
Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis setelah mendengar percakapan Doori dan teman-temannya.
Saat menepuk bahunya tadi, Kevin menempelkan Sebuah alat penyadap suara yang terkoneksi langsung dengan ponselnya. Karena Kevin tahu jika Doori pasti merencanakan sesuatu untuk membalasnya, dan dugaannya benar. Dia meminta bantuan pada teman-temannya untuk menghabisinya.
Namun tanpa Doori sadari, jika dia telah mengantarkan dirinya sendiri dalam bahaya karena berani berurusan dengan Kevin.
"Paman, Apa yang sebenarnya kau dengarkan? Kenapa serius sekali?" tanya Viona sambil menatap Kevin penasaran.
"Kau ingin mendengarnya?" Viona menganggukkan kepala. "Kalau begitu kemarilah," pintar Kevin. Kemudian Viona bangkit dari tidurnya dan menghampiri Kevin kemudian duduk bersebelahan dengannya. Dengarkan baik-baik," minta pria itu sambil memasang sebuah headset ke telinga Viona.
Mata Viona membulat sempurna setelah mendengar isi percakapan Doori dan teman-temannya. "Dia sudah bosan hidup ya? Berani-beraninya dia Merencanakan hal gila itu dengan teman-temannya, Paman sepertinya kita perlu membuat kejutan kecil untuk menyambut kedatangan mereka, dan aku yakin wanita bernama Sabrina itu akan melibatkan diri dalam hal ini." Ujar Viona dan mendapatkan anggukan dari Kevin.
"Dia pasti akan memberikan akses pada mereka supaya bisa masuk ke dalam Villa ini dengan bebas. Kita pantau saja, dan kita lihat sampai dimana mereka bisa bertindak." Tutur Kevin.
Kevin tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja setelah berhasil masuk ke Villa ini. Dan hanya orang-orang bodoh yang berani mencari masalah dengannya, karena mencari masalah dengan Kevin sama saja artinya dengan memberikan nyawanya secara cuma-cuma.
Dan sementara itu masih di tempat yang sama namun lokasi berbeda, Sabrina terlihat memasukkan sesuatu ke dalam teh yang sedang ia seduh. Setelah mengaduk teh tersebut, dia membawanya keluar dan memberikannya pada suaminya.
Sabrina memasukkan obat tidur ke dalam teh tersebut. Tujuannya supaya Tio tertidur dan Doori bisa menyelesaikan rencananya dengan mulus.
Doori telah menghubungi Sabrina sebelumnya dan memberitahunya tentang rencananya untuk menghabisi dan merampok Kevin, tentu saja Sabrina mendukung rencana putranya tersebut.
"Ini tehmu," cap Sabrina sambil menyerahkan teh tersebut pada Tio.
"Kenapa teh? Tadi aku minta kopi, tapi tidak apa-apa, teh dan kopi sama saja," Tio tersenyum sambil menerima teh tersebut.
"Setelah ini Pergilah ke kamar untuk beristirahat, pasti kau lelah setelah seharian bekerja," pinta Sabrina.
Pria itu menganggukkan kepala. "Iya, aku memang sangat lelah dan ingin cepat beristirahat," ucapnya. Sabrina menganggukkan kepala, obat tidur yang iya bubuhkan ke dalam teh itu mulai bereaksi, beberapa kali dia terlihat menguap.
Tanpa mengatakan apapun, Tio berangkat dari hadapan sabrina dan pergi begitu saja. Satu masalah telah teratasi dan dia hanya tinggal menunggu kedatangan Doori dan teman-temannya.
.
.
__ADS_1
Kevin mengintip keluar melalui jendela saat mendengar suara deru mobil memasuki halaman Villa. Doori datang bersama teman-temannya dan jumlah mereka lebih dari sepuluh orang. Doori benar-benar datang membawa gerombolannya, dan Kevin sudah siap menyambut kedatangan mereka.
"Apa itu mereka?" tanya Viona yang kemudian dibalas anggukan oleh Kevin.
"Jalankan sesuai rencana, ayo tidur," Kevin merangkul bahu Viona dan membawanya untuk kembali ke tempat tidur. Tentu Kevin dan Viona telah membuat rencana untuk menyambut kedatangan Doori dan teman-temannya.
Doori mendobrak pintu kamar Kevin dan memaksa masuk ke dalam, dia menemukan Viona yang sedang tertidur pulas di tempat tidur. Di sampingnya seseorang berbaring dengan sekujur tubuh tertutupi selimut tebal yang Doori yakini sebagai Kevin.
Dia segera memberi kode pada teman-temannya untuk melakukan penyergapan, karena lebih cepat lebih baik. Lebih cepat mati, maka lebih cepat juga dia menguasai seluruh hartanya termasuk Villa dan juga Viona.
"Sial!! Ini hanya guling," seru salah seorang teman Doori.
"Jangan-jangan dia sudah mengetahui tentang rencanamu ini," sahut teman Doori yang lain.
"Mana mungkin, mungkin saja dia tidur di kamar yang lain. Kalian tetap disini dan awasi perempuan itu, jika dia bangun langsung buat tidak sadarkan diri. Yang lain ikut aku," Doori memberikan arahan pada teman-temannya.
"Kalian tidak perlu mencariku ke mana-mana, karena aku ada disini!!" sahut seseorang dari belakang.
Sontak mereka menoleh dan mendapati Kevin yang sedang bersandar sambil menikmati lintingan tembakau yang diapit oleh kedua jari kanannya, di tangan kirinya memegang senjata api berjenis Revolver.
"Kenapa terkejut?" Kevin menatap Doori dengan sinis.
"Kau, jadi kau sudah tau tentang kedatangan kami? Bagaimana bisa?" tanya Doori meminta penjelasan.
Kevin menyeringai. "Kau tanya kenapa aku bisa tahu? Aku tidaklah sebodoh yang kau pikirkan, coba periksa pakaianmu dan lihat baik-baik apa yang menempel di sana?" pinta Kevin dengan seringai yang sama.
"Penyadap suara? Sial, kau benar-benar brengsek!! Tapi itu semua tidaklah penting, lagi pula kau hanya sendiri dan kami bersebelas, memangnya apa yang bisa kau lakukan sekarang?" Doori menatap Kelvin dengan senyum meremehkan.
"Kenapa kau begitu yakin bisa mengalahkanku dengan jumlah kalian yang tidak seberapa itu?" tanya Kevin.
"Sombong sekali kau, memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan senjata kecilmu itu?" lagi-lagi Doori meremehkan Kevin.
Sikap Doori berubah drastis berbanding balik dengan beberapa jam yang lalu ketika dia berada dibawah ancaman dan tekanan dari Kevin. Maklum saja sekarang dia datang bersama gerombolannya jadi Doori menjadi begitu percaya diri jika dia bisa menghabisi Kevin.
Kevin beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Doori. Teman-teman Doori tidak bereaksi sama sekali ketika Kevin melewati mereka, melihat sorot mata Kevin yang dingin dan tajam membuat mereka ketakutan sendiri.
__ADS_1
"Apa yang kalian tunggu? Cepat habis dia dan kita kuras semua hartanya!!" teriak Doori memberi perintah pada teman-temannya.
Kevin mundur beberapa langkah kebelakang ketika empat orang menyerangnya secara bersamaan. Dan perkelahian pun tak bisa terhindarkan, Kevin dikeroyok ramai-ramai oleh teman-teman Doori.
Satu persatu teman-teman Doori berhasil Kevin jatuhkan dengan mudah, tidak butuh tenaga apalagi kekuatan fisik yang berlebihan untuk menumbangkan mereka yang jelas-jelas kemampuannya jauh dibawahnya.
"Paman, awas belakangmu!!" teriak Viona melihat dua orang mencoba menyerang Kevin dari belakang.
Dan teriakan keras Viona mengalihkan perhatian Doori, pria itu menyeringai sinis, sepertinya dia sudah menemukan kelemahan Kevin. Doori menghampiri Viona dan langsung menodongkan senjata padanya.
"Berhenti!!" teriak Doori dengan lantang. "Menyerah atau dia akan mati!!"
Sontak Kevin menoleh. Bukannya panik, dia justru menatap Doori dengan senyum meremehkan. "Heh, kenapa kau harus menggali lubang kubur mu sendiri? Viona, lakukan!!" pinta Kevin memberi interupsi.
Mata Doori membelalak saat merasakan tarikan pada lengan kanannya dan detik berikutnya tubuhnya menghantam lantai dengan sangat keras, membuat Doori berteriak kesakitan. Selanjutnya Viona menginjak bagian kemalluannya dan memecahkan salah satu telor Doori. Doori hanya bisa membelalakkan matanya tanpa bisa bersuara sama sekali.
"Rasakan!! Siapa suruh berani mengancamku!!" ucap Viona lalu menghampiri Kevin.
"Si..Sial, ka..kalian benar-benar iblis!!" ucap Doori sambil memegangi kemalluannya. Dia terus berguling dilantai sambil mengadu kesakitan, sedangkan teman-teman Doori sudah melarikan diri karena tidak ingin habis ditangan Kevin. "Ma..Mama, tolong," seru Doori dengan suara lemahnya.
"Paman, sebaiknya kita penjarakan saja dia biar tau rasa, orang seperti ini tidak akan jerah jika sekali-kali tidak mendapatkan hukuman!!" usul Viona.
Kevin mengangguk. "Ya, aku sudah memikirkannya, dan sebentar lagi polisi akan datang untuk menangkapnya."
"Kapan Paman menghubungi polisi?" tanya Viona penasaran, karena seingatnya Kevin tidak memegang ponsel sedari tadi.
"Bukan aku yang menghubungi polisi, tapi dia," jawab Kevin sambil menunjuk kearah pintu. Sontak Viona dan Doori menoleh, kedua mata mereka sama-sama membelalak sempurna.
"Bibi Sabrina//Mama?!"
.
.
Bersambung
__ADS_1