Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Bagaimana Aku Bisa Hiidup


__ADS_3

"Paman, sampai kapan kau akan mendiami ku seperti ini?" rengek Viona sambil menggoyangkan pengan Kevin.


Setibanya di rumah, sikap Kevin padanya berupa 180°. Kevin tidak lagi bersikap hangat dan karena kelembutan seperti ketika dirinya di rumah sakit membuat Viona kebingungan setengah mati.


Kevin berbalik badan, posisinya dan Viona saling berhadapan. "Sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin Paman ingin membuat perhitungan denganmu." Ucapnya dengan nada dingin.


Viona menatap Kevin dengan bingung. "Perhitungan apa? Memangnya kesalahan apa yang telah aku perbuat sampai-sampai Paman ingin membuat perhitungan denganku?" tanya Viona, dia membutuhkan penjelasan dari Kevin.


"Malam itu, memangnya siapa yang mengijinkanmu tiba-tiba muncul di tengah perkelahian dan menjadi tameng untukku? Bukankah aku sudah memintamu tetap di dalam rumah apapun yang terjadi, tapi kenapa kau sangat keras kepala dan tetap nekat keluar?" Kevin memberondong Viona dengan beberapa pertanyaan secara bertubi-tubi.


Kevin menggelengkan kepala. "Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu, Vi. Sebenarnya apa yang kau pikirkan malam itu? Bagaimana jika keadaanmu jauh lebih buruk? Bagaimana jika tembakan itu malah berakibat fatal pada keselamatanmu? Apa kau tau jika aku hampir gila membayangkan hal buruk benar-benar menimpa dirimu? Rasanya nyawaku seperti tertarik keluar saat melihatmu berlumuran darahh," ujar Kevin panjang lebar.


Viona menatap Kevin tepat Dimata kanannya. "Lalu apakah aku masih bisa baik-baik saja jika hal buruk sampai menimpa Paman? Bagaimana aku harus menjalani hidupku tanpa ada Paman di sisiku? Aku tidak memiliki keluarga lagi selain Paman, jadi mana bisa aku diam saja ketika melihat Paman berada dalam bahaya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika Paman tidak ada, aku benar-benar tidak sanggup jika hidup tanpamu di sisiku." Tutur Viona tanpa melepaskan tatapannya dari Kevin.


Kevin menghela napas. Dia menarik bahu Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Berjanjilah jika itu yang pertama dan terakhir kalinya kau melakukan kegilaan seperti itu , Viona. Sekali lagi kau melakukannya, Paman benar-benar tidak bisa memaafkanmu." Ucap Kevin dengan suara lirih.


"Maaf Paman, tapi aku tidak bisa berjanji." Viona menggelengkan kepala. "Jika suatu hari Paman pergi lebih dulu dariku, maka aku akan ikut pergi bersama Paman. Aku tidak mau ditinggal sendirian," lirih Viona sambil mencengkram pakaian yang Kevin kenakan.


"Bodoh!!" bisik Kevin sambil menutup matanya. "Lalu apakah kau pikir aku juga bisa hidup jika kau tidak ada, aku lebih rela kehilangan segalanya dibandingkan harus kehilanganmu." Ujarnya menambahkan.


Hati mereka saling terikat, perasaan mereka menyatu. Tapi sayangnya baik Kevin maupun Viona, mereka sama-sama tidak menyadari apa yang mereka rasakan sebenarnya. Jika tanpa sadar, mereka telah saling jatuh cinta.

__ADS_1


Kevin melepaskan pelukannya lalu menghapus jejak air mata yang mengalir di pipinya. "Jangan menangis lagi, kau terlihat sangat jelek." Ucap Kevin sambil menarik sudut bibirnya.


Viona menekuk mukanya dan memukul pelan dada Kevin karena kesal. "Dasar menyebalkan, tadi mendiamiku dan sekarang malah meledekku. Sudahlah aku tidak mau bicara dengan Paman. Paman sangat menyebalkan!!" ucapnya lalu berbalik badan.


"Sudah jangan merajuk lagi. Paman antar kau ke kamar untuk istirahat." Ucap Kevin kemudian memeluk punggung Viona dan membawanya untuk beristirahat di kamarnya, tidak asa penolakan dari wanita itu.


.


.


Daniel melangkahkan kakinya memasuki kediaman Zhang. Setelah mendapatkan kabar jika Viona telah keluar dari rumah sakit, buru-buru Daniel mendatangi kediaman Kevin. Sudah beberapa hari ini dia sudah tidak tinggal di kediaman Kevin lagi.


"Jangan ditutup pintunya, ini aku."Seru Daniel ketika sang Security hendak menutup gerbang utama. "Kau masih ingat padaku bukan? Aku sahabatnya Viona. Aku dengar dia sudah keluar dari rumah sakit, apa itu benar?" tanya Daniel memastikan.


Daniel kembali ke mobilnya, kemudian mobil itu melaju memasuki halaman luas kediaman Zhang. Entah Kevin mau menerima kedatangannya atau tidak, yang penting dia sudah memiliki itikad baik untuk menjenguk Viona.


"Halo Bibi, aku datang lagi. Dimana Viona? Katanya dia sudah pulang, ya?" Daniel menghentikan seorang pelayan yang melintas di depannya. Senyum manis yang dia umbar membuat pelayan itu langsung terpanah. "Apa dia ada di kamarnya? Aku akan pergi untuk melihatnya."


"Memangnya siapa yang memberimu ijin untuk masuk ke rumah ini, dan bersikap sesuka hatimu?" seru seseorang dari arah tangga. Terlihat Kevin menuruni tangga dan menghampiri Daniel.


"Paman Kevin," serunya sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Memangnya sejak kapan kau menjadi keponakanku? Jangan seenaknya memanggilku dengan sebutan itu!!" ucapnya dingin.


"Ma..Maaf. Maksud saya, Tuan Zhang. Saya datang untuk menjenguk dan melihat keadaan Viona, bisakah saya bertemu dengannya?" Daniel menatap Kevin penuh harap, dia benar-benar berharap Kevin akan memberinya ijin untuk bertemu dengan Viona.


"Sebaiknya kau pergi, dia baru saja beristirahat. Dan aku peringatkan padamu, kau tidak perlu datang lagi mencarinya karena aku tidak suka kau berteman dengannya!!" ucap kevin menegaskan.


"Kenapa? Memangnya saya salah apa? Bahkan saya tidak membawa pengaruh buruk pada Viona, tapi kenapa anda melarang saya untuk menemaninya? Ini benar-benar tidak adil bagi saya," ucap Daniel, dia melayangkan protesnya pada Kevin karena melarangnya bertemu dengan Viona.


"Aku tidak perlu memberikan alasan apapun padamu. Sebaiknya sekarang kau pergi, dan tidak usah datang lagi kemari." tukas Kevin menuturkan.


Daniel menatap Kevin dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat berharap bisa bertemu dengan Viona meskipun cuma sebentar saja. Kevin menghela napas, lama-lama dia tidak tega juga melihat tatapan memelas Daniel.


"Kembalilah besok pagi, sekarang biarkan dia istirahat. Sebaiknya sekarang kau pulang," ucap Kevin. Akhirnya dia memberi ijin pada Daniel untuk menemui Viona. Kevin tidak tega ketika melihat sorot matanya yang penuh dengan permohonan.


Mendengar jawaban Kevin. Membuat senyum Daniel terkembang lebar. "Terimakasih, Tuan Zhang. Saya tahu Anda orang baik, terimakasih telah memberi ijin pada saya untuk menemui Viona. Baiklah kalau begitu saya pulang dulu," ucap Daniel dan pergi begitu saja. Hatinya berbunga-bunga karena Kevin memberinya ijin untuk bertemu Viona.


Dan jika dipikir-pikir. Kevin seperti seorang ayah yang menentang seorang pemuda untuk berhubungan dengan putrinya. Sedangkan Daniel, seperti seorang kekasih yang berjuang untuk mendapatkan restu dari calon Ayah mertuanya. Benar-benar unik. Daniel meninggalkan kediaman Zhang, dia akan menunggu esok hari untuk bisa bertemu dengan Viona, dan Daniel tidak akan menyia-nyiakan waktu yang dia miliki.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2