Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Menjemputnya Kembali


__ADS_3

Ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pria dalam balutan jas rapi memasuki ruangan bernuansa putih tersebut, pria dalam balutan kemeja putih dan Vest hitam itu menoleh sekilas kearah pria yang berjalan menghampirinya.


"Tuan Muda, Nona baru saja menghubungi saya dan mengatakan akan segara bercerai dari suaminya," lapor pria berjas itu pada pria yang ia panggil 'Tuan Muda'


Pria itu menatap pria berjas tersebut dari ekor matanya dengan pandangan datar. "Kita kesana dan menjemputnya. Selama aku masih hidup, tidak ada yang boleh menindasnya!!" kemudian ia berbalik dan melenggang pergi, meninggalkan ruang kerjanya diikuti pria berjas itu yang kemudian berjalan mengekor di belakangnya.


Kevin Zhang, itulah nama pria tersebut. Pria berdarah China murni yang kemudian menetap di Korea karena suatu alasan. Kevin memiliki seorang keponakan yang sangat cantik, putri dari mendiang kakak angkatnya.


Sejak orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat, gadis itu dirawat oleh Kevin. Usia mereka sebenarnya tidak berbeda jauh, hanya berjarak lima tahun saja.


Kevin sangat menyayanginya dan begitu memanjakannya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, gadis itu menjadi tanggungjawab Kevin sepenuhnya. Meskipun bukan dia yang menjadi wali saat dia menikah. Tapi mendengarnya tersakiti, maka Kevin tidak tinggal diam dan mengabaikannya, dia akan membuat orang itu menyesal.


.


.


"Kenapa kalian bertiga masih disini? Bukankah aku sudah meminta kalian untuk segara pergi dan angkat kaki dari rumah ini!! Waktu terus berjalan dan waktu kalian semakin menipis, jadi segara bereskan barang-barang kalian lalu cepat angkat kaki dari sini!!"


"Kami tidak akan pergi!!" seru Rossa menyela ucapan Viona.


"Kalau begitu jangan salahkan aku jika harus memaksa kalian dengan cara yang tidak hormat!!" ucap Viona menegaskan.


Rossa mengepalkan tangannya. Wanita itu kemudian menghampiri Viona dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Kami bertiga juga memiliki hak atas rumah ini, jangan mentang-mentang kau yang membeli rumah ini, maka kau bisa semena-mena pada kami!! Ingat, Viona, bagaimana pun juga aku tetaplah ibu mertuamu karena kalian belum resmi bercerai!!" teriak Nyonya Rossa menegaskan.


Amelia menghampiri Viona lalu melemparkan sebuah map pada wanita itu. "Segera tandatangani surat pengalihan itu jika kau ingin tetap hidup, aku ingin rumah ini atas nama Kakakku dan kau tidak berhak untuk menolaknya!!"


Viona mengangkat tinggi-tinggi surat pengalihan tersebut lalu merobeknya hingga menjadi beberapa bagian membuat Amelia dan Rossa terkejut dibuatnya. "Viona, apa-apaan kau ini?! Kenapa kau malah merobek surat itu?!" teriak Rossa dengan emosi.


Viona mengangkat bahunya. "Memangnya kenapa? Lagipula surat ini tidak ada penting-pentingnya sama sekali, tidak perlu disimpan apalagi ditandatangani. Daripada aku menyimpan sampah tidak berguna seperti ini, jadi sebaiknya aku robek saja." Jawab Viona dengan santainya.


"Viona, kau~" Lia mengangkat tangannya dan hendak menampar Viona, namun dobrakan keras pada pintu mengehentikan gerakan tangannya, membuat ketiga perempuan itu terkejut bukan main.


Kedua mata Viona membelalak sempurna setelah melihat siapa yang datang. "Paman!!" serunya dengan lantang. Viona meninggalkan Rossa dan Lia lalu menghampiri orang itu dan langsung memeluknya. "Aku merindukan , Paman," ucapnya sambil memeluk orang itu dengan erat. Kedua kaki Viona melingkari pinggang pria tersebut.


Orang itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Viona. "Paman, juga sangat merindukanmu, gadis kecilku." Jawabnya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Viona.


Mata Lia tak berkedip sedikit pun melihat wajah tampan nan rupawan pria dihadapannya tersebut.


"Oh, bagus sekali ya, Viona. Belum resmi cerai dariku tapi kau sudah memasukkan laki-laki ke rumah ini dan kalian saling berpelukan dengan begitu mesra. Dan kau bajiingan, LANCANG!! Berani-beraninya kau masuk ke rumah ini tanpa ijin dariku selaku kepala keluarga disini!!" teriak Aldo dengan emosi.


Viona menghela napas dan menggelengkan kepala, Aldo benar-benar dalam masalah besar karena berani membangunkan seekor singa jantan yang sedang hibernasi. Dan Viona tidak tau hal buruk apa yang akan menimpa Aldo setelah ini.


"Aldo, sebaiknya kau berhenti bicara jika tidak ingin mendapatkan masalah!!" ucap Viona memperingatkan.


Alih-alih mendengarkan peringatan Viona. Aldo malah menarik lengan perempuan itu dengan kasar."Kemari kau perempuan Jallang, kau benar-benar perlu diberi pelajaran!! Benar-benar wanita tidak tahu malu, aku akan menghukummu!" ucap Aldo seraya menarik lengan Viona dengan kasar.

__ADS_1


Grepp...


Aldo menoleh saat merasakan cengkraman pada lengan kanan atas, baru saja dia hendak melayangkan protesnya pada orang itu, tapi belum sempat bibirnya mengatakan satu kata pun, tubuhnya sudah tersingkir dilantai akibat dorongan pria yang berdiri disamping Viona, yang tak lain dan tak bukan adalah Kevin.


"YAKK!! KAU SUDAH BOSAN HIDUP, YA?!" teriak Aldo dengan emosi.


"Aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan kedua lenganmu jika kau berani melakukan tindakan kasar pada, Viona. Di rumah dia adalah sebuah berlian yang tidak ternilai harganya, dan disini kau malah memperlakukannya seperti budak!! Kau benar-benar mencari masalah dengan orang yang salah, karena aku adalah orang pertama yang akan menghabisimu jika berani macam-macam padanya!!" ujar Kevin dengan tatapan marah penuh intimidasi.


Aldo sedikit merinding ketika melihat tatapan Kevin dan sorot matanya yang tajam. Membuat Aldo merasa seperti sedang uji nyali, padahal ini masih siang bolong. "Si..Siapa kau ini? Kenapa kau ikut campur masalah rumah tanggaku dengan, Viona? Apapun yang aku lakukan padanya, hal itu tidak ada hubungannya denganmu!!" ucap Aldo menegaskan.


"Siapapun diriku, itu tidaklah penting. Dan aku disini karena kau berani membuatnya terluka, sebagai orang yang melindunginya maka Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh dan melukainya!!" tangan Kevin terkepal kuat.


Tiba-tiba Lia menengahi perdebatan mereka berdua sambil merentangkan tangannya lebar-lebar di depan Kevin dan Aldo, lalu menatap keduanya bergantian.


"Cukup kalian berdua, tidak perlu bertengkar lagi! ini hanyalah masalah salah paham saja, tidak seharusnya kalian berdua bertengkar seperti ini," ucapnya dengan tatapan pada Aldo dan Kevin bergantian.


"Tidak perlu berlagak sok manis di depan, Paman Kevin. Karena hal semacam itu tidak mempan padanya!!" seru Aster menengahi. Lalu pandangannya bergulir pada Kevin. "Paman, bisakah kau melakukan sesuatu untukku?"


Kevin menganggukkan kepala. "Memangnya apa yang bisa Paman lakukan untukmu?" tanya Kevin menimpali.


"Karena mereka bertiga begitu menginginkan rumah ini, maka aku minta pada Paman untuk segera meratakannya menjadi tanah!! Dengan begitu tidak akan ada lagi yang numpang tinggal dan hidup gratis di rumah ini!!"


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2