
Seorang pria tampan dengan tulang rahang yang tegas dan berambut keperakan sedang mendudukan tubuhnya di sebuah kursi yang berada di sekitar namsan tower. Tubuh tegapnya dalam balutan kemeja hitam dan celana bahan berwarna hitam pula.
Siapa lagi orang itu jika bukan Kevin Dia sedang menemani Viona menikmati pemandangan sore di sekitar Namsan tower. Berbeda dengan Kevin yang sedari tadi hanya memasang muka datar, Viona justru tampak cemberut.
Dia merasa jengah dengan pemandangan yang membuatnya iri. Di sekelilingnya banyak sekali pasangan yang sedang berkencan dan menikmati sore hari di namsan tower yang sangat ramai oleh para pengunjung.
Sedangkan dirinya tidak memiliki pasangan. Meskipun Viona datang dengan Kevin, tetapi bagaimana pun juga dia bukan kekasihnya melainkan Pamannya. Yang sudah pasti mereka tidak bisa mesra seperti pasangan-pasangan itu.
"Tuhan benar-benar tidak adil kepadaku. Mengapa orang lain diberikan pasangan yang setia, sementara aku tidak. Mereka mendapatkan pasangan yang pengertian, sedangkan aku mendapatkan pasangan yang sangat menyebalkan. Mereka berakhir bahagia dengan pasangannya, sedangkan aku malah berkahir menjada. Mengapa nasibku seperti ini?" keluh Viona menyampaikan uneg-unegnya.
"Mungkin karena Tuhan memiliki rencana yang sangat indah untukmu," sahut Kevin menimpali
Viona menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, dan tidak adil kepadaku. Aku sangat berharap Tuhan akan memberikan aku seorang malaikat yang bisa menemani hari-hariku, menjagaku dan mencintaiku dengan sepenuh hati..." Viona menghembuskan nafasnya kasar, lalu menyenderkan punggungnya dan memejamkan matanya.
"Memangnya orang seperti apa yang kau harapkan?" tanya Kevin dengan pandangan lurus ke depan.
"Tidak muluk-muluk. Yang penting dia setia dan pengertian, serta penuh kasih sayang. Meskipun Sebenarnya aku masih trauma dengan kegagalanku pada masa lalu, tetapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika diriku juga membutuhkan seseorang sebagai sandaran." Ujar Viona.
"Bukankah kau masih memilikiku? Kau juga bisa menjadikanku sebagai sandaran, aku pasti akan selalu menjaga dan melindungimu." Ucap Kevin sambil mengunci manik Hazel milik Viona.
Viona menundukkan kepala. "tetapi ini berbeda Paman, aku tahu kau pasti bisa menjagaku tetapi suatu hari nanti pasti dirimu akan meninggalkanku dan hidup dengan pasanganmu. Setidaknya aku sudah memiliki seseorang yang bisa untuk aku andalkan sebelum diriku benar-benar kehilanganmu," Tutur Viona.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba suaranya terdengar serak dan Parau seperti menahan tangis. Viona benar-benar tidak bisa membayangkan Bagaimana hidupnya nanti tanpa Kevin di sampingnya. Mungkinkah dia sanggup sementara Viona sudah terbiasa dengan kehadirannya.
Kevin menepuk kepala Viona. "Berpikirmu terlalu jauh, Viona. Bukankah sudah Paman katakan sebelumnya, jika tidak ada lebih penting di dunia ini daripada dirimu, dan kau adalah prioritas utama Paman." ujar Kevin.
Viona menyandarkan kepalanya pada bahu Kevin sambil memeluk lengannya. Wanita itu menutup matanya rapat-rapat. "Aku menyayangi, Paman. Dan aku ingin selalu hidup dengan, Paman. Aku juga tidak ingin berpisah dari Paman, apa pun yang terjadi." Ujar Viona, suaranya terdengar serak dan parau.
__ADS_1
"Bodoh, memangnya siapa yang ingin meninggalkanmu?" ucap Kevin. "Bahkan Paman rela tidak menikah, asalkan bisa terus berada di sisimu. Karena Paman yakin, pada hari tua nanti masih ada dirimu yang bisa menjaga dan merawatku meskipun tidak memiliki istri dan anak." tuturnya.
"Ya, bahkan aku rela terus-terusan hidup sendiri tanpa pasangan asalkan tidak kehilangan, Paman." Kata Viona menimpali.
Kevin menarik lengannya yang dipeluk oleh Viona lalu melingkarkan pada bahu wanita itu, dan memeluknya dengan hangat. "Kita akan selalu bersama dan tidak akan pernah terpisah," Kevin berbisik pelan.
Viona mengangkat wajahnya dari pelukan Kevin. Matanya terkunci pada mata pria itu. Jari-jari lentik Viona mengusap sisi wajah Kevin , perlahan tetapi pasti wanita itu mengarahkan bibirnya pada bibir Kevin lalu mengecupnya singkat.
"Aku mengambilnya terlebih dahulu, supaya nanti tidak ada yang bisa mengharapkannya." Ucap Viona lalu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Kevin menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Viona dan tersenyum tipis, itu bukan ciuman pertamanya karena Viona sudah pernah mencium dia sebelumnya saat mereka berlibur ke Jeju island.
"Viona, tunggu Paman!!"
xxx
Tidak hanya satu atau dua orang saja yang bermusuhan dengannya, tetapi puluhan bahkan ratusan. Karena musuhnya tersebar di berbagai penjuru di dunia ini.
Mati satu tumbuh seribu, sebuah peribahasa yang paling tepat menggambarkan kehidupan Kevin sebagai seorang bos mafia.
Karena satu kematian musuhnya, akan melahirkan musuh-musuh yang lain yang mungkin jauh lebih kuat dan berbahaya, dan hal itu sudah menjadi hukum alam jika banyak orang yang mengharapkan kematiannya. tetapi bukan berarti Kevin tidak memiliki sekutu, tentu saja dia memilikinya.
"Paman, ada apa?" Viona menatap Kevin dengan bingung. Asalnya pria itu tiba-tiba menambah kecepatan pada mobilnya, tak jarang Kevin melihat ke belakang melalui spion depan.
"Sepertinya kita diikuti." Jawab Kevin menimpali.
"Apa, diikuti?" Viona mengulangi kata-kata Kevin.
__ADS_1
Pria menganggukkan kepala. Kemudian Viona menoleh ke belakang, dan dia melihat dua sedan hitam melaju tepat di belakang mobil Kevin. Sedikitnya ada delapan orang di dalam dua mobil itu, dan sepertinya mereka juga bersenjata.
"Apa Paman mengenal mereka?" tanya Viona memastikan.
Kevin menggeleng. "Tidak, tetapi sepertinya mereka adalah musuh lama. Melihat stiker pada kedua mobil itu membuatku sangat yakin jika dia telah kembali." Jawab Kevin.
"Dia?" Viona memicingkan matanya, dan menatap Kevin penasaran. "Siapa?"
"Salah satu dari kelima musuh besarku. Selama ini dia berada di luar negeri, dia adalah sekutu dari Jimmy. Mungkin saja kematiannya sudah sampai ke telinganya dan dia berpikir kematian Jimmy ada hubungannya denganku, karena selama ini hanya aku yang berseteru dengannya." Jelas Kevin.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Membiarkan mereka terus mengejar kita atau~"
"Tentu saja memberikan sambutan untuk mereka semua. Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan pada orang-orang tidak berguna itu." ujar Kevin dengan santainya.
Melihat sikap tenang Kevin membuat Viona yakin jika pria itu sudah memiliki rencana untuk mengatasi orang-orang yang mengejar mereka. Dan Viona tidak tahu apa rencananya, tetapi yang jelas rencana Kevin pasti sudah matang dan terperinci.
Kevin meninggalkan jalur utama dan mengambil jalur lain. Mobil itu mengarah ke pegunungan yang terletak di bagian barat kota Seoul. Dan tentu saja Viona mengetahui jalur yang diambil oleh Kevin, sepertinya Kevin berencana menghabisi mereka tanpa jejak.
Kedua sedan hitam itu terus melaju mengikuti ke mana Kevin melajukan mobilnya. Sepertinya mereka belum menyadari jika Kevin memiliki sebuah rencana untuk menghabisi mereka semua, bisa saja Kevin menghabisi orang-orang itu dengan cara berkelahi, tetapi dia sedang malas berkelahi.
Akhirnya Kevin memilih untuk mengambil jalan pintas. Yakni menggiring mereka menuju jurang kematian. Dengan begitu Kevin bisa bermain dengan bersih tanpa harus mengotori kedua tangannya dengan darah mereka semua.
.
.
Bersambung
__ADS_1