
Kevin mengurungkan niatnya untuk memejamkan matanya saat mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari luar. Penasaran Apa yang terjadi, Kevin pun segera turun dari tempat tidurnya dan melenggang keluar meninggalkan kamarnya.
"Paman, ada apa?" seru Viona dan menghentikan langkah Kevin.
Kevin menggeleng. "Paman, juga tidak tahu. Sebaiknya kau istirahat saja, Paman keluar dulu untuk melihatnya," ucapnya.
"Paman, tunggu. Aku juga ingin tahu ada apa," seru Viona sambil buru-buru turun dari tempat tidur untuk mengejar Kevin.
Kevin tidak bisa melarang wanita itu untuk ikut, karena dilarang pun percuma saja, Viona pasti ngotot untuk ikut keluar. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar, dari lantai dua Villa, Kevin melihat tiga orang sedang ribut dimeja makan. Dia mengenali dua diantaranya, tapi Kevin tidak dengan pemuda pembuat onar tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" pertanyaan itu mengejutkan mereka bertiga.
Pria paruh baya itu menghampiri Kevin lalu membungkuk di depannya. "Tuan Muda, saya benar-benar minta maaf atas kelakuannya. Tanpa ijin dari Anda dia memakan makan malam yang kami siapkan untuk Anda berdua," ucap pria itu memberi penjelasan.
"Memangnya kenapa jika aku memakannya? Kau tidak terima?" Doori membanting sendok dan garpunya lalu bangkit dari kursinya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau cari mati, ya? Atau kau ingin aku buat mata kananmu bernasib seperti mata kirimu itu?! Jangan mentang-mentang kau Tuan Muda disini, maka kau bisa bersikap seenaknya, sebaiknya kau jangan banyak berulah atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!!" bentak Doori memberikan ancaman.
"Doori, jaga bicaramu!!" bentak pria paruh baya itu dengan emosi. Putranya benar-benar sudah keterlaluan.
"Sebaiknya Papa diam, jangan ikut campur. Oh iya, kau adalah seorang Tuan Muda kan? Dan seorang Tuan Muda pasti memiliki banyak uang, jadi cepat berikan uang padaku sekarang juga!!" pinta Doori menuntut.
Sejauh ini Kevin belum bereaksi sama sekali, dia membiarkan Doori terus mengoceh tidak jelas di depannya, sedangkan Viona mulai terpancing emosi melihat sikap Arogan dan kurang ajar pria di depannya tersebut.
"Tuan Muda, sebaiknya Anda turuti saja permintaannya, dia bisa membahayakan diri Anda jika keinginannya tidak dituruti," ujar Sabrina mati-matian membela putranya.
Tio menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa wanita itu meminta uang secara terang-terangan kepada Kevin, apa dia masih waras?
__ADS_1
"Sabrina, apa-apaan kau ini? Bisa-bisanya kau menyarankan pada Tuan Muda supaya memberi uang pada anakmu yang kurang ajar itu!! Tuan Muda tolong jangan didengarkan, dan saya benar-benar minta maaf karena tidak bisa mengatur mereka berdua," ucap Tio penuh Sesal.
Kevin mengangkat tangannya dan memberi kode pada Tio untuk tidak bicara lagi. Kemudian dia mendekati Doori yang sedang menatapnya dengan angkuh. Kevin menyentuh bahu Doori dan menatapnya dengan penuh intimidasi.
"Memangnya berapa yang kau perlukan?" tanya Kevin dengan tatapan dingin dan datar.
Entah kenapa Doori tiba-tiba merasa sekujur tubuhnya membeku melihat tatapan dingin Kevin yang penuh intimidasi, sorot matanya tajam dan berbahaya membuatnya sampai menelan ludah. Doori juga merasakan aura suram menyelimuti pria itu.
"A...Aku~" Doori berkata dengan terbata-bata. Dia benar-benar tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. "Lupakan saja, anggap kau beruntung karena aku berubah pikiran." Dia beranjak dari hadapan Kevin dan pergi begitu saja.
Pandangan Kevin bergulir pada Sabrina yang hanya menundukkan kepala, dia tidak berani lagi mengangkat kepalanya setelah menyarankan Kevin agar memberi uang pada Doori.
"Segera bereskan semua makanan-makanan ini, dan masak makanan baru untuk kami," pintanya menuntut.
Sontak Sabrina mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. "Tuan Muda apa anda bercanda? Ini sudah malam, bagaimana mungkin saya memasak makanan yang baru untuk Anda berdua?"
"Ba..Baik, Tuan Muda." Dia pun tidak memiliki pilihan selain menuruti perintah Kevin. Sabrina tidak ingin jika pitra kesayangannya sampai berakhir dipenjara.
Viona bergidik ngeri melihat perubahan ekspresi wajah Kevin. Dia tidak ingat sejak kapan Pamannya berubah menjadi orang yang mengerikan, dan hanya dengan melihat seringai tajam serta tatapannya dinginnya, orang-orang pasti langsung tau jika Kevin adalah orang yang berbahaya. Tapi Viona tidak peduli, karena yang dia tahu Kevin adalah Pamannya yang sangat menyayanginya.
"Ada apa? Kenapa kau menatap Paman seperti itu?" tanya Kevin, dia memicingkan matanya melihat tatapan Viona.
Wanita itu menggeleng. "Tidak ada, hanya saja aku merasa heran dengan Paman. Kenapa sekarang Paman menjadi sangat mengerikan, bagaimana caranya Paman bisa mengintimidasi orang-orang menyebalkan seperti mereka?" tanya Viona penasaran.
"Omong kosong Apa yang kau tak katakan? Memangnya siapa yang mengintimidasi mereka? Sebaiknya kita kembali ke kamar sambil menunggu makan malam selesai dibuat," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh F
__ADS_1
Viona.
Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.
.
.
Doori mendatangi teman-temannya di tempat mereka biasa berkumpul, dia ingin meminta bantuan pada mereka untuk memberi pelajaran pada Kevin, rupanya dia menyimpan dendam pada pria itu dia lakukan tadi.
"Hey kawan, ada apa denganmu mukamu itu? Kenapa kusut seperti pakaian yang belum disetrika?" tanya salah seorang teman Doori.
Bantu aku memberi pelajaran pada seseorang, orang itu adalah pemilik Villa dan dia sangat menyebalkan. Tapi dia kaya raya, dari ujung rambut sampai ujung kaki, semua barang-barang yang melekat di tubuhnya semuanya barang mahal dan memiliki nilai jual."
"Selain itu dia juga memiliki keponakan yang sangat cantik, kita bisa menang banyak setelah menghabisinya. Semua miliknya akan menjadi milikku, dan kalian bisa menikmatinya juga," tutur Doori panjang lebar.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Sebaiknya kita pergi sekarang, kita rampokk dia lalu buang mayatnya untuk menghilangkan barang bukti, dan keponakannya yang cantik itu bisa kita nikmati sama-sama," ujar salah seorang teman Doori dengan begitu bersemangat.
"Ayo ke Villa." ucap Doori lalu beranjak dari hadapan teman-temannya.
"Kita pasti akan berpesta malam ini." Sahut teman Doori yang lainnya.
Doori menyeringai. Dia sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana reaksi Kevin saat melihatnya datang bersama teman-temannya , dia tadi boleh bersikap sombong dan sok berkuasa. Dan setelah ini dia pasti akan memohon sambil menangis supaya dirinya tidak diapa-apakan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.