
Ella menyeka air matanya dengan kasar. Selama lebih dari dua puluh tahun dia menjadi Nyonya besar di kediaman Li, dan hari ini dia malah terusir dari rumahnya sendiri. Hidupnya berubah 180° karena ulah Agnes. Wanita tidak tahu diri itu mengambil alih semuanya dan mengambil semua darinya.
Tangan Ella terkepal kuat. Amarah terlihat jelas di raut wajahnya. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Agnes yang melambaikan tangan padanya.
"Dasar jallang tidak tahu terimakasih. Lihat saja bagaimana aku membalas mu nanti!!" ucap Ella sambil melenggang pergi meninggalkan kediaman Li.
Untungnya Ella masih memiliki tabungan yang jumlahnya lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya sampai beberapa tahun ke depan. Dia juga memiliki tempat tinggal Meskipun tidak semewah dan sebesar kediaman Li.
Dan tentang masalah yang menimpa Sonny, untuk saat ini dia tidak ingin memikirkannya dulu. Jangankan untuk memikirkan masalah suaminya, dia sendiri pun mengalami masalah pelik. Untuk saat ini Ella akan hidup untuk dirinya sendiri.
Ella menghentikan taksi. Dia akan pergi ke rumah peninggalan kedua orang tuanya. Mungkin saja apa yang dia alami saat ini adalah karma dari perbuatan buruknya di masa lalu, yang tidak mau mengakui orang tuanya sendiri setelah menikah dengan Sonny Li.
xxx
Kesalahan terbesar bagi Kevin adalah membawa Viona ke pusat perbelanjaan. Dan jika bukan karena keinginan Kevin yang ingin membujuk Viona supaya tidak jadi berenang. Mungkin dirinya tidak akan terjebak dalam situasi yang sulit semacam ini.
Kevin berubah menjadi asisten dadakan. Dia di haruskan membawa semua barang-barang Viona yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Dan dia tidak bisa menolaknya karena memang dirinyalah yang membawa Viona datang ke tempat ini.
"Ge, sepertinya dress di sana cantik-cantik. Ayo kita lihat-lihat," Viona menarik Kevin memasuki sebuah boutique yang menyediakan berbagai pakaian musim dingin.
__ADS_1
"Vi, apakah ini belum cukup? Lihatlah seberapa banyak barang yang sudah kau beli, bagaimana kau nanti akan memakainya?"
"Itu urusanku. Kau tidak perlu protes, Oke." ucap Viona menimpali.
Wanita itu memasuki boutique dengan begitu bersemangat. Banyak sekali gaun, dress dan mantel hangat yang identik dengan musim dingin. Saking banyaknya pilihan, sampai-sampai Viona bingung harus mengambil yang mana karena semua bagus dan sesuai dengan seleranya.
"Aku ingin yang ada di patung itu, ketiga-tiganya. Terus aku juga mau mantel yang ini, ini dan ini. Dress bunga-bunga yang ini, ini dan ini. Bungkus semua yang aku tunjuk untukku." Pinta Viona sambil menyerahkan black card pada pelayaran toko.
Wanita berseragam pelayan itu mengangguk. "Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar," pinta pelayan itu seraya beranjak dari hadapan Viona.
Lalu pandangan Viona bergulir pada Kevin yang sedang menghela nafas. "Tenanglah, Ge. Aku tidak akan memintamu membawa semua nya. Aku akan menyewa jasa orang lain untuk membawakan semua barang-barang ini ke mobil. Dan kau tidak perlu berkecil hati karena aku sudah menghabiskan banyak uangmu, karena jika bukan aku yang menghabiskannya lalu siapa lagi? Wanita lain jangan harap mereka memiliki kesempatan!!" Tutur Viona panjang lebar.
"Nona, tampaknya Tuan Muda Zhang tidak senang dengan jumlah belanjaan Anda. Beliau terlihat murung," ucap sang kasir saat melihat ekspresi Kevin yang terlewat datar.
Viona menoleh ke belakang dan menatap Kevin sekilas. "Tidak apa-apa, tidak perlu di hiraukan. Dia memang seperti itu, aku sarankan jangan menatapnya terlalu lama karena kau bisa membeku karena tatapan dinginnya." Ujar Viona.
Kasir boutique itu malah tertawa dengan apa yang Viona katakan. "Hati-hati dengan ucapan Anda Nona, Tuan Muda nampaknya tidak senang mendengar apa yang Nona katakan. Hati-hati malah mendapatkan hukuman darinya,"
Viona mendekatkan bibirnya ke telinga pelayan tersebut dan berbisik pelan. "Kecilkan suaramu. Hal itu bisa sangat berbahaya untukku, bisa-bisa Tuan Muda tampan ini malah menyerang ku nantinya." Ucap Viona setengah berbisik. Diakhiri kekehan pelan.
__ADS_1
Kevin yang mendengar jelas obrolan mereka berdua hanya mendengus dan menghela napas. Dia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang sering kali membuatnya mengusap dada.
"Cepat sedikit," Kevin pun mulai hilang kesabaran. ini pertama dan terakhir kalinya dia mengajak Viona pergi ke Mall. Lebih baik membiarkan dia pergi sendirian daripada harus ikut dan menemaninya.
"Ck, kenapa kau tidak sabaran sekali sih, Ge. Ini juga sudah selesai kok." Viona mengambil semua belanjaannya lalu menyerahkannya pada Kevin .
"Aku lagi yang membawanya?!"
Viona menoleh. "Lalu siapa lagi kalau bukan kau, tidak mungkin kan aku meminta bantuan pria lain untuk membawakannya. atau memang kamu ingin aku dibantu pria lain?" tanya Viona.
"Jangan macam-macam atau aku akan membuatmu menyesal!!" geram Kevin sedikit mengancam. Bukannya takut, Viona malah tertawa mendengar ancaman suaminya di matanya Kevin tidak ada mengerikannya sama sekali, dia justru terlihat imut ketika sedang kesal dan marah.
"Oke oke oke. Aku salah aku minta maaf. Ge, kau tunggu di sini sebentar, aku akan cari jasa angkat barang. Lagi pula aku tidak setega itu sampai-sampai membiarkanmu membawakan semua belanjaan ku yang jelas tidak sedikit." Ujar Viona.
Dia meninggalkan Kevin begitu saja. Viona hendak mencari kuli angkut barang untuk membawakan semua barang-barang miliknya. Tidak mungkin jika dia membebankan semuanya pada Kevin karena barang-barangnya tidak sedikit jumlahnya.
Selanjutnya mereka meninggalkan pusat perbelanjaan. Viona sudah mendapatkan semua yang dia inginkan dan dia merengek mengajak Kevin untuk pulang.
xxx
__ADS_1
Bersambung