
Kevin membuka matanya dan jam dinding sudah menunjuk angka 08.00.pqgi. Dia kesiangan, mungkin karena tidur hampir menjelang pagi. Kevin menyibak selimutnya kemudian turun dari ranjang. Dia berjalan menuju meja di dekat balkon.
Jari-jari besarnya meraih botol wine yang tinggal setengah, sisa semalam. Menuang dalam gelas berkaki panjang, sedikit demi sedikit dia mulai menyesap rasa wine itu.
Kevin menyingkap gorden balkon, matanya menerawang pemandangan dibalik kaca. Beberapa anak buahnya mengerubungi Frans, ekspresi mereka serius. Frans sesekali mengangguk. Dia tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan ,dan Kevin tidak peduli.
Kembali dia menuang wine dalam gelas. Matanya masih melihat kegiatan di bawah sana, sementara pendengarannya menangkap derap langkah kaki seseorang yang datang. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamarnya dibuka dari luar , dan yang tertangkap selanjutnya oleh netral matanya adalah Viona yang memasuki kamarnya.
"Paman, kau sudah bangun." Seru Viona sambil berjalan menghampiri Kevin. "Aku bawakan kopi dan roti untukmu."
"Kau sudah sarapan?" tanya Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
"Apa yang sedang Paman lihat? Kenapa serius sekali?" tanya Viona, dia mengikuti arah pandang Kevin dan ternyata dia melihat Frans yang sedang bergosip dibawah sana. "Serius sekali mereka, kira-kira apa ya yang sedang dibahas?" ucap Viona penasaran.
Kevin mengangkat bahunya. "Entah, aku sendiri tidak tahu." dan menjawab datar. "Sebaiknya segera berbenah, malam ini kita akan terbang ke Dubai."
Sontak Viona menoleh setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Kevin. "Malam ini? Sungguh?" dia bertanya mamastikan. Kedua mata Viona tampak berbinar-binar. Dan Kevin menganggukkan kepala, sebagai jawaban pertanyaan Viona. "Yess, akhirnya aku bisa melihat Burj Khalifa," ucapnya bersemangat.
Kevin menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkah Viona yang seperti bocah. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.
"Paman, kalau begitu aku keluar dulu. Kopinya jangan lupa diminum, dan rotinya jangan lupa dimakan." Ucap Viona dan pergi begitu saja. Dia akan bersiap-siap sekarang karena malam ini ia, Kevin dan Frans akan berangkat ke Dubai.
Selepas kepergian Viona, Kevin terlihat beranjak dari tempatnya dan melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Dia hendak menemui Frans dan membicarakan mengenai penyusup yang semalam masuk ke dalam kamarnya.
.
.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya? Apa kau sudah menemukan siapa penyusup itu?" tanya Kevin memastikan , dia dan Frans duduk saling berhadapan.
Frans mengangguk. "Ini rekaman CCTV yang berhasil aku temukan, Ge. Dia berhasil masuk kemari setelah berhasil mengelabui para penjaga diluar. Kemudian dia menyamar menjadi salah satu pelayan supaya tidak dicurigai, dan ketika semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Situasi itu dia manfaatkan untuk masuk kemari, mungkin saja dia mencari kunci ruang bawah tanah yang ada padamu." Tutur Frans menjelaskan.
"Lalu dimana dia sekarang? Apa kalian berhasil menangkapnya?" tanya Kevin memastikan.
Frans menggeleng. "Belum, tapi kami tau dimana dia sekarang. Dan kami sengaja membiarkannya bebas, jika ditangkap secara langsung dia bisa mengelak dan membela diri, tapi jika kita menangkap basah dia saat melakukan sesuatu. Itu akan memperkuat alasan kita untuk mengeksekusinya." Terang Frans.
Kevin mengangguk. "Aku setuju denganmu. Pastikan dia secepatnya tertangkap karena malam ini kita sudah harus terbang ke Dubai," ujar Kevin.
"Baik, Ge. Aku mengerti. Kalau begitu aku permisi dulu." Ucap Frans dan pergi begitu saja. Meskipun dia sudah tau jika Kevin adalah kakaknya, tapi tetap saja Frans segan padanya, mungkin karena dia belum terbiasa.
xxx
Tidak sedikit pun Kevin melepaskan pandangannya dari Viona. Wanita itu sedang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper silver kesayangannya, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Kevin di kamarnya.
Viona benar-benar sangat cantik, tidak salah jika banyak pria yang jatuh cinta padanya.
"Omo!!" Viona terlonjak kaget saat berbalik dan mendapati Kevin berdiri bersandar pada pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Paman, kenapa berdiri di sana tidak bilang-bilang?! Kau membuatku hampir jantungan!!" keluh Viona menggerutu.
Kevin beranjak dari posisinya dan menghampiri Viona. "Siapa suruh kau asik sendiri sampai-sampai tidak menyadari keberadaan ku disini. Apa sudah selesai?" tanya Kevin memastikan.
Viona mengangguk. "Ya, ini hampir selesai." Jawabnya singkat. "Paman, memangnya berapa lama kita di sana nantinya?"
Kevin menggeleng. "Paman, sendiri belum bisa memastikannya. Mungkin sekitar satu Minggu,"
"Tidak masalah, yang penting aku bisa bersenang-senang nantinya." Ucap Viona. Dia begitu bersemangat karena impiannya untuk melihat Burj Khalifa akan segara menjadi kenyataan.
__ADS_1
Viona berbalik badan kemudian mendekati Kevin yang duduk ditepian tempat tidurnya. Tanpa aba-aba, Viona duduk diatas pangkuannya. Kedua tangannya memeluk leher Kevin. "Paman, apa kau tidak berencana untuk menikahiku?" tanya Viona, dia mulai ke pembahasan yang cukup serius.
Kevin memicingkan matanya. "Kenapa tiba-tiba kau membahas soal pernikahan? Malam pertama eh?" goda Kevin dan membuat pipi Viona merona merah.
Buru-buru Viona menggelengkan kepala. "Bu...Bukan, bukan karena hal itu. Paman, kau salah paham. Maksudku, aku... aku..." Viona menggantung ucapannya saat bibir Kevin menyergap bibirnya dan memagutnya dengan lembut. Membuat Viona sedikit terkejut dibuatnya.
Viona pun tidak mau kalah. Wanita itu mulai mengambil alih ciuman Kevin dan menginvasi bibirnya. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama. Kevin yang tidak suka didominasi kembali mengambil alih ciuman tersebut.
Dan ciuman mereka baru berakhir lima puluh detik kemudian. Keduanya sama-sama kehabisan nafas dan membutuhkan banyak asupan oksigen. Setelah ciuman itu terlepas, Kevin dan Viona saling bertabur untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Bagaimana Paman, bukankah aku sudah mulai Mahir dalam berciuman?" ucap Viona membanggakan diri. "Sepertinya pelajaran yang Paman berikan padamu tidak sia-sia."
Bukannya sebuah pujian yang dia dapatkan, Viona justru mendapatkan jitakan dari Kevin. Bukannya tersinggung, Viona malah tertawa. Entah sejak kapan Viona menjadi hobi menjahili Kevin, dan sepertinya menjahili pria itu menjadi candu baru untuknya
"Kau lanjutkan saja, Paman keluar dulu." Ucap Kevin dan dialas anggukan oleh Viona.
"Baiklah."
Kemudian Kevin melenggang keluar meninggalkan kamar Viona. Dan baru saja dia hendak masuk ke kamarnya, tiba-tiba Frans menghampirinya. "Ge, aku berhasil menemukan keberadaan orang itu. Sekarang dia sedang berada di ruang bawah tahan. Dia berusaha untuk melepaskan Marco dari kita."
"Bagus sekali, ayo kita susul dia dan berikan sedikit kejutan kecil untuknya." Ucap Kevin dan dialas anggukan oleh Frans. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang bawah tanah.
Orang itu sudah ditemukan, dan Kevin tidak akan tinggal diam. Dia akan memberikan kejutan yang sangat manis untuknya karena telah berani menghantarkan nyawa ke kandang singa.
xxx
Bersambung
__ADS_1