Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kembali Ke China


__ADS_3

"Kakek, kau yakin akan kembali ke China hari ini juga? Kenapa buru-buru sekali? Padahal kita baru saja bertemu dan berkumpul. Apa kepulangan mu tidak bisa di tunda saja , ya?" ucap Frans sambil bergelayut manja di lengan Tuan Lu.


Tuan Lu mengusap lengan Frans dengan lembut."Ada beberapa hal yang harus Kakek urus di sana. Secepatnya Kakek akan kembali ke sini dan menjemput kalian berdua. Kakek akan memperkenalkan kalian berdua sebagai pewaris dari seluruh kekayaan keluarga Qin kita." Ujar Tuan Lu.


Frans menggeleng. "Tapi aku tidak kau jadi pewaris apalagi mewarisi Perusahaan Kakek, aku lebih suka dengan hidup yang aku jalani saat ini. Aku menyukai kebebasan bukan hidup tekanan."


Pandangan Tuan Lu bergulir pada Kevin. hanya dia satu-satunya harapan yang dia miliki. "Jangan mengharapkan apapun dariku. Jika aku bergabung dan menjadi penerus dari perusahaanmu, Lalu siapa yang akan mengelola Zhang Empire?" ucap Kevin seolah-olah dia mengerti arti tatapan Kakeknya.


Kevin tidak mungkin meninggalkan sang Empire begitu saja hanya demi mewarisi kekayaan Kakeknya, dan menjadi penerus keluarga Qin. Kevin tidak mungkin membiarkan perusahaan yang telah dibangun oleh ayah angkatnya dengan susah payah hancur begitu saja, karena karena tidak memiliki seorang pemimpin.


Tuan Lu menepuk bahu Kevin. "Kau benar sekali, memang tidak seharusnya kalau meninggalkan perusahaan peninggalan keluarga angkatmu begitu saja. Kakek, bisa mengerti dan memahaminya. Dan sekarang Kakek sudah tahu harus bagaimana mana. Namun jangan menolak ketika Kakek menjemput kalian ke China. Kakek, ingin semua orang tahu siapa kalian berdua."


"Namun Kakek tetap menaruh harapan besar padamu, Frans. Jika suatu hari nanti kau berubah pikiran dan ingin mengelola perusahaan milik keluarga kita, maka Kakek akan menyambutmu dengan tangan terbuka. Karena bagaimana pun juga, kalian berdua yang lebih pantas untuk mewarisi bisnis keluarga Qin kita dibandingkan orang lain." Tutur Tuan Lu panjang lebar.


Untuk sementara, masih ada Hwan yang bisa memimpin perusahaanya dengan baik. Dia juga kandidat yang sangat tepat, apalagi dia adalah orang yang sangat gigih dan pekerja keras. Dan Tuan Lu tidak mungkin salah menilai orang.


"Pesawat Kakek akan lepas landas satu jam lagi. Jika tidak pergi sekarang, Kakek bisa terlambat," Ucap Viona menengahi obrolan cucu dan kakek tersebut.


Kevin mengangguk. "Aku dan Frans akan mengantarnya ke bandara. Kau baik-baik di rumah , kami akan segera kembali." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.


"Kalian hati-hati. Kakek, jika sudah tiba segera hubungi kami. Jangan membuat kami menunggu kabar darimu dengan cemas," Pinta Viona.


"Pasti itu, Sayang. Baiklah, Kakek pergi dulu." Keduanya berpelukan sesaat sebelum Tuan Lu masuk ke dalam mobil yang di kemudian oleh Kevin. Viona melambaikan tangannya ketika sedan mewah itu mulai melaju meninggalkan halaman depan Villa.


Seketika suasana menjadi sangat sepi. Viona masuk ke dalam. Lebih baik menyibukkan diri dengan melihat drama China favoritnya dari pada bosan karena menunggu kepulangan Kevin dan Frans yang masih belum tentu. Karena mereka baru saja berangkat.


Sebenarnya Kevin mengajaknya untuk ikut. Tetapi Viona menolaknya dan ingin bersantai di rumah. Kevin pun tidak bisa memaksa, akhirnya dia pun membiarkan Viona untuk tidak ikut mengantar Tuan Lu pergi ke bandara.


xxx


Seorang laki-laki duduk termenung di ruang kerjanya sambil memandangi foto seorang wanita cantik di ponselnya. Dua tahun telah berlalu semenjak perpisahan mereka, akan tetapi Aldo masih belum bisa melupakan Viona dan dia sangat berharap bisa kembali lagi padanya.


Tidak bisa Aldo pungkiri jika dia masih mencintai Viona sampai detik ini. Dan kebodohan terbesarnya adalah melepaskan wanita itu dari pelukannya hanya karena hasutan ibu dan adiknya.

__ADS_1


Aldo sadar betul jika sejak awal mereka berdua tidak menyukai Viona dan terkesan membencinya. Dia juga sadar bila Ibu dan adiknya selalu mencari cara untuk menyingkirkannya, akan tetap Aldo selalu bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu. Bahkan dia juga jarang membela Viona di depan mereka berdua.


"Aldo." Teguran itu mengalihkan perhatian Aldo dari foto yang sudah dari tadi iya pandangi. Laki-laki itu mengangkat kepalanya dan mendapati sang Ibu berjalan menghampirinya. "Foto Siapa yang sedang kau lihat? Kenapa serius sekali?" tanya Nyonya Rossa penasaran.


Aldo menggeleng. "Bukan siapa-siapa. Untuk apa mama datang kemari?" elak Aldo, dia malah balik bertanya.


"Mama, datang untuk meminta uang padamu. Ada acara di Busan dan teman-teman Mama memintaku untuk datang. Jadi Mama ingin membeli pakaian baru dan juga perhiasan. Jadi cepat berikan uang pada Mama." Pinta Nyonya Rossa.


"Uang lagi? Bukankah baru Minggu lalu aku memberi Mama uang, dan itu jumlahnya tidak sedikit. Masa iya sudah habis? Memangnya uang-uang itu Mama gunakan untuk apa?"


"Kau ini laki-laki mana tahu. Jangan banyak protes, sudah beri Mama uang sekarang juga. Mama, harus membuat persiapan sebelum pergi. Yang datang adalah orang-orang kaya dan terpandang, jadi Mama tidak mau mempermalukan diri di depan mereka semua." Ujar Nyonya Rossa.


Aldo menghela napas. "Aku sudah tidak ada uang lagi. Perusahaan baru saja menggelontorkan dana yang cukup besar untuk gaji karyawan. Jadi sudah tidak ada uang lagi. Sebaiknya Mama tidak perlu pergi dan berteman dengan orang-orang itu. Jelas sekali jika mereka semua sangat menyesatkan!!" tutur Aldo panjang lebar.


"Jangan bercanda kau, Aldo!! Mama, hanya meminta sedikit uang dan kau tidak mau kasih? Kau jangan keterlaluan!! Aku ini Mamamu!! Jika bukan karena, Mama. Kau tidak mungkin bisa bangkit dan jadi seperti sekarang ini!!" bentak Nyonya Rossa dengan emosi.


"Oh, jadi Mama mulai itung-itungan? Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita hitung sekarang saja berapa banyak uang yang sudah aku keluarkan untuk Mama dan Amelia selama ini. Aku ingin Mama mengembalikan uang-uang itu terlebih dulu, baru berikan uang yang Mama inginkan. Bagaimana, adil bukan?!" ujar Aldo tidak mau kalah.


Dengan kesal Nyonya Rossa meninggalkan ruangan putranya. Benar-benar di luar prediksinya. Dia pikir Aldo akan memberinya uang, tapi ternyata sepeser pun tidak dia dapatkan. Nyonya Rossa benar-benar tidak habis pikir dengan putranya tersebut.


Aldo menghela napas dan menggelengkan kepala. Ada saja hal yang tidak pantas. Dan dia tidak tahu kenapa Ibunya begitu boros dengan uang. Padahal baru Minggu lalu dia memberinya uang dalam jumlah yang cukup besar, dan hari ini sudah minta lagi. Dan jika di terus-terusan dan dibiarkan, bisa-bisa perusahaanya yang akan mengalami kebangkrutan.


xxx


"Paman!!"


Viona terkejut bukan main saat membuka matanya dan mendapati Kevin yang sedang memandanginya dengan intens. Posisinya menyamping dan dia menggunakan salah satu tangannya sebagai penopang kepala. Ditatap seperti itu oleh Kevin membuat Viona menjadi salah tingkah.


"Kapan Paman pulang? Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Viona sambil bangkit dari berbaringnya. Posisinya dan Kevin saling berhadapan, pria itu juga sudah merubah posisinya menjadi duduk.


"Lima belas menit yang lalu,"


"Terus kenapa Paman tidak membangunkan ku?" tanya Viona lagi. "Jangan bilang kau terus memandangiku seperti tadi selama itu?" tebak Viona 100% benar.

__ADS_1


"Ya," Kevin menjawab singkat. Kemudian dia turun dari ranjang dan berjalan kearah jendela kamar mereka yang terbuka. "Kau terlihat lelah, jadi mana mungkin Paman tega untuk membangunkanmu."


Viona turun dari tempat tidurnya lalu menghampiri Kevin dengan kaki tellanjang. Dia mengangkat kedua tangannya lalu memeluk Kevin dari belakang. Memberikan rasa hangat pada punggung Kevin yang kemudian menjalar sampai ke dadanya.


Kevin menoleh ke belakang, melirik Viona dari ekor matanya. "Kau ingin makan malam dengan apa? Aku akan memasak untukmu." Ucap Kevin sambil menggenggam tangan Viona.


"Apa ya, aku bingung. Terserah Paman saja, apapun yang Paman masak pasti aku akan memakannya." Ujar Viona.


"Termasuk acar timun?" sahut Kevin dan membuat ekspresi Viona berubah seketika.


"NO!!" ucapnya menegaskan. "Tidak untuk yang satu itu. Aku akan memaafkan apapun yang Paman masakkan untukku, kecuali acar timun. Jangankan untuk mencicipi rasanya, mencium aromanya saja sudah membuatku ingin muntah. Jadi jangan coba-coba untuk membuatnya, atau aku akan mendiami Paman selama 7 hari 7 malam!!" ujar Viona memberikan ancaman.


Kevin tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Viona. Jelas-jelas timun tidak bersalah, tapi entah kenapa dia sangat membencinya. Dan Kevin sendiri tidak tahu alasan Viona sampai tidak menyukai Mentimun dan sejenisnya.


"Omelette saja, kebetulan sudah lama aku ingin memakan omelette buatan Paman." Viona memberi keputusan.


Kevin mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Kita makan malam dengan omelette dan acar lobak saja." Ucap Kevin dan di balas anggukan oleh Viona.


Jika acar lobak Viona mau memakannya. Tetapi jika acar mentimun sampai kadal beranak harimau sekalipun Viona tidak akan menyentuhnya. "Oya, Paman. Di mana, Frans? Kenapa aku tidak mendengar suara berisiknya? Jangan bilang jika kau meninggalkannya di bandara?" tebak Viona.


Kevin menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku tidaklah sekejam itu. Frans, ada di kamarnya. Mungkin sedang istirahat. Dia terus saja menangis karena sedih berpisah dengan, Kakek." jelas Kevin.


"Dasar anak ayam. Tapi kasihan juga, kenapa Paman tidak memintanya untuk ikut Kakek saja? Dengan begitu dia tidak akan bersedih karena harus berpisah dengan Kakek." Ujar Viona.


"Frans, sendiri yang tidak mau. Padahal aku sudah memintanya untuk ikut saja. Tapi dia menolak."


Viona mengangguk "Aku paham betul bagaimana perasaannya. Untuk sekarang biarkan saja dia sendiri dulu, nanti juga pasti akan membaik lagi." Ucap Viona.


Wanita itu bisa memahami betul apa yang di rasakan oleh Frans. Dia yang sejak kecil tidak memiliki siapa-siapa selain Rico. Tiba-tiba bertemu dengan Kakek kandungnya, dan baru saja bertemu tapi harus berpisah lagi. Jadi wajar jika dia bersedih , dan Viona tidak menyalahkan sikap kekanakannya. Karena jika dirinya berada di posisi Frans, pasti Viona akan menunjukkan sikap yang sama.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2