
Kelopak mata itu tertutup rapat, bahkan tak terbuka sedikitpun meskipun terdengar derap langkah kaki seseorang memasuki kamarnya. Kedua tangannya terjuntai ke bawah dengan posisi kepala mendongak ke atas.
"Tuan, sarapan sudah siap. Anda mau makan di bawah atau di sini?" tanya orang itu mematikan.
Namun tak ada jawaban, dan pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jimmy tak bereaksi sama sekali. Dia masih tetap dalam posisi yang sama, seperti ketika pria berjas itu memasuki kamarnya.
"Tuan," panggil pria itu sekali lagi, namun tetap tidak ada jawaban. "Mungkinkah semalaman Tuan tidur di kursi rodanya?" ucapnya bergumam.
Pria itu mendekati Jimmy, dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati mulut Jimmy berbusa dan sekujur tubuhnya membiru. "TUAN!!" teriak pria itu dengan histeris. "Tuan, apa yang terjadi pada Anda? Tuan, tolong buka mata Anda dan jangan menakuti saya," ucapnya sambil mengguncang lengan Jimmy, namun tetap tidak ada jawaban.
Pria itu menggelengkan kepala. "Tidak, ini tidak mungkin. Mungkinkah Tuan telah mengakhiri hidupnya sendiri dengan meneguk raccun?" gunam pria itu setengah berbisik. Dan teriakannya yang keras sampai ke telinga anak buah Jimmy yang lain. Satu per satu mendatangi kamar Jimmy, dan alangkah terkejutnya mereka saat mendapati bosnya sudah tidak bernyawa.
"Apa yang terjadi pada Tuan?" tanya pria berkepala pelontos pada pria berjas tersebut.
Pria berjas itu menggelengkan kepala. "Aku sendiri tidak tahu. Karena saat aku tiba di sini Tuan sudah seperti ini," jawabnya dengan suara bergetar.
Lalu pria berkepala pelontos itu menyapukan pandangannya, tanpa sengaja dia menemukan sebuah botol kecil di dekat kursi roda Jimmy. Dia mencium aroma yang sangat menyengat dari botol itu, benar dugaannya jika Jimmy meninggall karena meneguk racun, dia membunuhh dirinya sendiri.
"Ini benar-benar raccun." Ucapnya lalu membuang botol itu ke tempat sampah.
"Tuan, mengapa Anda berpikiran pendek? mengapa Anda harus berakhir seperti ini?" ucap pria berjas itu penuh Sesal, dia sungguh menyesali apa yang Jimmy lakukan. mengapa Jimmy harus bunuh diri? mengapa dia harus menghabisi dirinya sendiri?
"Nasi telah menjadi bubur, tidak ada gunanya kita menyesali apa yang telah terjadi. Sebaiknya sekarang kita persiapan pemakaman untuk Tuan, setidaknya kita memberikan penghormatan terakhir untuknya." ucap pria berkepala pelontos tersebut pada rekannya.
Pria berjas itu menganggukkan kepala. "Baiklah."
Jimmy sudah pergi, dan tidak ada yang bisa disalahkan dalam kematiannya karena dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin Jimmy sudah lelah dengan hidupnya.
Selama bertahun-tahun dia menjadi orang yang tidak berguna, yang hanya bisa duduk di kursi rodanya. Ditambah lagi baru-baru ini dia kehilangan banyak anak buahnya, mungkin itulah salah satu alasan Jimmy mengambil jalan pintas.
__ADS_1
xxx
Tentang kematian Jimmy telah sampai ke telinga Kevin. Salah satu anak buah Jimmy menghubunginya, dan memberitahukan tentang kematian bosnya. Dan berita itu tentu saja mengejutkan Kevin. Dia yang selama ini berambisi untuk menghabisinya malah mengambil jalan pintas, Kevin benar-benar tidak habis pikir.
"Paman, kau mau pergi ke mana?" perhatian Kevin teralihkan boleh kemunculan Viona. Wanita itu menatap Kevin dengan bingung, tidak biasanya sang Paman Serapi itu di jam segini di akhir pekan.
Kevin berbalik badan dan menatap Viona yang berjalan menghampirinya. "Ke pemakaman ." Dan menjawab singkat.
Viona memicingkan matanya, dan menatap Kevin penasaran. "Memangnya siapa yang meninggal?" tanya Viona.
"Jimmy, musuh bebuyutanku. Aku baru saja mendapatkan kabar jika lagi ini dia ditemukan tewas bunuh diri, dan aku akan pergi untuk memberikan penghormatan terakhir padanya." Jelas Kevin.
"Boleh aku ikut?" tanya Viona.
"Untuk apa?" Kevin menatapnya dengan bingung.
Kevin menghela napas. "Kalau begitu cepat siap-siap aku akan menunggumu di luar," ucap Kevin dan Viona mengangguk dengan antusias. Dia
Viona meninggalkan kamar Kevin dan pergi bersiap-siap. Akhirnya bisa pergi jalan-jalan juga setelan hampir tiga Minggu terkurung dan tidak bisa pergi ke mana-mana.
Tidak butuh waktu lama bagi Viona untuk bersiap-siap. Kurang dari sepuluh menit dia sudah selesai dan sekarang menghampiri Kevin yang sedang menunggunya di teras depan. Bukan hanya Kevin dan Viona saja yang pergi, tetapi Frans juga.
"Kau sudah siap?" ucap Kevin yang dibalas anggukan oleh Viona. "Mungkin kita agak sedikit lama, Paman harap kau jangan merengek minta pulang."
Viona menggeleng. "Tentu saja tidak, Paman. lagi pula aku bukan anak kecil , tenang saja aku tidak akan merepotkanmu." Ucap Viona menyakinkan.
Kevin menepuk kepala Viona dan mengangguk. "Baiklah, ayo kita berangkat sekarang."
"Tuan, tunggu!!" seru Rico dan menghentikan mereka berdua. Kevin dan Viona sama-sama menoleh ke belakang. "Tuan, biarkan saya ikut bersama kalian. Bagaimana pun juga dia pernah menjadi orang yang paling saya hormati. Untuk itu saya ingin memberikan penghormatan terakhir padanya," ujar Rico.
__ADS_1
Kevin menganggukkan kepala, dia mengijinkan Rico untuk pergi bersamanya. Memang sudah seharusnya Rico memberikan penghormatan terakhir pada Jimmy, sebagai mantan anak buahnya.
xxx
Satu per satu meninggalkan permakaman. Menyisakan beberapa orang saja yang bertahan di sana, salah satunya adalah Kevin dan Rico. Dalam suana berkabung itu, tentu saja tidak ada lagi perseteruan antara Kevin dan anak buah Jimmy.
Permusuhan yang berjalan sejak sepuluh tahun silam akhirnya putus hari ini, di pemakaman Jimmy anak buah pria itu memutuskan untuk berdamai dengan Kevin. Karena tidak mungkin juga mereka tetap melawannya, mengingat sudah tidak ada lagi kekuatan untuk melawan Kevin dan anak buahnya.
"Tuan Zhang. Permusuhan di antara kita, kita akhiri saja hari ini, mari kita berdamai." pria berkepala pelontos itu menghampiri Kevin dan mengajak untuk berdamai.
"Tidak masalah. lagi pula sudah tidak ada alasan untuk kita tetap bermusuhan." Jawab Kevin.
Keduanya lalu berjabat tangan. Kemudian satu per satu meninggalkan area pemakaman, acara sudah selesai dan tidak ada gunanya lagi mereka tetap di sana apalagi sebentar lagi Hujan akan turun. Cuaca hari ini benar-benar tidak bersahabat sama sekali.
"Kita langsung pulang atau jalan-jalan?" Kevin menoleh, menatap Viona yang berjalan di sampingnya.
"Bagaimana jika kita jalan-jalan dahulu?" usul Viona.
"ke mana?" Tanya Kevin.
"Em, ke mana ya. Namsan tower, bagaimana jika kita ke sana?" usul Viona.
Kevin mengangguk. "Baiklah, ke mana pun asalkan itu membuatmu senang." Jawab Kevin sambil menepuk kepala Viona. Viona tersenyum lebar. Inilah yang dia sukai dari Kevin, dia selalu menjadikan dirinya sebagai prioritas utamanya. Viona benar-benar bahagia dengan kasih sayang yang Kevin berikan untuknya.
.
.
Bersambung
__ADS_1