pelukannya.


Isakan terdengar dari sela-sela bibir Viona, tangis yang sedari tadi dia tahan akhirnya Viona tumpahkan dalam pelukan Kevin. Dan tanpa ada penjelasan dari Viona, tentu saja Kevin sudah tahu alasan perempuan itu menangis.


"Jika kau merindukannya, setelah sarapan ini kita pergi ke sana,"


"Lalu bagaimana dengan rencana kita untuk berlibur ke Jeju Island?" Viona mengangkat kepalanya dari dekapan Kevin, menatapnya dengan penuh tanya.


"Tentu saja jadi, kita bisa berangkat agak siangan. Bukankah kau ingin melihat Canola," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.


Kemudian Kevin melepaskan pelukannya, jari-jarinya menghapus sisa air mata di pipi Viona. "Ayo sarapan, setelah ini siap-siap kita kunjungi Kakak," lagi-lagi Viona menganggukkan kepala. Kevin merangkul Viona, keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar wanita itu.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2