Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Kencan Buta


__ADS_3

Aiden memicingkan matanya melihat batang hidung Luna tidak terlihat di antara kedua Kakaknya. Sambil memegangi perban yang menutup luka di pelipis kanannya, Aiden menghampiri mereka berdua dan bertanya keberadaan Luna.


"Di mana Luna? Apa dia sedang pergi?" tanya Aidan setibanya dia diantara Alex dan Eric.


"Kau sudah bangun? Bagaimana, apa kepalamu masih pusing?" alih-alih menjawab pertanyaan Aiden, mereka malah balik bertanya.


Aiden mengangguk. "Ya, tapi hanya sedikit. Di mana, Luna?" sekali lagi Aiden bertanya tentang keberadaan Luna.


"Dia sedang pergi berkencan. Akhirnya setelah sekian purnama berlalu, setelah melewati berbagai musim yang melelahkan dan penantian panjang yang membosankan, akhirnya gadis itu setuju untuk pergi berkencan. Dia sedang makan malam dengan calon yang kami rekomendasikan," ujar Alex.


Aiden mengerutkan dahinya. "Pergi makan malam? Dengan siapa? Kenapa kalian asal mengenalkan dia dengan laki-laki tanpa tahu bebet bobotnya lebih dulu? Bagaimana jika yang kalian Carikan untuknya bukan pria baik-baik? Bagaimana jika sebenarnya dia seorang duda atau suami orang, apa Kalian berdua mau bertanggung jawab Jika sesuatu yang buruk terjadi?!" tukas Aiden.


Bukannya senang mendengar Luna akhirnya setuju untuk berkencan, Alex dan Eric malah terkena omelan Aiden.


Mengabaikan rasa pusing yang masih mendera kepalanya dan nyeri pada perutnya akibat tusukan yang dia terima tadi. Aiden melenggang pergi meninggalkan kediaman Valentino, dia hendak mencari Luna.


"Aiden, kau mau ke mana? Jangan pergi, kau masih sakit!!" seru Eric namun tidak digubris olehnya. Aiden tetap pergi meskipun kepalanya terasa mau pecah.


Tak lama setelah kepergian Aiden. Tuan Valentino masuk rumah dengan terburu-buru. Setelah mendapatkan kabar Aiden pulang dalam keadaan terluka, dia buru-buru pulang ke rumahnya.


"Di mana, Aiden?" tanya apa Tuan Valentino pada Alex dan Eric.


"Dia baru saja pergi." jawab mereka berdua dengan kompak.

__ADS_1


"Ke mana? Bukankah dia sedang sakit?" tanya Tuan Valentino.


Alex dan Eric mengangguk. "Ya, tapi dia memaksakan diri untuk pergi menyusul Luna padahal kami sudah melarangnya untuk pergi. Saat mengetahui kami memaksa Luna untuk ikut kencan buta dengan seseorang yang telah kami persiapkan untuknya." ujar Eric.


"Kalian melakukannya lagi? Kalian berdua ini benar-benar, ya!! Jelas-jelas Luna sudah menolaknya, tapi kenapa kalian masih tetap memaksanya untuk ikut kencan buta yang kalian siapkan? Apa kalian berdua benar-benar siap terkena amukan Aiden nantinya. Aisshh, Sepertinya kalian berdua benar-benar sudah bosan hidup, seperti tidak tahu bagaimana Aiden kalau sudah marah." Ujar Tuan Valentino.


Seketika mereka berdua teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Aiden hampir saja menghabisi nyawa senior Luna yang berani mengganggu dan membuatnya menangis.


Aiden dengan penuh amarah datang ke sekolah Luna untuk mencari dan menemukan para biang kerok tersebut. Akibatnya tiga senior Luna harus berakhir di rumah sakit akibat patah tulang yang mereka alami. Dan masih sangat membekas diingatan mereka bagaimana menyerahkannya Aiden pada saat itu.


"Gawat.... Bagaimana ini, bisa-bisa bocah itu menelan kita berdua hidup-hidup. Ge, kita harus melakukan sesuatu. Aku tidak ingin bernasib sama seperti para senior Luna," ujar Eric mulai panik.


"Cepat telfon Luna dan suruh dia membatalkan kencan buta itu. Ini masih ada waktu," pinta Alex yang tak kalah panik.


"Luna, apa yang sedang kau lakukan? Cepat angkat telfonnya." Ucap Eric dengan panik.


Tuan Valentino hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat kedua putranya. Lucu juga mereka saat sedang panik. Mengabaikan mereka berdua, Tuan Valentino melenggang pergi ke kamarnya.


Dia buru-buru pulang untuk melihat keadaan Aiden, tapi yang ingin dilihat keadaannya malah hilang entah kemana. Jadi hari ini dia bisa beristirahat di rumah tanpa harus memikirkan pekerjaan kantor.


Xxx


Aiden menghentikan mobil mewahnya di sebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota Seoul. Dia berhasil menemukan keberadaan Luna setelah melacak ponselnya. Dan dia langsung menemukannya karena suasana restoran yang tidak terlalu ramai.

__ADS_1


Hanya dengan melihatnya saja, Aiden langsung tahu jika Luna tidak nyaman dengan kencan buta tersebut. Apalagi teman kencan buta nya terlihat sangat menyebalkan.


"Aku adalah anak tunggal, dan jika ingin menikah denganku harus menyayangi Mama dan kakakku. Aku adalah satu-satunya pria di dalam keluargaku, karena Papa dan Mama berpisah. Dan aku harap kau tidak keberatan jika nantinya fokus pada keluargaku, terutama Mama dan Kakakku."


"Kau pikir adikku seorang babu!!" sahut Aiden dari arah belakang, dan kedatangannya mengejutkan Luna.


"Ge," sontak Luna bangkit dari duduknya.


"Luna, ayo pulang. Tidak perlu melanjutkan kencan buta ini. Belum apa-apa saja dia sudah berani mengatur mu ini dan itu, bagaimana jika kalian sampai menikah. Lagipula ibu dan kakaknya bukan tanggungjawab mu. Kau adalah kesayangan kami, dan sebagai kakakmu aku tidak rela jika kau sampai dijadikan babu oleh orang baru." Tutur Aiden panjang lebar.


Gadis itu memeluk lengan Aiden. "Memangnya siapa juga yang mau menikah dengannya. Aku juga tidak Sudi jika harus mengabdi pada orang lain. Di rumah saja aku diperlakukan kayaknya putri, masa iya setelah menikah malah jadi babu." Ujar Luna.


"Luna, kau~" pria itu bangkit dari kursinya sambil menunjuk Luna dan menatapnya dengan tajam. "Apa maksud ucapanmu itu? Kenapa kau harus mengatakan kata-kata yang begitu melukai perasaanku? Seharusnya kau berterimakasih karena ada pria tampan dan baik hati yang mau untuk mencintaimu."


"Kenapa aku harus berterimakasih, sementara diriku malah dirugikan. Karena menikah denganmu bisa menjadi mimpi buruk bagiku. Bagus jika kita tinggal terpisah dari ibu dan kakakmu, tapi dari perkataanmu sudah jelas jika siapapun yang menikah denganmu harus tinggal satu atap dengan kalian bertiga, merawat ibumu dan juga mengabdikan diri pada keluargamu."


"Sebenarnya aku tidak ada masalah jika hanya merawat ibumu saja, yang menjadi permasalahannya adalah kakakmu. Karena ipar dari pihak suaminya kebanyakan adalah duri dalam rumah tangga. Jadi maaf-maaf saja ya, aku tidak bisa. Ge, ayo pergi." Luna menyambar tasnya yang ada di atas meja dan pergi begitu saja. Bahkan dia tidak peduli dengan teriakan pria itu yang memberitahunya jika bill nya masih belum di bayar.


Luna tertawa. Dia geli sendiri melihat ekspresi pria itu yang menurutnya amat sangat menggemaskan. Untungnya Aiden datang tepat waktu sehingga dirinya bisa lolos dari anak mami seperti dia. Dan Luna lebih memilih menjomblo daripada memiliki pasangan seorang anak mami.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2